HARI PERTAMA SEKOLAH

1156 Kata
Hari Pertama Danisya Sekolah   "Waktunya semua dimulai dengan hal-hal mengejutkan. Bukankah hidup memang penuh kejutan? Apa yang kita rencanakan kadang suka melenceng dari alur persiapan. Oleh karena itu persiapkanlah untuk mendapatkan kejutan itu." ****     Hari ini Danisya sudah mulai bersekolah. Dia di sekolahkan di tempat Charllote agar Nadine lebih mudah untuk menjemput mereka berdua.       "Danisya kamu udah siap sayang buat berangkat sekolah hari ini?" tanya Devan saat mereka sedang memakai kaos kaki dan sepatunya untuk berangkat bersama.       "Siap Pah. Danisya enggak sabar baru berangkat ke sekolah," kata Danisya antusias membuat mereka semua tersenyum namun tidak dengan Charllote.     "Inget ya kalian jangan nakal. Danisya kamu beda kelas dengan Kakak jangan nakal ya dan belajar yang benar," ucap Nadine mengingatkan mereka berdua. Danisya sedikit tidak suka dengan ucapan Nadine yang mengatakan jangan nakal pasti dia menyindirnya bukan. Sedangkan Nadine tidak bermaksud seperti itu sebenarnya.     Danisya hanya tersenyum sambil mengangguk kepada Mamanya, "Siap, Mama. Danisya enggak akan nakal di sekolah," jawab Danisya.      "Kalian berangkat bareng Papa ya, nanti pulang sekolah Mama yang jemput kalian berdua," kata Devan.     "Iya Pah," jawab mereka berdua bersamaan. Nadine memberikan tas-tas yang ada di tangannya kepada suami dan anak-anaknya. Setelah mereka saling berpamitan, Devan segera masuk ke mobilnya dan berangkat meninggalkan pelataran rumah mereka. .....       Beberapa saat kemudian mereka sampai di depan gerbang sekolah. Danisya dan Charlotte pun pamit kepada Devan untuk masuk.      "Charlotte jaga adik kamu ya selama Papa dan Mama. Jadi Kakak yang baik buat mereka, you understand?" Charlotte pun mengangguk mengerti dengan ucapan sang Ayah.       "Danisya semoga hari pertama sekolahmu menyenangkan, Sayang," kata  Devan mengelus kepala kedua anaknya.        "Okay Papa."      "It's Okay Papa. Charlotte pamit masuk ke dalam dulu." Mereka berdua langsung masuk ke dalam berjalan beriringan.      "Kak kelasku di mana?" tanya Danisya sambil berjalan.      "Ikuti saja aku dan jangan banyak bicara," ucap Charlotte dingin. Sedangkan Danisya mendengus kesal dengan jawaban dingin Charllote.      Mereka berdua pun sampai di depan ruangan bertuliskan "Ruang Kepala Sekolah."      "Permisi...." Charlotte mengetuk pintu itu perlahan-lahan sampai seseorang di dalamnya menjawabnya  dan menyuruh mereka untuk ke dalam.      Charlotte menggandeng Danisya untuk masuk ke dalam ruangan kepala sekolah. "Permisi Pak."      "Iya Charl?" tanya Kepala sekolah sambil duduk di bangkunya.     "Ini adik saya yang akan ikut sekolah disini, dimana ruangan kelasnya ya Pak?" tanya Charlotte.     "Siapa namanya?" tanya Kepala sekolah itu.      "Danisya, Pak."       "Hallo Pak guru namaku Danisya," ucap Danisya ramah. Kepala sekolahnya pun mengangguk.     "Yasudah ayo saya antar Danisya ke kelas barunya, karena kelas kalian berbeda Charlotte nanti kamu pisah dengan Danisya dan langsung saja ke kelas kamu biar saya yang antar Danisya."     "Baik, Pak." Mereka pun ke luar dari ruangan kepala sekolah dan mengantarkan Danisya ke kelas barunya. .....        "Danisya ini kelas kamu sekarang ya," ucap Kepala sekolah saat sampai di depan ruang kelas Danisya.        "Okey, Pak," jawab Danisya riang.        Kepala sekolah pun mengetok pintu terlebih dahulu karena sudah ada guru yang mengajar, "Permisi bu, menganggu waktu mengajarnya sebentar."     "Iya Pak tidak apa-apa. Ada apa ya Pak?"      "Ini saya ingin mengantarkan Danisya ke kelas ini. Dia murid baru adik dari Charrlote dari kelas Intelektual." Sekolah mereka memang memiliki nama yang sedikit aneh-aneh tapi banyak di luar sana yang minat untuk masuk ke sekolah ternama itu. Selain fasilitas yang mumpuni, guru-guru yang mengajar pun terpilih.      "Baik Pak silahkan."      "Permisi anak-anak. Selamat pagi semuanya."      "Selamat pagi Pak," jawab mereka kompak bersamaan.     "Sebelumnya Bapak minta maaf telah menganggu waktu kalian belajar. Bapak kesini membawa teman baru untuk kalian. Danisya perkenalkan diri kamu, Nak," ucap Sang Kepala Sekolah kepada Danisya.        Danisya pun mengangguk lantas memperkenalkan dirinya, "Selamat pagi teman-teman, perkenalkan namaku Danisya murid baru di sekolah ini. Semoga kalian mau berteman baik denganku," ucap Danisya dengan sangat ramah.     "Haii Danisya," ucap mereka kompak sudah seperti tradisi mereka untuk mengutamakan kekompakan. Danisya pun tersenyum polos dengan mereka semua.     "Danisya kamu cantik," ucap salah satu laki-laki menggoda Danisya. Sontak membuat riuh ruang kelas itu setelah mendengar gombalan anak sekecil itu.     "Terimakasih."      "Zoy, tak bisakah tenang sedikit tidak bisa sekali lihat perempuan," ucap salah satu anak perempuan bernama Naura.     "Akukan berkata jujur. Kamu saja yang sirik kan karena kamu kalah cantik dengan Danisya," jawabnya meledek Naura.     "Ishhhh!!!!"      "Sudah-sudah jangan ribut. Bu saya serahkan kembali kelasnya ke Ibu saya permisi ke ruangan," ucap Kepala sekolah itu kepada guru yang mengajarnya.      "Baik Pak terimakasih sebelumnya."       "Sama-sama. Anak-anak Bapak pamit dulu ya. Berteman baiklah dengan kawab baru kalian. Permisi." Kepala sekolah itu pun pamit ke luar dari ruang kelas tersebut.      "Yasudah Danisya kamu silahkan duduk di bangku yang kosong. Ibu akan melanjutkan pelajarannya sekarang. Oh iya Ibu lupa perkenalkan nama Ibu Fransisca," ucap gurunya kepada Danisya.     "Baik bu Fransisca."     "Yasudah silahkan kamu duduk," ucapnya mempersilahkan Danisya untuk duduk. Setelah itu pelajaran pun kembali di lanjutkan.       Danisya mengeluarkan bukunya lalu melihat ke depan gurunya mengajar. Dia duduk di bangku Paling belakang. Sebenarnya nanti setiap duduk akan di rolling setiap minggunya. Dan kebetulan hanya bangku yang Paling belakang inilah yang kosong. Jadi, dia terpaksa duduk sendiri di sini. Tapi, bukan masalah bagi Danisya dengan di belakang seperti ini membuatnya lebih mudah memantau keadaan untuk menyusun rencananya.      Danisya pun tidak perlu memperhatikan gurunya mengajar lagian pelajaran yang diajarkan gurunya itu cukup mudah. Sekali kedip pun dirinya bisa. Dari pada memperhatikan gurunya yang membosankan lebih baik dia keluar menikmati udara segar di sekolah barunya. Tapi, mungkin beberapa menit lagi agar gurunya itu tidak curiga dengannya. ....         Danisya membatalkan niatnya untuk keluar ruangan tadi. Tiba-tiba saja gurunya itu mengadakan ulangan dadakan padahal dia murid baru membuat Danisya sedikit kesal sekarang. Tapi, bukan masalah dia bisa atau tidak sudah pasti dia bisa bahkan bagi Danisya itu hanya soal kecil saja. 20 soal hanya diselesaikan Danisya dalam waktu 10 menit saja. Gurunya heran dengan Danisya lalu mengecek hasil ulangan anak itu.        Benar adanya, semua jawaban Danisya benar membuat gurunya itu sedikit takjub dengan anak baru itu. Dia pun mengapresiasikan hasil kerja Danisya dan menyuruh semua murid untuk seperti Danisya atau belajar dengan Danisya jika masih ada yang belum mereka paham. Akhirnya bel istirahat pun berbunyi dan gurunya itu pamit untuk keluar.       "Baik anak-anak sudah jam istirahat. Kalian boleh istirahat sekarang. Dan jangan lupa untuk belajar kembali ya atau minta tolong bantuan Danisya untuk mengajarkan pelajaran yang kalian masih belum ngerti."      "Baik bu," jawab mereka kompak bersamaan.       "Baik Ibu pamit dulu."       "Terimakasih Bu Fransisca," ucap mereka seperti biasa.      "Hey gadis cantik ternyata kamu hebat juga. Sebelumnya kamu sekolah dimana? Pasti sekolah itu keren," ucap Zoy laki-laki yang tadi memujinya.      "Hehe tidak sebelumnya aku tidak bersekolah. Ini tahun pertama ku sekolah disini," jawab Danisya sambil tersenyum manis.      "Whoaaa hebat kamu Danisya baru pertama kali sekolah sudah sepintar itu. Apakah Papa mu seorang Professor? Atau Dosen? Atau guru?" tanya Zoy beruntun.      "Sudahlah Danisya tidak usah dengarkan dia mari kita ke kantin bersama," ucap Naura yang datang bersama anak-anak yang lain. Danisya pun mengangguk lalu memilih ikut Naura ke kantin daripada mendengarkan Zoy yang banyak bicara.   Lihat saja nanti anak bawel itu! ucap Danisya dalam hati namun masih menampilkan wajah ramah dan polosnya. .....    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN