HAL YANG ANEH MULAI TERJADI

1111 Kata
  "Berwajah polos belum tentu sepolos hati dan pemikirannya." ***      Pagi hari mereka sedang makan bersama, melupakan kejadian semalam yang sebenarnya masih mengganjal di hati Danisya. Sedangkan Devan tak ambil pusing dengan kejadian semalam.       "Ashhh...." Charlotte meringis saat lengannya di senggol oleh Danisya.      "Maaf Kakak. Danisya tidak sengaja," ucap gadis kecil itu dengan wajah memelas.      "Sayang are u okay?" tanya Nadine menghentikan makannya.     "It's okay Mom. Danisya mungkin tidak sengaja." Charllote menenangkan Ibunya sambil mengelus lengannya yang semakin perih saja rasanya. Dalam hati Danisya tertawa puas, walaupun Danisya tahu Nadine mulai mencurigainya.     "Ma maafkan aku, aku tidak sengaja menyenggol lengan Kakak. Kenapa kau menatapku seperti itu, aku takut Ma," ucap Danisya dengan mimik wajah yang melas membuat Nadine mengubah raut wajahnya menjadi terseyum saat semua orang menjadi menatapnya.     "Maaf Danisya, Mama hanya terkejut saja tadi. Ayo makan lagi," ucap Nadine menyuruh mereka melanjutkan makan lagi. Nadine makan dengan tidak selera rasanya. Entah kenapa rasanya ada yang aneh dengan gadis kecil itu. Tampangnya memang seperti anak kecil pada umumnya tapi....     "Ma, Pa kapan aku mulai ke sekolah? Aku ingin seperti Kakak, Ma, Pa," ucap Danisya di sela-sela ia mengunyah makanan.      "Danisya sayang kita selesaikan makan dulu ya, setelah itu biar Mama dan Papa yang membicarakan itu nanti. Okay?" jawab Nadine sambil tersenyum.     "Benar kata Mama, Danisya. Itu biar menjadi urusan kami saja, kamu tidak perlu pusing memikirkannya. Lanjutkan makanmu saja ya sayang," ucap Devan gantian. Danisya mendegus kali ini tapi Demi kelancaran rencanannya dia hanya bisa menganggukan kepalanya menurut ucapan Devan. Saat ini hanya terlihat Devan yang tidak curiga terhadapnya. Jangan sampai Devan pun curiga seperti Nadine yang ada Devan malah menyerahkannya ke panti asuhan nanti. ....        Devan dan Nadine sedang merapikan tanaman-tanamannya di belakang rumahnya. Tiba-tiba dia saja hal aneh terjadi.       "Astaga," pekik Nadine terkejut saat melihat sesuatu disana. Reflek dia menjatuhkan gunting tanamannya.     "Kenapa, Nadine?" tanya Devan meletakkan selangnya dan mendekat ke arah istrinya.     "Ma ... mass...." Nadine menutup mulutnya sambil mundur perlahan-lahan ke belakang. Tangannya menunjuk ke arah tempat  tadi membuat Devan bingung. Devan pun mendekat ke arah yang ditujuk Nadine perlahan-lahan.      Sedangkan Nadine sudah berada jauh di belakangnya sambil menangis ketakutan. Selama ini tidak pernah dia temukan itu di kebunnya kenapa tiba-tiba ada hal seperti itu.      Devan mengibas tanaman tersebut. Dia pun kaget melihatnya namun tidak seperti istrinya. Dia menengok ke arah istrinya sejenak melihat istrinya yang sudah terduduk lemah di rumput belakang rumahnya. Dia memilih membiarkan itu terlebih dahulu, lalu mendekat ke arah istrinya untuk menenangkannya.     "Mas ke ... kenapa bisa ada seperti itu  Mas. Padahal setiap hari aku membersihkan belum pernah ada seperti itu, Mas," ucap Nadine sangat ketakutan. Devan memeluk istrinya untuk menenangkannya.     "Tenangin diri kamu dulu, Nadine. Kamu mending masuk aja ke dalem biar aku yang beresin ini," ucap Devan membantu istrinya berdiri untuk masuk ke dalam. Dia juga terkejut tapi Devan lebih memilih tenang menghadapinya.        "Mama kenapa, Pa?" tanya Danisya yang melihat mamanya menangis di peluk Devan.         "Danisya kamu anter Mama ke kamar ya, Papa mau bersih-bersih kebun dulu," ucap Devan kepada Danisya.      "Iya Pah," jawab Danisya menurut. Danisya membantu Mamanya untuk menuju ke kamar mereka.      Ini pertama kalinya Danisya masuk ke kamar Devan dan Nadine terlihat warna abu-abu yang mendominasi seluruh ruangan di kamar ini. Danisya membantu Nadine untuk duduk di kasurnya.     "Mama tunggu sini dulu ya, Danisya ambil minum buat Mama biar Mama tenang," ucap Danisya mengelus pundak Nadine. Nadine pun mengangguk tersenyum sambil mengucapkan terimakasih kepada Danisya.       Danisya ke luar dari kamar Nadine menutup pintu itu perlahan-lahan. Nadine terlihat sangat syok saat ini, senyuman licik terpancar dari sudut bibir Danisya tapi tidak bertahan lama Charlotte muncul di sebelahnya.     "Ngapain kamu di kamar Mama?" tanya Kakak angkatnya itu dingin.     "Eh ... kakak?" panggil Danisya sambil tersenyum manis.     "Ngapain kamu di kamar Mama?" Charlotte mengulang pertanyaannya tanpa menggubris panggilan dari Danisya.     "Itu kak tadi disuruh Papa buat anter Mama ke kamar soalnya Mama nangis Kak," jawab Danisya polos atau pura-pura polos lebih tepatnya.     "Nangis?" tanya Charllote lagi.     "Iya kak."     "Kamu apain emang sampai Mama nangis?" tanya Charllote curiga.     "Bukan aku kak. Aku juga enggak tahu kenapa Mama nangis. Tadi, Papa yang bawa masuk Mama ke rumah. Terus Danisya udah lihat Mama nangis Kak, bukan Danisya yang buat Mama nangis," ucap Danisya dengan suara pelan. Charllote yang merasa tidak enak telah menuduh Danisya yang tidak-tidak pun segera minta maaf.      "Maaf aku enggak tahu. Yaudah aku mau lihat Mama dulu," ucap Charllote langsung masuk tanpa banyak ucap kepada Danisya.     "Dasar Anak sama Ibu sama aja! Awas aja kalian berdua," ucap Danisya pelan. Namun, tak disangka suara itu sedikit terdengar oleh Charlotte yang masih berada di belakang pintu kamar. Walaupun hanya terdengar kata awas tetap saja Charllote merasa ada hal tidak beres dengan Danisya. ....        Devan membersihkan tanamannya sendiri. Dia masih bertanya-tanya sejak kapan potongan tengkorak ada di rumahnya. Padahal selama ini tidak pernah sampai ditemukan serpihan tengkorak berupa kepala dan seperti tulang kaki atau paha entahlah Devan tidak tahu.       Devan mengambil tengkorak kepala itu perlahan-lahan. Dia perhatikan tengkorak itu dengan serius. "Papa," panggil Danisya membuat Devan terkejut sampai menjatuhkan tengkorak kepala itu.     "Astaga...."      "Danisya menganggetkan Papa ya barusan? Maafkan Danisya Pa," ucap Danisya sambil menundukan kepalanya takut Devan marah kepadanya.     "Danisya kenapa kamu kesini?" tanya Devan yang masih deg-deg an ia kira tengkorak itu yang tadi memanggilnya.     "Tadinya Danisya mau bantu Papa, tapi Danisya malah menganggetkan Papa. Maaf, Pa."     "Enggak papa kok. Tadi Papa sedikit kaget aja kamu tiba-tiba dateng," jawab Devan sambil tersenyum. Danisya melihat ke bawah tepat di serpihan tengkorak itu.      "Papa itu kepala manusia?" tanya Danisya.     Devan melihat ke arah tengkorak itu lagi, "Entah Papa juga enggak tahu. Tiba-tiba aja Mama kamu tadi yang lihat ini," jawab Devan.     "Terus mau di bawa kemana, Pa?" tanya Danisya lagi.     "Mau Papa buang aja."     "Yaudah, Pa sini Danisya bantu," ucap Danisya sambil jongkok membantu Papanya.     "Enggak usah, mending kamu temenin Mama aja," ucap Devan lagi.     "Mama udah di jagain Kakak, Pa. Danisya bantu Papa aja ya," ucap Danisya lagi.     "Oke kamu bantu Papa sapu di sana aja soalnya tadi Papa mau nyapu belum sempet," jawab Devan menyuruh Danisya menyapu hasil potongan rumput yang tadi belum sempat di sapunya. Devan sengaja menyuruh Danisya menyapu saja dari pada membantu membersihkan tengkorak ini, biar dia saja yang membersihkan ini sendiri.     "Okey, Pa." Danisya segera mengambil sapu lidi yang terletak di dekat tembok sana. Membantu Papanya menyapu kebun mereka agar cepat selesai.     Dari jendela kamar orang tuanya, Charllote memperhatikan Danisya. Dia bukannya iri melihat kedekatan Papanya dan Danisya yang baru kenal beberapa waktu hanya saja dia juga mulai merasa aneh dengan gadis itu. Tapi, mukanya sangat imut mana mungkin gadis itu....     "Ah sudahlah mungkin hanya perasaanku saja," ucap Charllote lalu kembali menuju Mamanya yang mulai tertidur. .....          
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN