Yang mereka tahu anak kecil itu selalu jujur, tanpa mereka sadari mereka telah dikelabui oleh seorang anak kecil.
* * * *
"Jadi, aku orang tua aku dibunuh sama orang tadi yang mengejar aku om, aku takut yang terakhir aku denger dari Ibu suruh lari. Yaudah aku lari aja. Aku takut om, orang tadi pasti masih ngejar aku om," kata Danisya dengan raut wajah yang terlihat seperti trauma.
"Astaga...."
"Om Danisya enggak mau keluar sendiri om Danisya takut...."
"Tenang-tenang kamu akan aman kok sama kita disini. Kamu mulai sekarang tinggal disini aja," ucap Devan menenangkan Danisya yang ketakutan.
"Tapi, kalau aku masih berada dikota ini orang-orang tadi pasti akan selalu mengejar aku om. Aku takut," kata Danisya.
"Masalah itu nanti om fikirin sekarang kamu istirahat aja ya. Nadine antarkan dia ke kamar disamping Charlotte," perintah Devan kepada Istrinya. Istrinya mengangguk lalu mengantarkan Danisya ke kamarnya.
"Kamu istirahat dulu saja ya, Sayang. Masalah ini biar Om dan Tante fikirkan. Kamu enggak perlu takut lagi, kamu akan aman bersama kita oke."
"Makasih Tante aku sayang tante. Tante cantik, baik seperti Ibu. Bolehkah Danisya memeluk Tante? Danisya rindu dengan pelukan Ibu Danisya tante," ucap Danisya merengut sedih.
"Boleh kok sekarang kamu akan jadi anak tante juga. Jadi, kamu enggak perlu takut lagi, tante akan jaga kamu seperti tante jaga anak tante sendiri."
"Makasih Tante," ucap Danisya memeluk Nadine. Tanpa diketahui Nadine ada seringai licik di bibir gadis kecil itu. Dia berhasil membuat Nadine luluh dengan kepolosannya. Setelah ini dia akan membuat sedikit drama-drama lain yang tak kalah mengejutkan mereka.
"Panggil aku Mama saja seperti tadi, aku senang mendengarnya. Sudah lama aku menginginkan anak perempuan namun belum juga diberikan kesempatan dan sekarang Ada kamu membuat aku jadi sangat bahagia, Danisya."
"Benarkah, Ma?"
"Tentu sayang, kamu anggep aja Kita ini keluarga baru kamu. Kita bakal Sayang kamu seperti anak kita sendiri."
"Terimakasih Mama," ucap Danisya memeluk Nadine lebih erat lagi.
"Yasudah kamu tidur ya, istirahat besok kita berbincang-bincang lagi," perintah Nadine melepaskan pelukannya dengan Danisya. Dia menidurkan Danisya lalu menyelimutinya sampai leher.
"Selamat malam Danisya. Sweet dream sayang." Nadine mengecup kening Danisya sebelum dia pergi dari sana.
"Lampunya mau dimatikan atau tidak?"
"Dimatikan saja, Ma. Silau aku tidak bisa tidur."
"Okay, dah sayang." Nadine keluar dari kamar Danisya tidak lupa mematikan lampu kamarnya sesuai keinginan Danisya.
....
Nadine kembali menemui suaminya yang sudah menunggu di depan tv. Dia menghampiri suaminya lalu duduk di sebelah suaminya.
"Udah tidur Danisyanya?" tanya suaminya sambil merangkul istrinya yang duduk di sebelahnya itu.
"Udah mas. Mas terus gimana sama keinginan kita ngangkat Danisya jadi anak kita?" tanya Nadine lagi.
"Kamu tenang aja semua biar aku urus, kamu tinggal terima beres aja ya."
"Tapi, kita kan belum tahu asal-usul Danisya yang sebenarnya, Mas. Apa enggak sebaiknya kita cari tahu dulu?"
"Menurut aku enggak usah, Nadine. Aku menemukan dia tadi benar-benar ketakutan. Dia dikejar oleh orang-orang berbadan besar. Dan aku yakin dia tidak berbohong kalau dia diculik." Devan telah terkelabui oleh tampang polos Danisya. Tanpa diketahui Danisya adalah anak kecil yang berbahaya.
"Lalu, bagaimana kalau orang-orang masih mengincarnya? Bukankah itu artinya keluarga kita juga dalam bahaya?" tanya Nadine lagi.
"Kita akan pindah rumah saja bagaimana? Toh rumah ini kan juga sudah lama. Kita pindah ke Jerman, sekalian pengobatan Charlotte disana."
"Terus sekolahnya gimana,Mas? Memangnya Charllote juga mau kita pindah lagi. Dia kan susah berinterakhir di tempat baru," kata Nadine lagi.
"Kita akan bujuk Charllote Nadine."
"Tapi––" Belum sempat Nadine melanjutkan ucapannya suara gemuruh berbunyi sangat keras sampai listrik rumah mereka mati dalam sekejab.
"Mati lampu atau listriknya turun Mas?" tanya Nadine memeluk istrinya.
"Sebentar aku lihat dulu," ucap Devan berdiri dan Nadine pun ikut berdiri juga.
"Aku ikut...." Nadine memegang ujung baju suaminya. Devan mengangguk menggandeng istrinya untuk melihat ke jendela. Apakah hanya rumah mereka yang mati lampu atau rumah yang lainnya juga.
"Sepertinya listrik kita turun, aku mau nyalain dulu."
"Ahhhhhhh...." teriakan anaknya membuat Devan dan Nadine kaget.
"Mas Nichole," ucap Nadine panik.
"Oke kamu lihat Nichole sama Danisya aku nyalain lampunya dulu. Ini pake hp aku," kata Devan menyerahkan ponselnya yang menyala untuk penerangan Nadine.
"Terus kamu gimana?"
"Aku nyalain listrik dulu sayang, kamu tenang aja."
Perasaan Nadine menjadi tidak enak melihat Devan yang ingin menyalakan lampu sendiri. Entah ini perasaan ketakutan karna lampu mati atau ada hal lain yang akan terjadi. "Hati-hati ya langsung." Devan mengelus kepala istrinya sambil tersenyum untuk menenangkan istrinya.
Setelah itu dia berpencar dengan istrinya. Devan keluar rumah dan istrinya mengecek Charllote
"Sayang kamu enggak papa?" tanya Nadine saat dirinya sudah tiba di kamar Charllote.
"Mama takut," ucap Devan langsung memeluk Ibunya yang datang.
"Shut.... Tenang sayang mama disini," jawab Nadine mengelus punggung anaknya.
Lampupun akhirnya menyala disertau pekikan Devan dari bawah pula yang membuat Nadine dan Charllote kaget. "Mah, Papah?"
"Iya sayang ayo kita cek papa, tapi kita samper Danisya dulu." Nadine segera menggendong Charllote tapi dia terkejut saat melihat lengan Charllote yang tiba-tiba memar.
"Sayang tangan kamu kenapa sampai memar gini? Tadi Mama lihat sebelum tidur belum seperti ini?" tanya Nadine sambil menyikap kaus Charllote hingga pundaknya. Saat Charlotte ingin menjawab panggilan dari Danisya membuat dia pun segera menggendong anaknya untuk mengambil Danisya.
"Danisya kenapa sayang?"
"Danisya takut Mah. Tadi ada orang dibalik jendela, Danisya takut Mah," kata Danisya mengadu.
Nadine melihat ke arah jendela perlahan-lahan, dia pun was-was takut memang ada orang jahat seperti yang dikatakan Danisya. Tetapi, setelah dia lihat tidak ada apa-apa disana.
"Enggak ada apa-apa sayang. Yaudah ayo kita kumpul dibawah dulu sama Papa. Masalah ini kita bahas nanti," ucap Nadine menggandeng kedua anaknya untuk berkumpul ke Devan.
Saat sudah dekat dengan suaminya, Nadine melihat kaki suaminya yang berdarah-darah membuatnya panik juga, "Mas kaki kamu kenapa?" tanya Nadine panik.
"Enggak papa kamu tenang aja, ini tadi cuma kena pecahan beling waktu nyalain listrik."
"Tapi, setiap hari aku udah selalu bersihan sana kok, Pa." Nadin berbicara sambil mengambil kotak P3K untuk mengobati suaminya.
"Mungkin tadi ada kucing yang jatohin apa kali," ujar Devan tetap positif thinking. Tapi, tidak dengan Nadine. Nadine merasa ada hal-hal ganjil yang menimpa mereka hari ini. Dari mulai Charllote yang lengannya tiba-tiba memar, orang yang Danisya bilang ada di kamarnya dan luka yang diterima suaminya itu. Seperti semuanya sudah direncakan sebelumnya. Nadine menjadi was-was, belum sehari Danisya tinggal disini tapi, sudah banyak kejadian-kejadian aneh. Sebelumnya keluarganya hidup baik-baik saja.