bc

PEWARIS YANG KEMBALI

book_age16+
1
IKUTI
1K
BACA
adventure
dark
kickass heroine
brave
prince
drama
bxg
serious
scary
loser
highschool
medieval
sentinel and guide
war
ancient
like
intro-logo
Uraian

Pangeran Arel telah diasingkan sejak kecil, kerajaannya direbut oleh pengkhianat. Bertahun-tahun hidup dalam bayangan, ia kini kembali bukan sebagai bangsawan yang lemah, melainkan sebagai pejuang tangguh yang siap merebut kembali takhta yang menjadi haknya. PEWARIS YANG KEMBALI adalah kisah epik tentang dendam, keberanian, dan pengorbanan, di mana satu orang berani menghadapi seluruh kekaisaran demi keadilan.

chap-preview
Pratinjau gratis
PENGHIANATAN DAN PERTUMBUHAN DARAH - Bab Awal Musim 1
Pagi itu, udara di Kerajaan Eldoria terasa lebih dingin dari biasanya, bukan karena embun pagi yang tebal, melainkan karena firasat buruk yang merayap di benak banyak orang. Di dalam puri megah yang menjulang tinggi, Pangeran Arel, seorang bocah berusia sepuluh tahun dengan rambut keperakan dan mata biru samudra, masih terlelap dalam tidurnya. Ia bermimpi tentang ksatria-ksatria berani yang ia baca dalam buku-buku lama, pedang berkilau yang menari di bawah sinar matahari, dan teriakan kemenangan di medan perang. Ia tidak tahu bahwa dalam beberapa jam ke depan, mimpinya akan berubah menjadi mimpi buruk yang tak terbayangkan. Di kamar tidur kerajaan, Raja Valerius, ayah Arel, sedang mengenakan zirah tempurnya yang dihiasi ukiran naga emas. Wajahnya yang biasanya tegas kini diwarnai kekhawatiran mendalam. Di sampingnya, Ratu Elara, ibunda Arel, dengan gaun sutra birunya, memegang tangannya erat. Ratu Elara: "Valerius, apakah ini benar-benar perlu? Semua tanda bahaya yang dikirimkan tabib istana tentang kesehatanmu..." Raja Valerius: "Elara, aku tidak bisa mengabaikan laporan dari perbatasan timur. Para Orc semakin berani, dan kita harus menunjukkan bahwa Eldoria tidak gentar." Ratu Elara: "Tapi Jenderal Thorne bisa memimpin pasukan, bukan? Dia selalu setia padamu." Raja Valerius mendengus, sebuah ekspresi sinis melintas di wajahnya. Raja Valerius: "Setia? Kita akan lihat seberapa setia seseorang saat kekuasaan ada di depan mata mereka. Tidak, aku harus memimpin sendiri. Ini adalah pesan untuk seluruh Eldoria, dan juga untuk mereka yang mungkin berpikir untuk mengkhianatiku." Terdengar ketukan di pintu. Seorang pengawal dengan seragam keemasan masuk. Pengawal Pertama: "Paduka Raja, pasukan sudah siap di halaman utama. Jenderal Thorne menunggu." Raja Valerius mengangguk, lalu menoleh kembali ke Ratu Elara. Ia memeluk istrinya dengan erat, mencium keningnya. Raja Valerius: "Jaga Arel baik-baik. Dia adalah masa depan kita." Ratu Elara: "Dan kau adalah masa kini kita. Kembalilah padaku, Valerius." Raja Valerius tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlalu berat untuk beban yang ia pikul. Ia melangkah keluar dari kamar, menuju takdir yang tidak seorang pun bisa duga. Ratu Elara berdiri di ambang pintu, melihat suaminya pergi, hatinya diselimuti awan gelap. Arel terbangun karena keributan di halaman puri. Ia melompat dari tempat tidurnya, berlari ke jendela. Dari sana, ia bisa melihat barisan ksatria dengan zirah mengkilap, kuda-kuda perang yang meringkik, dan panji-panji Eldoria yang berkibar ditiup angin pagi. Di tengah-tengah mereka, ia melihat ayahnya, Raja Valerius, menunggang kuda hitam megah, helmnya yang berukir naga emas memantulkan cahaya matahari. Jenderal Thorne, seorang pria bertubuh kekar dengan janggut hitam lebat dan bekas luka di pipinya, berdiri di samping Raja, ekspresinya sulit dibaca. Arel merasa bangga melihat ayahnya, namun ada juga sedikit kecemasan. Perang selalu berarti bahaya. Ia mendengar langkah kaki mendekat dan pintu kamarnya terbuka. Itu adalah ibunya, Ratu Elara, yang kini terlihat lebih cemas. Ratu Elara: "Kau sudah bangun, sayang? Ayo, sarapan sudah disiapkan." Arel: "Ayah pergi berperang, Ibu?" Ratu Elara: "Ya, Nak. Ayahmu adalah ksatria terbesar di Eldoria. Dia akan kembali dengan kemenangan." Ratu Elara berusaha terdengar yakin, namun getaran dalam suaranya tidak luput dari pendengaran Arel. Ia tahu ibunya takut. Di ruang makan, suasana terasa hening, berbeda dengan biasanya. Para pelayan bergerak dengan gelisah, dan para ksatria yang tersisa di puri tampak tegang. Arel mencoba menikmati sarapannya, tetapi pikirannya terus tertuju pada ayahnya di medan perang. Beberapa jam kemudian, ketenangan di Puri Eldoria pecah. Suara terompet yang menggelegar, namun bukan terompet kemenangan, melainkan terompet peringatan. Lalu, teriakan. Arel sedang berlatih pedang kayu di halaman pelatihan dengan guru ksatria pribadinya, Sir Kaelan, seorang veteran perang yang berdedikasi. Sir Kaelan: "Angkat pedangmu lebih tinggi, Pangeran! Ingat posisi kuda-kuda. Stabilitas adalah kunci!" Tiba-tiba, seorang pelayan berlari menghampiri mereka, terengah-engah, wajahnya pucat pasi. Pelayan Wanita: "Sir Kaelan! Serangan! Pasukan tidak dikenal menyerbu gerbang utama!" Sir Kaelan segera menarik pedang aslinya. Matanya yang biasanya ramah kini berkilat tajam. Sir Kaelan: "Pangeran, ikut aku! Tetap dekat denganku, tidak peduli apapun yang terjadi!" Ia menggandeng tangan Arel dan berlari menuju lorong dalam puri. Suara pertempuran semakin mendekat. Dentingan pedang, teriakan kesakitan, dan raungan marah kini memenuhi seluruh puri. Mereka berpapasan dengan beberapa ksatria kerajaan yang berlari mundur, beberapa sudah terluka parah. Ksatria Kedua: "Sir Kaelan! Mereka terlalu banyak! Pasukan Jenderal Thorne menyerang dari dalam! Ini pengkhianatan!" Mendengar nama Jenderal Thorne, Arel merasakan jantungnya mencelos. Pengkhianatan? Tapi Jenderal Thorne adalah orang kepercayaan ayahnya! Sir Kaelan mengutuk, wajahnya mengeras. Sir Kaelan: "Sialan! Thorne si pengecut!" Ia mempercepat langkah, berusaha membawa Arel ke tempat yang aman. Mereka berhasil mencapai lorong rahasia di bawah puri, sebuah rute pelarian darurat yang hanya diketahui oleh keluarga kerajaan dan beberapa ksatria pilihan. Di sana, Ratu Elara sudah menunggu, wajahnya penuh air mata, namun matanya menunjukkan tekad. Ratu Elara: "Kaelan! Syukurlah kau aman! Bawa Arel pergi! Sekarang!" Sir Kaelan: "Bagaimana dengan Paduka Ratu?" Ratu Elara: "Aku akan menahan mereka selama mungkin. Mereka menginginkan tahta, bukan aku. Kau harus menyelamatkan Arel! Dia adalah masa depan Eldoria!" Suara langkah kaki dan teriakan semakin keras, mendekat ke arah lorong rahasia. Arel: "Ibu! Jangan tinggalkan aku!" Arel berusaha memeluk ibunya, tetapi Ratu Elara mendorongnya lembut ke arah Sir Kaelan. Ratu Elara: "Pergi, Arel! Pergi dan jadilah pewaris yang akan kembali! Jangan lupakan siapa dirimu!" Dengan berat hati, Sir Kaelan menarik Arel ke lorong gelap, sementara Ratu Elara menghunus belati kecilnya, berdiri tegak di depan pintu masuk lorong, siap menghadapi apapun yang datang. Itu adalah kali terakhir Arel melihat ibunya. Lorong rahasia terasa dingin dan lembap. Arel berlari bersama Sir Kaelan, air mata mengalir di pipinya. Suara pertempuran di atas mereka secara bertahap meredup, digantikan oleh keheningan yang menyesakkan, hanya sesekali diselingi jeritan atau dentingan pedang yang jauh. Mereka keluar dari puri melalui pintu rahasia di balik air terjun kecil di luar tembok kota. Dari sana, mereka bisa melihat pemandangan yang menghancurkan hati. Api berkobar di beberapa bagian kota, asap hitam mengepul ke langit biru. Panji-panji Eldoria yang tadinya berkibar bangga di menara, kini digantikan oleh bendera hitam dengan lambang cakar serigala, lambang keluarga Jenderal Thorne. Sir Kaelan mencengkeram bahu Arel erat. Sir Kaelan: "Pangeran, kita harus pergi jauh dari sini. Mereka akan memburumu. Kita harus mencapai Hutan Gelap." Arel: "Ayah... bagaimana dengan Ayah?" Sir Kaelan tidak menjawab. Ekspresi di wajahnya sudah cukup menjelaskan. Raja Valerius pasti sudah kalah, atau yang terburuk, tewas di medan perang. Hati Arel sakit, campur aduk antara kesedihan, kemarahan, dan kebingungan. Bagaimana bisa Jenderal Thorne mengkhianati ayahnya? Mereka berjalan selama berjam-jam, menghindari jalan-jalan utama dan desa-desa. Sir Kaelan membimbing Arel melewati semak belukar dan aliran sungai kecil. Matahari mulai terbenam, mewarnai langit dengan jingga dan ungu, namun tidak ada keindahan dalam pemandangan itu bagi Arel. Hanya kehancuran dan kehilangan. Saat malam tiba, mereka bersembunyi di sebuah gua kecil. Sir Kaelan menyalakan api kecil untuk menghangatkan diri, meskipun api itu bisa menarik perhatian musuh. Risiko itu harus diambil demi Arel. Sir Kaelan: "Pangeran, kau harus kuat. Ini baru permulaan." Arel: "Aku tidak mengerti, Sir Kaelan. Mengapa Thorne melakukannya?" Sir Kaelan: "Keserakahan, Pangeran. Haus akan kekuasaan. Thorne selalu iri pada Ayahmu. Ia melihat celah saat Raja memimpin pasukan ke perbatasan. Ia mengorganisir pasukannya sendiri di dalam kota, dan saat Raja pergi, ia menyerbu puri dari dalam." Arel mengepalkan tinjunya. Ia tidak bisa membayangkan bahwa seseorang yang begitu dekat dengan keluarganya bisa melakukan hal sekeji ini. Sir Kaelan mengambil sebuah kotak kayu kecil dari dalam jubahnya. Kotak itu diukir dengan simbol keluarga kerajaan Eldoria. Sir Kaelan: "Ayahmu memintaku untuk memberikannya padamu jika terjadi sesuatu yang buruk. Ini adalah liontin warisan. Selalu pakai ini." Di dalam kotak ada liontin perak dengan ukiran naga yang sama seperti di zirah ayahnya. Saat Arel menyentuh liontin itu, ia merasakan kehangatan aneh menjalar di tangannya. Sir Kaelan: "Liontin itu menyimpan kekuatan leluhur. Suatu hari, kau akan menguasainya." Arel mengangguk, mengenakan liontin itu di lehernya. Ia memejamkan mata, memikirkan ayah dan ibunya. Tekad baru mulai tumbuh di hatinya yang masih terluka. Dendam. Perjalanan mereka berlanjut selama berhari-hari. Mereka masuk semakin dalam ke dalam Hutan Gelap, sebuah wilayah yang dikenal berbahaya, dipenuhi oleh binatang buas dan makhluk mitos. Hutan ini adalah batas alami Eldoria, dan biasanya tidak pernah dilewati oleh warga sipil tanpa pengawalan ketat. Namun, ini adalah satu-satunya tempat di mana mereka bisa benar-benar bersembunyi. Sir Kaelan mengajari Arel cara bertahan hidup: mencari makanan, membuat perangkap sederhana, dan bersembunyi dari bahaya. Meskipun masih anak-anak, Arel cepat belajar. Rasa sakit dan kemarahan telah memaksanya untuk tumbuh lebih cepat dari usianya. Ia tidak lagi pangeran manja yang berlatih pedang kayu, melainkan seorang penyintas yang penuh dendam. Suatu malam, saat mereka beristirahat di bawah pohon raksasa, Sir Kaelan merasakan sesuatu. Aroma aneh di udara, dan suara ranting patah yang bukan berasal dari binatang. Sir Kaelan: "Tetap di belakangku, Pangeran. Kita tidak sendirian." Dari balik semak-semak, muncul tiga sosok bayangan. Mereka adalah ksatria lapis baja hitam dengan lambang cakar serigala, para pengikut Thorne. Mereka telah menemukan jejak mereka. Ksatria Thorne Pertama: "Lihat siapa yang kita temukan. Pangeran kecil dan anjing setianya." Sir Kaelan: "Thorne mengirim kalian, b******n?" Ksatria Thorne Kedua: "Jenderal ingin memastikan tidak ada benih kerajaan yang tersisa. Mati saja kalian di sini." Sir Kaelan menarik pedangnya. Pertempuran sengit pun pecah. Meskipun sudah tua, Sir Kaelan adalah pejuang yang berpengalaman. Ia bertarung dengan berani, mengayunkan pedangnya dengan kekuatan dan presisi. Satu ksatria Thorne jatuh, lalu yang kedua. Namun, jumlah mereka terlalu banyak. Ksatria Thorne ketiga berhasil menyelinap di belakang Sir Kaelan, menusuknya dari belakang. Arel: "SIR KAELAN!" Sir Kaelan roboh ke tanah, darah merembes dari zirah tipisnya. Ia memandang Arel dengan mata yang mulai redup. Sir Kaelan: "Lari, Pangeran... Lari! Jangan... jangan menoleh ke belakang..." Ia menghembuskan napas terakhir, pengawal setia yang telah mengorbankan segalanya. Air mata Arel mengalir deras, namun kali ini bukan hanya kesedihan, ada juga ketakutan dan kemarahan yang membakar. Ksatria Thorne Ketiga: "Sekarang giliranmu, bocah." Ksatria itu berjalan mendekat, pedangnya terangkat. Arel panik. Ia tidak memiliki senjata, tidak ada cara untuk melawan. Ia melihat liontin di lehernya, merasakan kehangatan yang sama. Dalam keputusasaan, ia mengepalkan liontin itu di tangannya. Tiba-tiba, sebuah cahaya biru terang keluar dari liontin itu, menyelimuti Arel. Ksatria Thorne terkejut, menghentikan langkahnya. Cahaya itu berdenyut, dan Arel merasakan energi mengalir melalui tubuhnya. Ia tidak mengerti apa yang terjadi, tetapi ia merasakan kekuatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ksatria Thorne Ketiga: "Apa-apaan ini?!" Cahaya itu terlalu terang, menyilaukan mata ksatria tersebut. Arel, dalam kondisi ketakutan dan dorongan naluri, melarikan diri, berlari secepat mungkin menembus kegelapan hutan, meninggalkan jasad Sir Kaelan dan ksatria Thorne yang kebingungan di belakangnya. Ia tidak tahu ke mana ia pergi, hanya berlari, jauh dari semua kehancuran dan kekerasan. Cahaya dari liontin itu perlahan meredup, namun kehangatan energinya tetap terasa di dadanya. Itu adalah harapan kecil yang menyala di tengah kegelapan yang pekat. Arel berlari tanpa henti hingga ia tidak lagi mendengar suara apapun selain detak jantungnya sendiri dan napasnya yang terengah-engah. Ia tersandung akar pohon, terjatuh, namun bangkit lagi, terus berlari. Malam semakin pekat, dan ia merasa benar-benar sendirian di tengah hutan yang luas dan menakutkan ini. Ia akhirnya roboh di bawah pohon besar yang dikelilingi semak belukar tebal. Tubuhnya sakit, paru-parunya serasa terbakar, dan air mata masih terus mengalir. Ia meringkuk, memeluk lututnya, berusaha mencari sedikit kehangatan dan rasa aman yang tidak bisa ia temukan. Ingatan akan orang tuanya, Sir Kaelan, dan kehancuran kerajaannya berputar-putar di benaknya. Ia tidak punya siapapun lagi. Ia adalah seorang pangeran yang diasingkan, seorang anak sepuluh tahun yang kini harus bertahan hidup sendirian di hutan belantara. Namun, di tengah keputusasaan itu, ada percikan kecil yang menyala. Kata-kata ibunya, "Jadilah pewaris yang akan kembali!" Kata-kata Sir Kaelan, "Kau harus kuat." Dan liontin yang masih tergantung di lehernya, memancarkan kehangatan samar. Ia memejamkan mata, membiarkan kelelahan menguasai dirinya. Ia tertidur dengan pikiran akan dendam yang membakar, dan janji pada dirinya sendiri bahwa suatu hari nanti, ia akan kembali. Di tempat yang jauh, di dalam hutan yang sama, dua sosok gadis muda sedang berjalan melewati kegelapan, obor mereka menerangi jalan. Mereka adalah Liora dan Luna, dua petualang muda dari Serikat Petualang. Mereka sedang dalam misi berburu monster hutan yang mengganggu desa terdekat. Liora: "Kau yakin kita berada di jalur yang benar, Luna? Aku merasa kita sudah berputar-putar di sini selama berjam-jam." Liora, dengan panah yang tersandang di punggungnya dan mata tajam seperti elang, menggerutu. Luna: "Tenang saja, Liora. Kompas sihirku tidak pernah salah. Kita hampir sampai di sarang monster itu. Aku juga merasakan adanya gelombang energi aneh di dekat sini." Luna, yang tampak lebih muda, dengan tongkat kayu berukir di tangannya, memandang sekeliling dengan cermat. Matanya yang keunguan memancarkan cahaya redup dalam kegelapan. Liora: "Energi aneh? Apa maksudmu? Ada iblis yang bersembunyi?" Luna: "Bukan iblis. Tapi semacam energi murni, sangat kuat... dan juga sangat... putus asa." Mereka berdua melanjutkan langkah, tanpa menyadari bahwa takdir akan segera mempertemukan mereka dengan seorang pangeran yang terlantar, seorang anak yang kelak akan menjadi harapan baru bagi sebuah kerajaan yang telah hancur. Pertemuan yang akan mengubah hidup mereka selamanya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
8.8K
bc

(Bukan) Cinta yang Diinginkan

read
20.3K
bc

Trapped in My Future Boss

read
3.4K
bc

Menyala Istri Sah!

read
4.4K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
54.2K
bc

OM DEWA [LENGKAP]

read
7.9K
bc

Desahan Sang Biduan

read
56.7K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook