o KEPAKAN SAYAP KENANGAN

1285 Kata
Jika ada yang bertanya, apa yang paling manis dari rasa cinta.. Maka jawabannya adalah, air mata karnanya   " Tok Tok Tok." Suara ketukan pintu itu membangunkan Albertus dari tidurnya. " Ayaaaaahhhhh!!” (DOR DOR DOR) Pintu kamarnya bukan seperti diketuk tapi ditendang. Sudah bisa ditebak siapa yang berada dibalik pintu itu. Albertus tersenyum, melihat Alice masih memeluknya erat dengan tubuh polosnya. Dia menidurkan kepalanya dilekukan leher Albertus.  Wanita ini sepertinya memang merindukannya. Dengan pelan, ia mencoba melepas pelukan Alice. " Ayaaaaahhhhh.. buka pintunyaaaaa!” Teriak suara diluar. Albertus berhasil turun dari ranjangnya lalu bergegas mengenakan piyama tidurnya kembali dan melangkah kearah pintu setelah menyelimuti tubuh Alicenya dan mencium keningnya lembut. " Klek."  Tampaklah wajah cantik kecil itu mengembungkan pipinya kesal. " Ayah kau sedang apa? Aku mengetuk dali tadi. Apa kau tuli? Tanganku sampai kotol?” Celetuknya marah. Melihat itu, Albertus tersenyum mengusap rambut sebahunya. Ia berjongkok diatas lututnya Jika seperti ini, dia semakin mirip dengan Mikaila. " Ayah." Kashi mengibas ngibaskan tangannya menghentakkan lamunan Albertus. " Eh iya.. sayang ada apa?” Tanyanya membelai pipi tembem didepannya. " Ada tamu menunggumu dilual, pelayan takut membangunkanmu. Jadi meleka memintaku membangunkanmu tapi meleka bilang agal aku tidak bilang padamu kalau meleka yang memintaku." Celotehnya membuat wajah pelayan dibelakangnya memucat pasi. " Hahaha. Baiklah sayang, sebentar lagi ayah turun." Albertus mengusap rambut halus putrinya itu. " Baiklah, jangan lama lama ya. Belajallah untuk disiplin?” Tukasnya menggurui membuat Albertus mengernyit menahan tawa lalu menaruh tangan dikeningnya. " Siap tuan putri!” Ucapnya memberi hormat. Kashi tersenyum lalu mengecup pipi Ayahnya sekilas dan berlari pergi kearah dayang pengasuhnya. Meskipun dia bukan darah dagingku.. Aku sangat menyayanginya seperti putriku sendiri. Dia besar dipangkuanku dan belajar banyak hal dariku Dia tidak boleh seperti ayahnya Tidak akan aku biarkan Bahkan dia tidak boleh mendengar nama Mikaila disebutkan Walau hanya sekali.   *** " Yang mulia." Dua orang pria berkulit hitam menunduk hormat didepan Albertus saat melihatnya berjalan menuruni tangga. " Saya sudah mendengar tentang kehebatan anda yang mulia. Kami dari kerajaan Hongalia utara, kami datang membawakan hadiah ini sebagai tanda persahabatan." Senyum ramah salah satu orang dari utusan itu. Albertus tersenyum melihat 4 peti berisikan batangan emas murni didepannya. " Sampaikan salamku pada raja kalian. Raja Exodie yang agung. Aku berterimakasih atas penghormatan ini." Ucapnya ramah lalu meminta kedua utusan itu untuk duduk. Beberapa saat mereka terpaku saat melihat Alice melangkah turun dari tangga yang sama. Dia begitu terlihat cantik dengan gaun berwarna peraknya. " Hormat kami yang mulia Ratu, kami sudah mendengar kabar tentang kecantikan ratu Phosaidon tapi baru kali ini kami melihat cahaya dewi seolah menerangi istana ini." Puji mereka saat Alice menghentikan langkahnya ditengah tengah mereka lalu mendudukkan bokongnya dikursi kosong disisi Albertus. " Terimakasih pujiannya. Dimitri hongalia juga kerajaan yang besar. Apa yang membawa kalian ketempat kami?” Tanya Alice ramah. Kedua orang itu menatap kearah Albertus. Lalu dengan sopan mereka menuturkan niat mereka sebenarnya " Yang mulia Exodie memiliki seorang putra mahkota yang akan dinaikkan tahta minggu depan. Mungkin anda sudah mendengar bahwa yang mulia baru saja sembuh dari sakit keras yang mengakibatkan sebagian besar penurunan fungsi organ tubuhnya. Jadi, beliau ingin membuat sebuah acara pelantikan ini secara meriah dan tentu saja tidak akan meriah tanpa kehadian Raja dan Ratu dari Phosaidon yang agung." Tutur mereka penuh harap. " Minggu depan?” Albertus tampak berpikir " Iya yang mulia." Jawab mereka mulai was was. Beberapa saat tampak Albertus berpikir. " Tapi minggu depan, saya harus melakukan persiapan pasukan yang bertugas mengintai setiap wilayah phosaidon." Ucap Albertus. Alice yang melihat raut kekecewaan diwajah kedua utusan itu memegang tangan Al lembut. Ia menggeleng pelan agar suaminya itu tidak membuat mereka kecewa. Dimitri hongalia adalah kerajaan yang menguntungkan dan sangat ramah selama ini. Membuat mereka kecewa bukanlah hal yang tepat dilakukan. " Kami akan datang, sampaikan salam kami pada Raja Exodie ya." Senyum Alice ramah. Sebaliknya, Albertus mengernyitkan keningnya. " Terimakasih yang mulia Ratu. Raja Exodie pasti bahagia mendengar kabar ini. Dia sangat mengharapkan kehadiran kalian, apalagi beliau bersahabat dekat dengan raja Albert terdahulu." Senang mereka. Albertus tersenyum kecut. " Kami merasa terhormat." Balas Alice ramah "Terimakasih yang mulia ratu, yang mulia Raja kalau begitu kami pamit." Mereka berdiri lalu memberi hormat pada Albertus dan Alice. Wajah mereka terlihat sangat bahagia saat meninggalkan Phosaidon Sebaliknya, Albertus melangkah menaiki tangga menuju kamarnya tanpa mengatahkan sepatah katapun. Alice menyusulnya. Dilihatnya Pria 24 tahun itu tengah berdiri menatap deburan ombak dari balik pagar kastil kamar. Rambut emasnya menari bersama angin. Albertus POV Mungkin bagi mereka aku sudah terlihat bahagia. Tapi tidak, selama 5 tahun ini beban yang aku pikul terasa semakin berat. Bagaimana aku bisa, menjauhkan dia dari kenangannya? Bagaimana caraku hidup dengan dihantui bayang bayang Mikaila? Jika aku menghadiri setiap pertemuan besar, aku selalu merasa gelisah. Aku takut, jika suatu saat iblis bersayap hitam itu kembali muncul dan menaungi keluargaku. Bagaimana jika aku melihatnya? Bagaimana jika Aliceku bertemu dengannya? Laki laki itu pernah menjadi segalanya dan bahkan menjadi sumber imajinasinya selama 10 tahun. Tidak ada yang mengerti Pov end   " Kau takut?” Cekat Alice memegang pundaknya lembut. Albertus memasang senyum gusar diwajahnya lalu tersenyum membalikkan tubuhnya. " Takut? Apa maksudmu?” Sanggahnya menatap kelain tempat. " Kau takut? Kau selalu beralasan saat kita diundang oleh kerajaan lain. Al, aku mengenalmu sejak kau masih kecil. Aku melihat ketakutan itu dimatamu. Al yakinlah, aku berharap kau mempercayaiku. Aku tidak akan pergi dari sisimu. Kau adalah bagian dari diriku dan Kashi. Aku memiliki Kashi karna dirimu. Albertus, percayalah padaku." Senyum Alice membelai wajah elok didepannya. Mendengar semua itu, Albertus tersenyum lalu menarik pundaknya, memeluk istrinya itu erat " Aku tidak akan melepaskanmu Alice." Ucapnya lega " Maka jangan lepaskan aku." Jawab Alice menidurkan kepalanya didada bidang Albertus. Tenang.. Itu yang ada saat ini. Mungkinkah.. Takdir berpihak pada mereka? *** Suara degup langkah yang menyetubuhi lantai, terdengar memenuhi segala sudut ruangan. Dia... Berdiri menatap kesisi luar dengan langit berwarna abu abu. Tubuh tegap dan rambutnya yang memanjang gelap dihiasi mahkota bertahta berlian hitam di kepalanya. Kemeja hitam yang dia kenakan kontras dengan kulit putihnya. Raja Armagius yang Agung. " Yang mulia, ada utusan dari Dimitri Hongalia disini yang meminta izin menghadap!" Ucap seorang huruharang menunduk hormat. " Suruh mereka masuk!” Suaranya tegas. Beberapa saat kemudian, seorang pria tinggi besar dengan kulit hitam legam memasuki ruangan itu dan segera berlutut dibawah keagungan sang Kaitsar. " Yang mulia, hamba Rangelaa adipati dari Dimitri Hongalia datang kemari atas perintah langsung yang mulia Raja Exodie untuk membawakan undangan pelantikan sang putra mahkota untuk Raja Armagius yang agung." Tuturnya tanpa sedikitpun mengangkat wajah. Aura gelap seolah memenuhi hatinya saat berhadapan langsung dengan Raja dari Armagius itu. Entah kenapa, melihatnya dari belakang saja membuatnya gemetar. Terdengar hembusan napas berat dari sang Raja " Exodie? Kenapa mengundangku? Tak ada hubungan yang penting diantara kami?” Tekannya tanpa menoleh. DEG Dingin sekali- Batin Rangelaa " Raja Exodie menginginkan anda menjalin persahabatan dengan Dimitri Hongalia yang mulia. Acara ini tidak akan lengkap tanpa anda. Tolong jangan kecewakan raja kami." Tutur perdana menteri Hongalia itu membuat pria didepannya tersenyum sinis. " Apakah pesta Rajamu akan dihadiri Kerajaan besar?” Tanyanya masih menatap kelangit lepas. " I..iya yang mulia. Bahkan kami mengundang Phosaidon untuk menghadirinya." Jawab Rangela. DEG. Phosaidon? Seketika, Pria itu mengepal keras lalu menolehkan tubuhnya menatap pria berkulit gelap yang tertunduk didepannya. " Kerajaan Albertus III?” Tanyanya mengerutkan kening. Dan...... Wajah itu? Pria bermahkota itu bukanlah Vallen. Raja Armagius yang agung tak lain adalah.. " Benar Yang Mulia Raja Julliant, dan mereka bersedia menghadiri acara ini?” Jawab Pria berkulit gelap didepannya. Ya, dia adalah Raja Julliant Segala hal yang terjadi 5 tahun ini sangat sulit dijelaskan. Begitu banyak yang terjadi dan berlalu selama ini. Raja Julliant berkaca kaca mendengarnya. " Kalau begitu, katakan pada Exodie aku akan datang?” Ucapnya yakin membuat Rangela tersenyum senang mengangkat wajahnya " Terimakasih yang mulia. Anda begitu murah hati." Ucapnya bahagia. Raja Julliant tersenyum datar lalu kembali membalikkan tubuhnya menyembunyikan genangan air mata yang mulai jatuh bergulir. Akhirnya.. Setelah bertahun tahun.. Aku akan bisa bertemu dengan istrimu putraku.. Akan kutebus semua dosa dosaku.. Agar kau bisa memaafkan kejahatan ayahmu ini dimasa lalu Dan hidup dengan tenang. Dia harus tahu..Apa yang terjadi padamu.. Apa yang terjadi? Mengapa Raja Julliant memimpin Armagius? Dimana Vallen?   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN