Taburan bunga bunga di sepanjang jalan membuat Alice tersenyum lebar. Istana Hongalia memang terkenal sangat ramah. Iring iringan suara musikpun terdengar melengkapi kemegahan istana berjuluk Elang Hitam itu. Alice melangkah dengan anggunnya disisi Albertus. Setelah seharian menempuh perjalanan, akhirnya mereka tiba juga di istana megah bernuansa eropa Classic yang begitu memukai. Banyak raja raja besar yang menghadiri upacara penobatan yang putra mahkota yang tampak sudah siap menjalankan ritual di depan altar Aula.
Albertus menggenggam erat tangan Alice, rasa takut itu kembali menyeruak saat ia melihat ada Zollaries, mantan temannya yang juga duduk dikursi agung kerajaan. Seolah ada rahasia yang coba ia sembunyikan. Sebaliknya, Zollaries yang saat ini sudah menduduki bangku sebagai Raja di istananya tersenyum melirik kearah Alice yang duduk bersama suaminya dikursi agung yang telah disiapkan. Upacara itu terlaksana dengan meriah, raja Exodie menyambut tamu tamunya secara langsung, ia mengenalkan putranya pada setiap Raja dan Ratu yang hadir. Lalu saat tiba detik penobatan, sebuah mahkota bertahta berlian dan batu safir yang begitu megahpun disiapkan dayang diatas nampan. Raja Exodie mengecup kening putranya lembut, ia kemudian berujar :
“ Hari ini adalah hari paling bahagia selama hidup saya, karna kalian berkenan hadir dan juga memberikan saya kehormatan untuk menjamu para tamu. Kebahagiaan saya semakin terasa sempurna karna seorang maharaja yang agung bersedia menyematkan mahkota ini dikepala putra saya, dengan sangat sangat berbangga hati saya panggilkan Maharaja dari negeri raksasa “ARMAGIUS” yang agung!” serunya berbinar binar.
Alice seolah tak bisa bernapas mendengar nama kerajaannya yang dulu, itu artinya... Mikaila akan.... datang? Melihat ketegangan di wajah istrinya, Albertus menggenggam tangannya erat. Hingga...
Deg. Bola mata Alice membundar kaget ketika Raja Julliant dengan mahkota Armagius di kepalanya memenuhi tugas mulia itu.
Mengapa bukan Vallen? Apa yang terjadi?
Mengapa Raja Julliant yang menjadi Raja? Apa yang terjadi?
Sang Raja juga tampak berkaca kaca menatap kearah kursi Alice. Seolah ingin mengatakan sesuatu yang begitu ia pendam.
Anakku, akhirnya... aku menemukan dia...
***
Setelah pelantikan selesai...
" Aku mohon?” Ucapnya sekali lagi menahan lengan Alice.
" Lepaskan aku, Albertus jauhkan pria jahat ini dariku?” Alice menghempas tangan kokoh Raja Julliant kesekian kalinya.
Entah dari mana tiba tiba Raja itu datang saat Alice hendak menaiki kereta kudanya untuk pulang, ia menahan lengannya kuat
" Jangan menyentuhnya lagi Raja Julliant!” Albertus memasang d**a melindungi Alice. Dia menatap wajah Raja Julliant dengan penuh kebencian.
" Apa urusanmu penjaga?” Tekan Raja Julliant memerah. Tapi bukan emosi melainkan.. ada percikan air mata disana
" Dia adalah istriku! Kau dengar itu? Jadi jauhkan tangan kotormu itu darinya!!" Tekan Albertus. Urat lehernya menegang melihat kelakuan kakak dari orang yang paling dia benci ini.
Wajah Raja Julliant terlihat kaget bercampur putus asa saat mendengar ucapan ALbertus. Ia menatap Alice dari balik punggung Albertus.
Sementara beberapa mata sudah memperhatikan mereka. Suasana menjadi hampa sejenak, saat..
Bola mata Alice melebar melihat Raja Julliant melipat tangannya didepan wajahnya, persis seperti orang yang sedang memohon. Apa yang dia lakukan?
Pria itu tampak menatap Alice penuh harap
" Aku tahu aku banyak melakukan kesalahan kepadamu. Tapi Mikaku tidak bersalah. Jika ada yang harus menanggungnya itu adalah aku. Aku mohon dengarkan aku." Ujarnya. Tampak bulir bening menetes dari wajahnya yang terlihat segar walau sudah berumur.
" Jangan beracting!!" Bentak Albertus tak peduli pada kerumunan orang yang menjadikan mereka tontonan. Raja Julliant tak peduli.
Ia malah beringsut duduk diatas lututnya memohon. Membuat Albertus tercekat.
" Tolong, aku mohon. Berikan aku lima menit saja untuk bicara dengan Alice. Lima menit saja?” Ucapnya menundukkan wajah. Benar benar terlihat menyedihkan.
Jujur, Alice menahan hatinya melihat Raja angkuh itu berlutut. Tapi.. ia sudah terlanjur sangat kecewa
" Mika tidak bersalah? Apa menurutmu ingatanku sudah luntur? Al, jauhkan dia dariku. Aku tidak ingin mendengar apapun tentang mereka." Ujar Alice tegas.
" Kau dengar itu?” Albertus tersenyum sinis lalu mencengkram lengan Raja Julliant
" Ikut denganku?” Ujarnya kemudian memaksa Raja Julliant berdiri dan menggiringnya pergi dari hadapan Alice yang masih mematung. Alice membalikkan tubuh hendak menaiki keretanya. Namun.. “ Prok Prok Prok”
" Hebat?” Suara tepukan tangan menghentikannya. Alice menoleh dan mendapati Zolla tersenyum dibelakangnya.
" Zolla, apa kabar?” Senyumnya sumringah. Zolla tersenyum mengangkat bahunya
" Kau lihat!! Aku baik baik saja. Justru aku yang sedikit kaget melihatmu bersama dengan si pirang ini. Dan kalian sudah menikah?” Gumamnya penuh sindiran. Alice tersenyum
" Ya, begitulah. Aku yakin kau tahu hanya dialah yang pantas untukku?” Balas Alice mengangkat bahu.
" Ck ck ck , benar sekali. Kau bahkan bisa mengusir Raja Julliant seperti itu. Jujur aku sangat kagum selain bertambah cantik kau juga bertambah tegas. Aku yakin Mikaila juga senang dialamnya melihatmu bisa memperlakukan ayahnya seperti itu." Tawa Zollaries.
DEG. Alice mengernyit
" Alam..aa.lam apa? A..ayah?” Tanyanya mulai pasi. Zolla menautkan alisnya
" Ya, aku kira kau sudah tahu bahwa Raja Julliant sebenarnya adalah ayah kandung Mikaila. Dan sekarang dia menggantikan posisi anaknya tepat lima tahun yang lalu!” Zollaries memancing.
" A..apa kau mabuk? Apa yang kau bicarakan ini?” Alice seolah tak percaya. Zolla tersenyum
" Jadi kau tidak tahu apapun? Alice pergilah sesekali ke Armagius. Kau harus tahu kondisi mantan kerajaanmu bukan? Dan juga.. apa kau tidak ingin tahu mungkin saja.. Raja Julliant akan menyampaikan pesan terakhir dari Mika?” Zolla mengerlingkan matanya. Alice mundur beberapa langkah karna shock
" P..esan terakhir??.. m..mika? Ada apa dengannya?” Tanyanya getir. Iya mulai gemetar. Zolla tersenyum hendak membuka mulutnya. Namun...
" Sedang apa kau disini?” Cekat Albertus mencengkram pundaknya dari belakang. Zolla menoleh pelan lalu mengangkat alisnya
" Jangan sombong Albertus. Kerajaanku tidak lebih kecil darimu. Aku hanya ingin menyapa sahabat lamaku saja." Jawab Zolla memalingkan wajahnya.
" Menjauh dari istriku?” Tekan Albertus mendorongnya.
" Ohhohooo jangan kasar Albertus, apa kau sangat takut kehilangan dia?” Senyum Zolla menyindir.
" Kau!” Albertus mengepalkan tangannya. Namun..
" Sudah!! Jangan bertengkar. Al, aku ingin pulang." Ucap Alice menengahi.
" Baiklah?” Albertus menurunkan kepalannya lalu melangkah cepat dengan raut kesal menuju kereta kudanya. Zolla menatap Alice tenang lalu tersenyum
" Tanyakan pada suamimu tentang Mikaila. Dia tahu segalanya!!" Bisiknya disisi Alice lalu menyematkan kertas kecil ditangan wanita itu sebelum berlalu pergi. Alice terdiam sejenak, perasaannya berkecamuk.
Ia melangkah gontai menyusul Albertus lalu duduk dihadapannya.
Dan beginilah beberapa waktu setelahnya..
" Apa kau baik baik saja?” Tanya Albertus. Sejak tadi dia melihat Alice mematung diam tanpa kata didalam kereta. Wajahnya terlihat pucat bermain dengan semua kata kata dari Raja Julliant dan Zolla.
" Alice?” Albertus duduk disisinya lalu memegang pundaknya lembut.
" Aku tidak apa apa." Senyum Alice fake lalu menyandarkan kepalanya dibahu suaminya.
" Inilah kenapa aku tidak ingin menghadiri setiap pertemuan. Kau akan menderita jika bertemu dengan mereka." Ucap Albertus lembut lalu membelai pelan rambut Alice. Wanita itu hanya diam kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Albertus.
" Maafkan aku sayang." Ucapnya mengadahkan kepalanya lalu mengecup bibir pemuda itu sekilas mencairkan suasana. Albertus tersenyum menidurkan alice dipangkuannya.
Maafkan aku Alice.. – Batinnya
Beberapa saat kemudian fajarpun terbit dari ufuk timur.
Saat matahari mulai terik mereka tiba di istana Phosaidon. Baru beberapa detik menginjakkan kaki, Putri kecil mereka sudah berlari menyambut dengan mahkota bunga dikepalanya.
" Ibuuuu!!" Teriaknya memeluk Alice.
" Ayahhh." Ucapnya memeluk Albertus. Alice menatap putrinya gusar. Bayangan wajah Vallen tiba tiba muncul dibenaknya.
" Hai, kau cantik." Ucapnya saat dirinya masih kecil dulu. Pemuda 15 tahun yang mencuri ciuman pertama dan hatinya.
" A..l bisakah kau membatuku mengurus Kashi? Kepalaku sakit." Ujar Alice kemudian berlalu menuju kamarnya tanpa menunggu jawaban dari Albertus yang mengernyit heran
" Ayah, ibu kenapa?” Tanya Kashi dipangkuan Albertus. Albertus tersenyum ikhlas lalu mencium pipi Kashi lembut
" Tidak apa apa sayang. Ibu hanya memberi kesempatan pada ayah untuk bersamamu. Karna dia tahu ayah sangaaaaat merindukanmu." Albertus kemudian menciumi leher putrinya. Membuatnya tertawa
" Ayah ...sudaaah geliiii!! Ayahhh gelii." Tawa Kashi lepas.
***
Alice terduduk setelah melepas mantelnya dan melemparnya kasar. Ia mengacak rambut panjangnya frustasi.
" Ya tuhaaan Aliceee.. sadarlah. Apa pedulimu jika memang terjadi sesuatu pada pria itu. Ingat bagaimana cara dia menyiksamu. Ingat bagaiamana dia membunuh bayi kalian. Ingat aliceee jangan pikirkan diaa jangaaannn.." Alice bicara pada dirinya sendiri. Namun...
Aku mencintaimu Alice
Ucapan Mika waktu itu seolah kembali membayang di ingatannya. Ia memang sudah mengkaburkan bayangan wajah pemuda itu dari pikirannya selama 5 tahun ini. Tapi kenapa?? Semuanya masih terasa begitu jelas? Walaupun setiap hari dia selalu memberikan dirinya seutuhnya bersama Albertus, b******a dengannya dan hidup bersamanya.. tapi kenapa..
Bayangan Mika selalu mengikutinya?
Alice teringat sesuatu
Tanyakan pada suamimu, dia tahu segalanya.
Wanita itu segera melihat kedalam tangannya yang masih mengepal. Kata kata Zolla membuatnya teringat pada kertas kecil itu. Untunglah kertas itu masih ada ditangannya. Walau sudah tampak kucel dan basah karna keringat. Alice dengan ragu membukanya.
Ia mendekatkan wajah mencoba membaca tulisan kecil dari tangan Zolla yang memang tidak begitu jelas.
" Tanyakan pada Albertusmu kenapa dia datang seminggu setelah membawamu pergi? Dan setelah itu Mika memilih untuk mengakhiri hidupnya? Alice, terkadang, orang terdekatlah yang mampu menusukkan belati lebih dalam"
DEG. Alice membaca berulang kali tulisan itu. Dan.....
Matanya berkaca kaca, ia gemetar seketika.
" M..ika? ..ti..dak.. M..ika...?” Ia kembali membaca tulisan itu
Dan setelah itu mika memilih mengakhiri hidupnya
Dan setelah itu Mika memilih mengakhiri hidupnya
Dan setelah itu Mika memilih mengakhiri hidupnya..
" Tidaaaaaaakkkkkkk!” Teriaknya seketika menjatuhkan tubuhnya dilantai.
Dia menangis. Tubuhnya terguncang.
" Ti..dak..ini tidak benar.. tida..k t..idak." dia menggeleng pelan. Sekelumit bayangan Mika seolah tersenyum didepannya. Dia.. selama 5 tahun sudah berusaha menghapus bayangan itu. Namun sekarang? Bayangan itu terlihat sangat nyata.
Mika tersenyum dengan kemeja putihnya lalu duduk didepannya
" Kenapa kau menangis? Aku mohon jangan menangis lagi." Ucapnya lalu menghapus air mata Alice. Alice menggeleng pelan
" Kau baik baik saja kan?” Tanyanya dengan air mata yang masih mengalir. Mika terdiam lalu tersenyum tenang.
" Maafkan aku?” Ujarnya dan seketika bayangannya menghilang.
" Mika?? MIKAAAA ??” Alice berdiri melihat kesekelilingnya.
Ia tak bisa menahan dirinya. Air matanya pecah
Walau bagaimanapun aku berusaha.. Aku tidak bisa.. Aku tidak bisa melupakannya..
" Mikaaaaaaaaaaaaaa......!!” Teriaknya kuat. Lalu semuanya menjadi gelap. Alice terjatuh diatas lantai. Guncangan itu membuatnya tak sadarkan diri.
Albertus yang mendengar teriakan itu bergegas kelantai atas dan berlari menuju kamarnya.
" Alice!” Teriaknya shock melihat istri tercintanya terkapar tak sadarkan diri dilantai.
Tanpa basa basi pria itu segera membopongnya menuju ranjang dan membaringkannya pelan
" Pelaaaaayaaaaaannn cepat panggil tabiiibb!” Teriaknya khawatir.
Ia membelai wajah Alice yang penuh air mata
" Sayang bangunlah.. sayang... aku mohon.. Alice bangunlah?” Ucapnya menciup pipi Alice penuh kasih sayang. Hingga.. Tatapannya tertuju pada kertas lecek ditangan Alice. Albertus mengambilnya. Ia membaca isi surat dari Zolla itu dan seketika meremas surat itu ditangannya lalu menghempasnya kelantai.
" Sial, berani sekali kau Zolla." Ucapnya menatap wajah Alice teduh. Ia memegang lengan Alicenya lembut lalu memeluk tangan itu kedadanya.
" Aku tahu yang aku lakukan salah. Rahasia yang aku simpan selama ini agar kau hanya hidup bahagia saja. Alice, tak bisakah kau melupakannya saja." Ucapnya meneteskan air mata.
Aku tidak egois..
Aku hanya terlalu mencintaimu..