o RASA CINTA DAN LUKA

1471 Kata
 Alice menangis menatap pria didepannya dengan wajah tak percaya. Begitupula pria didepannya yang tampak memerah memegang tangannya. " Maafkan aku." Ujarnya usai menceritakan semuanya. Alice menggeleng pelan. Air matanya menetes tanpa sadar. " Apa seluruh hidupku harus dipenuhi oleh sandiwara Albertus?” Tanya Alice kecewa. " Alice aku mohon. Aku hanya ingin membuatmu bahagia." Albertus menangkap tangan Alice yang berusaha beranjak dari ranjangnya. " Tapi tidak dengan menipuku Al!!." Tekan Alice luluh. Ia tidak bisa melihat air mata pria itu jatuh. " Maafkan aku.. aku mohon maafkan aku." Tangisnya mencium tangan lembut itu membuat mata Alice berkaca kaca. " Aku sangat mencintaimu Alice. Aku tidak punya siapapun setelah ibuku meninggal selain kau dan Kashi. Tolong maafkan aku." Tangis Albertus serak. Tangan Alice gemetar berusaha menggapai rambut pirangnya, tapi.. ia tak sanggup. Kekecewaan dihatinya memuncak. Ia melepas tangannya dari Albertus lalu beranjak dari Ranjangnya. " Aku ingin ke Armagius?” Ucapnya membuat pemuda itu shock seketika " Tidak Alice aku mohon jangan lakukan ini padaku?” Albertus berdiri menjajari Alice. Dipegangnya pundak wanita yang sangat dicintainya itu lembut. Alice terpaku menatap mata biru prianya yang berkaca kaca. Hatinya gemetar melihat air mata diwajah tampannya. " Aku harus kesana Al, dia ayah dari anakku. Aku harus tahu apa yang terjadi padanya." Alice memegang tangan Albertus dipundaknya lalu menggenggannya erat. " Setelah itu aku akan kembali kesisimu, aku janji." Ucapnya lagi membelai wajah putih Albertus yang memerah. " Tidak Alice tolong jangan lakukan ini padaku. Aku takut." Albertus menahan pergelangan tangan Alice enggan Flashback " Maafkan aku Alice." " Tolong katakan saja padaku yang sebenarnya apa yang kau tahu dan tidak aku tahu?” Tekan Alice memerah. Gurat wajahnya penuh kekecewaan. Dengan berat hati Albertus memegang lengannya lembut lalu mengajaknya duduk disisi ranjang. " Katakan! Jangan membuatku menunggu?” Tekan Alice marah. Albertus menarik napas panjang. Bola matanya berair. Dan iapun mulai membuka suara. Sangat berat baginya.. untuk menceritakan semuanya sekarang. Tapi.. ia tak punya pilihan.. " Setelah kepergianmu, aku dengar Mikaila mengurung dirinya. Dia sama sekali tidak menyentuh makanannya ataupun mendengarkan siapapun. Kondisinya memburuk. Dan tepat seminggu sebelum kita menikah, Raja Julliant mengirimiku sebuah surat. Dia mengatakan bahwa Mikaila sakit dan dia sangat membutuhkanmu. Dia terlihat benar benar frustasi dan larut dalam dunianya sendiri. Timbul niatku untuk memperolok dirinya. Aku mengingat semua perbuatannya padamu. Maka aku datang ketempat itu untuk membuatnya semakin sakit. Aku datang ke Armagius. Dengan surat undangan ditanganku." -flashback 5 th yang lalu dalam cerita Albertus " Kenapa kau kemari? Aku memintamu untuk tidak menginjakkan kaki disini." Ucap Mika saat itu. Dia sangat berbeda hanya dalam waktu dua minggu. Tubuh indahnya mengurus. Jambang halus tumbuh di sekitar dagu dan atas bibirnya. Ia benar benar berantakan. Rambut legamnya terlihat kusam. Albertus tersenyum lalu duduk didepannya " Mikaila aku datang kesini untuk berterimakasih padamu karna kau telah suka rela melepaskan Alice padaku. Kau tahu saat dia datang ke istanaku hal pertama yang dia minta adalah.. menikah denganku?” DEG Mika menatap Albertus dengan mata memerah. Bulir bening mengenang disana. Cahaya matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam mendengar ucapan Albertus, tapi ia masih berpaling dan berusaha tersenyum. " Bagus?” Ucapnya dusta " Baguslah kalau kau senang mendengarnya. Ini undangan dariku. Jangan salah paham Mikaila. Aku akan membuatnya sama sekali tidak mengingatmu, ataupun semua perlakuan burukmu itu." Senyum Albertus dingin lalu melemparkan undangan itu tepat didepan Mika. Saat itulah, mimik wajah Mika berubah. Ia menatap undangan didepannya nanar. Hingga.... " Pergi!” Perintah Mika mengepalkan tangannya. Ia menatap undangan itu lekat. Bola matanya berair. Semua perbuatan yang ia lakukan kepada Alice selama ini membayangi pelupuk matanya " Hei.. ada apa denganmu?" Albertus memegang pundak Mika menyindir. Namun... " Jangan sentuh aku dan pergi dari sini!” Teriaknya menghempas tangan Albertus lalu berdiri memegang pedangnya yang diacung kehadapan Albertus. " Mika jaga emosimu!” Teriak Raja Julliant seketika memeluk tubuh adiknya itu " Suruh dia pergi kak!! PERGIIIIII!” Tekan Mika mengayunkan pedangnya kesegala arah. Saat itu Albertus melihat Raja Julliant menatapnya sedih dengan anggukan kecil agar Albertus menurut saja. Albertus terdiam beberapa saat melihat perubahan sikap Mikaila. Dia tidak menyangka sang prince perfectionist akan terlihat semenyedihkan itu. Dengan gemetar ia melangkah mundur. Dan menjauh dari ruangan itu. Namun.. Sebelum dia pergi.. Raja Julliant memegang tangannya lembut. Ia memohon agar Albertus mengatakan pada Alice tentang kondisi Mikanya. Dan Albertus berjanji akan memberitahukan segalanya pada Alicenya. Back of to Albertus " Aku tidak bisa memberitahumu Alice. Maka aku berbohong pada Raja Julliant dengan mengatakan bahwa kau tidak mau kembali. Aku sangat mencintaimu. Aku tidak bisa membiarkanmu kembali ke neraka itu. Aku tidak bisa membiarkanmu diperdaya olehnya lagi. Tolong maafkan aku Alice. Dan setelah itu aku mendengar...... Mikaila melukai dirinya sendiri." " Tolong maafkan aku."   Flashback off   Alice memeluk Albertus erat " Kau ayah dari putriku sampai kapanpun akan selalu begitu. Aku hanya ingin tahu apa yang terjadi padanya. Aku berjanji Al aku tidak akan meninggalkanmu. Aku janji." Ucapnya menghirup lekuk leher Albertus yang memeluk punggungnya erat. Inikah takdir? Haruskah Alice tahu apa yang sebenarnya terjadi? Haruskah dia kembali ke Armagius? Semoga Alice bisa menepati janjinya. ***   " Ibu, kita akan kemana?” Tanya Kashi saat Alice merapikan tudung kepala gadis kecilnya itu. " Kesebuah tempat sayang. Tempat dimana ibu dilahirkan ." Jawab Alice mengecup pucuk kepala putrinya lembut. " Lalu kenapa ayah tidak ikut?” Tanyanya lagi. Sejenak Alice terdiam, ia menatap kearah kastil kamarnya dari halaman istana dimana kereta kudanya sudah siap menanti. Albertus tampak berdiri disana. Alice melihat pria itu menyembunyikan air matanya lalu berusaha tersenyum dari tempat ia berdiri. Pasti menyakitkan baginya, karna itu, ia memutuskan untuk tidak ikut ke armagius. " Ayah sedang tidak enak badan sayang. Dia akan menjemput kita nanti." Senyum Alice memberi pengertian. Mendengar itu, gadis kecil itu mengembungkan pipinya kesal " Kalau begitu aku tidak ikut, aku mau melawat ayah." Ujarnya berkacak pinggang. Alice berkaca kaca, ia menatap wajah putri kecilnya lekat. " Apa kau sangat mencintai ayahmu?” Tanya Alice membelai wajah putih Kashi penuh kasih sayang. " Sangat sangat sangat mencintainya. Aku akan melawatnya dengan baik." Ucapnya yakin. Ya Tuhan...Bagaimana caraku..Untuk mengatakan bahwa aku akan membawanya ketempat ayah kandungnya tinggal? Bagaimana aku tega? Dia menganggap Albertus sebagai ayah yang sempurna. " Baiklah sayang. Kau boleh tinggal bersama ayahmu." Ucap Alice akhirnya. Gadis kecil itu berbinar. " Benalkah?” Tanyanya membundarkan mata ambernya yang indah Alice mengangguk lalu tersenyum manis. " Tapi kau harus berjanji pada ibu, kau tidak akan membiarkan ayahmu sendirian." Ucapnya. " Jaga dili ibu baik baik ya. Bye." Kashi mengangguk kemudian mencium lembut pipi Alice dan berlari kembali ke dalam istana . " Ayaaaaah!!" Teriaknya riang. Alice bisa melihat beberapa saat kemudian, putrinya sudah berada dipelukan sayang ayahnya. Albertus memeluk putrinya erat lalu tersenyum haru kearahnya. " Kenapa kau tidak menemani ibumu nak?” Tanya Albertus menggendong putrinya itu " Aku ingin belsama ayah. Aku menyayangimu ayah." Ucapnya membuat Air mata Albertus meleleh. " Kalau begitu jangan pernah tinggalkan ayah nak." Albertus menciup pipi lembut Kashi. Alice menghapus air mata melihat semua itu. Ia kemudian melangkah menuju kereta kudanya. Aku mungkin tidak mencintainya sepenuh hati Tapi dia adalah alasanku hidup Dia bagai tuhan bagiku.. Aku bisa berlari pergi dari cintaku.. Tapi bagaimana bisa aku meninggalkan tuhanku? Albertus..Aku pasti akan kembali..   Sementara Di Armagius   " Yang Mulia." Syafira menunduk hormat dibelakang Raja Julliant yang masih berdiri menghadap jendela besar didepannya. " Ada surat untuk ada." Ucapnya kemudian menyerahkan gulungan surat itu kehadapan Raja Julliant. " Bacakan saja Syafira. Sudah kubilang berulang kali berhenti memanggilku yang mulia. Kau sudah seperti adikku." Ucap Raja Julliant tanpa ekspresi. Syafira tak membantah. Gadis yang masih terlihat sangat cantik itu mulai membuka gulungan surat ditangannya. Tapi saat membacanya.. Ekspresi wajahnya berubah. " Ada apa? Mengapa kau diam?” Tanya Raja Julliant menangkap keheningan, ia menoleh kearah Syafira yang tampak memerah. " Syafira?” Tanyanya merampas surat itu dari tangan Syafira dan membacanya sendiri   " Phosaidon- Ratu Alice sedang dalam perjalanan. Aku mohon perlakukan dan jaga dia dengan baik. Dia bukan Adik Iparmu lagi melainkan istri dari Raja Albertus dan Ratu kerajaan Armagius. Jadi hormati dia!!    Albert III Tangan Raja Julliant gemetar. Ia terpaku beberapa saat sebelum akhirnya.. seulas senyum menghiasi bibirnya. Perlahan, ia menoleh pada lukisan besar tak jauh dari tempatnya berdiri. Lukisan wajah Vallen. Dengan mata berkaca kaca, ia menunjukkan surat itu kehadapan lukisan, seolah lukisan itu bisa melihatnya. " Anakku lihat, putraku.. akhirnya dia akan kembali. Ayah berjanji akan menebus semua kesalahan kita. Dan dia akan memaafkanmu nak. Dia pasti akan memaafkanmu." Ucapnya meneteskan air mata. Sementara itu, Syafira mengepalkan tangannya erat. Sial, aku muak mendengar nama wanita itu. Dia sudah memiliki Mika dan albertusku. Untuk apa dia kembali? Tapi... ( Syafira mengulas senyum) ini bagus juga... Saat ia kembali, aku akan membuatnya diam disini. Dia tidak akan kembali pada Albertus. Tidak akan pernah. Aku akan membuatnya tetap disini. Ya, itu harus   Lamunan Syafira terhenti saat Raja Julliant berteriak senang, " Pelayaaaaaaannn, Syafira panggil pelayan... ah tidak, katakan pada mereka untuk membuat sebuah penyambutan. Alicenya putraku akan datang. Dan semuanya harus terlihat baik. Kita harus menyambutnya!!" Ucap pria paruh baya itu berbinar. Syafira tersenyum manis lalu mengangguk pelan. " Iya kak." jawabnya kemudian beranjak. Sulit diungkapkan betapa gembiranya hati Raja Julliant saat itu. Setelah bertahun tahun.. akhirnya.. Ia bisa mewujudkan permintaan terakhir putranya..”Mendapatkan maaf dari Alice.” Jauh disudut hatinya, tiba tiba ada ruang yang terasa nyeri saat melihat lukisan putranya di dinding itu " Vallen, andai kau bisa melihat semua ini nak." Ujarnya sedih. " Maafkan ayahmu ini."  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN