Alice Pov
Senja di ufuk barat menghentikan keretaku di halaman ini.
Pada waktu ini.
Aku terdiam beberapa saat, jantungku rasanya berdebar lebih kuat. Haruskah aku turun?
Aku mendengar suara petasan menghiba dilangit lepas. Mereka menyambutku. Aku harap ini bukan tipuan lagi.
Aku bukan gadis kecil yang dulu.
Walaupun sebenarnya aku tidak tahu alasan apa yang tepat untukku kembali kesini.
Suara music yang terdengar seolah mengingatkanku pada masa kecilku.
" Yang Mulia Ratu. Anda akan turun?" Tanya stephan pengawal pribadiku? Ia membukakan pintu kereta kuda dan mengerutkan kening padaku.
Mungkin karna aku terlalu lama diam
Dengan sekuat tenaga aku menahan hatiku. Ribuan maaf kuucapkan untuk Albertusku yang mungkin sedang menangis di sana.
" Ya." Ucapku akhirnya menuruni kereta kudaku lalu melangkah ke luar.
Seketika air mataku meleleh melihat tempat di mana aku dibesarkan ini. Napasku seolah terasa sesak.
Hingga...
" Alice kau kembali?" Aku tersentak.. aku seolah mendengar suaranya. Mataku beralih pada taman tak jauh dari halaman ini. Taman yang sama.
Aku melihatnya berdiri disana, pangeran masa kecilku. Dia berdiri dengan rambut legamnya yang menari bersama angin. Wajah tampannya yang bagai malaikat tanpa sayap. Lalu tiba tiba bayangannya pudar. Menyisakan air mataku yang seketika mengalir turun
Baru pertama aku melangkahkan kaki dan seketika itu juga aku melihatnya..
Tuhan..
Kuatkanlah aku.
Rasanya ada beban di kakiku saat aku mulai melangkah menuju karpet merah bertabur bunga yang mereka persiapkan untukku.
Tidak Alice kau tidak boleh rapuh. Aku menguatkan diriku sendiri.
Hingga...
" Yang muliaaaa!!" Seorang wanita tua dengan tongkat ditangannya berjalan cepat penuh haru kearahku. Disisinya tampak seorang pemuda tampan tersenyum menyambutku.
Aku mengenali mereka.
" Maya." Ucapku haru. Dia memegang tanganku dengan mata tak hentinya berair
" Akhirnya anda kembali Ratu." Ucap Pemuda disisinya.
Suaranya, warna kulitnya.. mengingatkanku pada seseorang.
" Kau sudah sangat besar Anthonius. Aku dengar kau menjadi anggota dewan. Selamat." Ucapku bangga.
Ya, dia Anthonius. Masih ingat? Dia saudara iparku. Adik dari Suamiku Albertus.
Dia harus berada disini karna disinilah ayahnya dikuburkan. Dia memang tidak mirip dengan suamiku. Tapi suara dan tatapannya... sangat serupa.
Jauh dalam lamunku. Tiba tiba aku merasakan kehadiran seseorang yang menaburiku dengan bunga melati putih.
Rahangku mengeras seketika melihat wajahnya.
" Selamat datang yang mulia." Ucapnya dengan mulut munafiqnya itu. Dan aku langsung ingat saat bibir itu mencium mika dulu dengan penuh nafsu didepan mataku. Tanganku mengepal.
" Maya, aku tidak ingin melihat wajahnya!" Tekanku memalingkan muka.
" Yang Mulia tolong maafkan hamba." Ucapnya menghiba.
" Maya aku tidak ingin melihat jalang ini di depanku. Suruh dia menyingkir atau aku akan kembali ke istanaku!!" Ancamku.
Aku bukan anak kecil lagi.
Maya tampak bingung.
Siapa yang tidak tahu kalau Safira adalah tangan kanan Julliant yang licik itu.
Tapi..
Tiba tiba
" Pergilah Safira!" Ucap sebuah suara.
Mataku seketika nanar menatapnya. Dia melangkah kearahku dari dalam istana.
Wajahnya, langkahnya.. dia..
Tak ada yang semirip dia dengan Mikaila. Ya, Raja Julliant.
Pria munafiq itu kini berdiri didepan wajahku dengan mata kotornya. Yang bahkan aku jijik untuk melihat wajahnya.
" Terimakasih Alice. Kau mau mendengar permintaanku." Ucapnya getir.
Aku menatapnya tajam.
" Ratu Atrix. Kau ingat itu! Aku bukan Alice lagi!" Tekanku membuatnya sedikit terhenyak.
Aku melihat duka dimatanya. Duka yang entah kenapa mencubit perasaanku.
Membuat kesabaran dihatiku porak poranda.
" Aku datang untuk menanyakan Mikaila. Dimana dia?" Tanyaku langsung dengan nada tinggi.
Raja Julliant tampak menundukkan wajah tampan munafiqnya itu, ia beracting menyeka air matanya yang hendak meluncur turun. Sumpah demi apa, dia membuatku muak.
" Ikutlah dengan saya yang mulia!"
" Aku tidak punya banyak waktu. Putri dan suamiku sudah menungguku. Aku hanya ingin bertemu dengan Mika!" Tekanku padanya.
" Ikutlah yang Mulia. Saya akan menemani anda." Ucap Maya menenangkanku.
Maka, akupun mengikuti langkahnya. Memasuki istana yang terasa asing walau disinilah aku dilahirkan dan dibesarkan dulu.
***
Alice menghentikan kakinya di sebuah ruangan yang pengap. Ruangan itu sangat gelap dan seolah dibiarkan bertahun tahun tanpa cahaya.
Di depannya, Raja Julliant menyalakan beberapa lampu lilin sementara Maya membantu menyibakkan beberapa gorden di sana.
Hingga...
" Anda mengenalnya?" Tanya Raja Julliant melepas penutup sebuah lukisan besar yang terpajang di dinding. Alice mengerjab beberapa kali berusaha meyakinkan dirinya.
Seorang gadis cantik, dengan rambut pirang panjangnya dan senyum yang begitu indah.
" Bibi Aldegyr adik paman Alba mantan perdana menteri?" Tanya Alice dengan raut wajah bingung. Ditatapnya Raja Jullian yang tampak gusar.
" Benar, dia Aldegyr. Dan tahukah anda siapa Aldegyr?"
" Jangan main main Julliant. Aku datang kesini bukan untuk mendengar silsilah keluargaku, aku ingin bertemu Mika!!" Tekan Alice kesal.
Tentu saja ini menyebalkan, dia menanyaiku tentang bibiku sendiri yang meninggal karna diculik dan diperkosa secara brutal. Apa dia bermaksud menghinaku?
" Dia Ibunya Vallen!"
DEG
Seketika Alice terdiam. Keningnya mengernyit.
" Kau membual!" Ucapnya menuding.
Raja Julliant menarik napas panjang lalu menghembuskannya berat. Ia tahu, Alice tidak akan percaya kata katanya.
" Maya, dia percaya padamu. Tolong ceritakan apa yang kau tahu padanya. Karna sampai kapanpun dia tidak akan mempercayaiku!" Ucap Raja Julliant. Lalu menghempas tubuhnya pada sebuah sova di sisinya dan memijit pelipisnya berat.
Alice beralih menatap Maya Eliza. Tatapannya seolah menuntut kebenaran.
" S..aya..,
Maya tampak gugup menatap Alice. Wajahnya terlihat gusar.
" Katakan saja Maya." Ucap Alice mendekatinya lalu memegang bahunya lembut.
.......
" Putri Aldegyr diculik oleh..r..raja Albus d..dan..di sanalah .ddi..a diperkosa." Ucapnya membuka suara.
Dan...
" b******n!" Raut wajah Alice memerah seketika. Ia mengedarkan pandangannya pada Julliant.
" Jadi kalian yang membunuh bibiku hah? b*****t kau memang tidak punya hati. Kau binatang. Kalian benar benar biadab! Jadi untuk ini kau...
" Yang mulia..!!!" Potong Maya saat melihat emosi berkobar dimata Alice. Ia memegang dan mengusap lembut lengan Alice yang mulai menangis. Wanita tua itu menggeleng pelan
" Bukan Raja Julliant yang Mulia. Tolong dengarkan saya dulu." Sambung Wanita Tua itu berusaha meredam.
Alice mengusap wajahnya tak percaya. Ia menatap lukisan bibi yang belum pernah dia lihat seumur hidupnya itu.
Cantik, sama seperti lukisan yang dulu sering ditunjukkan ayahnya beserta kisah tragis di dalam kematiannya.
" Putri Aldegyr adalah putri kesayangan diistana ini. Dia ibaratkan matahari yang sinarnya menerangi istana. Gadis kecil ceria yang selalu berlari kesana kemari. Hingga Yang mulia Raja Edgar III memindahkannya ke akademi yang dia sukai. Akademi Venzufuzi tempat impian para pangeran dan putri menimba kemampuan mereka. Dan disanalah ia menemukan orang yang dia cintai. Putri Aldegyr jatuh cinta pada seorang pangeran di sana, dia adalah pangeran yang sangat baik, polos dan sangat sopan. Guru meminta pangeran itu membimbingnya selama pelajaran memanah. Karna pangeran yang dia cinta itu adalah yang terbaik di sana." Cerita Maya terhenti. Ia menatap mata Alice yang mulai berkaca kaca....
" Siapa dia Maya?" Tanyanya serak
Maya menarik napas panjang lalu menatap ke arah Julliant yang tampak menundukkan wajahnya dikursi itu.
" Putri Aldegyr mencintai pangeran Alex, Kita mengenalnya dengan nama Julliant Alexsander I dari Albus. Putra Raja Fezat Alexsander. Pria yang saat ini berada diantara kita yang mulia." Tunjuknya membuat mata Alice membundar.
" Tidak mungkin!" Ucapnya tak percaya. Ia menatap Julliant dengan seksama
Benarkah?
Pria psyco ini?
Dan dicintai bibi?
" Benar yang mulia, Raja julliant dua tahun lebih muda dari putri Aldegyr. Saat ingat masa itu. Dimana Raja julliant masih sangat lugu. Bahkan putri mendominasi dirinya. Putri memberikan segala cintanya. Dan Raja Julliant menjadi tak bisa lepas darinya. Mereka saling mencintai. Sangat saling mencintai. Aku tidak tahu sejauh mana hubungan mereka. Hingga suatu hari, saat putri kembali dari akademi, diusianya yang ke 15 tahun. Dia mengandung, putra hasil hubungan mereka yang sama sekali tidak direstui. Dengan susah payah putri berusaha mempertahankan kandungannya. Ia sangat ingin mengatakan hal ini pada raja Julliant. Tapi pangeran Alba yang saat itu tengah menjadi perdana menteri bersumpah. Dia akan membunuh anak mereka kalau putri Aldegyr tidak menerima pinangan Putra Mahkota Jawwerelly. Putri terpaksa menulis sebuah surat pada Raja Julliant yang menyatakan dia menghianati Raja Julliant. Demi putranya, putri mengorbankan dirinya. Namun, malam itu juga tragedi itu terjadi. Saya melihat Raja Julliant berlari ketempat ini dengan kaki telanjang. Dia menangis usai menerima surat dari kekasihnya. Dia meminta keadilan untuk cinta mereka, tapi bukan jawaban yang didapat melainkan siksaan. Sepanjang jalan raja Julliant dihina dan dicambuk oleh Perdana menteri, dilempari batu dan dicaci. Takdir mempermainkan cinta mereka dan mengubahnya menjadi kebencian. Ayah Raja julliant marah dan menculik putri Aldegyr. Raja Julliantpun yang diliputi rasa kecewa membiarkan kekasihnya diperkosa tanpa dia tahu ada putranya didalam rahim putri Aldegyr. 9 bulan lamanya. Sang putri bertahan.. hingga akhirnya.. dia meninggal setelah melahirkan putranya. Putra yang semua orang kira adalah hasil p*******n Raja Albus. Tapi pada kenyataan putra itu tak lain adalah darah daging Raja julliant sendiri. Dia adalah Mikaila, Vallen mikaila Alexsander. Ya, yang Mulia, selama ini anda menikahi saudara sepupu anda sendiri." Tangis Maya menceritakan semuanya
Alice gemetar mendengarnya.
Tubuhnya seketika melemah dan lunglai terduduk dilantai.
" Bahkan Raja Julliant baru mengetahui hal ini setelah semua dendamnya terlaksana yang mulia. Tidak ada yang bisa disalahkan selain takdir yang memisahkan Raja julliant dan putri Aldegyr dengan cara yang aneh. Yang mengubah cinta mereka menjadi kesalah pahaman dan memaksa Pangeran mikaila membalaskan dendam kakaknya terhadap anda. Percayalah yang mulia..... Pangeran Mikaila sangat mencintai anda. Dia hanya tidak mengerti bagaimana caranya menghargai orang yang dia cintai." Maya memegang tangan Alice lembut
Wanita itu menangis di lantai. Menatap kedua tangannya kemudian kembali terisak
" Ja..di Mika adalah kakak sepupuku?" Tanyanya serak.
" Maafkan ssya yang mulia, ini semua salahku. Aku terlalu mencintainya, aku terlalu kecewa padanya hingga aku buta." Ucap Raja Jullian berdiri dari duduknya. Terlihat jelas ia sangat sedih. Alice mencoba berdiri menatapnya.
" Benarkah semua ini?" Tanya Alice pasi.
Raja Julliant menganggung lirih.
" Tolong maafkan saya." Ucapnya menatap Alice sendu.
Alice menggeleng pelan seolah tak percaya. Semua yang dia dengar seolah menghantam ulu hatinya. Membuat semuanya kabur dan perasaannya kacau.
Namun....
" Raja Julliant!!!!" Cekatnya saat tiba tiba Raja Julliant terduduk di kakinya.
Matanya yang berair seketika membundar.
" Tolong, saya mungkin tidak bisa mengubah masa lalu. Tapi sebagai seorang ayah saya ingin meminta maaf. Tolong penggal saja kepala saya tapi maafkan Mikaila. Maafkan dia yang mulia. Tolong maafkan dia." Raja Julliant menyentuh kaki Alice.
Dia bersujud didepan Alice.
Dia..
Yang selama ini seolah diliputi oleh keangkuhan..
" Tolong maafkan Mikaila.. maafkan putra saya." Ucapnya terisak begitu rendah.
Alice gemetar, ia seolah tak percaya dengan semua ini.
Seolah aku..
Tidak pernah melihat pria yang hidupnya diliputi penyesalan seperti ini.
Dulu dia melangkah begitu angkuhnya
Hidupnya dipenuhi kebohongan dan kelicikan
Tapi sekarang..
Aku seolah melihat wujud lain dari Julliant.
Wujud yang tak pernah aku kenal sebelumnya
Pria yang penuh cinta dan kasih sayang..
Dia bahkan berlutut dikakiku demi anaknya..
Menyentuh dan meneteskan air matanya ditempat terendah bagi laki laki.
Membuatku gemetar dan hatiku tercubit olehnya.
Maka dengan hati berdebar aku membuka suara..
" Dimana Mika?" Tanya Alice gusar.
Seketika wajah Raja julliant menjadi pasi. Begitupula Maya yang mengepalkan tangannya cemas.
Bersambung