" Putri Kashi kehilangan banyak darah yang mulia. Luka dikepalanya cukup parah, maafkan hamba... rasanya hamba tidak sanggup menyelamatkannya." Ucapan Tabib saat memeriksa Kashi membuat Albertus mengusap rambutnya jengah. Ia terduduk tanpa asa diruang kerjanya. Entah keberapa kalinya ia menyeka air mata. Malam sudah larut tapi ia sama sekali tidak bisa merebahkan pikiran kalutnya. " Al." Sebuah suara tak kalah sumbang membuatnya tertahan menatap pada ambang pintu. Alice tampak berdiri disana dengan raut tak kalah gusar dan selimut tebal ditangannya. " Bagaimana keadaannya? Demi tuhan Alice aku tidak mampu melihatnya begini." Albertus menundukkan kepalanya kemeja lalu kembali menangis. Alicepun meneteskan air matanya. Ia melangkah kearah suaminya itu lalu menyelimuti pundaknya lembut.

