Tertampar dengan ucapan sendiri

1004 Kata
IPAR DAN MERTUAKU 4 “Sama Adek Alif juga ya Pa? Seperti biasanya, kemarin kan Papa sama Tante Ulfa pergi boncengan naik motor, dan pulangnya lamaaaaaa banget, sampai Nenek bingung karena Adek Alif terus menangis.” Terang Putriku. Wajah Mas Fendi seketika berubah pucat. Keterangan Melda tadi membuat semua pertanyaan dalam hatiku terjawab, cukup jelas dan tidak ada lagi yang harus kupertahankan. Itu berarti selama ini aku memelihara para penghiana*. Pantas saja Mas Fendi betah di rumah, jadi ini alasannya. ‘Tega kalian. “Kemarin kan Papa hanya mengantar Tante untuk membeli s**u formula Adek Alif,” kilahnya. Tatapannya bergeming ke arahku, aku semakin menatapnya tajam. Sangat terlihat bahwa saat ini Mas Fendi sedang salah tingkah. “Tapi kemarin Melda gak lihat Tante membawa s**u formula, malahan Nenek yang menyuruh Tante Ara belikan. Melda ingat kok Pa,” lanjut Putriku. Mas Fendi semakin kelincutan mendengar putrinya berbicara membeberkan perbuatan orang seisi rumah. “Nanti lagi ceritanya ya Sayang, bukannya tadi mau ganti baju dulu? Nanti makanannya keburu dingin,” Aku memang sengaja menghentikan Melda, nanti setelah ini, tunggu Mas, aku akan menunjukkan di mana tempat yang pantas untukmu. Kutinggalkan Lelaki bergelar Ayah untuk putriku itu, Mas Fendi masih terlihat salah tingkah saat menatapku berlalu di hadapannya dengan menggandeng Melda. Aku menoleh ke arahnya yang saat ini masih berada di depan pintu dapur, sesekali Mas Fendi mengacak rambutnya, kemudian mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangan. ‘Bangkai tak selamanya bisa disimpan Mas! Sekarang kebusukan kalian terungkap semuanya. Bahkan sebelum aku mencari tahu lebih lanjut. Sampai di kamar aku segera mengganti seragam Melda. “Melda bisa sendiri Ma,” ucapnya, sambil meraih baju yang sudah kusiapkan untuknya. ‘Ternyata banyak hal yang kulewatkan mengenai putriku. Maafkan Mama Nak, tidak bisa selalu melihat perkembanganmu. Aku tersenyum menyaksikan Melda sudah bisa mengganti seragamnya tanpa bantuan orang lain. Setelah selesai, aku meminta Melda untuk mencuci kaki dan tangannya. “Mama jangan pakai baju yang ini,” ucap Melda. Putriku menarik ujung kimono yang tergantung di kamar mandi. “Kenapa sayang? Ini kan milik Mama,” jawabku. “Tante Ulfa sering memakainya Ma, Waktu itu Tante mandi di sini, bareng sama Papa juga,” Terangnya. Keterangan Melda kali ini membuat ulu hatiku seperti diiris-iris. Bukan karena penghian*tan mereka. Tapi siapa yang berhian*t. ‘Seperti ini rasanya. Sakit sekali. Saat ini aku berjongkok, menyejajarkan posisiku dengan Melda. Menatap lekat wajah polos putriku. “Apa Nenek dan Tante Ara juga ada di rumah saat Papa dan Tante Ulfa mandi bersama?” Pertanyaan yang sedikit gil* memang, bila kutanyakan dengan anak seusia Melda, tapi terpaksa, demi mendapatkan lebih banyak bukti kecerobohan mereka. Melda mengangguk. Sementara dadaku semakin berdesir. Sakit. “Apa Mbak Nani juga melihat?” lanjutku, sambil berusaha menahan gumpalan yang sebentar lagi akan menerobos kelopak mataku. Melda menggeleng. “Tante Ara yang menunggu Melda di depan teras, setelah itu meminta Mbak Nani pulang. Melda bisa mengganti seragam sendiri, Tante Ara dan Nenek yang mengajari Melda, katanya Anak perempuan harus mandiri, Melda juga disuruh membuat teh, mengangkat jemuran. Lihat ini Ma tangan Melda sampai sakit,” Ungkap putriku polos. Gadis berusia lima tahun itu menunjukkan lengan bagian kirinya yang sudah lebam. “Bekas apa ini sayang?” tanyaku, sangat terkejut dengan apa yang kulihat. “Ini bekas... Emmm apa ya? Melda lupa Ma,” jawabnya. Sepertinya Melda sedang berusaha mengingat ingat sesuatu, ia memutar bola matanya dari kanan ke kiri, lalu kembali dari kiri ke kanan. “Bekas kejatuhan gelas atau tempat minum ya? Melda lupa Ma, waktu itu Tante Ara tidak sengaja menjatuhkannya ke tanganku, tapi Nenek sama Tante Ulfa malah tertawa, padahal ini sakit Ma,” Sambungnya. Seketika aku beranjak, aliran darahku sudah mendidih setelah mendengar penjelasan putriku. Rasa kecewa karena penghian*tan mereka kalah dengan rasa sakit yang telah mereka perbuat pada putriku. “Melda tunggu di sini, Mama akan ambilkan makanan untuk Melda,” ucapku. Aku keluar dari kamar, tujuanku saat ini hanya ingin segera menemui Damara! “Damara!!!! Di mana kau wanita ibli*!” Teriakanku mungkin terdengar sampai keluar rumah. ‘Di mana wanita itu? Lihat saja! Aku tidak akan melepaskannya. “Damara!!!!” Teriakku untuk yang ke sekian kalinya. Tidak ada satu orang pun di rumah ini, ke mana Ibu dan dua peliharaannya itu? Kamar ibu dan anak itu sudah kuperiksa satu persatu, pakaian mereka masih berada di tempatnya, tapi tak kutemukan tiga manusia itu. ‘Apa mereka tadi mendengar saat Melda bercerita kepadaku? Lalu mereka takut dan menghindar dariku? Lalu di mana Fendi? Di mana lelaki itu? Mataku menelisik ke sekitar ruangan. “Ada apa sih Bu? Saya sampai kaget, baru saja mau tidur siang sudah mendengar keributan,” Terdengar suara obrolan dari depan kontrakan. “Mbak Aira berteriak, saya juga tidak tahu, apa yang terjadi di dalam kontrakan ini,” sahut seseorang yang lain. Aku melebarkan langkah menuju pintu depan. Saat berhasil membukanya, terlihat beberapa tetangga sudah berada di teras kontrakan. ‘Pasti suara teriakanku yang membuat mereka berkmpul di sini. “Ada apa Mbak Aira? Kenapa dengan Damara? Terjadi sesuatu ya dengannya?” tanya salah seorang tetangga. Bu Asri. “Apa Ibu-Ibu di sini ada yang melihat Ipar dan Mertua saya?” Aku malah memberi pertanyaan pada para tetangga. Semua saling menatap, kemudian menggeleng. “Tidak ada satu orang yang keluar dari tadi, iya kan Bu Yuni?” ucap Bu Asri. Bu Yuni mengangguk. ‘Lalu ke mana mereka? Apa mereka masih berada di dalam? Ah ya, teras belakang, aku melewatkan tempat itu tadi. “Sebentar Ibu-Ibu, saya masuk dulu.” Pamitku pada para tetangga kemudiab masuk ke dalam rumah. “Kalau butuh sesuatu beri tahu kami saja Mbak Aira,” ucap Bu Yuni. Aku mengagguk kemudian meninggalkan mereka dan kembali masuk ke dalam kontrakan, lalu menuju teras belakang. “Dosa loh Tante, mengambil milik orang lain itu kan tidak baik,” suara putriku dari arah dapur. Jadi Melda sudah keluar dari kamar, apa dia tadi mengikuti keluar dari kamar? “Anak kecil sok tau! Sana masuk!” suara Damara menimpali ucapan Melda. Aku sengaja berjalan mengendap-ngendap menuju dapur. Tatapanku fokus tertuju pada Damara!!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN