Impas kan?

1015 Kata
IPAR DAN MERTUAKU 3 “Andai saja Istrimu itu Ulfa, pasti dia sangat menurut,” Kata-kata ibu kali ini membuatku kembali tersulur emosi. Tapi, aku harus ingat. Di sini ada Melda, aku tidak mau Melda mencontoh sikap yang tidak semestinya ia lihat. “Bagaimana kalau Mas Fendi menikah saja dengan Mbak Ulfa? Dengan begini kita bisa bebas dari wanita jude* itu.” Sahut Damara, kali ini suaranya sangat jelas kudengar. Karena aku sudah berada tidak jauh dari tempat mereka. “Tapi Mbak Ulfa itu Iparku, Bu. Mana mungkin aku menikahinya.” Jawab Mas Fendi, sedikit melirik ke arahku. Kebetulan aku baru saja mendapat pesan masuk dari ponselku, seseorang yang kutunggu sudah berada di depan saat ini. Ibu dan Damara sedikit terkejut saat aku muncul dan berjalan melewati mereka. “Sudah lama? Ayo masuk, sekalian temani kita makan.” Ucapku. “Jadi seperti ini? Kalian bermain gil* di belakangku? Usman ini Iparmu! Kamu tidak but* kan?” “Ya mungkin saat ini dia Iparku, siapa tahu besok bisa menggantikan posisimu, Mas!” Pungkasku. Mas Fendi mengepalkan kedua tangannya. “Sepertinya ada tamu untukmu, Mas. Pak Mardi.” Lanjutku. “Minggir, jangan berdiri di tengah pintu.” Lanjutku, seraya berjalan menerobos masuk ke dalam rumah. Tidak ada gunanya meladeninya, membuang buang waktu dan tenagaku saja. Karena kejadian tadi aku sampai melupakan Melda, pasti saat ini ia masih menungguku di dapur. Lebih baik aku segera mendatangi putriku. Aku jadi berpikir untuk memanggil Mbak Nani untuk tinggal di sini menemani Melda, aku baru tahu alasan ibu memberhentikan Mbak Norma. Itu agar tidak ada yang memberitahuku apa saja yang ia lakukan bersama menantu kesayangannya saat aku berada di tempat kerja. Pantas saja ibu juga meminta Mbak Nani menjaga Melda hanya paruh waktu. Pagi ia datang menjemput Melda, siang hari ia akan pulang setelah Melda pulang sekolah, dan datang lagi saat jam makan siang. Padahal mereka berdua itu bekerja padaku sejak empat tahun yang lalu, saat aku masih tinggal di rumah yang sudah raib karena terjual untuk biaya pengobatan Mas Arul. “Bagaimana Mbak Aira? Apa Mas Fendi sudah mendapatkan uangnya?” Pak Mardi menghentikan langkahku. “Tenang saja, Pak. Pasti Fendi akan segera membayarnya, ia sedang meminjam pada adik iparnya di depan.” Sahut ibu. ‘Apa? Jadi Mas Fendi menghentikan Usman karena ingin meminjam uang untuk membayar kontrakkan ini? Memalukan. “Itu Fendi, bagaimana? Apa Usman mau memberimu pinjaman? Pasti kamu sudah membawa uangnya kan?” ibu bertanya runtuk saat melihat Mas Fendi kembali masuk ke dalam kontrakan. Terlihat wajah Mas Fendi sedikit murung. Ia tampak tak bersemangat. “Mana uangnya Mas?” tanya Damara yang saat ini tengah berjalan di sebelah kakak lelakinya. “Uang apa? Usman tidak mau memberiku pinjaman.” Jawab Mas Fendi. “Dasar Menantu tak bergun*!” Sahut ibu. “Kenapa Ibu menyalahkan orang lain? Ini bukan tanggung jawab Usman, dan dia juga bukan lagi bagian dari keluarga kalian.” Jelasku. Ibu seperti menahan ucapannya, mungkin kalau keadaannya tidak seperti sekarang, pasti ibu akan berbicara lebih lantang menimpaliku. Hanya saja saat ini ia sedang dalam posisi sulit. Pak Mardi yang mendengar itu, langsung berdiri dari kursi. “Wah bagaimana ini Mas? Padahal saya sudah datang kesini seminggu setelah tanggal jatuh pembayaran. Harusnya uangnya sudah ada. Kalau begini caranya mending kalian cari kontrakan lain saja, di luar sana banyak yang mengantari untuk bisa dapat kontrakan murah seperti ini.” Ucap Pak Mardi. Mas Fendi terdiam, ibu pun sama. “Begini saja Pak. Saya akan usahakan uangnya dalam jangka waktu satu minggu, sebagai jaminannya, ini kunci motor saya, silakan Bapak bawa motor saya sebagai jaminan.” Ucap Mas Fendi. Pak Mardi terlihat berpikir, ia tak langsung menanggapi kunci motor yang Mas Fendi serahkan kepadanya. “Hanya seminggu ya Mas? Saya pegang ucapannya?” jawab Pak Mardi setelah beberapa saat. “Saya janji, pasti dalam waktu seminggu saya tebus kembali motor itu,” ucapnya sangat yakin. Ibu mengangguk angguk, seperti ikut meyakinkan Pak Mardi. Kemudian Pak Mardi berpamitan untuk pulang. “Mas kenapa malah motornya dibuat jaminan? Nanti aku ke mana-mana pakek apa?” protes Damara. “Tidak ada pilihan lain lagi, nanti setelah Mas dapat pekerjaan lagi, kita beli lagi motor yang baru.” Jawab Mas Fendi. “Tunggu saja sampai lebaran monye*! Mana ada pekerjaan datang kalau kita tidak berusaha mencarinya!” Celetukku, sambil berjalan meninggalkan tiga orang itu di ruang tamu. Entah apa yang akan mereka rencanakan setelah ini, aku tidak peduli lagi. Benar ternyata Melda masih menungguku, gadis kecilku tersenyum sambil melepas kedua tangannya yang tadi menempel di kedua telinganya. Sepertinya Melda mulai paham dengan kata-kataku. Karena aku selalu berpesan padanya, agar tidak mendengarkan percakapan orang dewasa. Itu sebabnya ia lebih memilih tetap berada di dapur dan menutup kedua telinganya. “Sudah lapar? Ini makanannya,” ucapku, sambil meletakkan kotak berisi makanan siap saji di hadapan Melda. “Apa boleh Ma, makan dulu tapi belum mengganti seragam?” pertanyaan polos putriku. Putriku bersekolah di lembaga pendidikan swasta berbasis agama, itu sebabnya saat hari minggu ia masih tetap masuk sekolah, karena libur sekolah Melda pada hari Jumat. “Ayo, Mama akan membantumu untuk mengganti seragam, setelah itu kita cuci tangan,” ucapku. “Apa kita jadi pergi ke rumah Oma, Ma?” lanjutnya bertanya. “Tidak jadi sayang, karena Papa sudah menyelesaikan pembayaran kontrakan rumah ini, Melda akan tetap tinggal di sini bersama Papa,” Sahut Mas Fendi tiba-tiba. Ia sudah berada di dekatku dan Melda. ‘Siapa bilang aku tidak jadi pergi. Karena aku tahu dalam hitungan jam pasti Pak Mardi akan kembali lagi datang dan mengusirmu Mas. Tunggu saja, itu karena motor yang kau jadikan jaminan sebentar lagi akan segera ditarik oleh lesing. Baru beberapa menit yang lalu aku mendapat pesan masuk bahwa motor itu sudah empat bulan tidak pernah ada lagi pembayaran/cicilan darimu. “Sama Adek Alif juga ya Pa? Seperti biasanya, kemarin kan Papa sama Tante Ulfa pergi boncengan naik motor, dan pulangnya lamaaaaaa banget, sampai Nenek bingung karena Adek Alif terus menangis.” Terang Putriku. Wajah Mas Fendi seketika berubah pucat. Keterangan Melda tadi membuat semua pertanyaan dalam hatiku terjawab, cukup jelas dan tidak ada lagi yang harus kupertahankan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN