Tak tarnilai

1015 Kata
IPAR DAN MERTUAKU 2 Bisa-bisanya ibu berbicara seperti itu, berarti selama aku berada di tempat kerja, Mbak Ulfa sering datang ke kontrakan ini. Apa yang mereka lakukan selama ini? Benar-benar keterlaluan. “Ini Ulfa uang dari Fendi tadi, kamu pergunakan untuk kebutuhanmu dan Alif,” Ibu mengulurkan beberapa lembaran merah pada Mbak Ulfa. “Ini bukan uang Mas Fendi!” Sengaja aku mendahului menyambar uang dari tangan ibu. “Aira!” teriak Mas Fendi. Aku membalik badan ke arahnya. “Berikan uang itu!” lanjutnya. Aku hanya tersenyum tipis, kemudian berlalu meninggalkannya. ‘Enak saja! Aku mencari uang bukan untuk mencukupi biaya hidup orang lain. Entah apa yang ibu dan Mbak Ulfa perbincangkan di depan sana, yang pasti aku tidak akan membiarkan siapa pun menginjak injak harga diriku. ‘Jedar .... Kubanting pintu kamar. Tak lama Mas Fendi menyusulku. “Aira, jangan seperti ini, kenapa sekarang kamu angkuh sekali? Akhir-akhir ini kamu selalu berselisih dengan Ibu, berikan uangnya,” ucapnya saat sudah mendekat ke arahku. “Aku menghormati Ibu, selagi Ibu bisa menghargai pengorbananku! Ucapan terima kasih saja tidak ada, malah membandingkanku dengan menantunya yang lain. Kenapa Ibu tidak meminta Menantunya itu untuk bekerja? Apa tujuan kalian? Ingin menjadikanku sapi perah? Sementara kalian ongkang-ongkang kaki saja? Angkuh? Angkuh yang bagaimana Mas? Kurang pengorbananku untuk keluargamu? Bahkan aku rela hanya tinggal di kontrakan sempit ini sekarang. Rumah, mobil, semua habis hanya untuk membiayai pengobatan Abangmu! Lalu setelah Mas Arul meninggal, apa kita juga yang harus menanggung kebutuhan Anak dan istrinya?” Kuperjelas lagi semuanya, agar Mas Fendi bisa berpikir. “Kamu kan tahu Mbak Ulfa itu tidak memiliki siapa pun. Nanti aku akan mengganti semuanya jika sudah kembali bekerja,” ucapnya begitu enteng. “Dari pada lama-lama menunggu sampaimu dapat kerja seperti yang kau inginkan. Duduk saja di kontrakan sambil menunggu Pak Mardi datang untuk mengusirmu dan keluargamu dari sini!” Lanjutku. Dua buah koper milikku sudah kuletakkan di depan lemari. “Apa ini maksudnya?” Tanya Mas Fendi. Ia menghentikanku dengan cara menutup kembali lemari yang sudah berhasil kubuka. “Mama ... Melda pulang,” Suara putriku dari depan. Tak lama balita berusia lima tahun itu masuk ke dalam kamarku. “Sudah datang Putri Mama? Sekarang kita makan dulu, setelah itu kita ke rumah Oma,” ucapku sambil mengecup pucuk kening Melda. “Aira? Kamu serius? Jangan bercanda, apa kata keluargamu nanti jika kamu pulang dalam keadaan seperti ini?” Mas Fendi berusaha meraih pundakku, tapi aku menepisnya. “Pikirkan lagi niatmu itu, sebelum semuanya hancur!” Lanjutnya. Sebenar ingin sekali menimpali ucapan Mas Fendi, tapi aku takut menggagu psikis Melda karena pertengkaran kami. “Melda, kamu tunggu di meja makan ya, nanti setelah bicara dengan Papa, Mama akan menyusul,” ucapku pada Melda. Gadis kecilku mengangguk mengikuti ucapanku. Rasanya gigiku sudah bergemeretuk, bibirku mulai terkatup. Menahan kata-kata yang sudah berada di ujung lidah. “Kamu hanya butuh mengontrol emosi, kita bicara lagi nanti ya, sekarang berikan uangnya, biar aku gunakan untuk pembayaran sepeda motor,” lanjutnya, masih berusaha membujuk dan meyakinkanku. ‘Bisa-bisanya Mas Fendi berbicara tanpa beban seperti itu. “Mulai sekarang aku tidak akan memberikan apa pun untukmu atau keperluan keluargamu!” Tegasku. “Sudah kukatakan padamu Aira, nanti aku akan mengembalikan semua uangmu bahkan lebih dari yang telah kamu keluarkan saat ini.” Timpalnya. “Nanti .. nanti .. nanti! Tunggu sampai Anak dan Istrimu kelapara*, iya?!” Sergahku. “Aira!” Tangan Mas Fendi mengambang di udara. “Tampa* saja! Silakan! Karena memang seperti itu kenyataannya kan? Pekerjaan seperti apa yang Mas Fendi tunggu? Padahal kamu bisa bekerja meskipun tak sama dengan profesi sebelumnya. Lihat! Berapa banyak perut yang akan lapar jika kamu terus menunggu perkerjaan yang sesuai seperti yang kamu mau!” Aku menunjuk ke arah pintu, karena aku melihat ibu dan Damara berada di sudut pintu kamarku. Kemudian aku berlalu meninggalkan Mas Fendi. Ibu dan Damara bergeming melempar pandangan. “Kita makan apa Ma? Tidak ada makanan di meja,” ucap Melda, saat aku sudah sapai di dapur. ‘Kenapa bisa tidak ada apa pun di dapur? Bukankah minggu lalu aku juga sudah memberikan uang jatah belanja pada ibu selama satu bulan ke depan? Selama ini aku memang jarang makan di rumah, pagi hari aku sudah terbiasa sarapan di tempat kerja, jam istirahat pun aku berada di kantor, bahkan jam makan malam sering aku lewatkan saat di rumah. Kalau masalah Melda aku sudah pasrahkan dengan Mbak Nani pengasuhnya. Lalu selama aku berada di kantor, apa Ibu tidak pernah memasak untuk kedua anaknya, Mas Fendi dan Damara. Sejak ibu dan Damara pindah ke kontrakan kami, ibu memintaku untuk memberhentikan Mbak Nurma, katanya agar mengurangi sedikit pengeluaranku. Ibu sendiri yang akan mengerjakan urusan rumah termasuk memasak. Aku sudah bertekad, jika hari ini Mas Fendi tidak menyelesaikan pembayaran kontrakan pada Pak Mardi. Aku tidak sudi untuk memperpanjang lagi kontrak rumah ini. Lebih baik aku pulang ke rumah orang tuaku. Tidak peduli dengan harga diri Mas Fendi yang selalu kujaga di hadapan orang tua dan saudaraku yang lain. Selama ini aku bertahan hanya karena ingin membuktikan bahwa Mas Fendi suami yang bertanggung jawab. Bukannya berterima kasih padaku, malah ia semakin terbiasa hidup tanpa bekerja. Andai saja ibu mertuaku bisa menghargaiku sedikit saja dan tak bersikap pilih kasih dengan menantunya yang lain. Pasti aku tidak keberatan bila hanya membiayai kehidupannya. “Padahal Damara baru mau minta uang pada Mbak Aira, malah ada keributan seperti ini, pasti wanita jude* itu gak akan memberiku uang.” Suara Damara bisa kudengar meskipun samar. “Kamu itu kurang tegas, Fendi. Mangkanya Aira ngelunjak seperti itu.” Lagi, suara ibu juga bisa terdengar sampai ke dapur. Karena tidak ada bahan makanan yang bisa untuk kumasak, aku sengaja memesan makanan siap saji di restoran milik Usman, mantan suami Damara. Mereka bercerai karena Usman sempat memergoki Damara berkencan dengan pria lain. Itu sebabnya saat ini ia juga ikut tinggal di kontrakan kami. “Andai saja Istrimu itu Ulfa, pasti dia sangat menurut,” Kata-kata ibu kali ini membuatku kembali tersulur emosi. Tapi, aku harus ingat. Di sini ada Melda, aku tidak mau Melda mencontoh sikap yang tidak semestinya ia lihat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN