His You

1600 Kata
Happy Reading. * Wajah Aliya terlihat memerah melihat bagaimana dengan kasarnya Jimin dan Chanyeol berdebat tentang keputusannya untuk memilih salah satu dari mereka. Aliya bukan barang yang bisa diminta begitu saja. Aliya bahkan tidak berfikir akan bertindak sejauh ini. Sudah cukup dua saudara itu berebut akan dirinya. "Kalian b******k" Aliya menerjang kasar Jimin dan Chanyeol secara membabi buta dan Aliya tidak perduli dengan wajah mereka yang akan babak belur. Dua orang sinting ini harus dihentikan sekarang juga. Aliya muak jadi rebutan. Aliya bahkan tidak menerima balasan atau tangkisan sedikitpun. Keduanya tampak pasrah dan Aliya semakin memuaskan keinginannya. Sedangkan Jung Soo dan Jung Woon hanya diam melihat Aliya yang menghajar Jimin dan Chanyeol. Chaeyoung hanya memalingkan wajahnya, ia tidak bisa melihat kedua kakaknya babak belur karena ulah Aliya. "Jangan tunjukkan wajah kalian didepanku, atau kalian akan mati" desis Aliya dan pergi begitu saja. Jung Woon langsung mengejar Aliya dan Jung Soo hanya diam memperhatikan kedua anaknya yang terlihat diam menahan sakit ditubuhnya. "Chaeng kau ikut Appa" kata Jung Soo dan pergi begitu saja. Chaeyoung menghela nafas pasrah dan mengikuti langkah Ayahnya. "Mianhae Oppa" ujar Chaeyoung lirih pada kedua kakaknya. Sepeninggalan semuanya Jimin dan Chanyeol masih saja diam berbaring. Wajah mereka tidak berbentuk lagi. Penuh darah dan luka memar. Jangan remehkan kekuatan Aliya Kim. Gadis itu lebih cocok disebut sebagai Mafia ganas. "Kau akan kalah Hyung. Aliya milikku" Desis Jimin dan mencoba bangkit lalu berjalan duluan. "Kita lihat saja nanti" balas Chanyeol tidak kalah sinis dan bangkit dari posisinya. * "Pergi~~~" Jung Woon masih berdiri kokoh didepan putrinya yang sedang marah. Jungwoon harus menyelesaikan ini dengan cepat. Ia juga ingin hubungan mereka membaik. "Siapa yang kau cintai?" Tanya Jungwoon dan hanya dibalas tatapan sinis dari Aliya. "Apa pedulimu? Lebih baik kau pergi" cetus Aliya benar-benar dingin. "Kalian sudah tidur bersama dan Appa ingin kau menikah dengan Jimin. Dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya" Aliya menatap Jungwoon terkejut. Bagaimana Jungwoon tau semuanya? s**t ini pasti ulah Jimin. b******n itu pasti mengatakan semua kebenaran tentang hubungan mereka untuk mendapatkan dukungan dari Jungwoon. "Kau mencintai Jimin kan?" Aliya mendesis pelan. "Tolong pergi dari sini. Aku benar-benar butuh waktu sendiri" mohon Aliya dengan suara putus asa dan membuat Jungwoon terkejut. Aliya memohon padanya? "Tidak. Appa tidak akan meninggalkan mu sendirian" Jungwoon berjalan mendekat dan menarik Aliya dalam pelukannya. Aliya membeku menerima pelukan hangat dari Jungwoon, apa ini nyata? Tubuh Aliya benar-benar kaku dan tidak bisa bergerak sama sekali. Rasa hangat mulai menjalar ke tubuh Aliya. Apa ini rasanya dipeluk oleh seorang Ayah? Kenapa begitu hangat. Aliya bahkan tidak bisa menolaknya. 17 tahun Aliya tidak pernah dipeluk Ayahnya dan hari ini dirinya dipeluk? Kenapa Aliya begitu ingin pelukan ini tidak bisa lepas. Rasanya begitu nyaman. Sangat berbeda dengan pelukan Kakeknya. "Appa akan mendukung semua keputusanmu. Kau bebas memilih sayang" Aliya memejamkan matanya dan menikmati pelukan Jungwoon. "Pilihan sayang" dibalik tembok Ahjumma Han tersenyum haru melihat kebersamaan Jungwoon dan Aliya. Ini yang Ahjumma Han tunggu dari 17 tahun yang lalu dan sekarang terwujud. "Ahjumma~~~" Ahjumma Han menggenggam tangan Jihyo dan terus menatap Jungwoon dan Aliya. "Mereka bersatu Jihyo-ya" Jihyo mengangguk penuh haru dan terus memperhatikan Aliya dan Jungwoon. "Aliya, Ahjumma~~~" * Yuri tersenyum melihat wajah cerah kedua putranya. Terlihat jika keduanya tengah bahagia. Yuri menyusul keduanya ke Jepang, tentu saja Yuri ingin melihat anak-anaknya. "Eomma ingin menemui Aliya?" Yuri mengangguk sebagai jawaban pertanyaan Jin. Yuri merindukan putri bungsunya. "Kita kerumah. Jihyo bilang Aliya baru pulang" Yuri mengangguk dan berjalan dulu, dan keduanya tentu saja mengekori ibunya. * Chaeyoung hanya diam saat Jung Soo dan Taeyeon saling bertatapan dengan tajam. Taeyeon langsung histeris saat melihat wajah kedua anaknya. Tentu saja Taeyeon meminta penjelasan dan Jung Soo tidak mau menjawabnya dengan jelas dan Taeyeon jadi geram. "Kau ingin salah satu anakmu mati?" Tanya Taeyeon sinis dan membuat Jung Soo tersenyum tipis. Lebih tepatnya tersenyum mengejek pada istrinya. "Mereka bukan anak kecil. Jadi berhenti bersikap berlebihan" jawaban Jung Soo membuat Taeyeon naik pitam. "Bagaimana aku tidak berlebihan? Kedua anakmu berebut satu wanita dan kau malah jadi pendukung salah satunya. Kau waras?" Teriak Taeyeon yang sudah kehilangan kesabarannya. Jung Soo terlalu menganggap remeh semuanya. "Eomma~~~" Chaeyoung memanggil Taeyeon pelan dan membuat keduanya sadar jika tidak seharusnya putri mereka melihat ini semua. Lebih tepatnya pertengkaran mereka. "Masuk kedalam kamar sayang" Chaeyoung menggeleng mendengar perintah Jung Soo. Ia harus bicara pada kedua orang tuanya. "Wae Chagi?" Tanya Taeyeon lembut dan membuat Chaeyoung mendongak menatap kearah kedua orang tuanya. "Jimin Oppa~~" Chaeyoung menggantungkan ucapannya dan membuat keduanya bingung. "Ada apa dengan Jimin sayang?" Chaeyoung menatap dalam mata sang Ayah. "Jimin Oppa selalu~~~" keduanya terdiam setelah mendengar ucapan Chaeyoung. Bahkan Jung Soo hanya menunjukkan wajah tidak percayanya. "Jimin terlalu bertindak jauh" gumam Taeyeon yang masih bisa didengar oleh Jung Soo. * "Sakit?" Jimin hanya menunjukkan wajah dinginnya. "Kau masih mau mendapatkan Aliya?" Jimin jadi geram mendengar pertanyaan itu "Berhenti bertanya. Lakukan saja tugasmu" Mina hanya menghela nafas dan kembali mengobati luka Jimin. "Kau terlalu bertindak jauh Sunbae" lirih Mina yang sedikit tidak setuju dengan perbuatan Jimin. "Bisakah kau diam?" Tanya Jimin geram dan membuat Mina diam. Jimin tidak selembut yang dibayangkan semua orang. Sosok ambisius yang akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Meniduri Aliya secara paksa, mengatur kehidupan Aliya dan menaruh obat pesubur kandungan pada Aliya. Jimin akan membuat Aliya hamil dan menjadikan Aliya miliknya seutuhnya. Dan tentu saja Mina terlibat disini. Mina yang selalu mencampur semua makanan Aliya dengan obat penyubur dan Mina tidak punya pilihan lain. "Apa Sunbae fikir Aliya akan menurut begitu saja. Aliya sangat dingin dan dia tidak tersentuh. Dia bahkan tidak mencintai Sunbae" Jimin benci mendengar ucapan Mina. Jimin tau jika Aliya tidak mempunyai perasaan apapun padanya. Jimin tau semuanya hanya saja Jimin berpura-pura tidak tahu dan bersikap bodoh. Aliya hanya menganggap Jimin mainan dan Aliya tidak pernah serius denganya. Aliya hanya menjadikan Jimin pelarian. "Lalu kau mau aku diam dan membiarkan Aliya dimiliki Chanyeol?" Tanya Jimin sinis. "Gunakan cara yang benar. Lagi pula Aliya belum tentu memilih Chanyeol. Dia terlalu menyayangi Adikmu. Dia pasti akan memikirkanya sebelum memilih antara kalian" yang Mina katakan benar. Aliya belum tentu memilih Chanyeol, tapi tetap saja Jimin takut. "Aliya pasti akan marah saat tau jika Sunbae membongkar semua untuk mendapatkan restu dari tuan Kim. Dukungan Tuan Jin, Taehyung dan Tuan Kim belum tentu membuat Sunbae menang. Kuncinya bukan dimereka tapi di Aliya sendiri" Jimin terdiam mendengar ucapan Mina. Kali ini Mina benar-benar tidak bisa membuat Jimin membantahnya. "Lalu aku harus apa?" Mina menatap dalam Jimin. "Berikan semua keputusan itu pada Aliya dan jangan paksa dia. Ini hidupnya dan dia bebas memilih" * Flashback. "Siapa namamu?" Tanya Harabojie Kwon pada bocah laki-laki kecil yang selalu menemani Aliya bermain. "Wae Tuan?" Harabojie Kwon tersenyum dan menatap wajah bocah itu dengan dalam. "Aku harus tau siapa yang selalu menemani cucuku" jawab Harabojie Kwon tegas dan membuat bocah itu sedikit ketakutan. "Apa saya salah?" Tanyanya lagi dan membuat Harabojie Kwon tersenyum misterius. "Cukup katakan namamu" bocah laki-laki itu mendongak dan menatap takut Harabojie Kwon dan akhirnya menyebutkan namanya. "Naega Park~~~" Flashback end * Wajah Jimin tercetak jelas tangan Aliya. Lagi Aliya kembali menamparnya dan Jimin hanya bisa diam. "Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku?" Tanya Aliya yang tidak mengerti fikirkan Jimin. Ia tidak meladeni atau memperdulikan Chanyeol tapi kenapa Jimin masih bertindak sejauh ini? Menemui ayahnya dan mengatakan semua kebenaran hubungan mereka dan membuat ayahnya mendukung Jimin. Seberapa jauh pria ini bertindak? "Aku menginginkanmu" jawab Jimin lirih dan membuat Aliya terpaku. Baru kali ini Aliya mendengar suara lirih Jimin. Biasanya hanya akan ada paksaan dan perintah tapi kali ini. "Aku lelah terus mengalah dan dalam sekali dalam hidupku aku ingin mendapatkan apa yang kuinginkan. Aku tidak minta banyak, aku hanya minta kau. Aku tidak peduli pada kekayaan atau kekuasaan ayahku, aku hanya ingin kau berada di sisiku. Itu sudah sangat cukup bagiku, tapi jika kau beranggapan ini terlalu memaksa atau tidak masuk akal, aku tidak akan memaksamu. Mina bilang kau harus memilih dan kau tidak bisa dipaksa dan aku sadar seharusnya aku tidak memaksamu. Sekarang terserah padamu, aku tidak akan memaksamu lagi. Jika kau mau Chanyeol Hyung maka pilihlah dia. Lagi pula kau juga tidak mencintaiku. Mianhae" Aliya bungkam mendengar ucapan pasrah Jimin. Apa pria ini menyerah dengan semuanya? "Maaf membuatmu terganggu. Aku hanya ingin melihat gadis kecilku yang kesepian kembali tersenyum tapi aku justru membuatnya tertekan. Maafkan aku Bi" Aliya mematung mendengar ucapan Jimin. Hanya satu orang yang memanggilnya dengan nama Bi dan itu hanya bocah kecil yang selalu menyapanya jika Aliya belum dijemput dan selalu mengajak Aliya bermain ditaman seberang sekolahnya. Melupakan kesedihannya yang tidak dipedulikan orang tuanya dan bersenang-senang bersama bocah itu. "Bi?" Aliya bertanya begitu lirih saat Jimin perlahan menjauhinya. "Maafkan aku Bi" * Flashback. "Naega Park Jimin" Harabojie Kwon tersenyum dan mengusap Surai pekat Jimin. "Maaf Jim. Sepertinya kau akan sedikit mengalami kesusahan kedepannya. Kau harus membuktikan keseriusanmu pada cucuku. Maaf untuk tidak kenyamanan ini. Kau harus berusaha keras kali ini" Jimin kecil tidak mengerti dengan ucapan Harabojie Kwon. Ia tidak mengerti kata-kata kiasan. "Maksud tuan?" Harabojie Kwon hanya menatap Jimin dengan lembut dan mensejajarkan tingginya dengan Jimin. "Berusahalah untuk mencairkan hati cucuku yang beku. Aku yakin kau bisa dan kau akan berhasil. Kau Laki-laki yang kuat dan kau tidak mudah menyerah. Kau harus mendapatkan cucuku dan aku percaya padaku. Jangan pernah kecewakan cucuku. Aku mempercayakan cucuku sepenuhnya padamu. Jaga dia dengan baik" Jimin tidak mengerti apapun. Apa yang dibicarakan kakek-kakek ini? "Kuatlah untuk masalah didepanmu" Flashback end. * "Jimin Oppa selalu memberikan obat penyubur kandungan pada Aliya. Jimin Oppa ingin Aliya hamil dan membuat Aliya tidak bisa menolaknya. Itupun tanpa sepengetahuan Aliya. Jimin Oppa terlalu ambisius untuk mendapatkan Aliya" TBC.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN