I love you Young Girs

2413 Kata
Happy Reading. Flashback. "Apa tuan yakin dengan keputusan ini?" Tanya Jung Soo yang terdengar ragu. "Tentu saja Jung Soo-ya" Jung Soo terlihat menghela nafas pasrah dan menyetujui permintaan Kwon Hanwoo. "Apa kau keberatan?" Tanya Kwon Hanwoo. "Ya tuan. Tapi jika Tuan yang meminta ini saya pasti akan melakukannya" Kwon Hanwoo menepuk pundak Jung Soo pelan dan tersenyum. "Terima kasih Jung Soo-ya" Jung Soo hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Flashback end. * "Kau baik-baik saja sayang?" Aliya hanya diam saat Yuri terus bertanya padanya. Entah kenapa selama 1 bulan ini Aliya jadi sosok pendiam dan tidak bisa ditanyai. "Aliya~~~" Aliya melirik Ahjumma Han dengan kosong dan kembali sibuk dengan lamunannya. "Akan lebih baik jika kita meninggalkan Aliya sendirian Nyonya. Mungkin dia butuh waktu untuk dirinya sendiri" Yuri mengangguk mengerti dan meninggalkan Aliya sendirian dan diikuti oleh Ahjumma Han dari belakang. Flashback. "Bi jangan terlalu keatas nanti kau jatuh" Aliya hanya menatap polos bocah laki-laki yang memperingatinya. Sejak saat itu mereka jadi sering bermain bersama dan berakhir Aliya akan diantarkan pulang oleh bocah itu. "Ini tidak terlalu tinggi" balas Aliya polos dan membuat Jimin mendengus. "Turun cepat. Kita main yang lain saja" Aliya merenggut saat mendengar perintah Jimin tapi tetap mengikuti perintahnya. "Wae?" Tanya Aliya kesal. "Ini sudah sore. Kau tidak mau pulang Bi?" Tanya Jimin lembut dan dibalas gelengan polos dari Aliya. "Wae?" Tanya Jimin lembut. "Aku malas pulang. Aku mau main saja denganmu" kata Aliya pelan. "Besok kita main lagi" janji Jimin dan tetap Aliya tidak mau. "Ayolah. Aku tidak mau kena marah Eomma jika pulang terlalu larut. Kau tau Bi? Aku selalu bolos les untuk menemanimu bermain setiap hari" Aliya kecil mendongak dan menatap polos Jimin "Kau marah?" Tanya Aliya dan dibalas gelengan dari Jimin. "Aniyo. Hanya saja aku tidak mau kau terus pulang larut hanya untuk bermain denganku" jawab Jimin lembut. "Baiklah tapi kau janji akan datang lagi besok?" Jimin mengangguk dan meraih tangan Aliya dan membawa Aliya untuk keluar dari Taman. "Tapi tunggu" Aliya menahan tangan Jimin tiba-tiba dan membuat Jimin bingung. "Wae?" "Kita sering bermain bersama tapi aku tidak tau namamu" Jimin tersenyum dan kembali menarik Aliya untuk berjalan. "Ayolah" "Tidak perlu tau. Yang penting kau nyaman bermain denganku dan mengenai nama itu jadi urusan belakang. Aku akan terus memanggil mu Bi dan itu cukup" kata Jimin kekeh. "Ish baiklah. Tapi janji besok main lagi" pinta Aliya. "Pasti" janji Jimin dan membuat Aliya tersenyum senang. Mengikuti tarikan Jimin dengan riang dan mulai berteriak. "Aku akan menikah dengan Orang yang selalu menemaniku bermain saat ini. Aku tidak tau namanya tapi aku mau menikahinya. Pegang janjiku itu dimasa depan nde" Jimin tertawa mendengar teriakan Aliya. Sontak mereka jadi pusat perhatian orang-orang yang berjalan. "Aku pegang janjimu Bi" * Aliya diam saat tidak menemukan Jimin yang muncul didepannya. Jimin padahal sudah berjanji akan kembali bermain denganya tapi kenapa belum datang? "Apa dia telat" Aliya menggoyangkan kakinya dengan pelan dan menatap bawah. "Apa dia bohong padaku" Aliya terus menunggu dan Jimin tidak datang-datang. Dan itu berlanjut kehari selanjutnya. Jimin tidak pernah datang menemuinya untuk bermain lagi. Jimin bohong padanya dan Aliya benci dibohongi. "Kau bohong padaku. Aku benci padamu" Isak Aliya dan berlari untuk pulang. Flashback end. * "Sayang kau suka?" Aliya hanya diam dan membuat Yuri dan Taeyeon saling bertatapan sedih. Aliya tidak bereaksi apapun tentang gaun pengantin yang tengah dikenakannya. Wajah datar dan dingin selalu menghiasi Aliya setiap hari. Atas keputusan Jung Soo mempercepat pernikahan Chanyeol dan Aliya dan Aliya tidak bereaksi apapun. Diam dan mengikuti rencana yang sudah ditetapkan kakeknya. Bukankah Aliya selalu menuruti perintah kakeknya dan termasuk menikah. "Sayang setidaknya berikan responnya" Aliya menatap Yuri datar dan berlalu begitu saja. Sontak keduanya bungkam dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. "Apa kita batalkan pernikahan ini sana Yul?" Tanya Taeyeon yang tidak tau harus berbuat apa lagi. Jimin hilang dan tidak diketahui keberadaannya dan suaminya terus berambisi untuk melanjutkan rencana perjodohan ini. "Entahlah Taeng. Aku tidak tau harus bicara apa. Aliya tidak bisa ditanyai dan kau lihat sendiri sikapnya tadi" Taeyeon memijat keningnya pelan. Kepalanya pusing. "Apa belum ada kabar tentang Jimin?" Taeyeon menggeleng lemah dan membuat Yuri menghela nafas pasrah. Kenapa semuanya jadi berantakan? Apa sebenarnya akhir dari semua ini? "Aku akan menyusul Aliya sebentar" Taeyeon mengangguk. * "Sayang Eomma mohon setidaknya berikan respon. Jika kau tidak setuju katakan pada Eomma" pinta Yuri yang sudah benar-benar putus asa dengan kebisuan Aliya. Jujur Yuri lebih suka Aliya yang membentak atau berkata kasar padanya dari pada seperti ini. "Sayang Eomma mohon. Pernikahanmu hanya tinggal 3 hari dan kau tidak memberikan respon apapun" Yuri menggenggam jemari Aliya dengan lembut dan membuat Aliya menatapnya. Tapi hanya tatapan kosong yang diberikan. "Katakan sayang" mata Aliya terlihat berkaca-kaca dan Yuri langsung menarik Aliya dalam pelukannya. Tangis Aliya pecah dan Yuri hanya bisa menepuk pelan punggung Aliya. "Katakan sesuatu sayang" Aliya hanya menangis dan Yuri benar-benar tau jika putrinya dalam keadaan yang benar-benar buruk. Seumur hidupnya baru kali ini Aliya menangis. Dulu saat kematian kedua orang tuanya Yuri hanya melihat tatapan sedih bukan air mata. Jelas beda arti, dan Yuri bisa membedakannya. "Apa kau mau Appa membatalkan pernikahan ini?" Tanya Jungwoon yang melihat putrinya menangis tersedu-sedu diperlukan istrinya. Jelas Jungwoon tau jika Aliya tidak bahagia dengan pernikahannya ini. "Oppa~~~" Jungwoon mendekat keduanya dan menarik Aliya yang ada di pelukan istrinya. Menarik dagu bulat sang putri dan membuat mata cantik Aliya menatapnya. "Katakan jika kau tidak setuju dan Appa akan segera membawamu pergi" Aliya menggeleng mendengar ucapan Jungwoon. "Kau tidak ingin pernikahan ini sayang. Kau menginginkan Jimin? Iyakan?" Aliya menggeleng tidak tau dan semakin mengeraskan tangisannya. Jungwoon yang tidak tahan dengan tangisan Aliya langsung menarik tangan Aliya dan membawanya keluar. "Oppa~~~" Yuri kaget dan berteriak memanggil Jungwoon tapi Jungwoon terus menarik tangan Aliya dan membawanya keluar. Yuri sontak mengikutinya. "Oppa mau kemana?" Tanya Yuri yang mengimbangi langkah Jungwoon sementara Aliya masih saja menangis dan mengikuti tarikan tangan Jungwoon. "Memperjelas semuanya Yul. Aku tidak mau melihat putriku menderita dengan pernikahan yang tidak pernah dia inginkan. Cukup aku membuatnya menderita dimasa lalu dan aku tidak mau dia menderita dimasa depan. Setidaknya putriku harus menikah dengan laki-laki yang dia cintai. Bukan karena perintah atau wasiat apapun" tegas Jungwoon dan semakin mempercepat langkahnya. "Appa hiks" Aliya terus menangis dan Jungwoon semakin tidak tahan. Perjodohan ini harus dihentikan sekarang juga. "Appa akan membatalkan semua ini. Kau tidak perlu takut" janji Jungwoon. * Jimin berdiri diam menatap kamarnya yang pedih dengan foto Aliya. Dari mulai kecil dan sampai saat ini. Jimin mengumpulkan semuanya, terbiasa hidup dibuang dari kecil membuat Jimin melakukan hal apapun untuk melihat gadis kecil yang ia sukai. "Aku tidak bohong Bi. Aku dipaksa pergi" lirih Jimin dengan suara lemah. Malam harinya setelah pulang sekolah Jimin langsung diseret kebandara dan diasingkan ke Jepang sampai saat ini. Jimin hanya puas melihat Aliya dari foto dan mendengar cerita tentang Aliya dari Chaeyoung. Setiap hari Jimin selalu mencuri waktu untuk menelfon adiknya dan bertanya tentang Aliya. Jimin juga selalu meminta Chaeyoung untuk mengirimi foto Aliya padanya. Hanya dengan cara itu Jimin bisa mengingat Aliya dan tidak melupakan gadis kecilnya. Gadis kecil yang kesepian dan begitu tegar menghadapi kebencian ayahnya. "Aku merindukanmu" Jimin meraih satu foto Aliya dan membawanya kekamar mandi. Berjalan kearah Buth up dan melihat kembali foto Aliya. Tersenyum miris dan meraih pemantik api yang berada tidak jauh darinya. "Kau akan jadi iparku sebentar lagi" Jimin tau rencana pernikahan Aliya dan Chanyeol yang dipercepat dan Jimin tidak bisa melakukan apapun lagi. Ia kalah kali ini. "Sepertinya semua akan berakhir" Jimin kembali tersenyum miris dan membakar foto Aliya.  "Kita berakhir Bi" kata Jimin putus asa dan menenggelamkan wajahnya kedalam air.  "Aku mencintaimu" * "Aku tidak mau" akhirnya teriakan frustasi Aliya terdengar saat Chanyeol terus memaksanya untuk menikah. Sementara Jung Soo, Taeyeon, Jungwoon, Yuri, Ahjumma Han dan Chaeyoung membisu mendengar teriakkan melengking Aliya. "Kau lupa dengan wasiat kakekmu?" Teriak Chanyeol keras. "Persetan dengan wasiat sialan itu. Aku tidak mau menikah denganmu" teriak Aliya sudah jatuh terduduk di lantai dengan disertai Isak tangis. "Apa ini karena Jimin?" Tanya Chanyeol sinis yang melihat Aliya serapuh ini. Baru kali ini Chanyeol melihat Aliya menangis. "Berhenti kumohon berhenti sekarang. Aku tidak mau menikah denganmu" Chanyeol menunduk dan menyamakan tubuhnya dengan Aliya. "Ini benar-benar karena Jimin kan?" Tanya Chanyeol sinis dan meraih dagu Aliya untuk membuat mata Aliya menatapnya. "Hiks jebal" Isak Aliya yang benar-benar sudah tidak bisa menjawab apapun. "Jimin adalah alasan~~~" "Kau benar. Ini memang karena Jimin. Aku tidak mau menikah denganmu karena Jimin. Aku mencintainya dan aku tidak mau terikat dengan siapapun kecuali dengan Jimin. Lalu kau mau apa? Membunuhku? Lakukan saja. Kau fikir semua akan baik-baik saja setelah dia pergi begitu saja dan baru membongkar identitasnya dimasa kecil? Kau fikir semua selesai? Dan kau menang? Tidak b******n. Semuanya tidak berakhir secepat itu dan aku tidak mau menderita lagi. Aku muak dengan semuanya" semuanya selesai. Aliya berteriak dan mengungkapkan apa yang ada dalam hatinya selama ini. Satu hal yang pasti, pernikahan ini tidak akan berlanjut setelah teriakan Aliya. Jungwoon tidak akan membiarkan putrinya menderita lagi. "Kenapa kau tidak bilang dari awal?" Tanya Chanyeol lembut dan membuat Aliya mendongak menatapnya dengan mata yang sebab. Jangan lupakan wajah Aliya yang masih digenangi air mata. "Jika kau bilang dari awal, aku tidak akan berkelahi dengan adikku dan terus bersandiwara untuk berpura-pura menginginkanmu. Aku bahkan harus diam melihatku membenciku. Apa kau tau jika aku selalu merindukan adik pendekku? Seharusnya kau jujur dari awal dan aku tidak perlu menunggu selama bertahun-tahun hanya untuk memeluknya. Aku menyayangi Jimin, Aliya dan aku tidak berniat untuk merebut gadis yang dia cintai dari kecil" tangis Aliya masih terdengar tapi tidak sekencang tadi. Sementara Jungwoon, Yuri, Taeyeon, dan Chaeyoung membisu mendengar ucapan Chanyeol. Apa yang dikatakan Chanyeol? "Apa maksudmu?" Tanya Aliya yang masih sesegukan. Bukanya menjawab pertanyaan Aliya, Chanyeol justru menarik Aliya untuk berdiri. "Aku tidak mencintaimu" Aliya menatap Chanyeol dengan bingung. "Bukan aku yang dijodohkan denganmu oleh Harabojie Kwon, tapi Jimin. Park Jimin" lanjut Chanyeol yang membongkar semuanya. Flashback. "Apa tuan yakin akan menjadikan Jimin sebagai suami Aliya?" Tanya Jung Soo ragu. "Sangat. Aku tidak pernah salah memilih apapun untuk cucuku" jawab Kwon Hanwoo yakin dan Jung Soo hanya bisa menyetujuinya. "Tapi tidak secepat itu Jung Soo-ya" ujar Kwon Hanwoo melanjutkan. "Maksud Tuan." Tanya Jung Soo tidak mengerti. "Kirim Jimin ke Jepang dan asingkan dia sampai umur cucuku 17 tahun dan mereka akan bertemu di Jepang nanti. Tetap umumkan jalankan rencana perjodohan ini, tapi katakan pada semuanya jika Chanyeol yang akan menjadi calon dari cucuku. Buat seakan-akan jika Chanyeol yang akan menjadi suami cucuku dan lihat apa yang akan dilakukan Jimin untuk membatalkan semua rencana ini. Aku harus melihat pengorbanannya untuk mendapatkan cucuku. Lihat seberapa besar usaha dan keseriusannya pada Aliya" Flashback end. * "Maaf untuk ketidak nyamanan ini Jungwoon-ah tapi aku hanya menjalankan rencana Tuan Kwon" kata Jung Soo yang menceritakan semuanya. "Lalu dimana Jimin?" Tanya Jung Woon. "Tunggu sebentar lagi. Dan aku janji pernikahan ini akan tetap berlangsung tapi bukan dengan Chanyeol, melainkan dengan Jimin. Lagi pula Aliya sudah hamil dan kita tidak bisa menundanya lebih lama lagi" jawab Jung Soo yang mengarahkan pandangannya ke Aliya yang sudah sadar dari pingsannya. "Aku tidak tau jika ayah mertuaku menyusun semua rencana ini untuk Aliya" Jung Soo tersenyum mendengar ucapan Jungwoon dan menepuk pelan pundak Jungwoon. "Tuan Kwon hanya ingin yang terbaik untuk cucunya. Lagi pula jika bukan dengan rencana ini tidak mungkin kau bisa berbaikan dengan putrimu kan?" Jungwoon tersenyum dan mengangguk. Walaupun semuanya rumit setidaknya hubungan mereka membaik dan terlihat seperti ayah dan anak. "Kita masuk" * Jimin membuka pintu kamarnya dengan malas saat mendengar suara bel yang terus menyala. Jimin baru tidur beberapa jam dan jangan lupakan mata yang merah dan bengkaknya. Tentu saja Jimin tertidur setelah puas menangis. "Sebentar~~~" teriak Jimin yang mendengar suara bel yang terus berbunyi secara tidak terkendali. "Aku tidak tuli" teriak Jimin yang membukakan pintunya. "Sia~~ bugh~~~" tubuh Jimin terpental kebelakang setelah menerima pukulan keras diperutnya. "b******k~~~bugh" lagi Jimin kembali menerima pukulan keras tapi saat tau siapa yang memukulnya Jimin jadi bungkam dan tidak menggumpat. "b******n. Kubunuh kau" Aliya melompat mendekati Jimin dan kembali memukul Jimin tapi tidak sekencang tadi. Hanya pukulan pelan yang mengenai d**a Jimin. "Hiks kau b******k. Kenapa kau memberiku obat penyubur kandungan? Kau mau aku terlihat jelek saat pernikahan? Hiks kau b******n" Aliya terus menangis dan memukul Jimin tapi Jimin masih diam dan tidak berkutik. "Kenapa kau kesini?" Tanya Jimin seperti orang bodoh dan Aliya semakin kesal dan memukul Jimin dengan keras. "Lalu aku harus kemana? Pergi ketengah jalan dan menabrakkan diriku dengan mobil? Kau mau aku mati?" Jimin menahan tangan Aliya dan menatap wajah Aliya yang basah dengan air mata. "Bukankah kau harus menikah dengan Chanyeol?" Tanya Jimin yang membuat Aliya semakin kesal. "Bagaimana bisa aku menikah dengan Chanyeol sementara aku hamil anakmu b******k" teriak Aliya keras. "Huh?" "Ini semua salahmu. Seharusnya kau tidak usah memberiku obat penyubur kandungan. Lihatlah aku hamil sekarang. Aku masih sekolah b******k" * "Aliya jebal~~~" Aliya semakin menunduk wajahnya saat Jimin ingin melihatnya. Sedangkan reaksi Jimin hanya bisa menghela nafas dan menarik tubuh Naked Aliya dalam pelukannya. "Kenapa kau sangat keras kepala?" Tanya Jimin yang tidak hanya fikir dengan jalan fikiran Aliya. "Kau juga sama. Jangan menyalahkan aku saja" Isak Aliya yang membuat Jimin pasrah. "Aku harus minta maaf pada Chanyeol Hyung dan juga Appa" kata Jimin menyesal. "Kau memukulnya kemarin" cetus Aliya mengingat dan Jimin hanya menghela nafas lelah. "Aku tau" semuanya terbongkar dan Jimin harus minta maaf. Ia salah menuduh Chanyeol dan juga ayahnya. "Kufikir kau akan bunuh diri" kata Aliya yang sudah tidak terisak. "Aku memang akan bunuh diri jika kau selesai menikah dengan Chanyeol Hyung" Aliya langsung mendongak menatap tajam Jimin. "Kau mau aku jadi Single fighter?" Tanya Aliya keras dan Jimin hanya diam. "Jawab" tuntut Aliya kesal. "Itu tidak penting. Lagi pula semua tidak terjadi dan kau jangan berfikiran macam-macam. Aku tidak mau anakku kenapa-napa. Ingat jangan lakukan hal yang nekad atau kau kukurung dikamar. Ingat jika kau sah milikku dan kau harus menuruti semua keinginanku. Dan kau sendiri yang memilihnya jadi jangan menyesal. Tidak ada kata balapan, perkelahian dan minuman keras apapun. Kau dalam pengawasan ku selama 24 jam dan jangan harap kau bisa bebas" Aliya ngeri mendengar ucapan Jimin. Kenapa seperti ia akan dipenjara? "Ta~~~" "Kita menikah sebentar lagi jadi jangan protes atau berisik. Diam dan tidur. Apa kau ingin tampil jelek saat pernikahan Hem?" Aliya merenggut dan memejamkan matanya sontak Jimin tersenyum dan mengecup dahi dan bibir Aliya dengan lembut. "I Love You Young Girls" lirih Jimin dan menyusul Aliya untuk memejamkan matanya. Mereka perlu tidur saat ini. Tbc.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN