End

1488 Kata
Happy Reading. * Menjadi orang tua muda adalah tantangan yang berat bagi Aliya. Terbiasa hidup liar dan tanpa aturan benar-benar harus Aliya hilangkan dari dirinya. Tidak mungkin Aliya menjadi berandalan jika punya anak? Bisa bagaimana nasib anaknya nanti. Aliya benar-benar harus belajar dari awal dan itu tidak mudah. Dan karena itu Aliya harus berusaha dan tidak ada kata berhenti. "Apa susah?" Pertanyaan yang dilontarkan Jimin hanya dibalas tatapan datar dari Aliya. Sementara Jimin yang melihat reaksi Aliya hanya tersenyum dan memeluk tubuh berisi Aliya. "Ingin makan sesuatu?" Mendapatkan pelukan dari Jimin tentu saja Aliya membalasnya. "Uhm tidak perlu. Aku tidak lapar" Jimin tersenyum dan mengusap Surai hitam tebal Aliya. "Ngomong-ngomong kau semakin sexy" Aliya mendecih mendengar ucapan manis Jimin. Jimin memang akan selalu memujinya dan Aliya tidak tertarik sama sekali. "Keundae Jim kapan kau menjemput Hyun Jo?" Tanya Aliya dan membuat Jimin semakin mengeratkan pelukannya. "Nanti saja. Mungkin Eomma masih mau bermain dengan Jo. Diakan jarang mau pulang jika dirumah Eomma" Aliya hanya mengangguk. Anak pertama mereka berjenis kelamin perempuan dan saat ini Aliya hamil anak yang kedua. Hyun Jo baru berusia 17 bulan dan Aliya sudah hamil lagi. Salahkan Jimin yang ingin punya anak dengan jarak umur yang tidak terlalu jauh dan ini akibat dari keinginan Jimin. Aliya hamil lagi dan usia kandungannya sudah memasuki bulan ke-6. Usia Aliya bahkan belum genap 20 tahun dan ia akan punya anak lagi. "Sepertinya Chanyeol Hyung akan tancap gas. Dia iri melihat kau yang sudah hamil anak kedua" ucapan Jimin membuat Aliya tersenyum. "Tentu saja. Kau yang adiknya sudah mau punya dua anak dan bagaimana Chanyeol Oppa tidak iri dan ingin segera punya anak" ujar Aliya dan mendapat balasan kekehan dari Jimin. "Bagaimana kalau besok setelah menjemput Jo kita kerumah Kim? Jo sudah lama tidak main dengan musuhnya!" Mendengar ucapan Jimin, Aliya jadi kesal dan mencubit perut Jimin. Yang dimaksud musuh Jo adalah Lucas anak Lisa dan Taehyung. Kelakuan Jo sangat mirip dengan Aliya dulu, dan kadang Aliya dibuat pusing dengan ulah putrinya. Wajah Jo memang sangat mirip, bahkan semua wajah Jo diturunkan dari Jimin tapi tingkah dan sikap Jo benar-benar persis dengan Aliya. Kadang Aliya dibuat jengkel oleh Jo karena tidak mau diam dan terus membuat kekacauan. Setiap datang kerumah keluarga Kim pasti Jo akan langsung melompat kepelukan Jungwoon dan berakhir Lucas yang iri, melihat wajah Lucas yang iri Jo bukanya turun dari gendongan Jungwoon justru Jo sengaja menggoda Lucas dengan menjulurkan lidahnya dan berakhir Lucas yang menangis. Aliya berharap Jo tidak meniru sikapnya jika sudah dewasa. Bisa mati berdiri jika Jo terus begini. Ini baru 1 tahun lebih Jo sudah begini bagaimana dengan besar nanti? Hah tapi Aliya selalu berharap yang terbaik untuk keluarganya. "Sudah minum obat?" Aliya menggeleng mendengar pertanyaan Jimin. Jimin memilih jadi dokter dan meninggalkan pekerjaan mengajarnya. Lagi pula jika Jimin sibuk dengan dua perkejaan sekaligus pasti tidak akan ada waktu untuk keluarganya. "Tunggu nde. Aku ambilkan obat dulu" Aliya mengangguk dan Jimin segera bangkit dari posisinya lalu berjalan kearah kamar. Kehidupan keduanya dipenuhi dengan kebahagiaan setelah pernikahan mereka 2 tahun yang lalu. Dalam hati Aliya selalu mengucap syukur kepada Tuhan dan berterima kasih kepada kakeknya. Jika tidak ada campur tangan kakeknya mungkin Aliya masih jadi berandalan liar yang hidup di jalanan dan masih membenci keluarganya. Semuanya sudah berlalu dan saatnya mereka menatap masa depan yang cerah. "Jangan nakal seperti kakak ya sayang" ujar Aliya lembut sambil mengusap perut buncitnya. Aliya harus belajar jadi ibu yang baik untuk anak-anaknya dan Aliya juga harus jadi istri yang baik. Aliya tidak kuliah karena kesibukannya mengurus rumah dan itu tidak masalah bagi Jimin. Lagi pula Aliya juga mengurusnya dengan baik dan melakukan itu untuk keluarga kecil mereka. Tenang saja Aliya lulus SMA walau dengan menutupi status kehamilannya, tentu saja uang jawaban dari semuanya. Orang disekitar Aliya sangat berkuasa dan mendapatkan ijasah SMA adalah perkara gampang. "Huh Daddy-mu lama sekali sayang" * "Maaa~~~" Aliya hanya menggeleng pelan mendengar teriakkan Jo yang memanggilnya. Jo akan selalu begitu jika melihat Aliya bahkan Jo akan lebih parah jika melihat Jimin. "Apa Jo lupa pesan Momma?" Bocah 17 bulan itu hanya menunjukkan senyum manis yang begitu mirip dengan Jimin dan membuat Aliya hanya bisa menghela nafas. "Dad?" Tanya Jo yang tidak melihat ayahnya dan Aliya tau apa yang Jo inginkan. "Bilang saja Jo mau mainan dari Dad?" Dugaan Aliya benar. Jo hanya tertawa mendengar ucapan Aliya. "Momma sana" Jo langsung menarik Aliya dan Aliya hanya bisa mengikutinya. "Uncle mana sayang?" Tanya Aliya yang tidak melihat Chanyeol. "Kamar" jawab Jo yang terus menarik Aliya. * "Mam~~" dengan disuapi Jimin, Jo terlihat begitu lahap saat sedang makan. Jo memang biasa makan dengan Jimin dan Aliya tidak masalah. Bukankah Jimin juga harus ikut andil mengurus anak mereka. Lagi pula perut Aliya sudah membesar dan akan sedikit susah untuk bergerak. Untung Jimin jadi suami siaga. "Eomma mana Hyung?" Tanya Jimin yang tidak melihat orang tuanya. "Pergi membelikan baju untuk anakmu" jawab Chanyeol. "Baju? Jo menggunting bajunya lagi?" Tanya Aliya tidak percaya. "Kau pasti tau kelakuan anakmu?" Aliya langsung menarik Jo yang ada dipangkuan Jimin. "Jo merobek baju lagi?" Mendengar pertanyaan tajam sang ibu Jo hanya menatap polos sang ibu. "No~~~" jawab Jo yang sama sekali tidak takut. "Jangan bohong?" Tuntut Aliya dan membuat Jo tertawa kecil. "Baju jelek" Aliya mendesis dan menatap tajam mata Jimin yang menurun persis dimata putrinya. "Momma sudah bilang berapa kali pada Jo. Berhenti merusak baju" kata Aliya yang berusaha menekan kekesalannya. Sedangkan Jimin hanya diam, ia tidak mau kena sembur Aliya karena membela Jo. Jimin pernah melakukan itu dan berakhir dirinya yang tidur diluar selama 1 bulan dan Jimin tidak mau mengulanginya. "Momma Crewet" ucapan polos Jo membuat Chanyeol tidak bisa menahan tawanya. Jo baru saja bilang Aliya crewet? Park Hyun Jo kau sangat berani. Jimin bahkan tidak berani memikirkan kata-kata itu. "Park Hyun Jo" "Mommaaaa~~~~" * "Momma" Aliya mengabaikan Jo yang memanggilnya. Aliya masih kesal karena Jo yang mengatakannya crewet tadi. "Momma please. Soly yess" ujar Jo dengan aksen cadelnya. "Momma jeballl" mendengar suara lembut Jo, akhirnya Aliya kalah dan berbalik menatap Jo. "Jangan nakal dan jangan bilang Momma Crewet. Dan Jo berhenti merusak baju. Arachi?" Mendengar permintaan ibunya, Jo mengangguk tidak rela. "Pintarnya anak Momma" puji Aliya dan memeluk Jo. "Pulang~~~" "Sekarang?" Tanya Aliya yang dibalas anggukan dari Jo. "Tidak mau menginap?" Tanya Aliya lagi. "No" jawab Jo pelan. "Wae?" "Bosan" Aliya tersenyum dan mengusap surai kecoklatan sang putri. "Bilang pada Daddy oke?" Mendengar ucapan Aliya, Jo hanya mengangguk dan melepaskan pelukan Aliya dan meringsut turun. Jo mau bilang pada Daddy jika mau pulang. Jo bosan dirumah uncle Tiang. * " Momma~~~" Aliya menoleh saat mendengar panggilan Jo. "Apa sayang?" Tanya Aliya yang menatap lembut putrinya. "Dad eodi?" Tanya Jo yang tidak melihat ayahnya. "Kerja" mendengar ucapan Aliya, Jo hanya mengangguk faham "Jo mau peluk Momma" mendengar ucapan Jo, Aliya jadi tersenyum dan langsung memeluk putrinya. "Sayang Momma Hem?" Jo mengangguk lembut dan membuat Aliya tersenyum. "Sayang adek juga?" Jo tidak langsung menjawab pertanyaan Aliya. Melainkan berfikir dulu. "Adek aki Jo ayang. Adek puan Jo tidak" Aliya terbahak mendengar ucapan Jo. Jo memang ingin punya adik laki-laki dan tidak mau adik perempuan. Katanya anak perempuan cengeng dan Jo tidak suka. Padahal Jo sendiri adalah perempuan. Bagaimana bisa anaknya berfikir seperti itu? "Jadi tidak mau adik perempuan Hem?" Tanya Jimin tiba-tiba dan baru masuk kedalam kamar mereka. "Dad~~~" Jimin tersenyum dan meraih Jo dalam gendongannya saat Jo dengan semangat merentangkan kedua tangannya. "Yakin tidak mau adik perempuan?" Jo mengangguk yakin dan membuat Jimin tersenyum manis. "Baik-baik nanti adik Jo laki-laki" kata Jimin dan membuat Jo berbinar. "Inja?" Jimin mengangguk yakin. "Wah Jo ayang Dad" teriak Jo heboh dan memeluk Jimin. "Kau tau dari mana?" Tanya Aliya yang menatap Jimin. "Kau lupa jika aku dokter?" Tanya Jimin dengan kekahan yang terdengar senang. "Terserah lah" Jimin tersenyum dan membawa Jo keranjang. "Dad mandi dulu sayang" Jimin menurunkan Jo keranjang dan mencium lembut kening Jo, lalu beralih ke Aliya dan mengecup mesra bibir Aliya tentu dengan menutupi mata Jo. "Aku mandi dulu" Aliya mengangguk dan melepaskan ciuman Jimin. "Lain kali hati-hati. Ada anakmu" Jimin hanya mengedipkan matanya dengan menggoda kearah Aliya dan berlalu kekamar mandi. "Dad ana?" "Mandi" jawab Aliya singkat dan memeluk Jo. "Jo antuk. Mau Dur" Aliya mengangguk dan mulai menepuk pelan paha Jo. Memang sebelum tidur Jo akan minta ditepuki pelan pahanya. "Tidur anak Momma" * "Mwo?" Tanya Aliya saat Jimin memeluknya. Jo sudah diantar kekamar oleh Jimin dan mereka hanya berdua sekarang. "Bogoshipoe" lirih Jimin yang menciumi leher Aliya. "Hem~~~" Aliya mulai melenguh saat tangan Jimin mulai merambat kebagian dadanya. Sepertinya Jimin akan menyerangnya kali ini. "Jhimn!" "Hem" Jimin semakin gencar menciumi Aliya dan Aliya semakin mendesah. "Malam ini kau milikku" desis Jimin yang membalik tubuh Aliya dan menindihnya. "Jangan sampai pagi. Besok kau bekerja" Jimin hanya tersenyum mendengar ucapan Aliya. "What ever" cetus Jimin dan kembali melanjutkan pekerjaannya. "Ugh jim" melihat Aliya yang mendesah pasrah Jimin tersenyum penuh kemenangan. Melihat istrinya yang selalu pasrah seperti ini Jimin suka. Tbc.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN