Happy Reading.
*
Aliya meremas rambutnya frustasi saat melihat Hyun Jo yang bermain dengan peralatan dapurntya. Hyun Jo sibuk mengacak-acak pantry, menaiki kursi plastik agar sampai diatas dan mengacak-acak seluruh peralatan masaknya.
"Jo-yaa" Aliya mendesis kesal melihat kelincahan tangan Jo yang mengacak-acak piring plastiknya dan melemparkannya kelantai, gelas juga menjadi sasaran Jo.
"Mam~~~" ternyata Jo menyadari kehadirannya dan memanggilnya dengan mata polos yang diturunkan dari Jimin.
"Kenapa Jo memberantakan ini?" Tanya Aliya yang bersendekap d**a.
"Main~~~" jawaban Jo membuat Aliya mendesis dan menatap tajam kearah Jo.
"Ini bukan mainan Jo. Mainan Jo ada dikamar dan diruang tengah. Ini tempat Momma memasak. Seharusnya Jo tidak main disini" Jo menatap polos kearah Aliya dan mengangguk.
"Dad ilang ya" ujar Jo memberi alasan dan membuat Aliya semakin kesal.
"Jadi Jo begini karena Dad yang memberi ijin?" Jo mengangguk dan membuat Aliya mengeram marah. Jadi Jimin sialan itu yang memberikan ijin pada Jo untuk main disini.
"Panggil Dad, katakan jika Momma ingin bicara" Jo mengangguk patuh, turun dari kursinya dan berlari untuk memanggil ayahnya.
"Awas kau b******k" umpat Aliya kesal. Memang jika tidak ada Jo, Aliya berani mengumpat. Ada Jimin pun Aliya berani, bahkan tidak jarang Jimin jadi sasaran umpatan Aliya dan Aliya tidak peduli jika Jimin marah. b******n itu perlu diberi pelajaran.
*
Jo menutup mulut kecilnya saat melihat Jimin dimarahi Aliya. Jo memang baru berusia 17 bulan tapi Jo sudah sangat pintar dan bisa melihat situasi dan kondisi yang terjadi disekitarnya.
Jo tau jika Jimin sedang dimarahi Aliya, Jo tidak boleh tertawa atau ia juga akan kena marah Aliya. Jo tidak mau kena marah Aliya.
"Pokoknya kau yang membereskan ini semua. Aku tidak mau tau, jika sampai nanti jam 4 sore ini belum selesai. Kau tidur dipekarangan lagi" desis Aliya sinis dan menarik Jo untuk keluar. Sementara Jimin masih bengong ditempat.
"Apa-apaan ini?" Tanya Jimin yang tidak tau apapun. Tadi Jo memanggilnya dan bilang jika Aliya ingin bicara. Jimin yang menonton TV langsung mengikuti tarikan Jo dan menemui Aliya. Tapi baru saja sampai di pintu dapur, Aliya sudah marah-marah dan mengatakan jika Jimin bodoh karena menginginkan Jo mengacak-acak dapur.
Jimin bahkan tidak tau apapun, dan bagaimana bisa Jimin memberi ijin pada Jo untuk memberantakan dapur. Kapan Jimin bilang begitu? Sepertinya ini ulah Jo untuk lari dari kemarahan Aliya.
Jimin masih saja mencerna semua perkataan Aliya, sampai otaknya mencerna semua dengan baik. Ini pasti ulah putri setannya. "Park Hyun Jo" desis Jimin yang menendang gelas plastik yang tergeletak dilantai.
*
Jimin masuk kedalam kamar Jo yang terang dengan hiasan Iron Man sebagai dinding wallpaper nya. Mata Jimin tertuju pada Jo yang tengah berbaring sambil memainkan mobil-mobilan yang ada ditangannya.
Berjalan cepat kearah Jo dan mendudukkan dirinya kesebelah Jo yang tiduran. "Park Hyun Jo" merasa ada yang memanggil namanya Jo langsung menoleh.
"Dad?" Jimin menarik Jo untuk duduk dan Jo menuruti Jimin.
"Pa?" Tanya Jo polos.
"Jo bohong pada Momma kan? Kapan Dad bilang jika Jo boleh memberantakan dapur?" Mengerti apa yang dikatakan ayahnya Jo langsung memainkan mobil-mobilan nya lagi.
"Jawab Dad Jo" tuntut Jimin yang merebut mainan Jo.
"Dad!" Jo berteriak minta mainannya tapi Jimin justru membuangnya.
"Katakan" desis Jimin dan membuat Jo menunduk.
"Soly" Jo akhirnya menunduk dan minta maaf. Melihat apa yang Jo lakukan Jimin hanya mendesis pelan.
"Kapan Dad mengajari Jo berbohong? Dad tidak pernah mengajari Jo berbohong dan bagaimana Jo bisa berbohong pada Momma. Dan yang lebih parah lagi Jo menjadikan Dad sebagai sasaran nya?" Jo semakin menunduk mendengar ucapan Jimin. Tidak keras sih tapi cukup membuat Jo mengerti jika Jimin sedang marah.
"Soly~~~Hiks" Jimin terkejut mendengar isakan Jo. Sontak Jimin meraih dagu Jo dan benar saja wajah Jo sudah penuh dengan air mata.
"Jo menangis?" Tanya Jimin bodoh.
"Dad arah Jo" Isak Jo yang terus terisak sontak Jimin kaget. Bisa kena sembur lagi jika sampai Aliya mendengar Jo menangis.
"Dad tidak marah pada Jo. Berhenti menangis nde?" Pinta Jimin gugup dan justru dibalas gelengan dari Jo.
"Hiks Dad arah" Jimin menggeleng dan menarik Jo dalam pelukannya.
"Shut baby. Dad minta maaf nde?" Ujar Jimin dan untung saja Jo menghentikan tangisannya.
"Dad angan arahi Jo" Jimin menggeleng dan mengusap surai Jo.
"Tapi Jo jangan bohong lagi?" Pinta Jimin dan Jo langsung melepaskan pelukan Jimin.
"Oklat dulu" selalu saja begini. Pasti harus ada sogokan agar Jo menuruti ucapanya. Hah dasar anak Aliya, anak Jimin juga sih. Salahkan saja dari bibitnya yang suka membuat kekacauan. Jadi anaknya ikut-ikutan suka membuat kekacauan.
*
"Mommaaaa No" Jo berteriak keras saat Aliya membuang semua motor mainannya.
"Momma buang ini semua. Nanti Momma belikan Barbie" kata Aliya dan Jo semakin berteriak.
"No. Jo idak uka balbie. Jo uka tu" tolak Jo yang menahan Aliya tapi tangan Aliya tetap saja membuang semua mainan Jo.
"Jo itu perempuan dan harusnya main Barbie bukanya motor" kekeh Aliya dan menyelesaikan semua buangannya. Dan melihat semua mainanya sudah ada ditempat sampah Jo mulai menatap Aliya. Mata Jo terlihat berkaca-kaca dan tidak lama bibirnya melengkung kebawah.
"Dad, Mam akal huaaa. Mam uang ainan Jo. Huaaa" Jo menangis keras dan Aliya tidak bereaksi kaget. Sudah biasa bagi Aliya jika melihat Jo yang menangis seperti ini. Jo memang akan kelewatan jika terus dibiarkan. Masa anak perempuan semua mainanya adalah mainan anak laki-laki. Jo itu perempuan dan sudah seharusnya berlaku seperti perempuan. Aliya tidak mau Jo jadi seperti dirinya dulu. Jo harus dirubah mulai sekarang.
"Ya Tuhan sayang ada apa?" Tanya Jimin yang terkejut saat melihat Jo yang menangis histeris.
"Dad, ainan Jo huaa" Jo menunjukkan mainanya yang sudah berakhir ditempat sampah dengan Isak tangis yang masih keras.
"Aliya apa ini?" Tanya Jimin kaget.
"Jangan ikut-ikutan. Anakmu harus jadi perempuan yang sebenarnya. Aku capek menghadapi tingkahnya yang seperti anak laki-laki" Jimin menghela nafas pasrah dan meraih Jo dalam gendongannya.
"Aku tau jika kau tidak mau Jo seperti Laki-laki lebih tepatnya seperti kau dulu. Tapi tidak seperti ini juga caranya. Kau keterlaluan, apa dengan membuang semua kesukaannya dia akan berhenti? Tidak Aliya. Belajarlah untuk tidak memaksakan kehendakmu. Jika Jo menyukai ini biarkan saja. Lagi pula ini hanya mainan dan kau tidak perlu bertindak berlebihan. Jo masih kecil dan sikapnya masih bisa dirubah. Tidak seperti mu yang jadi berandalan saat remaja. Jo anakku dan aku tidak akan membiarkan anakku jadi berandalan seperti Ibunya dulu. Ingat itu" Jimin berucap begitu sinis pada Aliya dan membawa Jo berlalu. Aliya sudah kelewatan kali ini.
Sementara Aliya masih diam menerima ucapan kasar Jimin. Setelah 2 tahun baru kali ini Jimin berucap begitu kasar padanya. Apa kali ini ia sudah keterlaluan?. 'Aku tidak akan membiarkan anakku jadi berandalan seperti Ibunya dulu' perkataan Jimin kembali terngiang ditelinganya dan Aliya mulai sadar jika dirinya salah.
*
"Shut Gwenchanayo Chagi. Besok Dad belikan lagi mainanya nde? Jangan menangis lagi. Anak Dad tidak cantik jika menangis" Jo menatap polos Jimin dan mengangguk.
"Momma ahat" Jimin menggeleng dan menutup bibir Jo.
"Jangan seperti itu sayang. Momma tidak jahat, Momma hanya ingin Jo berhenti nakal saja" kata Jimin yang membela Aliya.
"Mom uang ainan Jo" Jimin tersenyum dan mengusap pipi Jo.
"Mom sayang Jo makanya Mom melakukan itu agar Jo seperti perempuan" kata Jimin memberi alasan dan Jo masih belum bisa menerimanya.
"Anak Dad tidak boleh marah eoh. Jelek" goda Jimin dan mencubit pipi Jo dengan pelan.
"Ih Dad akal" Jimin tersenyum dan mengusap pipi gembul putrinya.
"Jangan marah pada Mom lagi nde?" Jo mengangguk dan membuat senyum Jimin mengembang.
"Uh cantiknya anak Daddy~~~"
"Boleh Momma masuk?" Keduanya menoleh saat mendengar suara Aliya dari ambang pintu. Jimin melihat jelas raut penyesalan diwajah Aliya. Sepertinya Aliya ingin mengakhiri pertengkaran ini.
"Kesini saja" kata Jimin lembut dan Aliya mendekat. Duduk disamping Jimin yang menghadap Jo. Aliya menarik nafas dalam-dalam dan menatap sendu wajah Jo.
"Sayang maafkan Momma nde? Momma tidak berniat seperti itu. Momma hanya ingin Jo berhenti nakal dan bersikap seperti perempuan. Jo jadi seperti laki-laki dan Momma tidak suka" ujar Aliya lembut dan menghasilkan tatapan polos dari Jo.
"Mom Jo akal?" Tanya Jo lirih.
"Tidak terlalu. Hanya saja Momma tidak suka Jo jadi seperti laki-laki. Jika Jo naik Momma masih bisa memaklumi karena Jo anak kecil. Momma hanya ingin Jo jadi perempuan sebenarnya, bukanya jadi laki-laki seperti Momma dulu. Momma takut Jo jadi ti~~~" Jimin meremas tangan Aliya. Jimin tidak mau Aliya membongkar semua masa lalunya didepan Jo. Masa kelam Aliya harus tetap dirahasiakan. Jo tidak boleh tau.
"Jim~~~" Jimin menggeleng dan membuat Aliya menghela nafas. Sementara Jo hanya menatap bingung keduanya. Apa yang mereka bicarakan?
"Katakan seperlunya saja. Itu aib dan tidak perlu dibahas" Aliya mengangguk faham dan kembali menatap Jo.
"Jo mau jadi perempuan kan? Lagi pula Jo akan punya Dongsaeng. Jo harus jadi Nonna yang baik untuk Dongsaeng nanti. Jo maukan?" Walaupun tidak mengerti ucapan Aliya, Jo tetap mengangguk dan membuat Aliya tersenyum.
"Maafkan Momma nde?" Jo kembali mengangguk dan membuat Aliya tersenyum lalu menarik Jo dalam pelukannya.
"Anak Momma sayang" Jimin tersenyum melihat kebersamaan keduanya. Akhirnya salah faham itu selesai. Jimin tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk ikut memeluk keduanya.
"Daddy sayang kalian" Aliya tersenyum menerima pelukan Jimin dan Aliya justru semakin mengeratkan pelukannya pada Jo sampai.
"Akh Jim perutku" Jimin tersentak mendengar suara lirih Aliya. Sontak Jimin melepaskan pelukannya.
"Wae?" Jo ikut bingung melihat Aliya yang kesakitan.
"Perutku sakit akh" Jimin terkejut melihat darah yang mengalir dari paha Aliya.
"Sayang kau mau melahirkan?" Jimin malah bertanya dan bukanya menolong Aliya.
"Ahir? Caeng au ahir? Yey Momma" Jo berteriak heboh dan bertepuk tangan girang. Adiknya mau lahir dan Jo sebentar lagi akan jadi Noona dan yang menyenangkan Jo akan melihat wajah adiknya. Tentu saja Jo girang.
"Yakh cepat" teriak Aliya yang menyadarkan Jimin.
"Kita kerumah sakit" ujar Jimin kaget dan menggendong Aliya dan meninggalkan Jo sendirian sampai Jo sadar.
"Huaaa Dad akal. Dad ingalin Jo. Huaaa Mommaaaa. Dad akallll" Jo kembali menangis histeris karena Jimin pergi begitu saja.
"Dad akkkaaaallll huaaaaa"
End.