“Antonio! Didalam sana ada banyak wanita cantik yang mungkin akan menyerahkan diri mereka secara cuma-cuma kepadamu. Apa kau tidak berniat sama sekali?”
“Tidak! Kau puaskanlah dirimu sendiri saja dengan wanita-wanita cantik itu tapi jangan bawa-bawa aku.” Antonio tak memperdulikan ucapan sahabatnya yang sedang berjalan mondar mandir disebelahnya sambil beberapa kali menolehkan kepalanya kedalam istana.
“Apa kau tak ingin melihat putri Cathriona? Dia itu sangat cantik!” Royland terus mencoba membuat sahabatnya itu berubah pikiran.
“Aku sudah melihatnya. Dia beberapa kali pergi ketempat pelatihan para prajurit. Kukira kau tahu itu?” Antonio masih saja cuek pada sahabatnya itu dan terus memandang keramaian kota didepannya dari atas beranda yang mempertontonkan hampir seluruh kota Deluxia.
Tidak hanya warga istana yang merayakan hadirnya putri Kerajaan Deluxia, para rakyapun ikut merayakannya. Pesta rakyat dirayakan di hampir seluruh kota dan desa-desa di Deluxia. Harapan mereka akan pemimpin yang masih memiliki darah keluarga Arresthox terkabul sudah. Bagaimana tidak, keluarga Arresthox sudah turun menurun memimpin kerajaan Deluxia selama berabad-abad dengan sangat luar biasa hingga membuat Kerajaan Deluxia menjadi salah satu kerajaan yang disegani oleh kerajaan-kerajaan lain karena kesejahteraan rakyatnya, kemakmuran dan kekayaannya.
Terdengar alunan musik dari dalam istana yang membuat Royland semakin gemas kepada Antonio. “Antonio… Kau yakin tidak ingin ikut kedalam bersamaku?”
“Kalau kau hanya ingin bertanya hal itu terus, angkatlah kakimu dan tinggalkan aku sendirian disini..” nada suara Antonio tetap tenang, setenang tiupan angin malam yang menerbangkan rambut hitamnnya.
“Terserah kau saja kawan! Yang pasti didalam sana banyak wanita-wanita cantik dari kalangan bangsawan! Kau benar-benar akan menyesal kalau tidak ikut pesta.” Royland dengan geramnya meninggalkan Antonio yang masih terduduk tenang diatas pembatas beranda Kerajaan, membiarkan kakinya menjuntai diatas atap yang bisa membuat tulang-tulangnya patah jika terjatuh kebawahnya.
“Bangsawan? Hah.... Bukankan semua orang sama saja.” suara sinis keluar dari bibir Antonio dan terdengar jelas ada ketidaksukaan dalam nada bicaranya.
***
Cathriona melangkahkan kakinya memasuki ruangan besar dengan langit-langit tinggi yang dihiasi lampu besar yang terangkai begitu menawan. Ini baru pertama kalinya Cathriona memasuki ruangan besar bercat cream itu. Jendela-jendela besar hampir mengelilingi setiap sudut ruangan itu dan beberapa vas bunga besar memperindah ruangan itu.
Terlihat jelas kalau para tamu undangan yang hadir adalah mereka yang berasal dari kalangan atas. Pakaian dan perhiasan yang mereka gunakan itu menggambarkan status mereka dengan sangat jelas. Cathriona bahkan merasa dirinya bukan sedang berada dalam suatu pesta tetapi sedang menghadiri pameran pakaian dan perhiasan mewah melihat begitu luar biasanya perhiasan-perhiasan itu.
Para tamu undangan menatap Cathriona dengan berbagai macam ekspresi, kagum, terkejut, tak percaya bahkan iri. Cathriona tidak memperdulikan tatapan-tatapan itu, yang ia pikirkan saat ini adalah tindakan yang sudah ia putuskan yang tidak mungkin bisa ia batalkan.
Cathriona tersenyum seramah mungkin pada Ratu Rossandria yang berdiri tak jauh dari pintu tempat Cathriona masuk. Sang Ratu merasa bangga sekaligus terharu melihat hal itu.
"Kau lihat? Putrimu sangat sangat cantik. Dia tumbuh menjadi gadis yang baik, cerdas dan menawan. " batin Ratu Rossandria berbisik , berharap mendiang putranya bisa mendengar ucapnnya saat ini.
Ratu Rossandiapun mengumumkan hal yang menjadi alasan adanya pesta malam itu.
"Saya merasa sangat senang sekaligus tehormat atas waktu yang sudah Para tamu siapkan malam ini. Beberapa orang mungkin sudah mengetahui alasan pesta ini diadakan dan yang lain mungkin belum tahu. Gadis cantik disebelahku ini adalah putri dari putraku yang berarti juga adalah cucuku dan malam ini secara sah aku akan menahbiskannya sebagai putri Kerajaan Deluxia." saat ucapan ratu selesai, saat itu juga suara alat musik goufa berbunyi keras memenuhi istana.
Para undangan bertepuk tangan mendengar pengumuman itu dan mengucapkan hal-hal yang terdengar samar ditelingan Cathriona dan tak lama kemudia para pemain musikpun mengalunkan musik-musik indah yang membuat para undangan menari dengan senangnya. Para tamupun mulai mencari pasangan untuk berdansa.
“Maukah kau berdansa denganku?” seorang pria berambut cokelat mengulurkan tangannya kearah Cathriona yang sedang asik mengobrol dan membuang rindunya pada Donita. Sepupunya itu ternyata datang kepestanya itu bersama paman Felix, bibi Monalisa, Sam dan beberapa teman-temannya dari Deloxa.
“Oke…” Cathriona melemparkan senyumannya pada pria yang belum ia ketahui namanya itu, yang ia tahu pria itu adalah pangeran dari Kerajaan Skyloxia.
“Suatu kehormatan bisa berdansa denganmu Putri.”
"Suatu kehormatan juga bisa berdansa dengan anda, pangeran." balas Cathriona dengan sopan. Sangat tidak sopan, bagi seorang putri menolak tawaran berdanda dari tamu undangan terutama pangeran kerajaan seperti pria dihadapannya.
Pria itu membawa Cathriona menuju lantai dansa dan mereks berdua berdansa dengan indahnya. Pelajaran dansa selama sebulan penuh yang membuat tubuh Cathriona pegal-pegal ternyata sangat bermanfaat bagi gadis itu. Setidaknya ia tidak perlu menjadi bahan tertawaan karena membuat kesalahan saat berdansa.
Cathriona menatap wajah Ratu Rossandria dengan ekspresi mengeluh, saat neneknya itu memberinya isyarat untuk menerima tawaran berdansa dari pria ke-6 yang meminta untuk berdansa dengannya. Cathriona menatap pria itu, ia ingin bertanya nama pria itu sebagai sebuah formalitas, walaupun ia merasa itu tak perlu karena ia bahkan tak mengingat semua nama pria-pria yang berdansa dengannya sebelumnya.
“Perkenalkan nama saya Louise, Raja dari Kerajaan Goldixia.” senyum menawan dari bibir pria itu membuat Cathriona tertarik kedalam mata hitam menawan pria itu. Mata hitam yang membuatnya teringat pada sosok pria yang belum dilihatnya beberapa hari ini.
“Suatu kehormatan bagiku jika putri secantik anda mau berdansa denganku..” Louise mengedipkan sebelah matanya pada Cathriona setelah ia mencium tangan Cathriona dengan pelan dan lembut.
“Ah.. suatu kebanggaan juga bagiku dapat berdansa dengan anda, Raja Louise..” Cathriona mencoba menyembunyikan rasa gugup dan terkejutnya dengan senyuman manisnya, yang disambut dengan rangkulan dari tangan Louise tepat dipinggang Cathriona saat mereka mulai berdansa.
“Kau sangat cantik Putri Cathriona. Kau bahkan lebih cantik dari informasi yang kuperoleh.” bisikan pelan dari bibir Louise membuat tubuh Cathriona merinding seketika.
“Terima kasih… Kau juga sangat menawan Raja Louise..” Cahriona tak bisa berbohong kalau Louise adalah pria yang sangat menawan, penampilan fisiknya bisa membuat wanita-wanita dengan mudah datang padanya, dan rambut serta mata hitamnya membuat tampilan maskulinnya terlihat semakin luar biasa.
“Cukup panggil aku Louise..” Louise mendekatkan tubuhnya kearah Cathriona hingga membuat gadis itu dapat mencium aroma tubuh dari pria itu.
Mata Cathriona terus menjelajah kedalam ruangan besar tempatnya sedang berdansa saat ini. Namun apa yang ia cari tak kunjung ia temukan. Ia yakin, ia melihat Royland beberapa kali dalam pestanya itu sedang berbincang-bincang dengan beberapa wanita namun ia tak menangkap sosok Antonio.
Cathriona kembali menfokuskan dirinya pada pria yang berdansa dengannya saat ini. Tiga hal yang ditangkap Cathriona tentang Louise, pertama Louise adalah pria yang sangat ramah, baik dan juga sangat berani dalam beberapa hal terutama dalam memperlakukan wanita yang baru dikenalnya.
Dari ke-6 pria yang sudah berdansa dengan Cathriona. Louise adalah pria yang paling membuatnya jengah dan lelah. Pria itu terus menerus berbicara tentang dirinya, kerajaannya bahkan ia menceritakan tentang kehebatannya dalam berperang, yang hanya dibalas dengan anggukan dan senyuman dari Cathriona.
“Aku sangat tidak menyukai orang-orang yang tidak mematuhi perintahku dan menolak tawaranku. Aku menjadi raja yang tegas dan sangat memegang kendali akan setiap urusan yang ada. Aku juga akan berusaha tanpa hent demi keberhasilannku.” Cathriona tak terlalu memperhatikan ocehan Louise yang terus saja berbicara hingga membuat neneknya tersenyum kearanya.
“Apakah itu pria yang kau ceritakan padaku dulu?” Donita mendekati Cathriona saat Louise mengakhiri cerita panjanganya yang Cathriona yakin jika ucapan itu dirangkai dapat dijadikan sebuah buku besar dengan judul “Akulah Raja Louise”.
“Bukan! Bukan dia… Pria yang kumaksud itu tidak hadir dalam pesta ini.” Cathriona mulai berbicara saat ia rasa Louise cukup jauh darinya, hingga tak mampu mendengarkan ucapanya.
“Ooo… Tapi menurutku dia cukup tampan dan kulihat dari betapa asyiknya kalian berbicara berdua tadi, kalian terlihat seperti pasangan yang serasi..” Donita tertawa pelan, godaannya itu berhasil membuat Cathriona menjadi kesal kepadanya.
“Kau mau tinggal disini denganku?” Cathriona menatap mata biru Donita mencoba mengalihkan pembicaraan mereka mengenai Raja Louise. Donita malam ini terlihat luar biasa cantik dengan gaun biru gelapnya.
“Aku? tinggal diistana? Oh… maafkan aku Cat, aku tidak bisa. Tapi aku dapat serin-sering berkunjung kesini kalau kau merindukan aku..”
Cathriona mendengus kesal mendengar jawaban sepupunya itu.”Baiklah, kau harus janji! Sering-seringlah menemuiku!”
“Baiklah putri Cathriona… hamba akan menuruti perintah itu…” Donita membungkukkan tubuhnya, memberikan hormat pada Cathriona.
“Sudahlah… jangan sperti itu!” ucap Cathriona pada gadis berambut pirang itu yang diirining suara tawa dari bibir mereka berdua.
Obrolan panjang Cathriona terus berlanjut dengan teman-temannya dari desanya, hingga para tamu satu persatu meninggalkan pesta dan pesta meriah itu berakhir.
***
Sudah hampir dua minggu berlalu setelah pesta penyambutan Putri Deluxia berlangsung. Kesenjangan waktu yang dipikir akan segera diperoleh Cathriona pupus sudah, kini hari-harinya disibukkan dengan berbagai aktifitas politis yang mungkin bagi sebagian besar gadis seusianya menjadi hal yang sangat membosankan namun tidak bagi Cathriona. Meskipun ia banyak kehilangan waktu untuk bersantai, ia menikmati setiap hal yang berhubungan dengan kerajaannya itu, termasuk hal-hal yang berhubungan dengan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat-rakyatnya.
“Desa Lumnia adalah desa penghasil gandum terbesar di Deluxia, kukira kita harus segera turun tangan untuk mengatasi wabah serangga disana..”
“Cathriona… “ Cathriona menatap wajah wanita yang memanggilnya itu. Wanita itu tersenyum bangga padanya. “Malam ini orang-orang suruhanku akan menuju Desa Lumnia, mereka akan segera mengatasi permasalahan ini..”
“Apakah permasalahan ini dapat diselesaikan dengan cepat?” Cathriona masih sibuk mengingat setiap permasalahan yang dialami Desa dari Kerajaan Deluxia itu.
“Hal ini pernah terjadi sekitar 13 tahun yang lalu dan saat itu permasalahan ini dapat selesai degan cepat. Jadi kau tak perlu khawatir, minumlah tehmu itu sebelum dingin…”
Cathriona menatap secangkir teh yang ditunjuk neneknya itu, namun tak ada keinginan untuk meminumnya. Sejak pembicaraan permasalahan kerajaan tadi siang selama dua minggu ini. Pikiran Cathriona seakan bukan miliknya sendiri lagi, tetapi miliki rakyat-rakyatnya. Cathriona mengarahkan pandangannya pada wanita tua didepannya, ia tak habis pikir, bagaimana mungkin neneknya itu bisa setenang ini mendengar begitu banyak masalah yang dihadapi Deluxia.
“Ehmm… Dia sudah menjadi pemimpin kerajaan ini selama puluhan tahun.Jadi sangat wajar dia dapat setenang ini..”pikir Cathriona.
“Apa yang sedang kau pikirkan?” lamunan Cathriona pecah saat Ratu Rossandria bertanya padanya. Cathriona menatap wajah neneknya itu dan ada rasa kekaguman tumbuh di benaknya.
“Apakah kerajaan memang sering menghadapi permasalahn seperti sekarang ini?” rasa penasaran Cathriona akhirnya ia keluarkan.
“Kau masih memikirkan hal itu? Kau tahu? Sekarang aku semakin yakin kalau kau adalah cucuku..” senyum mengembang dari wajah wanita tua itu. Seakan memahami apa yang ada dihati cucunya, Ratu Rossandria melanjutkan ucapannya
“Iya, Kerajaan ini seperti layaknya kehidupan. Masalah selalu ada, namun yang patut disyukuri masalah-masalah yang timbul saat ini kebanyakkan adalah masalah-masalah yang masih bisa kita selesaikan. Kau tau, setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Kalau tidak ada, kitalah yang harus membuat jalan itu.”
Cathriona hanya mengangguk mendengar ucapan wanita cantik nan anggun dihadapannya itu. Di usianya yang ta muda lagi, Cathriona masih dapat melihat betapa hebatnya neneknya itu memimpin kerajaan ini.
“Bagaimana? apa ada pangeran yang berhasil menarik perhatianmu?” Ratu Rossandria meletakkan cangkir tehnya berlahan mengalihkan topik pembicaraan mereka.
Cathriona terkejut mendengar hal itu. Ia jadi teringat, setelah pesta itu berakhir banyak pangeran dan bangsawan dari kerajaan lain yang datang khusus untuk menemuinya. Bukan hanya untuk bertamu atau beramah tamah antar kerajaan tapi untuk meminang Cathriona sebagai pasangan mereka.
“Ehm.. mereka semua pria-pria yang baik. Tapi aku belum berpikir untuk menerima pinangan mereka, Ratu..” sebenarnya Cathriona sangat ingin berkata kepada neneknya kalau hatinya sudah terlanjur tertarik pada Antonio, namun hal itu ia urungkan. Ia tak mau neneknya tersedak saat menikmati teh hangatnya itu.
Antonio? Cathriona tiba-tiba teringat akan suatu hal yang suda ia minta pada neneknya itu sebagai sala satu syarat ia mau tinggal di istana.
“Ratu.. mulai malam ini aku akan berlatih pedang..”
“Kukira kau sudah lupa akan hal itu karena kesibukkanmu. Baiklah, janji adalah janji. Nanti aku akan meminta Tuan Pulcot melatihmu secara khusus.”
“Tuan Pulcot?” alis Cathriona meninggi mendengar nama pria yang baru ia dengar itu.
“Iya, dia Jendral perang di kerajaan ini. Kemampuan pedangnya adalah yang terbaik..”
“Ah…a….tapi aku ingin orang lain yang melatihku. Aku sudah sering melihatnya berlatih dan dia sangat luar biasa..”
Ratu Rossandria menatap kedua mata cucunya itu. Ada hal yang sedang Cathriona sembunyikan dan ia dapat dengan mudah menagkap hal itu. “Baiklah.. Terserah kau saja. Tapi ingat, sesuai perjanjian kita, pelatihan ini hanya boleh dilakukan dimalam hari tanpa diketahui banyak orang. Aku tidak ingin kau mendapatkan desas-desus tajam tentang dirimu..” Ratu Rossandria melembutkan pandangannya. Rambut pirangnya bercahaya saat terkena sinar mentari sore yang yang mulai meredup tergantikan malam.
Percikan kebahagiaan menyalah didalam hatinya, pikirannya mulai dipenuhi oleh wajah dingin pria yang sering menemani bunga tidurnya beberapa hari ini. Ia bisa membayangkan bagaimana pedangnya bergesekan dengan pedang Antonio dan itu membuatnya ingin segera meninggalkan ruangan santai ini dan menemui pria yang berhasil menjerumuskannya kedalam perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
***
Cathriona berjalan mengendap-ngendap dengan pedang di tangan kanannya. Pedang peninggalan ayahnya itu ia genggam dengan erat takut akan jatuh dan menimbulkan keributan. Beberapa pelayan berjalan kearahnya dan dengan cepat ia bersembunyi didekat sebuah patung yang ukurannya lebih tinggi darinya. Ia sangat bersyukur malam itu ia menggunakan celana bukan gaun beratnya itu, hingga langkahnya bisa lebih cepat.
Cathriona menatap sekelilingnya, saat ia benar-benar merasa keadaan disekelilingnya sudah benar-benar sepi, ia melanjutkan pergerakkannya. Ia melangkah berhati-hati di lorong dengan pencahayaan minim itu.
Cathriona menimbang-nimbang pemikirannya. Ia mencoba mengingat, apakah ini bagian istana yang dimaksud Sera dan Berta, pelayanan pribadinya itu. Bagian istana yang terletak paling timur dari istana ini merupakan bagian tempat tinggal para prajurit, namun menurut para pelayan pribadinya itu ruangan Antonio berada diatas tepisah dengan prajurit-prajurit biasa karena ia merupakan wakil jendral perang.
Pencahayaan bulan memasuki ruangan gelap melalui jendela kaca besar disaampingnya.Bayangan Cathriona terbentuk dengan indah membetuk siluit diatas lantai istana itu.
Cathriona merasa seperti pencuri saat ini. Ia berjalan mengendap-endap dan parahnya ia tidak tahu dimana kamar Antonio dan sangat tidak mungkin ia memeriksa satu persatu pintu dihadapannya kini.
“Baiklah… mari uji keberuntunganmu Cathriona!” Cathriona melangkah dan mengetuk pintu kayu besar paling pojok diruangan besar itu. Ia mengaitkan pedangnya pada pengait di celananya dan memastikan pedangnya itu tak akan terjatuh.
“Tok…tok..tok…” suara pelan ketukkan itu menggema dan terdengar lebih keras dari dugaannya.
Suara pintu kayu dihadapannya terdengar terbuka, namun tak ada orang yang muncul didepanya. Cathriona meredam ketakutannnya dan melangkah masuk kedalam. Ia menatap ruangan didepannya kini, ia yakin itu sebuah kamar melihat ada ranjang besar di tengah-tengah ruangan itu. Namun, ia tak mendapatkan sosok yang ia cari.
“Permisi…” Cathriona berusah mengeluarkan suaranya sepelan mungkin dalam kamar yang hanya diterangi oleh cahaya bulan itu.
Cathriona mendengar suara langkah kaki dibelakangnya. Ia berbalik dan siap mengeluarkan pedangnya. Namun sebelum ia melakukan itu, tangannya sudah ditarik dan tubuhnya disandarkan paksa ke tembok dibelakangnya. Cathriona berusaha melepaskan diri namun pegangan tangan itu terlalu keras dan kuat baginya.
Ia menatap sosok didepannya itu, namun ia tak mampu melihat dengan jelas sosok yang ia yakini adalah pria itu. Rambutnya hitam gelap segelap malam tanpa bintang dan tatapan matanya yang terlihat ditengah pencahayaan minim itu membuatnyatersentak dan menyadari kalau pria yang menahan kedua tangannya dan menutup mulutnya itu adalah Antonio dan Cathriona semakin tersentak saat ia menyadari Antonio tak menggunakan atasan apapun, membuatnya bisa merasakan hawa panas dari tubuh keras pria yang terlihat benar-benar indah itu.
Antonio mendekati wajahnya ke wajah Cathriona dan membisikkan sesuatu yang membuat tubuh Cathriona merinding seketika.
“Royland membayarmu berapa untuk melayaniku?”
Cathriona tak paham dengan ucapan Antonio. Ia ingin membentak pria itu tapi mulutnya dibekam dengan sangat rapat oleh Antonio. Antonio menenggelamkan wajahnya keleher Cathriona yang terbuka dengan indahnya. Rambut Cathriona yang terikat satu ekor kuda membuat pria itu dapat meresap aroma leher Cathriona dengan sangat mudah.