Tubuh Cathriona bergetar merasakan bisikan Antonio ditelinganya. Ia sangat ingin membentak pria itu namun mulutnya dibekam dengan sangat rapat oleh Antonio, yang membuat nafasnya menjadi semakin berat.
Antonio menenggelamkan wajahnya keleher Cathriona yang terbuka dengan indahnya. Rambut Cathriona yang terikat satu ekor kuda membuat pria itu dapat meresap aroma leher Cathriona dengan sangat mudah. Ia mengecup leher putih itu hingga membuat kedua lutut Cathriona melemas seketika. Ditengah aksinya itu Antonio melemparkan senyuman dinginnya dan melepaskan tubuh Cathriona yang masih gemetar dengan kasar.
“Pergilah! Dan bilang pada Royland, jika ia masih ingin memiliki jari-jari tangan yang utuh. Jangan pernah melakukan hal ini lagi padaku..” Antonio membalikan tubuhnya, membelakangi Cathriona yang tak paham dengan ucapan dingin pria itu.
Cahaya bulan menyelimuti tubuh Antonio hingga membuat setiap lekukan-lekukannya terlihat dengan jelas dan celana hitam yang ia gunakan terlihat seperti bayangan hitam yang menutupi bagian tubuh bawahnya. Cathriona menatap terpesona oleh pemandangan itu, ia sangat ingin membiarkan jari-jarinya menari, mengikuti setiap otot-otot ditubuh bagian atas pria itu.
“Pergilah sekarang atau kau.....” Antonio menyadari wanita yang memasuki kamarnya itu belum keluar dari kamarnya dan sedang menatapnya dari belakang.
“Atau…apa?” kesadaran Cathriona kembali dan dengan cepat ia mengeluarkan suaranya, memotong ucapan pria menawan dihadapannya itu.
“Apa seperti ini perlakuan prajurit kepada seorang putri?” lanjut Cathriona.
Antonio mengerejap mendengarkan ucapan itu dan dengan dalam satu putaran, tubuhnya kini berhadapan dengan wanita yang membalas ucapannya. Dalam pencahayaan yang minim Antonio menatap dan mencoba mengenali wajah wanita yang terlihat samar itu.
Cathriona tersenyum melihat wajah Antonio yang terkejut itu. Itu pertama kalinya bagi Cathriona melihat wajah Antonio dengan ekspresi. Cathriona melangkah berlahan mendekati pria yang masih menatap wajahnya itu, hingga akhirnya Cathriona berhenti tepat dimana cahaya bulan menyinari wajahnya sepenuhnya.
Antonio semakin tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Untuk apa seorang putri datang malam-malam kekamarnya?
“Maafkan hamba, ada keperluan apa putri datang kemari?” Antonio segera membukukkan tubuhnya sebagai tanda hormatnya pada Putri didepannya.
“Maafkan aku juga karena sudah mengganggu malammu. Aku datang kesini karena aku ingin kau melatihku berpedang.” tanpa basa-basi Cathriona langsung mengungkapkan tujuannya kekamar pria yang berhasil membuat lututnya lemas itu.
Alis Antonio terangkat sebelah menciptakan kerutan didahinya yang tertutup rambut hitamnya.
“Berpedang??” Antonio memastikan apa yang didengarnya itu tidak salah.
“Iya. Berpedang. Aku melihatmu berlatih di tempat pelatihan dan kemampuan pedangmu sangat baik. Jadi kukira kau orang yang tepat untuk melatihku…”
“Tapi anda seorang wanita? dan …”
Sebelum Antonio melanjutkan ucapannya, Cathriona sudah mengetahui apa yang akan diucapkan pria itu “Tidak yakin dapat melatihku? Karena aku wanita? dan wanita adalah mahluk yang lemah?” Cathriona melepaskan pengait pedang di pinggang celananya dan ketika pengait itu berhasil ia lepaskan wajah Antonio terkejut kembali.
Antonio baru menyadari kalau wanita dihadapnnya itu membawa sebuah pedang. Walau hanya dilihat dari sarung pembungkus pedang itu, Antonio tahu kalau pedang itu bukan pedang biasa yang bisa dimiliki oleh sembarangan orang apalagi seorang wanita.
Seakan mampu membaca keheranan Antonio, Cathriona segera menjelaskan akan pedang ditangannya kini “Ini pedang peninggalan ayahku dan sekedar informasi, ini bukan pertamakalinya aku membawa dan menggunkan pedang ini..” Cathriona menatap berani kewajah Antonio yang menatapnya dengan tatapan yang membuat jantung Cathriona berdetak kencang.
Antonio masih menatap Cathriona dengan pedangnya itu dengan tatapan datar dan akhirnya menganggukan kepalanya, menyetujui perintah Cathriona.
***
Ditengah kegelapan malam diistana, Cathriona kini sudah berada didalam sebuah rumah kaca yang dipenuhi tanaman tropis. Ditengah-tengah ruangan itu terdapat ruang kosong yang membuat Cathriona dapat berlarian puas. Ketika menatap keatas Cathriona dapat melihat bulan dan jutaan bintang yang bersinar terang. Cahaya terangnya itu menembus rumah kaca dan menjamah bagian dalamnya hingga membuat Cathriona tak perlu cemas akan tersandung atapun terjatuh karena tak dapat melihat apapun.
“Ratu mengijinkanku menggunakan tempat ini sebagai tempat berlatih. Oh ya, apakah tidak apa-apa jika aku ingin berlatih sekarang? Aku sudah sangat tidak sabar mengayunkan pedangku ini!” Cathriona melepaskan sarung pembungkus pedangnya, dan mengayunkan pedangnya berlahan membuat suara yang khas.
“ Ini perintah. Jadi hamba akan menjalaninya.” Antonio berujar dingin dan ia mengikuti Cathriona melepaskan sarung pedangnya.
“Baiklah. Oh ya, bisakah kau tidak menggunkan bahasa yang terlalu formal ketika bersamaku. Panggil aku Cathriona, atau Cat. Dan… satu lagi, jangan menggunakan kata hamba. Aku tidak ingin merasa ada jarak diatara kita..” Cathriona melihat wajah pria itu heran “Maksudku, aku tidak ingin kau ragu-ragu dalam melawanku dalam berpedang karena aku seorang putri.”
“Kalau itu keinginan anda, hamba akan turuti.” Cathriona melototi Antonio yang membuat pria itu meralat ucapannya “maksud hamba, aku akan menuruti perintahmu putri Cathriona.” ujarnya dengan sangat kaku seperti anak yang baru belajar berbicara.Cathriona menghela nafas mendengar ucapan pria itu masih tak sesuai harapannya.
“Oke! kau siap?” Cathriona mengangkat pedangnya kearah Antonio yang ikut mengangkat pedangnya.
“Tunggu dulu, bukankah kau bilang ingin berlatih pedang? Bukan duelkan?” Antonio menuruni pedangnya menunggu respon Cathriona.
“Ini berlatih yang kumaksud..” Cathriona langsung menghunuskan pedangnya cepat ke bahu sebelah kanan Antonio namun pria itu dapat menghindarinya dengan mudah.
"Anda serius,Putri?” ada nada kekhawatiran dari suara Antonio yang terus menghindar dari serangan Cathriona yang bertubi-tubi.
“Bukankah tadi sudah kubilang, aku tidak ingin kau ragu-ragu dalam melawanku.” Cathriona melangkah cepat terus mencoba melawan pertahanan Antonio.
“Baiklah.” Antonio menghentikan pertahanannya dan balik menyerang Cathriona.
“Jangan sungkan…” Cathriona melemparkan senyuman saat ia berbalik menghindar pedang Antonio yang mencoba menyentuh pinggang kirinya.
Suara gesekan dari kedua pedang menggema diruangan kaca itu. Kilatan-kilatan cahaya hasil pantulan pedang itu karena cahaya bulan membuat suasana semakin sengit. Bilur-bilur keringat menetes dari wajah Antonio dan Cathriona. Suara nafas berat mereka terdengar semakin memburu seiring pergerakan tubuh mereka saling menyerang dan bertahan.
Cathriona merasakan kelelehan yang luar biasa. Sudah sebulan lebih ia tak berlatih dan itu membuat tubuh-tubuhnya melemas dengan cepat. Ketika Cathriona merasa pegal ditangan kanannya, saat itu Antonio memukul keras pedang Cathriona hingga pedang itu terjatuh dan dengan sekali gerakan, ujung pedang Antonio diarahkan di leher putih Cathriona dengan jarak sekitar 30 cm. Pria itu benar-benar harus berhati-hati.
“Baiklah Antonio…kau lolos tes sebagai pelatihku!” Cathriona tersenyum kepada pria yang mulai menurunkan pedangnya dari leher Cathriona. Cathriona mengangkat pedangnya yang tergeletak ditanah dan menyarungkannya kembali kepembungkusnya.
“Hari ini cukup. Besok kita bertemu ditempat ini lagi oke?!” Cathriona menunggu balasan Antonio yang menatapnya tanpa sepatah katapun.
“Antonio…” Antonio tersadar dari lamunannya dan menganggk cepat walaupun ia tak mendengarkan jelas apa yang diucapkan Cathriona.
“Sudah larut, aku harus pergi, kau jug ahrus istirahat. Sampai jumpa besok!” Cathriona melangkah pergi meninggalkan Antonio yang masih berdiri diam bak patung bermandikan cahaya bulan di malam hari. Cathriona ingin segera pergi, karena ia sangat lelah dan juga merasa sangat gugup melihat tatapan Antonio padanya tadi. Jika ia tetap bertahan, mungkin saat ini dirinya sudah menyerang pria itu dan membuat dirinya sendiri malu setengah mati.
Cathriona berjalan mengendap-ngendap menuju ke bagaian utama istana, tempat kamarnya berada yang jaraknya cukup jauh dari rumah kaca yang terletak dibagian belakan istana. Ia terus berharap tak ada yang melihatnya atau meneriakinya sebagai penyusup karena kalau hal itu terjadi kemungkinannya untuk berlatih pedang berdua bersama Antonio tak dapat dilaksanakan lagi.
***
Tubuh Antonio bergerak turun naik seirama hembusan nafasnya. Ia kini membaringkan tubuhnya diatas ranjang miliknya setelah membasuh tubuhnya yang penuh keringat. Dibalik ketenangan wajah dan kamarnya yang sangat minim cahaya itu, memori ingatan Antonio masih berputar-putar mengingat kembali akan apa yang terjadi dengannya beberapa saat yang lalu.
“Cathriona…” Antonio berbisik pelan pada kebisuan malam. Otaknya kini memang sedang memikirkan wanita si pemilik nama itu. Wanita pertama yang membuatnya kewalahan karena menerima serangan pedang yang cepat namun tetap anggun. Wanita pertama yang menatap kedua matanya dengan berani dan menantang namun tidak memberikan kesan menggoda seperti yang banyak dilakukan wanita lain padanya dan juga merupakan wanita pertama yang membuatnya merasakan getaran yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.