Senandung merdu kicauan burung menyambut sinar mentari yang mengetuk jendela besar yang membatasi sebuah ruangan besar bercat biru muda. Tampak seorang gadis berambut panjang masih terlelap dalam selimut hangat tebal yang melindunginya dari dinginnya udara musim gugur. Senyuman terus mengembang dari bibir kemerahan gadis cantik itu, sepertinya mimpi indah sedang mengalun indah dalam tidurnya hingga suara yang tak asing bagi gadis itu menenggelamkan mimpi indahnya dan membawanya kembali kekehidupan nyata.
“Putri bangunlah…”
Cathriona mengintip wajah wanita yang membangunkannya dari celah-celah matanya yang sangat sulit untuk terbuka.
“Ehmmmm.. aku masih mengantuk, tadi malam aku tidur terlalu larut. Jadi, bilang ratu hari ini aku tidak ikut dengannya untuk rapat…” Cathriona semakin menenggelamkan dirinya didalam selimutnya.
“Ini bukan soal rapat.. Ada pangeran dari kerajaan Goldixia…”
“Bukan pangeran tapi raja!” seorang pelayan lain mengoreksi pernyataan salah itu sambil berbisik namun bisikan itu terdengar terlalu keras hingga Cathriona dapat mendengarnya dengan mudah.
“Iya, maksud hamba ada Raja dari Goldixia ingin menemui anda..”
“Raja?” Cathriona tertegun dalam benaknya.
“Siapa raja yang datang pagi-pagi untuk menemuinya?” rasa penasaran itu akhirnya menghilangkan rasa kantuknya.
“Baiklah… Aku bangun. Kalian siapkanlah pakaianku.” Cathriona mengangkat selimut hangatnya yang masih sangat ia dambakan itu dan beranjak dari ranjangnya.
***
Dengan gaun berwarna peach yang membalut tubuhnya dengan indahnya, Cathriona menyusuri lorong-lorong kerajaan yang sudah sangat tak asing baginya kini. Pelayan-pelayanan membungkuk hormat saat bertemunya. Namun, ada yang berebeda pagi ini. Para pelayanan itu berjalan sambil berbisik-bisik, membicarakan sesuatu yang terlihat penting.
“Ada apa?” Cathriona bertanya pada ke-3 pelayaan yang berjalan dibelakangnya.
Tanpa bertanya lebih rinci ket-3 pelayan itu sudah memahami maksud pertanyaan Cathriona.
“Ehm.. itu, katanya tadi malam ada yang melihat tuan Antonio bersama seorang wanita.” Berta, salah satu pelayaan Cathriona berjalan lebih dekat dengan Cathriona agar suaranya tidak terdengar oleh yang lain.
Senyum langsung mengembang dari bibir Cathriona. Ia tidak menyangka hal sepele seperti ini dapat membuat para pelayan istana menjadi seheboh ini.
“Lalu? Apa ada yang salah?” Cathriona mencoba mencari tahu lebih dalam lagi.
“Sebenarnya tidak ada yang salah. Namun, tuan Antonio itu dikenal di istana ini sebagai pria yang sangat tertutup pada wanita dan sepertinya banyak pelayan istana yang kecewa mengetahui soal wanita itu.”
“Kenapa harus kecewa?” tanya Cathriona lagi.
“Walaupun dia pendiam dan cuek tapi banyak pelayan wanita yang menyukainya.” Berta terlihat bersemangat membahas hal itu.
“Sebenarnya bukan hanya pelayan saja, para wanita bangsawanpun banyak yang mencoba mendekatinya. Bahkan putri dari tuan Gordon, salah satu menteri kerajaan ini yang sangat terkenal karena kencantikannya, pernah mencoba untuk mendekatinya namun tidak dipedulikan oleh tuan Antonio.”
Cathriona hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar hal itu. Ia sangat tak menduga ternyata pria yang kini sudah menjadi pelatihnya dalam berpedang itu memiliki begitu banyak pengagum walau sebenarnya kalau dipikir-pikir hal itu sangat wajar mengingat penampilan pria itu sangat menawan dan juga kemampun bertarungnya yang sunggu luar biasa.
Cathriona yang masih penasaran dengan berita itu bertanya kembali “Apa ada yang melihat wajah wanita itu?”
“Itu dia putri. Sayangnya tidak ada yang melihat. Padahal aku sangat penasaran wanita seperti apa yang bisa membuat tuan Antonio keluar dengannya.” Berta kini terlihat sedikit kesal. Cathriona dapat melihat dengan jelas kalau wanita kurus disebelahnya itu juga mengagumi Antonio.
“Ya, kuyakin wanita itu pasti sangat luar biasa hingga bisa membuat Antonio mau keluar dengannya. Dia pasti sangat cantik, sangat baik dan juga sangat hebat dalam berped….” Cathriona menghentikan ucapannya menyadari kalau dia hampir saja mengatakan kata yang seharusnya tak boleh ia katakana.
Berta dan kedua pelayan dibelakangnya menatap penasaran kepada Cathriona karena ucapannya yang menggantung. Cathriona tersenyum kaku lalu melanjutkannya “Maksudku sangat hebat dalam berdandan… yah berdandan….” ke-3 pelayan itu mengangguk menyetujui ucapan Cathriona yang terlihat lega karena hampir saja mengatakan hal yang dapat membuat heboh istana lagi.
***
Seorang pelayan pria membuka pintu besar kayu penuh ukiran yang membawa Cathriona kedalam jawaban akan rasa penasaran yang membuat kantuknya hilang tadi pagi.
“Selamat pagi Putri Cathriona…” seulas senyuman menawan menjawab rasa ingin tahu Cathriona.
“Oh.. selamat pagi Louise…” Cathriona membalas senyuman menawan pria yang terlihat sangat luar biasa tampan pagi itu. Rambut hitam sebahuya yang terkena sinar mentari pagi dari celah-celah jendela ruangan pertemuan itu membuat pria itu tampak lebih maskulin dan berwibawa dibandingkan di pertemuan pertama mereka.
Cathriona menatap mata hitam Louise yang membuatnya lagi-lagi teringat akan sosok Antonio.
“Kau mungkin terkejut mendengar aku ingin bertemu denganmu pagi-pagi..”
“Iya, kau membuat tubuhku tak dapat lebih lama berada diranjangku..” Cathriona berujar santai, membuat pria dihadapannya itu tersenyum mendengar ucapannya.
“Maaf. Aku tak bermaksud untuk itu..” senyum hangat dari Louise masing mengembang dari wajah tampannya.
“Jadi? Ada keperluan apa hingga membutamu ingin bertemu denganku?” Cathriona mencoba meghilangkan tatapan Louise kepadanya yang membuatnya merasa tak nyaman.
“Aku ada sedikit urusan di kerajaan Skyloxia, jadi ketika kembali dari sana aku memutuskan untuk menemuimu disini..”
“Aku sangat tersanjung mendengar itu… Raja yang sibuk sepertimu menyediakan waktunya hanya untuk menemuiku. Itu sangat luar biasa. Terima kasih..” Cathriona melemparkan senyuman ucapan terima kasihnya.
Louise tersenyum kembali sambil mengusap rambut hitamnya. Ia tampak sangat senang dan mengeluarkan suaran beratnya kembali “Tak perlu berterima kasih. Aku akan sering mengunjungimu kesini.”
Alis Cathriona terangkat. Ia tak mengerti makna ucapan pria itu.
Louise memahami ekspresi wajah tak paham dari wanita yang sangat menarik perhatian dan hatinya itu. Ia melanjutkan kata-katanya kembali “Sebelum ke Skyloxia aku kesini dulu. Namun sayangnya aku tak bertemu dengamu karena kau lagi kekota. Namun aku sudah bicara dengan ratu maksud tujuanku kesini. Kukira kau sudah tahu itu?”
“Aahh… sepertinya ratu lupa memberitahuku. Kau harap maklum, karena usianya…” Cathriona mencoba membuat Louise tak tersinggung karena hal yang belum diberitahukan ratu padanya.
“Iya tak apa…”
Obrolan Cathriona dan Louise menjadi semakin meluas. Tak hanya membicarakan tentang diri mereka masing-masing namun juga tentang perkembangan kedua kerajaan dan kehidupan rakyat-rakyatnya.
***
Sudah hampir 7 hari sejak pertemuan Cathriona dan Raja Louise. Cathriona masih penasaran dengan maksud pria itu namun sayangnya ia belum bisa memperoleh jawaban dari rasa ingin tahunya itu. Ratu Rossandria sangat sibuk dan kini ia sedang disibukkan lagi dengan undangan khusus dari kerajaan Greaxia yang letaknya tak jauh dari kerajaan Deluxia. Kerajaan Deluxia sendiri berada ditengah-tengah kerajaan Skyloxia dan kerajaan Greaxia.
Sinar matahari telah tergantikan oleh cahaya bulan saat Cathriona mendengar kalau Ratu Rossandria telah kembali dari perjalanannya. Saat itu Cathriona sedang sibuk memilih pakaian yang akan ia gunakan untuk latihan bersama Antonio, namun saat ia mendengar kalau neneknya itu sudah pulang ia segera pergi untuk menemui neneknya.
Cathriona berjalan berlahan memasuki kamar neneknya. Kamar itu lebih besar dari kamar Cathriona namun cat temboknya berwarna senada. Cathriona melihat neneknya yang sedang dilayani oleh 2 orang pelayan pribadinya. Seorang sedang memijat kakinya dan seorang lainnya sedang memijat pundaknya.
“Cath.. kemarilah..” Ratu Rossandria memangil Cathriona saat ia melihat cucu semata wayangnya itu sedang berdiri didekat pintu kamar menatapnya dalam diam.
Cathriona mendekati neneknya dan tak lama kemudia Ratu Rossandria meminta ke-2 pelayanannya untuk meninggalkannya dengan Cathriona.
“Bagaiman perjalananmu nek?” Cathriona tak pernah memanggil neneknya itu dengan sebutan Ratu saat mereka sedang berdua.
“Baik.. walau sedikit melelahkan. Kau sendiri bagaimana?”
“Ehm baik juga.. Aku selalu mengikuti pertemuan dengan para menteri dan tetap melakukan pelatihan putriku…”
“Baguslah… uhuuukk..uhhukkkk!” Ratu Rossandria terbatuk berulang kali hingga wajahnya memerah.
Cathriona langsung meraih gelas air dipinggir ranjang neneknya dan meminta neneknya untuk segera meminumnya.
“Terima kasih..” Ratu Rossandria berujar saat ia selesai meneguk air dan meletakkan kembali gelasnya.
“Oh ya, apa ada kau menemuiku?”
“Tentu saja untuk melihat nenekku…” Cathriona membuat Ratu Rossandria tertawa mendengar ucapan cucunya itu.
“Selain itu?” Berpuluh-puluh tahun menjadi seorang ratu bukan hal yang sulit bagi Rosandria untuk menebak apa yang sedang orang lain pikirkan melalui ekspresi wajah mereka. Termasuk kini, Rossandria tau ada sesuatu yang sedang mengganjal hati Cathriona.
“Ehm…” Cathriona merasa enggan untuk mengatakannya.
“Katakanlah..”
“Begini nek, tadi pagi Louise. Maksudku Raja Louise datang kemari dan mengatakan ada sesuatu yang sudah ia katakan kepadamu namun belum sampai kepadaku. Kalau boleh aku tahu. Hal apa itu?” tanya Cathriona dengan hati-hati sambil mencoba membaca raut wajah wanita yang sedang duduk bersandar diranjangnya.
“Louise, dia memang sangat ambisius..” Ratu Rossandria menggumam pelan namun dapat didengar oleh telinga Cathriona.
“Jadi begini, Aku sedang berpikir untuk menjodohkanmu dengan Raja Louise. Ia juga sudah datang kemari dan menyatakan kalau ia akan sangat senang jika kau dapat menjadi Ratunya mengingat Ratu Issrambel sudah wafat di musim dingin yang lalu.” Ratu Rossandria menatap kedua mata Cathriona, menunggu jawaban yang keluar dari mulut Cathriona.
Cathriona bangkit berdiri dari bangkunya. Ia terkejut dan tak percaya dengan apa yang diucapkan neneknya itu dan ketika ia ingin mengucapkan keberatannya,neneknya sudah bicara kembali.
“Itu baru rencana Cathriona. Nenek belum benar-benar memutuskan untuk menerima perjodohanmu dengannya.”
“Kau memang nenekku tapi bukan berari kau berhak menjodohkanku dengan pria yang tak kuncintai walaupun ia adalah seorang raja sekalipun!” nada geram dari suara Cathruiona membuat Ratu Rossandria menyampaikan pemikirannya kembali.
“Tenanglah. Kalau kau memang tak menginginkan perjodohan ini. Aku tak akan merimanya.” ada ketakutan yang terpencar dari suara Ratu Rossandria dan tiba-tiba ingatannya kembali kemasa lalu, kemasa dimana ia masih bisa melihat anaknya.
Seorang wanita yang terlihat sangat cantik dengan gaun biru tuanya menampar pipi seorang pria muda yang tak lain adalah anaknya. Wanita itu lalu memanggil pengawal dan meminta agar pria muda itu dikurung dalam kamarnya agar ia tak dapat kabur dari istana lagi.
Perasaan wanita yang biasanya selalu tenang itu kini berkecamuk dan sangat geram, mengingat putra tunggalnya itu kabur pada saat hari perjodohannya dengan putri dari kerajaan seberang. Dan yang lebih membuatnya geram adalah karena anaknya itu kabur bersama wanita lain yang merupakan pelayan istana.
Kemarahan yang dirasakan wanita yang sangat dihormati seluruh kerajaan Deluxia itu berangsur-angsur hilang saat mendengar pria itu berteriak kepadanya dan mengatakan kalau ia akan menerima perjodohan itu asal wanita itu mau berjanji pada laki-laki itu agar ia tak melukai Annabelle, wanita yang sangat ia cintai. Wanita itu menerima perjanjian itu namun dengan syarat, Annebelle harus pergi sejauh mungkin dari istana dan tak pernah menampakan diri lagi diistana.
Ratu Rossandria tak pernah menyadari betapa terluka dan menderita putranya saat itu karena yang ia pikirkan hanya bagaimana cara agar putranya itu dapat menjadi penerus tahta kerajaan ini, yaitu dengan menikahi wanita yang memilki darah keturuanan anggota kerajaan.
Namun saat wanita itu harus kehilangan putranya karena penyakit yang mengerogoti putra tunggalnya itu, ia baru menyadari betapa menderita putranya itu.
Kini, Putra Ratu Rossandria itu sudah tidak ada, namun darah daging dari pria itu ada dihadapan Ratu Rossandria . Ia tak ingin melihat kejadian yang sama terjadi, ia benar-benar tak ingin melihat penderitaan yang sama terjadi pada Cathriona seperti yang dialami Libertho.
Cathriona menatap neneknya yang menatap kosong kearah tembok. “Nek..! Berjajilah kau tak akan pernah mencoba menjodohkanku dengan pria yang tak kucintai lagi!” Cathriona berkata dengan keras hingga Ratu Rossandria tersadar dari lamunannya..
“Baiklah… Namun ada beberapa hal yang harus kau tau Cathriona… Kau cucuku satu-satunya. Harapan rakyat dan harapan seluruh kerajaan ini ada ditanganmu ketika kau menjadi ratu. Untuk menjadi Ratu, ada hal yang harus kau lakukan dan tak tak boleh dilanggar, kau harus menikah dengan pria yang ditubuhnya mengalir darah anggota kerajaan juga. Kau tak bisa menikahi pria biasa. Nenek tidak akan menjodohkanmu dengan siapapun dan kau dapat memilih sendiri pria yang kau cintai namun ia harus pria yang memenuhi syarat itu…..” Ratu Rossandria menyentuh tangan Cathriona dengan lembut. Ia menatap wajah cucunya yang terlihat menenang. Namun semakin lama ketenangan itu membuat Rossandria ketakutan, ia bisa melihat ada sesuatu dimata Cathriona yang membuat gadis itu seakan mengigil katakutan tanpak sepatah katapun keluar dari bibirnya.
***
“Prang…” suara keras itu menggema dari ruang kaca yang dilingkupi kegelapan malam.
“Dari beberapa malam kita sudah berlatih. Ini yang terburuk! Lebih baik kita hentikan latihan ini. Aku tak ingin membuang-buang waktu dan energiku untuk hal tak berguna ini!”
“Maaf…” Cathriona mengangkat pedangnya yang jatuh dan memasukannya kembali kepembungkusnya. Ia pikir pendapat Antonio benar, latihan ini hanya membuang-buang waktu dan energinya karena ia benar-benar tak dapat fokus sedikitpun pada latihannya malam ini. Ucapan neneknya tadi terus terbayang-bayang di pikirannya dan hal itu membuatnya merasa frustasi!
“Apa ada sesuatu yang mengganjal pikiranmu?” Antonio duduk disebelah Cathriona yang menatap bayangan tubuhnya dibawah sinar rembulan. Cathriona sedikit terkejut mendengar hal yang sebenarnya adalah hal biasa itu. Namun hal itu menjadi tak biasa karena ditanyakan oleh Antonio yang selalu acuh tak acuh dan bersikap dingin padanya.
Cathriona tak menjawab pertanyaan Antonio dan mengarahkan pembicaraan mereka kearah lain “Bagaimana ceritanya kau bisa menjadi prajurit di istana ini?”
Tanpa terduga Antonio tak mengabaikan pertanyaan itu dan menjawabnya dengan tenang sambil menatap langit-langit malam di atas atap kaca yang menaungi mereka
“Kedua orang tuaku meninggal saat aku berusia 13 tahun, saat orang tuaku meninggal aku kabur dari rumahku dan dalam perjalanan kaburku, aku terjatuh di sebuah jurang dengan sungai didasarnya. Kupikir saat itulah akhir hidupku, namun ternyata saat aku membuka mata, aku melihat tuan Korgiaz (Jenderal Perang Kerajaan Deluxia) sedang merawatku dipinggir hutan Bonzure. Lalu aku dibawa ke istana olehnya dan tinggal disini hingga sekarang…”
Cathriona tak menduga pria dingin disebelahnya ini memiliki masa lalu yang sangat kelam dan menyedihkan. Ia ingin menyentuh rambut pria itu, memberikan kenyamanan pada diri pria yang terlihat tenang dalam menceritakan kisah masa lalunya itu, namun Cathriona dapat merasakan ada luka yang sangat dalam disana, luka yang Cathriona tak tahu kedalamannya.
Antonio menghentikan ceritanya lalu memalingkan wajahnya ke arah Cathriona yang sedang menatap wajahnya. Tatapan mata mereka bertemu dan tak seorangpun dari mereka berusaha untuk melepaskan tatapan itu. Ada kehangatan yang dirasakan Antonio pada mata gadis itu. Kehangatan yang belum pernah ia rasakan kembali ketika ibunya meninggal dihadapannya.
Kehangatan yang membuatnya ingin menyentuh wajah gadis itu dan membuatnya semakin mendekatkan wajahnya pada wajah gadis itu.
Hangat……
Antonio dapat merasakan kehangatan itu semakin melingkupi dirinya saat bibirnya menyentuh bibir gadis yang membuatnya semakin merasakan getaran yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
Kedua bibir anak manusia itu menari seirama desiran dalam tubuh mereka tanpa henti, hingga mulai terdengar desahan pelan dari bibir Cathriona yang membuat Antonio semakin enggan membiarkan bibir wanita itu menjauh dari bibirnya dan membuatnya merasakan dorongan tak tertahankan untuk semakin dalam merasakan kehangatan bibir Cathriona…