"A-Alyn?" Gumam Tristan.
Alyn sang mantan tunangan sedang berdiri tak jauh dari dirinya?
Mata Tristan terbuka lebar dan wajahnya juga memucat, ia tak menyangka jika dirinya akan berjumpa dengan Alyn di siang hari yang cerah ini.
Tristan merasa ingin mengatakan sesuatu yang penting kepada Alyn, tetapi suaranya seperti membeku di dalam tenggorokannya, tidak mau keluar meski hanya kata 'a' saja.
Alyn dan Tristan terus menatap satu sama lain selama beberapa detik, seperti waktu telah berhenti untuk mereka berdua. Pandangan yang tak tertuju arah lain meski ada beberapa orang yang berseliweran di antara mereka.
"T-Tristan..." Alyn bergumam pada diri sendiri tanpa memutuskan kontak mata dengan Tristan.
Tidak siap.
Alyn tidak siap untuk saat seperti ini. Bertemu dengan Tristan adalah bukan pilihannya. Ia sudah bertekad untuk tidak melihat pria ini lagi dan sekarang sepertinya Tuhan tak menghendaki keinginannya. Di sana, tepat di depan dirinya, Tristan yang selalu hadir dalam setiap mimpi malam tidurnya, sedang menatapnya.
Tatapan yang ia rindukan. Tubuh kurus dan berotot milik Tristan. Wajah itu, mata itu, hidung itu, bibir itu, rahang tegas itu.
Alyn tidak tahu mengapa, tetapi ia merasa ingin berlari ke arah Tristan dan memeluknya erat-erat.
Entah apa yang saat ini Alyn rasakan, namun ia sama sekali tidak bisa membendung perasaannya yang ada dalam dadanya. Ia selalu menekankan pada dirinya sendiri untuk membenci Tristan, namun lihatlah saat ini, dirinya malah ingin berlari ke arah Tristan dan memeluknya.
Ini menggelikan, pada dasarnya hati dan tubuhnya lebih jujur ketimbang pikirannya. Rasa rindunya kepada Tristan, jauh lebih besar dari yang ia duga.
"Alyn aku..." Tristan hendak mendekati Alyn tapi seseorang mengalihkan perhatiannya.
"Sayang! Akhirnya kau sampai di sini, pasien-pasienmu sedang menunggumu! Dasar, ngapain saja sih? Tak biasanya kau telat." Seorang perawat berambut hitam kecoklatan keluar dari salah satu ruangan rumah sakit yang diketahui sebagai kantor poli bedah milik Tristan. Ia tiba-tiba bermanja ria pada Tristan dengan senyuman merekahnya. Wanita itu bahkan terlihat seperti mau mencium Tristan.
"Sa-Sayang?" Alyn mengerutkan kening setelah mendengar kata-kata gadis itu.
Alyn mengerutkan jidatnya. Sayang? Ia tidak salah mendengarkannya, kan?
Ada pertanyaan besar di benaknya dengan perawat cantik dan sexy itu. Ada hubungan apa perawat itu dengan Tristan? Kenapa perawat itu begitu bahagia sambil memeluk mantan tunangannya? Memeluk Tristan dan bergelayutan manja di lengan yang dulu sering Tristan gunakan untuk merengkuhnya.
Saudaranya Tristan? Ini konyol.
Kekasih barunya Tristan? Ini lebih masuk akal.
Namun...
Ah, ada yang menusuk. Seperti jarum kecil-kecil tapi bertubi-tubi. Semakin dalam dan semakin nyeri ketika perawat cantik itu bermanja ria pada Tristan.
"Apa-apaan itu?" Kata Alyn merasakan sakit hati yang kuat.
Andin dan Eva yang berdiri di samping kiri dan kanannya Alyn, memegangi kedua tangan Alyn seolah tahu jika diri Alyn saat ini sedang tidak baik-baik saja.
Alyn menggigit bibirnya dan mencoba untuk menyimpan semua emosi yang luar biasa di dalam hatinya. Emosi yang membuncah dan butuh diluapkan.
"..." Tristan hanya bisa membatu untuk menatap Alyn. Tatapan putus asanya tergambar jelas di matanya yang kelam bak malam tak berbintang.
"Mbak Andin, Eva, ayo kita pergi!" Ajak Alyn kepada kakak dan sahabatnya itu.
Alyn tak kuasa terus menyaksikan pemandangan di depannya. Ini adalah pukulan telak yang memukul mati jantungnya. Ia ingin melarikan diri, ia ingin pergi sejauh yang ia bisa. Ingin lari dan tak mau melihat lagi sang mantan tunangan.
"Ya, ayo kita pergi!" Andin menyetujui keinginan Alyn, Eva hanya mengamininya.
Tiga wanita itu pun berbalik dan meninggalkan Tristan yang sedang bersama dengan Jane.
Tristan sang dokter ahli bedah merasa perlu untuk mengejar Alyn, tetapi tubuhnya mengkhianatinya. Belum lagi fakta bahwa Jane sedang memeluknya hanya memperburuk keadaan. Langkahnya terasa berat dan membeku di tempat.
Alyn sudah menjadi mantan, dan mantan adalah masa lalu.
Ada sisi yang merasuki otaknya untuk memperingatkan soal ini kepada dirinya. Benar, dirinya saat ini sudah memiliki Jane.
Ia perlu menghormati Jane, kan?
Jane adalah kekasihnya saat ini sementara Alyn adalah mantannya yang sudah berlalu maka, Jane jauh lebih berhak untuk ia pilih. Ini keputusan yang tepat, kan?
Jane memandang jauh tiga wanita yang berlalu. "Hmm, siapa mereka itu, Tristan? Apa kau mengenal wanita itu? Kurasa dia dirawat oleh dokter dr. Zia. Dia pasiennya dr. Zia." Kata Jane yang membuat Tristan kembali ke kenyataan atas lamunannya.
"Dr. Zia?" Gumam Tristan. Ia mengenal baik dr. Zia.
Tristan dan dr. Zia satu angkatan, satu kampus juga.
"Ya, aku melihatnya keluar dari kantornya dr. Zia beberapa saat yang lalu. Dia dan dirimu nampak tak asing satu sama lainnya. Kalian saling kenal ya?" Tanya Jane.
Tristan mulai tak tenang. Pemikiran-pemikiran mulai mengganggu. Kenapa Alyn menjadi pasiennya dr. Zia? Bukankah dr. Zia itu spesialis kandungan? Apa yang Alyn lakukan di sana? Sakit apa? Sungguh, ini benar-benar sangat mengganggunya. Sangat mengesalkan karena faktanya ia tak bisa berlari mengejar Alyn. Pasien-pasiennya sedang menunggunya. Ia harus bertanggung jawab akan pekerjaannya itu.
Merasa tak ada jawaban dari Tristan, Jane pun kembali bertanya. "Kau mengenal pasiennya dr. Zia itu?"
Tristan menoleh ke arah Jane. Ayo balik normal agar Jane tidak bertanya yang macam-macam! "Dia teman lamaku." Jawabnya yang sekali lagi tak bisa fokus akibat sibuk dengan lamunannya.
"Oh begitu ya? Pantas saja seperti saling kenal."
"Miss Wang, apakah dr. Zia masih ada di dalam kantornya?" Tristan bertanya dengan penuh harapan.
"Miss Wang lagi..." Cemberut Jane.
"Jawab saja!" Suara Tristan terdengar memaksa.
Ini orang kenapa sih? Pikir Jane.
"Ya, aku pikir dia akan berada di sana sampai waktu makan siang, kenapa?" Kata Jane yang tak mempermasalahkan meski Tristan belum bisa memanggil nama kecilnya.
"Kau persiapkan beberapa data pasien antrianku hari ini dulu. Ada hal yang ingin aku lakukan. Sampai jumpa nanti!" Kata Tristan yang menghilang dari pandangan Jane dalam sekejap. Ia membutuhkan jawaban dan ia tahu siapa orang yang bisa menjawab dari rasa penasarannya yang kian lama kian besar itu.
"Tristan!" Panggil Jane. Namun Tristan sudah keburu pergi. Ia pun hanya bisa menghela nafas. Ia harus mengulur waktu pemeriksaan pasien lagi. Tak masalah, toh ini demi kekasihnya, kan?
***
Alyn terus berlari dan berlari sampai dirinya merasakan paru-paru miliknya mulai kehabisan oksigen. Ia terengah-engah dan butuh banyak pasokan oksigen. Ia bahkan sampai terbatuk-batuk juga. Kakinya terasa panas.
Eva dan Andin juga tak jauh beda dengan Alyn. Mereka menyandarkan badan mereka di dinding bangunan.
"Alyn, kau gila apa? Kau itu hamil! Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan kandunganmu? Kenapa harus berlari segala sih?" Kata Eva.
"Eva benar, harusnya tak perlu berlari. Tristan saja tidak mengejarmu, kok!" Timpal Andin.
Tristan saja tidak mengejarmu, kok?
Kok jleb ya?
Mendengar Andin membahas soal Tristan, ingatan soal Tristan yang sedang dipeluk perawat cantik kembali memasuki otak. Belum lagi soal panggilang sayang itu. Tak hanya Alyn saja yang ingat, tapi kakak dan sahabatnya ini juga memikirkan hal yang sama.
Tristan sudah memiliki kekasih baru?
"b******k! b******k! b******k!" Teriak Alyn sambil mengepalkan tanganmu ke dinding. Tak tahu tiba-tiba saja air matanya keluar di sela mata indahnya.
Andin menatap adiknya yang sedang menangis. Ia tahu jika sang adik ini masih belum bisa melupakan Tristan. Alyn berusaha sok kuat setelah putus dari Tristan meski sesungguhnya hatinya begitu terluka. Melihat Tristan dengan wanita lain pasti sangatlah menyakitkan.
"Alyn..." Andin bergumam sambil menepuk punggung Alyn.
Isak tangisan Alyn semakin meningkat setiap detik. Diberi pekuat seperti ini malah membuat hatinya semakin lemah dan rapuh. Tristan memang sangat mempengaruhi emosinya.
"Mbak Andin, kenapa sakit sekali?" Alyn bertanya dengan suara parau. "Hiks, sakit sekali! Dadaku terasa menyempit! Sesak dan sulit bernafas! Hiks.. Kenapa? Kenapa sangat sakit?"
"Alyn, jangan bicara dulu!" Kata Eva mencoba menghibur Alyn dengan pelukan. "Tenangkan dirimu dan baru bicara! Kau tak kasihan dengan paru-parumu, hm?" Lanjutnya.
Alyn menggeleng di pelukkan Eva. "Aku tahu kita telah putus tapi aku... aku tidak mengharapkan dia bersama orang lain secepat ini. Kita telah berpisah selama dua bulan lebih dan aku terus saja memikirkannya. Dia hadir dalam setiap malamku, setiap tidurku, dan setiap mimpiku... Namun kenapa? Kenapa aku tidak bisa melupakannya? Sama seperti dia yang kini telah melupakan aku?" Alyn masih menangis.
“Alyn, kurasa Tristan sama sekali tidak melupakanmu, dia terkejut sama sepertimu, tapi terkadang seseorang tidak tahan kesepian. Mungkin ini yang menyebabkan Tristan memulai kisah yang baru?” Jawab Andin sambil menyeka air mata Alyn dengan tisu.
Tidak tahan soal kesepian ya?
Dalam waktu kurang dari 3 bulan?
Apa Tristan sungguh secepat ini melupakan kisah manis yang terjalin lebih dari sembilan tahun?
“Hei, sudahlah, sebaiknya ayo kita pulang! Mengobrol di rumah ditemani secangkir coklat panas adalah ide yang menarik, bukan?” Kata Eva sambil tersenyum.
Alyn pun tersenyum meski dipaksakan. Tak ada gunanya juga ia terus menangis berlama-lama di rumah sakit. Meski sampai habis air mata pun, fakta Tristan sudah bersama yang lain tetap tak bisa ia pungkiri.