Want to Know

1194 Kata
Beberapa jam kemudian, Alyn, Andin, Eva sampai di kediaman milik Andin. Masih di kota yang sama dengan rumah sakit dimana Tristan bekerja, Centra Medica. Alyn duduk di sofa, ia minum secangkir cokelat panas yang telah disiapkan Eva untuknya. "Jangan buru-buru minumnya, nikmati saja perlahan-lahan minumanmu. Perasaanmu akan membaik setelahnya." Kata Andin. Ia meminum cola dingin. Menurutnya cuaca siang yang cukup panas ini, cola dingin jauh lebih cocok. "Iya, aku pun juga sudah jauh lebih baik kok, Mbak Andin." Gumam Alyn. Seperti yang ia katakan, ia merasa lebih santai sekarang, bukan karena ia sudah melupakan apa yang terjadi tadi di rumah sakit, nyatanya sepanjang perjalanan pulang ia tidak bisa berhenti menangis, ia tak bisa melupakannya sedikitpun. Hati yang hancur dan terluka kembali tergores lagi. "Jangan bersedih, Alyn. Semua akan baik-baik saja. Alyn yang aku kenal itu adalah Alyn yang kuat." Kata Eva menyemangati. "Tentu saja aku ini wanita yang kuat! Aku akan baik-baik saja!" Ini adalah kebohongan, di dalam terasa sangat remuk. "Oh iya, sepertinya aku tak mau lagi periksa ke dr. Zia untuk check up selanjutnya." Lanjutnya. Andin menatap Alyn. "Alyn, apa maksudmu dengan tidak mau lagi periksa ke dr. Zia untuk check up selanjutnya? Bukankah dr. Zia baik denganmu? Dia dokter kandungan terbaik kota ini loh." Andin bertanya dengan kecewa. Bukannya menyombongkan, tapi temannya itu memanglah dokter terbaik di kota tempatnya tinggal, bahkan seprovinsi juga banyak yang mengenal baik dr. Zia. dr. Zia memiliki akun IG dengan banyak follower. Bisa dibilang jika dr. Zia ini merupakan seorang influencer. "Jangan konyol! Ini bukan tentang dr. Zia, dia memang sangat baik kepadaku, aku tak ada masalah mendapatkan penangan dokter seperti dia, tapi ini tentang Tristan." Kata Alyn. "Benar, kak Andin, sebaiknya Alyn tidak pergi ke sana lagi, jelas sekali Tristan bekerja di tempat itu. Ini hal yang tak ingin Alyn alami. Kau lihat tadi kan bagaimana menderitanya Alyn saat melihat Tristan?" Kata Eva bergabung dengan argumen tersebut. "Tapi..." Andin ini hanyalah sosok kakak yang ingin adiknya mendapatkan penanganan dokter terbaik. "Dr. Zia memberi tahu aku semua yang perlu aku ketahui soal kehamilan. Memasuki bulan kehamilan ketiga, perut mulai membuncit, aku masih bisa menutupinya dengan pakaian yang besar. Tapi bagaimana dengan bulan-bulan selanjutnya? Aku tak akan bisa menyembunyikannya! Aku... aku ... aku tidak ingin Tristan tahu jika aku mengandung anaknya." Jelas Alyn. "Kau tetap akan mempertahankan kandunganmu?" Tanya Eva. Maksud Eva dirinya ini akan menggugurkan janin yang ada di rahimnya? Gila saja! "Tentu saja aku akan mempertahankannya! Ini anakku!" Seru Alyn. “Jadi… apakah aku benar-benar menjadi seorang bibi nantinya? Asyik sekali! Yes yes yes, aku bakal punya keponakan!” Teriak Eva kegirangan. Alyn memijat kepalanya karena pusing dengan teriakan kegirangan Eva yang tidak tepat waktu itu. "SHUT UP EVA!!" Geram Alyn. "Ha ha ha, maaf Alyn, maaf..." Cengir Eva. Ia tahu dirinya ini salah, tapi ia berharap jika candaannya ini bisa membuat Alyn membaik. "Alyn.. tolong jangan ganti dokter hanya karena Tristan ada di situ. Kau harus tetap melanjutkan pemeriksaanmu pada dr. Zia. Sebenarnya, semalam kakak mengobrol dengan dr. Zia soal dirimu. Kakak sudah membayar semua jadwal kunjunganmu padanya. Kakak mendapatkan diskon darinya karena kau adalah adikku. Untuk pertemuan selanjutnya, dr. Zia akan memperlakukanmu secara gratis. Kau tidak akan menghabiskan uangmu untuk semua perawatan yang kau butuhkan! Meski ada pun, itu tidak akan terlalu mengeluarkan uang yang banyak." Kata Andin terburu-buru mencoba meyakinkanmu. "Kenapa mbak Andin melakukannya sampai sejauh itu? Kenapa mbak Andin buru-buru membayar semuanya?" Tanya Alyn yang tak paham dengan tindakan yang sudah sang kakak lakukan. "Tentu saja demi dirimu dan calon keponakanku! ... Kakak bukannya meremehkan keuanganmu, tapi kakak ingin kau dan janin yang kau kandung itu mendapatkan dokter yang paling baik, paling kompeten dalam bidangnya. Kau belum lama bekerja juga, kau masih banyak butuh uang untuk hal-hal yang lain." Jelas Andin. "Tolong Alyn izinkan aku membantumu!" Andin bergumam dengan mata penuh harap dan Alyn hanya bisa menghela napas sambil menyesap cokelat hangat miliknya. "Baiklah aku menyerah, aku tidak punya pernyataan untuk meragukanmu, mbak Andin! Sayang juga uang yang sudah mbak keluarkan. Itu pasti tidaklah sedikit." Kata Alyn yang memilih menyerah. "Syukurlah, kakak senang mendengarnya. Yah, kupikir kau perlu istirahat, jangan banyak pikiran lagi!" Kata Andin sambil berdiri dan mengambil barang-barangnya, tapi sebelum keluar dia berhenti. "Kak Andin mau pergi?" Tanya Eva. "Mau kencan dulu dengan Mark!" Jawab Andin. "Oh..." Gumam Eva. "Nah Alyn?" "Ya?" "Mungkin ini bukan urusanku, tapi kau harus mempertimbangkan untuk memberikan kabar baik kepada ibu dan ayah soal kehamilanmu, bukan begitu?" "Oh sial!" Kabar baik apanya? Sepertinya Alyn akan terkena masalah besar setelah ini. "Ayah pasti akan menggantung diriku jika tahu aku hamil di luar nikah. Ayah, ibu, maafkan aku... Ya Tuhan, bagaimana ini? Bagaimana caraku untuk memberitahu kehamilanku kepada mereka? Will they accept it? Will they be mad at me? My mom will cry, right?" *** Kembali ke rumah sakit, Tristan nampak putus asa mencari dr. Zia. Tristan dan dr. Zia, mereka berdua adalah teman baik, jadi Tristan berharap ia bisa mendapatkan beberapa informasi tentang Alyn dari dr. Zia. Tentang kenapa Alyn bisa menjadi pasiennya dr. Zia yang ia ketahui sebagai spesialis kandungan itu. Ketika Tristan sampai di kantor milik dr. Zia. Ia membuka pintu dengan hati-hati, seorang perawat menyapanya. "Bolehkah saya membantu Anda, dr. Tristan?" Tanya seorang perawat yang Tristan ketahui sebagai asistennya dr. Zia. "Oh ... apakah dr. Zia ada?" Tanya Tristan. "Saya minta maaf harus mengatakannya, dr. Zia pergi beberapa menit yang lalu, saya pikir Anda tidak akan menemukannya sampai besok." "Sampai besok? Aku butuh file dari meja kerjanya." Kata si berambut raven kesal merasa rencananya tidak berjalan dengan lancar. "Maafkan saya, dr. Tristan. Saya tidak bisa mengizinkan Anda masuk jika dr. Zia tidak ada di sini. Itu adalah peraturan dokter dan Anda tahu hal itu. Anda harus bersedia menunggu." "Bolehkah aku meminta nomor telepon dr. Zia?" Tanya Tristan. Ia menghormati peraturan yang ada. "Ya, tentu saja." Perawat itu memberikan selembar kartu nama kepada Tristan. "Ini, ini nomor teleponnya." Lanjutnya. "Um ... terima kasih." Tristan mengambil kartu dari tangan perawat itu dan segera pergi dari kantor dr. Zia. Tristan kembali ke kantornya untuk mencoba menghubungi dr. Zia, tapi dr. Zia tidak menjawab. Rasanya kesal. "Sialan, aku perlu tahu apa yang terjadi pada Alyn!" Pria tampan itu mengacak rambutnya. "Tristan, ada apa?" Tanya Jane sambil meletakkan hasil skrining pasien yang harus Tristan tangani. "Ah, tidak. Tidak apa-apa." Jawab Tristan. Jane hanya bisa mengerutkan keningnya tanpa sedikitpun curiga. Setelah itu, Tristan kembali bekerja. Menghabiskan hari-hari yang sama seperti biasanya. Seperti yang biasa ia lakukan. Pada penghujung hari yang melelahkan akhirnya ia pulang. Pelung dengan rasa lelah yang tak terkira. Tapi tak apa, ia sudah biasa melewati hal-hal seperti ini. Cukup dengan istirahat, maka ia akan baik-baik saja. Di apartemennya, Tristan mencari nomor, petunjuk, apa pun yang bisa memberitahunya dimana Alyn berada dan yang paling penting, mengapa Alyn bisa berada di rumah sakit itu. Menjadi pasiennya dr. Zia. "Mungkinkah dia sakit?" Tristan berbisik pada dirinya sendiri untuk menolak gagasan itu dengan segera. Ia tahu betul bahwa Alyn adalah orang yang sangat sehat, tentu saja Alyn pernah terkena flu beberapa kali tetapi jelas Alyn tidak akan pergi ke rumah sakit hanya karena penyakit seperti itu. "Apa yang terjadi denganmu, Alyn? Kau jauh lebih kurus dari sebelum kita berpisah."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN