Talk to Parent 1

1025 Kata
Di kamar Alyn. Alyn bangun dari tidurnya. Ia menangis hebat. Dalam mimpinya, ia kembali dihantui oleh sang mantan, Tristan. Hatinya menjadi sangat tidak tenang. Ia tak bisa tidur lagi. Alhasil, ia pun memutar lagu. Lagu kesukaannya yang kisahnya cukup mirip dengannya dan Tristan. Hanya saja, dirinyalah yang meninggalkan Tristan, bukan Tristan yang meninggalkannya. Belum lama ini kau putuskan mengakhiri kisah kita. Aku terus pikirkan apa yang salah dengan kisah cinta yang ada. Diriku tidak mengerti dengan alasan yang membuat kita seperti ini. Apa semesta yang tak merestui? Pernah aku mencoba, aku meminta kepastianmu. Namun takut kau menganggapku mengemis cintamu. Aku lelah menjadi seperti itu. Aku hanya bisa menangis pilu. Perasaanku yang terlanjur begitu dalam mencintaimu. Tersimpan dalam hati dan hidupku. Tidak akan mudah untuk dihapuskan. Meski ini kau sudah bersama dengan yang lainnya. Tak bisakah kau memikirkan bagaimana sulitnya aku? Aku orang yang pernah sangat mencintaimu. Harusnya kau tahu betapa hancurnya hatiku. Dalam waktu yang seujung kuku, kau memiliki cinta yang baru. Belum selesai satu lagu konyol karangan ngawur Author, Alyn langsung mematikan lagu itu. Ia menutup ponselnya dan menaruhnya asal di meja dekat tempat tidurnya. "Konyol sekali. Konyol! Sungguh konyol! Bodohnya aku yang masih saja bertahan dengan perasaanku kepada dirinya. Ingatlah wahai diriku, kau dan Tristan itu sudah berpisah! Jika Tristan saat ini memiliki kekasih baru, maka itu bukan lagi urusanmu. Bukan hakmu untuk menyalahkan Tristan." Alyn tahu akan hal ini. Ia juga tak menutup mata atau membuta. Hanya saja, saat ini ia sedang kecewa. Alyn mengusap perut hamilnya yang masih rata. "Kenapa aku bisa menjalin hubungan sampai sejauh itu? Kenapa aku tak menolak ketika dia mencumbuku? ... Kini aku sedang hamil setelah dia pergi. Aku bisa apa? Akulah yang mengusirnya dari hidupku. Hikss.. maafkan ibu, anakku! Maaf karena sudah menghadirkanmu di dunia ini dengan cara yang tidak baik." Sebuta itukah cara mencintainya sehingga berani melupakan norma dari Tuhan? Sungguhkah itu cinta? Percayalah, setengahnya atau bahkan lebih itu adalah nafsu. *** Pagi menjelang. Keesokan harinya Alyn memutuskan untuk mengunjungi kedua orang tuanya di kota C. Hari ini ia ditemani oleh sang kakak, Andin. Eva tidak menemaninya karena Eva harus bekerja di klinik. "Oh Tuhan, aku merasa gugup sekali" Gumam Alyn. "Ambil nafas, lalu keluarkan!" Kata Andin. Alyn mengikuti instruksi Andin. Alyn sudah berdiri di luar rumah orang tuanya, di depan pintu. Ia tidak ingin masuk ke dalam rumah itu untuk menceritakan soal kehamilannya. Ia sangat tahu bagaimana perangai sang ayah itu. Ayahnya adalah seorang Jendral Angkatan Laut yang tegas dalam kesehariannya. Sejujurnya, Alyn sudah memikirkan kira-kira apa saja yang akan ia alami ketika ia menceritakan kehamilan di luar nikahnya ini kepada sang ayah. Alyn mendesah dalam dan ingin mengetuk pintu setelah beberapa menit berpikir apakah akan melakukannya atau tidak. "Aku pasti akan dimarahi ayah, aku balik saja apa ya?" Kata Alyn. "Hei, kita sudah jauh-jauh ke sini, lagi pula ini adalah hal yang tak selamanya bisa kau sembunyikan, Alyn! Jika mereka mengetahui tentang kehamilanmu dari orang lain, itu tidak akan menyenangkan mereka, itu akan membuat mereka semakin marah kepadamu. Jadi, menurutku lebih baik memberi tahu mereka dengan mulutmu sendiri." Ujar Andin bijak. "Mbak Andin benar, hanya saja aku takut. Mbak..." "Loh, Andin? Alyn? Kenapa tidak masuk? Malah di ngobrol di depan pintu! Ayo masuklah!" Suara ibu Andin dan Alyn terdengar. Rupanya sang ibu baru dari pasar membeli sayuran dan bahan makanan lainnya. "I-Ibu?" "Ibu?" Sang ibu membuka pintu dan mempersilahkan kedua putrinya itu masuk ke dalam. Setelah kedua putrinya lulus SMA, mereka tak tinggal dengan orang tuannya. Ngekost saat kuliah dan bekerja. Jam bertemu juga mulai jarang. Tidak bisa seminggu atau sebulan sekali bertemu karena kesibukkan. "Satu-satunya hal yang dapat aku harapkan saat ini adalah ayah tidak ada di rumah. Akan lebih mudah untuk menceritakan semuanya kepada ibu. Ibu orangnya tak mudah marah. Lalu, biarkan ibu saja yang menceritakan soal kehamilanku kepada ayah nanti. Aku sudah tahu bagaimana kira-kira ayah akan bersikap. Ayah pasti akan meledak mendengar berita ini. Ayah itu sama seperti diriku yang suka emosian dan tak terkendali." Batin Alyn. "Ini minumlah kalian berdua!" Kata sang ibu yang datang dari arah dapur sambil membawa minuman. Teh hangat. "Terima kasih, Ibu." "Sama-sama. Jangan anggap kalian ini tamu di rumah ini karena ibu membuatkan kalian minuman seperti ini! Ini tetaplah rumah kalian meski kalian sudah tinggal berpisah!" Kata Ibu. "Iya, Bu! Kami mengerti. Oh iya, dimana Aldo?" Tanya Andin. "Adikmu menginap di rumah temannya. Tahu, katanya mau pulang, tapi belum sampai rumah juga." Jawab Ibu. "Hmm, padahal kangen banget sama Aldo. Adikku yang manisnya bak aktor Korea itu si bungsu yang tiap minggu minta diisikan pulsa buat main game online!" Seru Andin. "Apa? Beneran?" Tanya Ibu. Andin mengangguk. Bahkan Alyn pun juga sama. "Anak itu, benar-benar. Dia sudah kecanduan game online! Kalian jangan manjain adik kalian! Ini tak baik buat Aldo!" Andin dan Alyn saling pandang dan mengangguk. Meski begitu, mereka yakin jika mereka tetap akan memberikan apa yang Aldo minta. Mereka berdua sangat menyayangi adik bungsu mereka yang masih kelas XI SMA itu. "Oh iya, Bu. Lalu di-dimana a-ayah?" Tanya Alyn gugup. "Hm? Ayahmu tadi ada..." Pintu terbuka perlahan sebelum sang ibu menyelesaikan ucapannya. "Nah, itu ayah!" Seru Ibu. Dan pada saat, Alyn menoleh ke tempat dimana arah yang ditunjuk oleh sang ibu. Ia merasa seperti menjadi orang yang paling tidak beruntung di dunia. Ayahnya yang tampan itu berdiri gagah di depan pintu yang Alyn ketahui sebagai pintu kerja pribadi sang ayah. "Anak-anakku, apakah itu kalian?" Tanya Ayah. Andin tersenyum manis. "Hai Ayah, selamat pagi!" Sapa Andin. Alyn gemetar badannya. Ia menghela napas lagi untuk mengurangi betapa gugup dan takutnya ia saat ini saat berhadapan dengan sang ayah. Ia mencoba memberikan senyum palsu pada agar ayahnya tidak curiga "Ah ... halo ... Ayah." Sapa Alyn gugup. Sosok yang paling Alyn sayangi sekali paling ia takuti ini pun berdiri tegap di hadapannya. Menatapnya penuh dengan kasih sayang. Jika sudah begini, bagaimana cara terbaik untuk mengatakan perihal kehamilannya? Akankah tatapan penuh kasih sayang itu berubah menjadi tatapan penuh amarah? Hanya dengan membayangkannya saja, Alyn sudah ketakutan. *** Setiap orang tua yang sangat menyayangi anaknya akan selalu menghawatirkan anaknya. Alyn paham konsep ini, tapi ia masih saja tetap takut. Ini masalah aib dan aib jelas keburukan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN