Sukamto, ayah Alyn dan Andin sangat senang melihat kedatangan kedua putrinya yang sudah tidak lagi tinggal bersama dengan dirinya. Terhitung sudah hampir sebulan yang lalu dari terakhir ia melihat sang putri. Membuatnya memendam rindu yang amat sangat.
Ingat ini wahai anak-anak di seluruh dunia yang masih memiliki orang tua. Jika ada kesempatan untuk pulang dan memeluk orang tua, maka segera pulanglah! Jangan buat mereka menderita karena menahan rindu ingin bertemu. Akan menjadi penyesalan besar jika mereka tidak ada dan diri ini tak menyempatkan diri menengok mereka. Pekerjaanmu bukanlah segalanya. Sementara waktu itu sangat terbatas.
Jangan sampai menyesal!
Lanjut ke perkenalan ayahnya Alyn dan Andin.
Sukamto adalah seorang perwira Angkatan Laut berpangkat Admiral yang mana posisi tertinggi di Angkatan Laut di bawah Grand Fleet Admiral.
Sosok ayah tiga anak ini, terkenal sangat disiplin dan tegas. Meski terkesan galak, tapi percayalah jika Sukamto adalah sosok yang sangat menyayangi keluarganya.
"Anakku Alyn, kau nampak lebih kurus dari terakhir ayah melihatmu. Apa hidupmu tidak baik akhir-akhir ini?" Tanya Sukamto.
"Ba-baik kok, Ayah. Sangat baik, pekerjaan di klinik lumayan ramai, aku hanya kelelahan saja." Alyn tak bohong soal ini.
"Jangan terlalu memaksakan diri. Kau itu perempuan, sebaiknya tidak bekerja berlebihan." Kata Sukamto.
"Ayahmu benar, nak..." Kata Endang. "Sebagai orang tua, kami sangat khawatir pada dirimu." Tambahnya.
"Tuh dengarkan kedua orang tuamu!" Kata Andin.
"Itu berlaku juga untukmu, Andin!" Kata Sukamto.
"I-iya Ayah, aku mengerti kok." Andin mati kutu.
Ayahnya memang menyeramkan. Meskipun berbicara dengan ayahnya sendiri, tapi kadang ada seperti sekat.
"Nah, sekarang, ayo kita makan!" Ajak Sukamto.
Alyn dan Andin hanya saling lempar tatapan. Makan lagi? Jujur saja, kedua wanita ayu ini sudah sarapan pagi tapi sang ayah meminta untuk makan lagi.
"Anak pulang ke rumah tidak makan di rumah orang tuanya itu tidak afdol. Ayah yakin jika kalian ini sudah makan. Ayah pun juga sama. Namun, ayah ingin makan bersama kalian sebagai keluarga." Lanjut Sukamto.
"Meski sedikit, ayo kita makan! Sudah lama kita tidak makan bersama-sama." Sambung Endang.
"Eh? Makan? Apa ada ayam goreng?" Aldo si bungsu keluarga Sukamto pun menampakan diri. Ia memamerkan senyuman manisnya.
"Salamnya mana?" Tanya Sukamto.
"Selamat pagi, Ayah, Ibu, Mbak Andin, Mbak Alyn. Aku pulang..." Aldo buru-buru memberi salam sebelum kena marah sang ayah dan uang sakunya dipotong.
"Selamat pagi..."
Setelah Aldo datang, lengkap sudah semua anggota keluarga Sukamto. Mereka pun makan bersama.
***
Di ruang makan...
"Cobalah makan rendang daging sapi ini, Alyn. Rasanya enak sekali. Ibu mencoba resep Mbak Jum, pemilik restoran Padang langganan keluarga kita." Kata Endang. Ia menuangkan banyak irisan daging rendang ke dalam piring milik Alyn.
"Ya ampun, Ibu... Ini terlalu banyak. Aku bisa kekenyangan." Kata Alyn.
"Mbak Alyn itu kan terlalu kurus, makan daging banyak bisa membuat gemuk loh, Mbak!" Kata Aldo menimpali.
Sang ibu sepertinya tak ingin dikecewakan. Rengekan Alyn pun diurungkan. Akhirnya ia pun mencicipi rendang sapi yang nampak sangat lezat itu.
Dalam hati ia berharap jika apa yang ia makan saat ini sama sekali tidak akan membuatnya mual. Masalahnya, ia sedang bermusuhan dengan aroma menyengat termasuk aroma dari daging.
"Aku sudah minum obat pengurang rasa mual. Aku pasti akan baik-baik saja! Ya. Pasti, aku pasti akan baik-baik saja!" Batin Alyn.
Semua orang melihat ke arah Alyn. Lihatlah sang kakak, Si Andin sampai menatapnya penuh kekhawatiran. Seperti sedang harap-harap cemas.
"Aku tak enak dengan ibu yang sudah menyiapkan makan lezat ini. Sedikit saja, hanya perlu makan sedikit saja maka aku akan baik-baik saja. Oke.. aku pun memotong kecil rendang sapi di piringku, lalu menyendoknya dan berusaha memasukkan ke dalam mulutku... Sendok berisi daging rendang itu pun semakin dekat dengan bibir mulutku... Tahan.. Tahan.. Tahan... ah, sial.. baunya.. Uhh.. aku mual sekali... Aku tak tahan! Aku pun langsung bangun dari dudukku dan segera berlari ke wastafel terdekat yang ada di dapur... Ada yang bergejolak di dalam perutku dan rasanya sama sekali tidak nyaman... Ya, aku pun memuntahkan semuanya."
Endang memijat tengkuk Alyn. Sementara Aldo dengan sigap membuatkan teh hangat untuk sang kakaknya itu.
Alyn mendengar Andin minta maaf pada sang Ayah, Sukamto, karena sudah berbuat kurang sopan. Sang ayah seperti bertanya yang intinya apa Alyn sedang sakit atau bagaimana. Andin hanya berkata jika Alyn sedang kurang enak badan dan masih kena efek perjalan jauh. Dari kota B ke C itu cukuplah jauh.
Kota A adalah tempat Alyn dan Eva kerja, apartemen mereka juga di sini.
Kota B adalah tempat Tristan dan rumahnya Andin.
Kota C adalah rumah orang tua Alyn dan Andin.
Sebenarnya, Tristan memiliki rumah juga si kota C.
***
Karena Endang sangat khawatir pada Alyn, akhirnya ia menyuruh Alyn istirahat saja di kamar. Alyn menempati kamarnya Aldo. Bekas kamarnya maupun kamarnya Andin meski bersih, tapi karena lama tak terpakai, jadi belum dirapikan.
Sementara sang ibu sedang membuat minuman pengurangan rasa mual di dapur, Alyn dan Andin memiliki kesempatan untuk berbicara berdua.
"Aldo pergi ya?" Tanya Alyn.
"Iya, dia pergi bersama ayah untuk membeli buah-buahan yang kiranya bisa mengurangi rasa mualmu." Jawab Andin.
"Ah.. Mereka terlalu heboh."
"Masih mual ya?"
Alyn mengangguk. "Aku tak tahu, setelah periksa kemarin, malah menjadi sering mual dan muntah. Padahal sebelumnya hampir tidak pernah. Sudah menghisap permen, tapi masih sama saja."
"Sudah sampai sejauh ini, Alyn. Ini sudah waktunya." Kata Andin tiba-tiba.
"Maksud, Mbak Andin?"
"Kau sudah tahu apa yang ingin aku katakan, Alyn. Kau tahu itu, kita juga membahasnya kemarin. Kau harus menceritakan hal ini kepada orang tua kita."
"..."
"Mumpung masih awal, Alyn. Itu jauh lebih baik daripada nanti-nanti. Menurutku juga, lebih baik mereka mendengarkan cerita ini langsung dari mulutmu dari pada mereka tahu dari orang lain atau melihatnya sendiri... Kau tahu? Apapun pilihanmu, semua akan membuat mereka kecewa atau pun marah pada awalnya. Jadi, jangan dipendam dan dirahasiakan kehamilanmu dari orang tua kita." Kata Andin serius.
"Hamil? Siapa yang hamil, Sayang?" Tanya Endang yang tiba-tiba saja muncul dari balik pintu sambil membawa senampan bersisi buah dan minuman pengurangan rasa mual.
Mendengar pertanyaan dari sang ibu, tentulah membuat Alyn dan Andin menoleh ke arah Endang.
"I-Ibu?" Kaget Alyn.
Endang meletakan nampan itu ke meja dan kemudian duduk di sisi lain sebelah Alyn. "Katakan kepada ibu, siapa yang hamil di antara kalian berdua?" Tanya Endang. Ia menatap anak-anaknya satu per satu.
Andin memaksa tersenyum, sementara Alyn memilih untuk banyak menunduk.
"Jika tak ada yang menjawab, maka biar ibu saja yang menebaknya. Mudah sih, nampak jelas kok, ibu tahu itu. Ketika Alyn masuk rumah ini pun, ibu sudah tahu. Ada yang lain dari bentuk fisik putri ibu yang nomor dua ini... Alyn, itu kau, kan?" Kata Endang.
Tak mau mengelak lagi, Alyn pun mengangguk sebagai tanda ia. Ia menuruti Andin untuk menceritakan hal ini kepada keluarganya, terutama sang ibu, Endang.
"Iya ibu, aku hamil. Sudah dua bulan." Kata Alyn.
Mendengar jawaban dari Alyn, reaksi tak disangka ditunjukkan oleh sang ibu. Endang justru tersenyum sumringah dan langsung memeluk Alyn.
"Ya ampun... Akhirnya ibu mau memiliki cucu juga! Alyn, ceritakan pada ibu, apa Tristan tahu soal ini?"
"..."
"Bagaimana reaksi dia saat mendengar bahwa kau sedang hamil?"
"I-Ibu.."
"Apa dia langsung melompat dari tempat tidur dan bergegas memelukmu?"
"Itu..."
"Apa dia bahagia mendengar kabar ini sama seperti yang ibu rasakan saat ini?"
"Ibu, aku dan Tristan sudah berpisah dua bulan yang lalu. Kami sudah putus." Potong Alyn cepat.
"..." Endang terdiam. Ia baru ingat hal ini.
"... dan aku yang memutuskan hubungan kami." Tambah Alyn.