"Apa dia bahagia mendengar kabar ini sama seperti yang ibu rasakan saat ini?"
"Ibu, aku dan Tristan sudah berpisah dua bulan yang lalu. Kami sudah putus." Potong Alyn cepat.
"..." Endang terdiam. Ia baru ingat hal ini.
"... dan aku yang memutuskan hubungan kami." Tambah Alyn.
"..."
"Ibu ingat kan soal ini? Aku dan Tristan sudah berpisah." Alyn kembali menegaskan ucapannya.
"Oh Tuhan, ibu lupa soal ini. Jadi katakan pada ibu, apa dia tahu soal kehamilanmu?"
Alyn menggelengkan kepalanya. "Dia tidak tahu dan aku memang merahasiakan kehamilanku darinya. Kita sudah berpisah, Bu. Aku dan dia sudah memiliki hidup kami masing-masing."
"Untuk masalah itu, ibu percayakan pada keputusanmu sendiri mau bagaimana. Kau paling paham apa yang terbaik untukmu saat ini. Ibu tidak akan memaksakan idealisme ibu kepada dirimu."
"Ibu tidak marah soal ini? Aku hamil di luar nikah, ibu!"
"Bohong sekali jika ibu tidak marah, tapi ibu akan jauh lebih marah jika kau merahasiakannya dari ibu dan keluargamu. Lagian, ibu senang karena sebentar lagi ibu akan memiliki cucu. Cucu pertama di keluarga kita."
Alyn langsung memeluk sang ibu. Ibunya ini sangat luar biasa.
"La-Lalu, bagaimana jika ayah tahu? Maksudku, apa ayah akan marah padaku jika tahu aku hamil seperti ini?" Tanya Alyn takut-takut.
Alyn tahu betul bagaimana sang ayah itu. Seorang perwira yang tegas dan sangat disiplin.
"Dek, dari semua anak ayah, kaulah yang paling dekat dengan ayah dibandingkan aku dan Aldo. Mbak yakin, ayah pasti akan mengerti." Kata Andin yang akhirnya ikut nimbrung pembicaraan. "Bukan bagaimana, tapi menurutku kau itu adalah anak kesayangan ayah karena hanya kau yang paling menurut sama ayah, paling cerdas juga." Tambahnya.
"Justru karena itu, Mbak. Karena menurut mbak aku paling dekat dan paling disayang oleh ayah, ketika aku melakukan kesalahan seperti ini, maka kekecewaan ayah akan semakin besar terhadapku. Membayangkan ayah marah kepadaku itu sangat menakutkan. Namun bisa apa, faktanya aku memang sudah membuat ayah kecewa."
"Mungkin ayahmu akan marah kepadamu, tapi percayalah Alyn anakku, semua akan baik-baik saja. Biar ibu nanti yang bicara dengan ayahmu. Lebih baik kau fokus dengan kehamilanmu saja. Ingat, ibu hamil tidak boleh stress. Meski kau dokter hewan, tapi dokter tetaplah dokter, kau paham betul soal ini, kan?"
"Ibu, terima kasih banyak dan maaf, maaf sudah membuat semuanya menjadi sulit seperti ini. Maaf sudah menjadi anak yang kurang ajar dan mengecewakan ibu dan ayah."
"Setiap anak bisa membuat kesalahan, tapi ibu percaya kepadamu dan bahkan Andin juga Aldo. Jika kalian membuat kesalahan, kalian pasti akan bertanggung jawab dengan memperbaiki kesalahan kalian."
Ibu yang bijak yang selalu memandang semua hal secara positif. Penyesalan akan dosa yang ia perbuat pada kedua orang tuanya akan selalu membekas. Akan selalu ia ingat sehingga di masa depan, ia tak akan mengulangi kesalahan yang sama. Itu adalah janji Alyn kepada dirinya sendiri.
"Nah, semuanya cukup sampai di sini dulu. Sekarang, biarkan Alyn istirahat terlebih dahulu. Dan kau Andin, ayo bantu ibu membuat kue kering pesanan orang! Mumpung kau libur, kan?" Kata Endang.
"Yah ibu, aku ini model!"
"Mau model, mau tukang kapal, kau tetaplah wanita! Ayo tunjukkan rasa baktimu kepada ibu yang sudah melahirkanmu!"
"Ibu..."
Alyn hanya tertawa melihat sang kakak yang diseret oleh ibunya.
"Keluarga yang penuh dengan keceriaan. Namun aku malah merusaknya. Ibu, ayah, mbak Andin, dan Aldo... maafkan aku. Maaf..." Batin Alyn.
***
Di sisi lain, nampaknya dokter tampan dan masih muda ini masih penasaran dengan pertanyaan, 'kenapa Alyn di rumah sakit?', 'kenapa Alyn menjadi pasiennya dr. Zia yang merupakan seorang dokter kandungan?'
Tak henti-hentinya, Tristan berusaha mendapatkan informasi tentang Alyn untuk mendapatkan jawaban akan rasa penasarannya. Namun anehnya, kenapa rasanya menjadi sangat sulit? Ataukah Tuhan memang sedang mempersulitnya?
Tidak ada! Tuhan tidak akan pernah mempersulit hambanya yang berniat baik, jika belum sesuai harapan, anggaplah itu sebagai hal bukan keberuntungan. Memangnya boleh? Ajukan kata ini, tidak boleh menyangkal kehendak Tuhan, apa lagi berprasangka buruk terhadap-Nya. Ini hanya bagian dari alur atas nasib yang sudah Tuhan gariskan. Manusia itu hanya perlu untuk berusaha lebih baik lagi agar mendapatkan hasil yang baik pula.
Dan Tristan percaya itu. Ia percaya jika ia berusaha keras, maka semua usahanya tidak akan sia-sia. Semua akan terbayar pada waktunya.
Ruang operasi...
"Sempurna! Operasinya berhasil!" Kata Tristan.
Semua orang dalam kesatuan tim operasi cangkok ginjal itu pun bersorak gembira. Operasi besar lain kembali berhasil diselesaikan di bawah kepemimpinan dr. Tristan Putra. Setelah berjuang lebih dari tujuh jam di ruang operasi, rasa tegang itu pun berhasil dilalui.
"Selamat dr. Tristan, Anda luar biasa. Setelah mengalami proses yang panjang dan sulit, operasi cangkok ginjal ini pun berhasil." Seorang asisten dokter memberi pujian kepada Tristan.
"Masih belum benar-benar bisa lega, masih perlu mengamati apakah ada gejala penolakan ginjal baru dari pasien atau tidak. Prosesnya masih panjang." Kata Tristan.
"Di bawah pantauan Anda, kesempatan untuk sembuh itu sangat besar. Anda luar biasa."
"Tuhan yang mengizinkannya. Terima kasih semuanya. Kalian sudah bekerja keras hari ini. Nikmati waktu istirahat kalian. Tolong pindahkan pasien ini ke IGD untuk pemantauan!"
Usai keluar dari ruang operasi, Tristan pun berjalan menuju ke ruang kantornya. Ia berjalan dengan bangga karena untuk yang ke sekian kalinya, ia sukses menyelamatkan pasiennya. Ini seperti rasa pujian kepada dirinya sendiri. Bukan berarti sombong, lebih tepatnya, ia hanya sedang bersyukur, berterima kasih pada dirinya dan Tuhan.
Di perjalanan ke ruang kantornya, ia berpasan dengan dr. Zia. Melihat dr. Zia, ia langsung teringat Alyn.
"Dokter Zia, tunggu! Saya harus berbicara dengan Anda! Penting." Kata Tristan.
Sudah kenal baik, tapi karena ini di rumah sakit, maka ia pun akan bersikap yang sama dengan Tristan. Berbicara secara formal.
"Ah, dr. Tristan! Saya dengar dari asisten saya jika Anda kemarin mencari saya? Jadi, berhubung saya sedang bersiap untuk menangani pasien melahirkan, waktu 2 menit cukup untuk membicarakan masalah Anda?" Dr. Zia tanya balik.
Dua menit? Tentulah itu sama sekali tidak cukup. Ada serentetan pertanyaan yang ingin Tristan bahas.
"Tidak cukup sama sekali!" Kata Tristan.
dr. Zia pun tertawa. "Berarti sangatlah penting. Ya sudah, kalau senggang, ayo kita minum kopi bersama!"
"Hn. Selamat bertugas."
"Ya."
dr. Zia pun terlihat masuk ke dalam ruang bersalin. Sementara itu, Tristan terlihat mendesah. Gagal lagi.
Rasanya kesal, tapi ia bisa apa? Akhirnya, dengan gontai ia kembali melanjutkan perjalanan menuju ke ruang kantornya.
Sesampainya di dalam ruangan kantornya, ia segera mandi dan ganti pakaian yang jauh lebih nyaman. Jas putih khas dokternya pun masih selalu setia menemaninya.
Kemudian ia duduk di kursi kerjanya. Membuka tumpukkan tesis dan laporan para pasien-pasiennya. Menganalisa dan mempelajari satu persatu dari setiap dokumen itu.
Lelah.
Fisik dan pikirannya sudah sangat lelah. Nampak jelas ketika lingkar hitam menghiasi mata sayunya. Ia pun berjalan ke kulkas pribadinya dan mengambil air mineral dingin. Ia meneguk beberapa kali dan kembali duduk di kursi kerjanya.
Ketika ia sedang memeriksa dokumen-dokumen pasien itu, wajah terkejut Alyn kemarin nampak jelas membayangi ingatannya. Dengan segera Tristan 'membanting' pulpen miliknya ke atas meja kerjanya itu.
"Damn! Kenapa dia harus melihatku saat bersama Miss Wang sih? Dia kabur dan enggan menyapaku. Sial! Dia pasti berpikir yang tidak-tidak. Arghhh..."
Tristan nampak frustasi. Ia pun menempelkan jidatnya ke tas meja. Ia memejamkan matanya. Ia menjedot-jedotkan jidatnya pelan di meja itu.
Kemarin, tak hanya melihat 'kedekatannya' dengan Jane, Alyn kabur meninggalkannya tanpa sepatah kata sedikitpun. Sialnya, ketika otaknya ingin menjelaskan sesuatu pada Alyn, tubuhnya menghianatinya. Tubuhnya enggan menuruti perintah otaknya. Ia membiarkan begitu saja Alyn yang nampak terkejut akan kedekatannya dengan Jane. Belum lagi urusan kerja yang menantinya, membuatnya 'merelakan' Alyn menghilang di pandangan matanya.
Ketika dirinya dirundung rasa penasaran soal alasan Alyn datang berobat ke dr. Zia, sampai detik ini, rasa penasarannya itu sama sekali belum terjawab.
"Alyn... Kau dimana? Apa kita akan berjumpa lagi?"