Aldo si bungsu keluarga Sukamto, terus saja mengekor, mengikuti sang kakak yang sedari tadi berjalan sambil menangis. Berulang kali ia meminta sang kakak untuk berhenti, tapi rupanya tidak berhasil. Alhasil, ia memilih mengikuti langkah kaki sang kakak kemana pun itu.
"Mbak Alyn!" Merasa sudah terlalu lama berjalan, Aldo pun meraih tangan sang kak agar membuat ibu hamil muda itu menatapnya.
"Aldo, pulanglah, kau bisa dipukul ayah kalau mengikuti mbak." Kata Alyn. "Mbak sudah baik-baik saja." Ia menghapus air matanya.
"Lebih baik aku dipukul ayah daripada membiarkan mbak Alyn menangis karena dimarahi ayah."
"Mbak salah, Aldo. Mbak sudah berbuat salah kepada keluarga, terutama kepada ayah. Mbak pantas dimarahi oleh ayah... Mbak mohon, kau pulanglah! Mbak akan semakin sedih ketika kau ikutan kena marah karena bersama Mbak."
"Aku sudah izin ibu mau menginap di tempat mbak Alyn. Mbak Alyn tidak boleh mengusirku!"
Alyn tahu jika adik bungsunya itu sangat keras kepala. Sulit baginya untuk membuat Aldo menurutinya. Apa lagi karena menghawatirkan dirinya, Aldo tidak akan pernah menyerah.
"Mbak Andin sedang diintrogasi ayah, keluarga yang bisa menemani mbak saat ini hanya aku. Meski aku hanya anak kecil di mata mbak Alyn, tapi aku tidak bisa membiarkan mbak seperti ini." Aldo menatap sang kakak. Meski ia jauh lebih muda, tapi ia lebih tinggi dari Alyn. "Mbak, sekali-kali, tolong andalkan diriku yang peduli pada mbak Alyn.
Alyn menghapus air matanya. Ia lalu mengangguk dan tersenyum. Ia bangga pada sang adik.
"Kau sudah semakin dewasa ya? Terima kasih."
Alyn kembali ke apartmentnya di kota A. Ditemani oleh Aldo, ia berharap jika sang ayah akan memaafkannya.
Jika ingat bagaimana kejadian menghebohkan tadi di rumah, rasanya ia ingin kembali ke masa lalu dan tak mengulangi perbuatan yang membuatnya hamil di luar nikah seperti ini.
"Ayah maafkan aku..."
***
Sementara itu, di kediaman Sukamto sedang adu mulut antara Nyonya Sukamto alias Endang vs Bapak Sukamto. Mereka membahas bagaimana sudut pandang mereka mengenai anak kedua mereka yang sedang hamil muda itu.
"Tidak berdasar sama sekali argumenmu itu! Mau hamil duluan atau bagaimana, Alyn tetaplah anak kita! Apa pantas bagi orang tua bersikap seperti tadi kepada anak sendiri? Alyn sedang menderita, harusnya kita sebagai orang tua itu berada di sampingnya, bukan malah memakinya habis-habisan!" Kata Endang.
"Iya, aku salah sebagai orang tua. Namun, aku belum siap menghadapi 'malu' mengingat aku ini seorang perwira." Sukamto akhirnya mengucapkan alasannya.
Dirinya adalah seorang Admiral Angkatan Laut, jabatan tinggi di marine. Terkenal berwibawa dan kata orang hampir tak ada cela. Jika 'dunia' tahu bahwa dirinya memiliki anak yang hamil di luar nikah, apa kata dunia? Nama baiknya pasti akan tercoreng.
"Meski tak siap, semua ini sudah terjadi. Ketika aku menuruti egoku, sebenarnya aku juga ingin marah mengingat hamil di luar nikah itu adalah aib. Sepintas aku pun memikirkan apabila aku berkumpul dengan ibu-ibu pejabat lain, ibu-ibu Persit, mau ditaruh dimana mukaku ini. Namun melihat tangisan Alyn, aku tak kuasa... Aku sebagai ibunya, tidak mau Alyn lebih menderita karena orang tuanya sendiri mendorongnya menjauh." Jelas Endang. Ia tak kuasa menahan tangisannya.
Andin pun memeluk sang ibu.
"Ayah, aku mengerti kemarahan ayah. Aku juga tahu s*x di luar nikah dan bahkan sampai hamil itu juga hal yang kurang ajar kepada orang tuanya. Namun, setiap orang memiliki kesalahan, termasuk Alyn, anak ayah yang menurut ayah paling sempurna dalam segala hal itu. Aku tidak berbicara keirianku karena ayah lebih dekat dengan Alyn ketimbang diriku. Aku berbicara sebagai kakak yang sangat menyayangi adiknya dalam keadaan apapun... Alyn sudah sangat menderita karena berpisah dengan Tristan, batinnya sangat sakit. Dad, please don't turn your back toward Alyn. Mencoba bertahan sendirian dalam keadaan hamil muda itu sangat sulit... Marah boleh, tapi jangan lemparkan kata-kata yang menyakitkan seperti tadi." Andin pun buka suara. Menyuarakan pandangannya untuk melindungi Alyn dari amarah sang ayah.
"I'll kill him!" Kutuk Sukamto yang kemudian meninggalkan ruang tamu itu.
Sukamto marah kepada Alyn itu benar adanya, tapi sesungguhnya ia jauh lebih marah kepada Tristan. Dulu, ia mengizinkan Alyn bersama Tristan karena laki-laki tampan ini berjanji akan menjaga Alyn, mau membahagiakan Alyn. Namun lihatlah saat ini apa yang dilakukan oleh Tristan? Tristan malah membuat Alyn bersedih karena kandasnya hubungan mereka. Lalu, luka hati yang belum sembuh itu harus bertambah dengan hamilnya Alyn. Kepalanya terasa sangat panas, rasanya ia ingin membunuh Tristan saat ini juga.
Andai saja dulu ia tidak goyah pendirian dengan tetap tidak merestui hubungan Alyn dengan Tristan, mungkin saja anaknya itu tidak akan semenderita ini. Sayangnya, dulu ketika dirinya marah besar karena Alyn kepergok berpacaran dengan Tristan, ia luluh. Ia mengizinkan Alyn melanjutkan hubungan dengan Tristan mengingat Alyn tidak mau makan jika dipisahkan dengan Tristan.
"Ibu, apa ayah akan memaafkan Alyn? Ayah sungguh marah besar." Kata Andin yang sudah tak melihat sang ayah yang menghilang dari pandangan matanya.
"Ayahmu pasti akan mereda. Saat ini, ia hanya sedang emosi. Alasan malu, menurut ibu itu hanyalah rentetan nomor sekian. Ibu sangat mengenal sifat ayahmu, dia hanya tidak rela anaknya disakiti laki-laki yang pernah dia percaya." Kata Endang.
"Apa itu artinya jika ayah merasa bersalah karena sudah mengizinkan Alyn bersama dengan Tristan? Akibat ayah merestui mereka, sekarang Alyn malah menderita jadi ayah menyalahkan dirinya sendiri?" Tebak Andin.
"Ya, katakanlah seperti itu. Mudahnya... Ayahmu itu rela melakukan apapun demi kebahagiaan Alyn meski dia tidak setuju pada Tristan. Alyn mencintai Tristan, ayahmu bisa apa selain mendukung mereka, kan? Namun ternyata, pada akhirnya keputusannya mendukung hubungan mereka berakhir menyedihkan seperti ini. Ayah pasti tidak akan tinggal diam."
Seram juga pikir Andin. Jika ayahnya tahu dirinya tak jauh beda dengan Alyn, apa dirinya akan dimarahi juga seperti Alyn? Tidak, tak hanya dimarahi, tapi pasti tidak dianggap anak!
"Aku dan Mark pacaran tidak sehat. Jika ayah sampai tahu, matilah aku!" Batin Andin ngeri.
***
Pukul 5.00 sore...
"Akhirnya aku bisa lepas dari Miss Wang. Mengerikan juga kalau dia dikit-dikit mengikutiku dan bertanya apapun. Jadi merasa memiliki stalker."
Tristan yang merasa hari ini sangat melelahkan pun melihat dr. Zia dari arah depan. Dengan cepat ia melambaikan tangannya.
dr. Zia yang melihat, langsung berjalan mendekati Tristan.
"Dokter dengan salah satu penghasilan terbesar di Rumah Sakit Centra Medica ternyata mengajak minum kopi hanya di kantin rumah sakit ya? Duh, pelitnya." Kata dr. Zia. "Padahal mentraktir teman lamanya, ternyata lebih memilih hemat uang agar bisa beli Monas." Tambahnya.
"Monas tidak dijual, lagian siapa juga yang mau membelinya!" Dengus Tristan. "Sudah, duduklah, ada yang ingin aku bicarakan denganmu!"
"Tidak sabaran, tipikal dirimu." dr. Zia pun duduk di sebelah Tristan. Ia kemudian memesan kopi espresso.
Sembari menunggu pesanan kopi, mereka pun membahas sekilas soal pekerjaan mereka.
"Ada hal yang ingin aku tanyakan kepada dirimu." Tristan membuka topik pembicaraan.
"Sepertinya cukup serius, jadi, katakanlah kepada diriku apa itu." Kata dr. Zia.
"Pasien bernama Alyn Aira adiknya Andin Elisa di bawah pengawasanmu, bisa kau katakan kepada diriku sakit apakah dia? Apa dia sakit kista? Kanker? Atau menderita sakit lainnya yang berhubungan dengan rahim?"
dr. Zia menghela nafas, ia lalu menakupkan kedua tangannya di atas meja. "Tristan, aku mengenalmu dan juga pasienku itu. Berhubung nona Alyn adalah adiknya Andin, temanmu dan temanku juga, tapi sepertinya kau kurang tepat berbicara soal ini denganku." dr. Zia menatap teman sekampusnya dulu itu. "Pasal 16 Kode Etik Kedokteran Indonesia, disebutkan bahwa: Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang seorang pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia... Aku tak bisa menghianati sumpah jabatanku." Lanjutnya.
Tristan pun paham itu. Sangat dan ia pun juga sudah menduga jika dr. Zia akan berkata seperti ini. Membocorkan kondisi pasien kepada pihak ke tiga itu tidak dibenarkan.
"Bisa aku minta alamat tinggal dan nomor telepon dia saat ini? Di data screening Alyn pasti tertera." Tristan tak mau menyerah. Ia hanya ingin segera menemui Alyn.
Lagi-lagi, dr. Zia harus kembali menghela nafas. Kali ini lebih panjang. "Ano ne, kau mengerti apa pura-pura tidak paham dengan kode etik kedokteran sih? ... Dengar, aku tidak tahu apa yang terjadi antara kau dengan adiknya Andin itu. Namun, jika kau memang sangat penasaran dengan kondisinya, kenapa kau tak tanya pada kakaknya saja? Kau berteman dengan Andin, dia pasti tahu tempat tinggal dan nomor telepon adiknya itu."
"Jika dia memberitahuku sejak dulu, sudah aku temui Alyn dan aku juga tidak mungkin bertanya kepada dirimu." Gumam Tristan. Mengingat saat Andin enggan memberitahu keberadaan Alyn karena menghormati permintaan Alyn membuatnya kesal.
dr. Zia melihat betapa frustasinya teman lamanya itu. Iba juga mengingat ini kali pertama ia mendapati Tristan yang seperti ini.
"Sebagai teman, aku hanya bisa bilang jika Alyn baik-baik saja." Kata dr. Zia.
"Mana ada orang baik-baik saja mendatangi dokter untuk periksa."
Dan mereka menghabiskan senja sambil minum kopi. Kopi espresso pahit terasa di lidah. Sama, sama seperti rasa hati yang tak kunjung jua menemui kebahagiaan.