Time passed

1158 Kata
Malam hari hujan mulai turun rintik-rintik, membasahi kota A. Suara gemercik air terdengar merdu di telinga. Namun sayang, banyak orang yang terlanjur memiliki pemikiran jika hujan itu identik dengan kesedihan, dan entah mengapa, saat ini pun, Alyn sedang sendu hatinya. Apartemen tempat Alyn dan Eva... "Aldo? Jika kau di sini, berarti Alyn sudah pulang kemari?" Tanya Eva. Ia baru pulang dari kerja. "Iya. Selamat datang Mbak Eva, maaf, malam ini dan beberapa hari ke depan sepertinya aku mau menginap di sini." Kata Aldo. "Santai saja, Aldo. Ngomong-ngomong, kau dan Alyn sudah makan? Berhubung bahan makanan habis, bagaimana kalau kita pesan makanan saja?" "Iya boleh, mumpung sedang lapar." Eva pun memesan makanan dan pergi membersihkan diri setelahnya.Tak lama setelah itu, makanan yang dipesan pun datang, Aldo menerimanya dan segera menyiapkannya di meja makan. Tak lupa ia memanggil Eva dan juga kakaknya. Awalnya Alyn tidak mau makan, tapi berhasil luluh ketika Aldo bilang bahwa ibu hamil itu perlu makanan untuk janinnya. Suasana makan pun terasa sepi, sampai-sampai suara dentingan dari sendok pun terdengar di telinga. Eva memahami situasi, ia yakin Alyn sedang dalam kondisi yang tidak baik. Sementara Aldo, ia hanya ingin sang kakak makan dengan baik. Usai makan malam, Eva membereskan meja makan, sementara Aldo mengamati Alyn yang duduk merenung sambil melihat ke arah luar jendela. Arah dimana hujan turun mulai deras. Lebih deras dari yang tadi. Beberapa kali Aldo melihat Alyn menyeka air matanya. Tidak tega. Ia tak tega melihat kakak tersayangnya itu terus saja bersedih. Berlarut dalam kesedihan berimbas buruk pada kesehatan batin ibu hamil. Sebagai calon paman, Aldo ingin Alyn lebih menyayangi diri dan janinnya. "Mbak, sudah malam. Waktunya tidur." Aldo mendekati Alyn. Alyn menghapus air matanya. "Sebentar lagi, Aldo. Mbak masih ingin melihat hujan." "Mbak tidak bisa melihat hujan dengan tatapan kosong seperti itu. Tolong jangan dipikirkan omongan ayah. Ayah pasti tidak berniat seperti itu." Aldo tahu betul apa yang sedang Alyn pikiran saat ini. Ia ingat bagaimana sang ayah mengatakan hal buruk kepada Alyn ketika bertengkar tadi siang. "Mbak diusir dari rumah tak masalah, tapi jika sampai tidak dianggap anak, mbak harus bagaimana, Aldo? Mbak akui mbak sudah berbuat kesalahan yang fatal, tapi mbak tidak mau dicoret dari daftar anak ayah. Mbak takut, Aldo. Mbak sangat takut." Alyn lagi-lagi hanya bisa menangis. "Ayah tidak akan berbuat seperti itu ke Mbak! Ayah hanya sedang emosi, nanti kalau sudah mereda, ayah pasti akan lebih bisa berpikir dingin dalam menghadapi masalah Mbak." Aldo mencoba menenangkan Alyn. "Mbak Alyn, ayah kita itu adalah ayah paling keren yang pernah ada. Tolong percayalah kepada ayah kita itu!" Alyn tersenyum, ia ingin memercayai kata-kata dari Aldo. "Mbak haus, boleh minta minuman?" Aldo menghela nafas. Anak kecil seperti dirinya memang sulit mendapatkan kepercayaan dari kakaknya yang sepuluh tahun lebih tua itu. "Iya aku ambilkan." Tak ada lima menit Aldo mengambil air minum, ternyata ketika balik, Alyn sudah tidur di sofa. Alhasil, Aldo pun membopong Alyn dan membawanya ke tempat tidur. Aldo menyelimuti tubuh Alyn sampai ke d**a. Ia menatap sekilas Alyn sebelum akhirnya keluar kamar Alyn dan segera menelpon nomor yang sejak beberapa hari yang lalu menghubunginya, tapi tak pernah sekalipun ia angkat. "Akhirnya kau mau berbicara denganku juga. Apa kabar, Aldo?" Rupanya ini adalah suara dari mantan tunangan Alyn, Tristan. "Jika Mas Tristan ingin mempermainkan bak Alyn, mending berhentilah! Mungkin bagi Mas Tristan, mbak Alyn itu wanita biasa, tidak cantik, tidak pintar. Namun bagiku, mbak Alyn itu sangat berharga! Air matanya lebih berharga dari ombak di lautan!" "Tak pernah memiliki niat untuk menyakiti Alyn. Namun, semuanya menjadi rumit ketika Alyn memilih meninggalkanku waktu itu... Aku tak bisa menyalahkan Alyn sepihak karena aku yakin, sebagian besar juga akibat kesalahanku. Hanya saja, aku tidak mengerti alasan pastinya kenapa bisa seperti ini... Aldo, bisa minta tolong bagaimana caranya agar bisa bertemu dengan Alyn?" "Mas Tristan sudah tahu, sama seperti biasanya, aku akan menolaknya. Aku tak bisa menghianati mbak Alyn soal ini. Namun, jika Mas Tristan bisa bersabar, tunggulah sebentar lagi, aku yakin mbak Alyn cepat atau lambat pasti akan bertemu dengan Mas Tristan." "Aku tak punya pilihan lain selain mengiyakan perkataan darimu, kan?" "Ya." "Baiklah, aku akan mencoba bersabar lebih lama lagi." *** Sebulan telah berlalu, semua hari terlewati dengan semestinya. 'Biasa' saja dan ya memang seperti itu adanya. Hubungan Alyn dengan ayahnya juga belum membaik, sementara kandungannya kini sudah tiga bulan, jalan empat bulan awal. Sudah mulai kelihatan membesar, meski lebih mirip orang yang sedang sembelit karena kebanyakan makan. Rumah sakit Centra Medica, pukul 9.00 pagi... "dr. Tristan! Syukurlah saya bertemu Anda pagi ini! Anda off di poly bedah kan hari ini?" dr. Zia nampak buru-buru, panik, dan bingung. Oke, ini situasi yang sulit dijelaskan. "Ya, hari ini saya hanya memiliki jadwal operasi pasien dan baru saja selesai. Ada apa? Anda baik-baik saja?" Tristan sampai mengernyitkan dahi melihat teman lamanya ini uring-uringan. "Aku lelah sok sopan, aku akan berbicara layaknya kenalan... Adikku kecelakaan, dia dibawa ke rumah sakit dekat kampusnya. Kau tahu sendiri kan jika aku ini walinya dia? Aku harus segera ke rumah sakit tempat adikku dirawat. Aku.. aku... arrggh, intinya, tolong gantikan aku di poly kandungan!" "Hah? Hoe, aku ini bukan spesialis kandungan!" Tristan jelas menolak karena itu bukan ranahnya. "Ayolah, meski bukan ranahmu, tapi kau punya basic dasarnya. Dokter jenius seperti dirimu itu pasti paham soal ini." "Tapi..." "Ayolah, aku sedang berusaha menahan diri agar tidak menangis, jadi aku mohon, sebagai teman seperjuangan dulu, tolong bantu aku! Hari ini saja, aku sangat khawatir pada adikku." Tristan menghela nafas. "Ya sudah, bayarannya secangkir kopi espresso." "Double juga tak masalah! Terima kasih banyak, aku sudah bilang sama asistenku. Nanti dia yang akan bantu. Aku pergi dulu, terima kasih banyak sebelumnya." dr. Zia pun nyelonong pergi. "Dia itu sangat percaya diri sekali jika aku akan setuju. Haah, waktunya berkerja!" Tristan pun lantas masuk ke poly kandungan dan menggantikan pekerjaan dr. Zia. Menangani para pasien yang berhubungan dengan rahim. Tentu saja didominasi oleh ibu-ibu hamil. Satu, dua, lima, sepuluh pasien pun berhasil ia tangani dengan lancar. Gelar dokter jenius memang bukanlah isapan jempol. Meski kandungan bukan ranahnya, tapi Tristan tahu seluk-beluk soal kandungan. "Pasien berikutnya suruh masuk ke ruang periksa saja dulu, saya mau menerima panggilan telepon!" Kata Tristan. "Baik, dokter." Tristan rupanya sedang mendapatkan telepon dari pamannya yang tinggal di kota D. Cukup jauh mengingat saat ini ia sedang berada di kota B. Sudah lama tidak bertemu, pamannya merindukannya. "Iya, nanti aku pulang saat libur. Sampai nanti." Klik. Tristan mematikan ponselnya dan melanjutkan pekerjaannya. Ia berjalan ke ruang periksa, ia membuka tirai ruang periksa perlahan sambil membaca file skrining pasien. "Selamat pagi, saya dr. Tristan yang akan membantu USG Anda hari ini, Nona...?" Tristan menjeda kalimatnya ketika ia melihat nama yang tertera di file skrining pasien. Ia lantas dengan cepat melihat ke arah ranjang pasien. Betapa kagetnya ia ketika melihat orang yang paling ingin ia temui sedang rebahan di ranjang pasien. Bercengkrama ringan dengan asistennya dr. Zia. Namun, ketika pasien itu mendengar suaranya, pasien itu sama terkejutnya dengan dirinya. "... Nona Alyn Aira?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN