"... Nona Alyn Aira?" Tristan terkejut.
"T-Tristan?" Alyn kaget.
Alyn menatap tajam pemilik suara yang sangat familiar di telinganya itu. Suara dalam dan sedikit husky itu tak pernah bisa ia lupakan. Suara yang kini coba ia benci sekuat tenaga.
Kenapa bisa Tristan ada di sini, di ruang praktek milik dr. Zia? Kemanakah dr. Zia yang seharusnya menanganinya? Bukankah ia sudah membuat janji temu sebelumnya? Kenapa bisa? Sungguh, Alyn sama sekali tidak ingin melihat pria tampan ini.
"Apa kabar, Alyn?" Tristan yang tak mau terjebak dalam kecanggungan, memilih untuk bertanya kabar pada sang mantan.
"..." Alyn memilih untuk diam dengan tetap menatap Tristan dengan pandangan menusuknya.
Merasa diabaikan oleh Alyn, Tristan pun mendekati Alyn. "Suster, tolong ke bagian farmasi untuk mengambil obat yang sudah saya tuliskan di atas meja."
Tristan ingin berbicara berdua dengan Alyn, ia tak ingin ada yang mengganggunya.
"Baik, dr. Tristan." Asisten dr. Zia itu pun tersenyum kepada Alyn. "Nona Alyn, saya tinggal dulu, Anda akan baik-baik saja dengan salah satu dokter terhebat di rumah sakit ini." Tambahnya sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruangan itu.
Kini tinggallah mereka berdua, Alyn dan Tristan. Suasana pun menjadi hening.
Tristan kembali berjalan mendekati Alyn. Memangkas jarak yang sedari tadi nampak sangat lebar di antara dirinya dengan Alyn.
Alyn merasa tidak nyaman, apa lagi ketika Tristan meraih tangannya, dengan cepat ia segera menghempaskan tangan itu.
Tristan mengamati tangannya yang baru saja ditepis oleh Alyn. Alyn akan bersikap baik kepadanya justru nampak aneh. Perlakuan kasar seperti ini tentulah wajar ia terima.
Namun, mendapati hasil skrining milik Alyn, di dalam dadanya ada rasa yang menyeruak. Ia marah kepada Alyn.
Bagaimana bisa Alyn tidak memberitahu dirinya soal keadaannya yang sedang berbadan dua itu?
"Kenapa tidak bilang, hah?" Seru Tristan. Jujur, ia tak pernah semarah ini.
"Cih, kau tak pantas meninggikan pada yang bukan pasienmu!" Kata Alyn tak kalah seru dari Tristan. "Aku tidak punya urusan denganmu." Tambahnya.
Tristan mengepalkan tangannya. Namun ia masih bisa menahan emosinya saat ini. "Jadi, kau sudah bersama yang lain?"
Bersama yang lain?
Apa maksudnya itu? Tristan sedang menduga jika dirinya mengandung anak laki-laki lain?
Oke, Alyn benar-benar sangat kesal saat ini.
"Dengan atau tidak dengan yang lain, itu bukan urusanmu! Aku bebas melakukan apapun yang aku mau."
Kata-kata dari Alyn bukanlah perkataan yang Tristan harapkan. Ia hanya butuh penjelasan yang jelas, tapi Alyn malah menantangnya. Ia segera mencengkram kedua pangkal lengan Alyn. Dengan sangat kencang, Alyn sampai bisa merasakan sakitnya di sana. Sampai memerah permukaan kulit putihnya.
"Siapa yang menghamilimu? Tidak mungkin secepat itu kau hamil, kan?" Tanya Tristan.
"Jika kau penasaran siapa ayahnya, ya itu adalah KAU! Aku tidak seperti dirimu yang dengan mudahnya gonta-ganti pasangan." Alyn mendelik dan berusaha melepaskan cengkraman tangan Tristan. Namun rupanya, cengkraman tangan Tristan melemah usai mendengar jawaban darinya soal ayah dari janin yang ia kandung.
"Kenapa tidak bilang kepadaku?" Tanya Tristan.
Bukannya menjawab, Alyn malah beranjak pergi dari ruangan itu. Tentulah Tristan tidak akan membiarkannya. Setelah memberitahu jika dirinya adalah ayah biologis dari janin yang Alyn kandung, lalu Alyn akan pergi begitu saja? Tidak bisa dimaafkan! Itu tidak akan mudah terjadi!
"Minggir!" Kata Alyn sarkastik.
"Aku butuh penjelasan. Kenapa kau tidak bilang kepadaku?"
"Apa itu penting bagimu?"
"Ya, itu penting bagiku!"
"Kita sudah tidak bersama lagi, Tristan." Alyn melembutkan suaranya. Lelah juga berdebat dengan Tristan. "Kita sudah bukan siapa-siapa lagi."
"Tapi aku ayah dari janin yang kau kandung. Aku yang menghamilimu. Bukankah ini sesuatu hal yang perlu melibatkan kita berdua?" Apapun itu, Tristan harus membuat Alyn tinggal lebih lama. Sekali saja ia membiarkan Alyn melewati pintu keluar itu, ia yakin jika kesempatan untuk bertemu Alyn lagi tidak akan pernah ia dapatkan.
"Aku tidak sepemikiran denganmu. Bukankah kau sudah memiliki kekasih baru yang sekarang membuatmu sibuk?"
Nada sindiran itu terdengar jelas di telinga Tristan. Sayangnya, itu benar adanya. "Soal itu, aku..."
Ketika Tristan berusaha untuk mejelaskan apa yang terjadi, soal kekasih barunya, Alyn menahan bibirnya Tristan dengan jari telunjuknya.
"Aku tidak tertarik untuk tahu dengan siapa dan bagaimana kau saat ini. Aku sama sekali tidak peduli. We are done. We are nothing anymore. Jadi, sebelum habis kesabaran ku, tolong menyingkirlah!" Alyn meninggikan suaranya pada kata 'menyingkirlah'. "Aku adalah pasiennya dr. Zia, bukan dirimu. Aku hanya mau diperiksa oleh dr. Zia!" Lanjutnya.
Ketika Alyn berusaha melewati Tristan, tangan kekar itu menghentikan langkahnya.
"Biar aku yang memeriksamu." Kata Tristan.
"?" Ini orang paham tidak sih jika saat ini ia sama sekali tidak mau berduaan dengan ayah dari janinnya itu? Alyn sungguh mengenal betapa keras kepalanya mantannya itu.
Dengan masih 'merangkul' pinggang Alyn, Tristan menoleh, menatap ke arah Alyn. "dr. Zia tidak bisa hadir hari ini karena adiknya kecelakaan. Dia memintaku menghandle pekerjaannya."
Kecelakaan?
Alyn tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Bukankah itu hal yang buruk? Apa kecelakaannya parah? Apa adiknya dr. Zia baik-baik saja?
"Hari ini ataupun besok, dr. Zia tidak tahu bisa datang ke rumah sakit atau tidak."
"..."
"Jika kau pergi tanpa aku bisa menjalankan tugasnya, dia bisa kena sanksi dari atasan karena lalai tanggung jawab. Kau sudah terdaftar hadir, tapi jika pergi tanpa menerima pemeriksaan, dr. Zia akan kena masalah... Kau boleh tidak suka padaku, tapi aku harap kau mau bekerja sama agar bisa membantu dr. Zia."
"Cih, aku tidak percaya ini."
Bukan hari yang menyenangkan. Kesimpulan nyata dari rentetan kejadian hari ini. Pertama, Alyn sudah kesal dibuat mengantri demi bisa membuat janji dengan dr. Zia. Kemudian, ia malah bertemu Tristan, sang mantan yang membuatnya kesal. dr. Zia tidak bisa datang karena adiknya kecelakaan, Tristan menggantikannya. Tristan 'mengancamnya' dengan alasan dr. Zia bisa kena sanksi. Menyebalkan!
Lagian, ia juga tidak mau mengantri lagi esok hari untuk memeriksakan kandungannya.
"Bisa kita mulai pemeriksaannya?" Tanya Tristan. Sejujurnya dalam hati ia menyeringai senang. Ia bisa membuat Alyn lebih lama bersamanya.
"Well, siapa peduli."
Ya, siapa juga yang peduli. Toh ini hanya pemeriksaan saja. Tidak lebih dari itu. Walau ada luka yang pernah tercipta, tapi mau apa?
Sudah terjadi, kan?
Luka yang lebih ke heartache atau bahasa lainnya adalah sakit hati.
Sumpah, ini adalah sakit hati yang teramat sangat dalam.
Perlu ditambahi sedalam lautan?
Kok ini lagi?
Masa bodoh!
Tinggal ikuti prosedur pemeriksaan, lalu pulang setelahnya dan makan nasi Padang yang banyak!
Hell yeah!