Regret Always Comes to The End

1097 Kata
"Al, betah di tempat kakakmu?" Suara tegas dan dalam Sukamto terdengar nyaring di telinga Aldo. Ya, mereka sedang berbicara lewat telepon. "Sangat betah." Aldo menjawab sesuai dengan apa yang ia rasakan. "Masih marah sama Ayah?" "Aku tidak marah sama Ayah, yang pantas marah kepada Ayah itu mbak Alyn. Saat mbak Alyn butuh Ayah, apa yang Ayah lakukan? You are avoid her, Dad! You turn your back and blame everything toward her." Aldo memberanikan diri menyampaikan unek-uneknya. Rasanya sangat kesal ketika sang ayah justru memperumit keadaan yang sudah sangat rumit ini. "..." "Ayah, apa kau tahu? Di setiap malam, mbak Alyn selalu menangis dan menggumamkan kata maaf berkali-kali? Menyebut nama ayah dan ibu karena menyesali perbuatannya. Mbak Alyn sudah menyadari kesalahannya, tolong beri dia kesempatan untuk memperbaikinya!" "Kau masih kecil, Al. Kau tidak tahu apa-apa! Kesalahan kakakmu itu tidaklah sesederhana yang kau pikirkan! Imbasnya sangat besar jika publik tahu." "Aku memang masih kecil untuk memahami jauh lebih dalam perihal masalah ini. Tapi aku tahu, mbak Alyn adalah kakakku, mbak Alyn adalah keluargaku, dan aku, aku tak akan meninggalkan mbak Alyn meski dia sudah berbuat tidak baik seperti ini!" "Sejak kapan kau menjadi seperti ini? Kau belum berhak berkata seperti itu kepada Ayahmu sendiri! Dengar, Ayah tidak meninggalkan Alyn. Ayah memiliki rencana untuk masa depan Alyn!" "Masa depan yang seperti apa? Ayah selalu saja menawarkan masa depan yang tak sesuai keinginan anak-anak Ayah. Ayah memaksa mbak Andin jadi polisi, tapi fisik mbak Andin tidak mampu. Ayah memaksa mbak Alyn jadi dokter meski mbak Alyn maunya jadi fashion designer. Namun mbak Alyn sangat takut pada Ayah, dia pun tetap masuk kedokteran meski dokter hewan. Lalu, apa Ayah ingat apa yang ayah lakukan ketika mbak Alyn bilang kepada ayah diterima sebagai mahasiswi kedokteran hewan? Ayah memasang wajah kecewa! ... Yah, mbak Alyn sudah berjuang untuk menjadi anak yang terbaik untuk Ayah. Tolong jangan egois lagi!" "Apa yang Ayah putuskan adalah yang terbaik untuk Alyn! Ayah tidak peduli apa yang kau pikirkan saat ini. Ayah tetap akan menentukan masa depan kakakmu itu. Sebaiknya kau awasi kakakmu jangan sampai dia bertemu dengan b******n itu!" Dan klik, panggilan diputus. Aldo hanya bisa menghela nafas panjangnya. Ayahnya ini sangat keras kepala. Jika omongan tidak sesuai keinginan sang ayah, maka akan segera dialihkan dengan egoisnya. Sudah paham, memang seperti itu faktanya. "Mbak Alyn masih di rumah sakit, aku akan menyusulnya saja. Mumpung searah." Gumam Aldo. Sekolah Aldo di kota C, rumah sakit di kota B, tempat tinggal Alyn dan Eva di kota A. *** Tempat Sukamto dan Endang... "Jangan terlalu keras pada anak! Mereka tak sama dalam mencerna nasehat." Kata Endang. "Mereka anak-anakku, mereka keturunanku. Mereka kuat seperti diriku." "Ayah, jangan seperti ini, hm? Aku tahu kesalahan Alyn itu tidak sederhana. Itu kesalahan yang fatal, tapi jangan buat dia menangis. Dia itu anak yang paling penurut dibandingkan Andin dan Aldo." "Jangan manjakan anak! Biar aku memberi pelajaran pada anak kita satu itu... Benar-benar, bagaimana bisa Alyn yang polos tahu-tahu malah hamil di luar nikah... Ini pasti ulah anak kurang ajar itu! Aku akan mencarinya dan menembak kepalanya kalau perlu." Endang memegang lengan Sukamto. "Ayah, sabar! Sabar... Sabar... Ayo kita minum teh bersama! Ingat darah tinggi ayah!" "Hah..." Sukamto pun hanya nurut saja. Dadanya juga sudah sesak. Terlalu mikir berat memang tak cocok dengan kesehatannya. *** Rumah Sakit Centra Medica... Hilangkan rasa khawatir dan ciptakan perasaan senyaman mungkin. Lalu jangan biarkan perut dalam kondisi lapar maupun kekenyangan saat melakukan USG. Alyn sudah makan sebelum ke rumah sakit. Ia bahkan sempat makan roti juga sebelum masuk ke ruangan periksa. Namun, perasaan senyaman mungkin? Mana mungkin ia bisa melakukannya! Lihatlah, Tristan nampak menyeringai, tersenyum aneh ketika menyuruhnya untuk berbaring. "Kita akan segera memulai pemeriksaannya, jika kau tetap berdiri di situ, semua tahapan tidak akan cepat selesai." Tristan menatap mantan kekasihnya. Ia bahkan sampai menyilang kedua tangannya di depan d**a. "Ah, atau mungkin kau senang berlama-lama denganku? Jika rindu, bilang saja! Aku ikhlas menemanimu di sini." Seringai Tristan. "Bangun, mimpimu terlalu narsis!" Kesal Alyn. Alyn merinding. Sosok Tristan yang seperti ini adalah hal baru. Tristan bukan tipe laki-laki suka menggoda. Akhirnya, ia tiduran di ranjang pasien untuk melakukan pemeriksaan. Dalam hati Tristan menghela nafas. Ia kenal baik bagaimana Alyn itu, suka merajuk dan ketus apabila sedang marah. Apa lagi saat ini, kehamilannya pasti menambah sensitif emosi Alyn. Tentu saja Tristan akan bersabar. Sabar, ya sabar, dan bersabar. Semakin sabar ketika Alyn memberikan tatapan tajam terhadapnya. Saking tidak sukanya berduaan dengannya. Ketika Tristan balik menatap Alyn, Alyn mengalihkan pandangannya dengan cepat. Lagi-lagi, Tristan hanya bisa menghela nafas. Tristan mempersiapkan keperluan pemeriksaan untuk Alyn. Ia terlihat sibuk dengan aktivitasnya. Alyn mengamati apa yang dilakukan Tristan dari ujung kaki sampai ke ujung kepala. "Dia tak banyak berubah dari sejak aku meninggalkannya dulu. Wajahnya juga masih serius ketika dihadapkan pada pekerjaannya. Dia memang sangat mencintai pekerjaannya sebagai dokter. Dia sangat profesional soal ini. Aku mengakuinya." Alyn membatin. Alyn masih mengamati Tristan. Kini ia beralih ke rambut Tristan yang sedikit agak berantakan. Dari arah samping, nampak hidung mancung kecil dan sempurna milik Tristan. Lalu, bibir tipis itu nampak indah. Tunggu... "Hah? Gila saja! Indah? ... Cih, damn! Aku akui dia memang freaking handsome dan sexy of course." Alyn langsung mengalihkan pandangan. Semua keperluan sudah siap, Tristan mendekati Alyn. "Bagaimana perasaanmu saat ini?" Hanya perlu menjawab apapun yang berhubungan dengan pemeriksaannya, kan? Di luar itu, ia tak akan membiarkan masalah pribadinya dengan Tristan mempengaruhi emosinya. Itu yang berulang kali Alyn tekankan kepada dirinya. "I feel good." Jawaban sesingkat yang bisa Alyn lontarkan. "Baiklah, aku akan memulai pemeriksaannya." Tristan berusaha menyentuh perut Alyn, tapi sebelum menyentuhnya, Alyn menepis tangannya. "Don't touch me!" Tolak Alyn. Sudah ditepis dua kali oleh Alyn dalam waktu kurang dari sejam. Selama ini, banyak sekali wanita yang ingin dekat dengannya. Namun Alyn dengan mudah 'menghempaskannya'. Menolaknya, alergi padanya, dan ya, sadar diri, semua juga karena ulahnya. Andai saja malam itu ia memilih bersama Alyn, mungkin kejadian seperti ini tidak akan terjadi. Tristan merasakan nyeri di dadanya. Ditolak orang yang masih dicintai itu menyakitkan. Tristan jadi ingat kejadian malam itu yang membawa hubungannya dengan Alyn berakhir seperti ini. Andai saja malam itu ia tidak menuruti egonya, mungkin saat ini ia dan Alyn sedang menikmati bulan madu yang indah. Andai saja malam itu ia lebih memahami Alyn, mungkin saja saat ini ia dan Alyn sedang bahagia menyambut anak pertama. Namun... Namun itu semua hanyalah pengandaian dari masa lalu yang hanya bisa dibela dengan kata 'andai saja'. Saat ini, dirinya dan Alyn sudah berpisah adalah kenyataan yang harus ia terima. Tidak ada perwujudan nyata dari 'andai saja'. Menyesal itu selalu belakangan, tidak akan pernah di depan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN