To Be Your Side

1294 Kata
"Don't touch me!" Itu adalah kata tegas yang memekik di telinga Tristan. "Bagaimana aku bisa melakukan prosedur pemeriksaan terhadapmu jika kau tidak mau aku sentuh? Aku ini doktermu saat ini dan kau adalah pasienku. Apa kau berencana membawa masalah pribadi kita dalam hal ini?" "Aku tidak suka diancam, apalagi olehmu! Dan jangan sok menasihatiku!" Nada sarkastik selalu saja terdengar dari mulut Alyn yang dulu sering Tristan cumbu. "Aku sedang tidak mengancammu! Aku hanya akan melakukan apa yang seharusnya seorang dokter lakukan terhadap pasiennya. Kau boleh membenciku secara pribadi, tapi kau pasienku, dan aku mohon, tolong kerja samanya!" Tristan memakai kaos tangan baru. Ia dengan sengaja 'menjempretkan' kaos tangan kesehatan itu agar mengeluarkan bunyi cukup keras. Seperti sengaja untuk membuat Alyn 'sadar' jika saat ini ia sedang bekerja dengan profesional. "Lakukan dengan cepat, aku tidak nyaman di sini bersamamu!" Kata Alyn sarkastik. Alyn terlalu jujur dan itu menyakitkan. Sepertinya kebencian Alyn terhadap dirinya jauh lebih dalam dari yang ia kira. Tristan akan lebih bersabar lagi menghadapi Alyn. Meski rasanya ingin mengomel, tapi rentetan kata yang berjubal di otaknya enggan terucap di bibirnya. Mana ia tega memaki ibu muda yang sedang mengandung anaknya itu, kan? "Kau yang membuat prosedur pemeriksaan ini menjadi lama." Seru si pemilik rambut raven ini. "Oh, jadi kau menyalahkan diriku? Andai dr. Zia yang memeriksaku bukan kau, aku sudah makan ice cream sekulkas di apartemen saat ini!" "Ibu hamil dilarang makan ice cream berlebihan!" Tristan sampai mengelus dadanya. "Ada nyawa lain dalam tubuhmu yang perlu kau jaga." Tambahnya. "..." Alyn terdiam. Sebenarnya bukan maksud perkataannya seperti itu. Tidak mungkin juga baginya menyakiti janinnya. Pandangan Tristan melembut. "Bisa kita lanjutkan pemeriksaannya?" Alyn mengalihkan pandangannya. "Just do it! I don't even care!" Tristan berusaha membuka baju atasan milik Alyn, seketika itu Alyn langsung mendelik. "Apa kau berniat melecehkan diriku?" Bentak Alyn cukup keras. Melecehkan? Melecehkan apa? Habis sudah kesabaran Tristan dalam menghadapi Alyn. "ALYN!" Tristan ikutan kesal. "Jika kau sendiri ingin mengoleskan gel khusus USG ini ke permukaan perutmu, maka aku persilahkan dengan sangat senang hati!" Lanjutnya. Dengan penuh penekanan. "..." Alyn terdiam lagi. Merasa Alyn sudah tenang, Tristan pun menyibakkan baju atasan Alyn dan segera mengoles gel khusus USG itu ke permukaan perut Alyn yang mulus bak porselin. Rasa dingin menyelimuti permukaan kulitnya. Alyn bisa merasakannya. Dingin dan semakin dingin. Risih juga lama-lama karena tahap ini tak kunjung selesai. Apa Tristan sedang memanfaatkan keadaan? Lihatlah itu, tangan Tristan meraba-raba kemana-mana! Tidak boleh dibiarkan! Ah, ketika Alyn ingin mengomeli Tristan, Tristan menyudahi 'acara' oles-mengoles gel, Tristan mengambil sebuah alat. Kemudian, Alyn pun memilih tenang dan mengikuti proses pemeriksaannya ke tahap berikutnya. Tristan memulai prosedur USG. Ia menggerakkan alat yang diketahui sebagai ultrasonografi. Ia juga nampak fokus ke visual yang ditampilkan di layar monitor. Tristan terus saja menggerakkan alat ultrasonografi itu di sekujur bagian permukaan perut Alyn. Hingga akhirnya, mata kelamnya melebar ketika mendapati siluet kecil di layar monitor. Seperti ada angin yang berhembus sejuk menerpa jiwanya. "Alyn lihatlah! Lihat ke layar monitor ini!" Pinta Tristan yang membuat Alyn langsung mengikuti perintahnya tanpa pikir panjang. "Lihatlah pada titik ini, ini adalah Fetus." Tristan terlihat antusias. Fetus: janin. Alyn berusaha meraih layar monitor yang berada di dekatnya berbaring. "Ya Tuhan, you are so tinny. Hello Baby, this is mom." Gumam Alyn yang tak sadar jika senyum merekah sedang ia sunggingkan. "Meski sangat kecil, tapi janinnya sudah terbentuk dengan sempurna. Kau ingin tahu lebih banyak lagi?" "Hm, please tell me more, Tristan!" Tristan pun ikutan tersenyum. Ada semangat di dalam dirinya untuk menjawab semua antusiasmenya Alyn. Tristan menggerakkan alat itu lagi agar mendapatkan posisi yang tepat. "Ini adalah bagian kepalanya dan yang nampak bulat ini adalah bagian tubuhnya." Jelas Tristan. Ia ingin lebih banyak menjelaskan akan penampakan Fetus itu kepada Alyn, tapi sepertinya Alyn justru sedang bingung. "USG pada manusia berbeda dengan USG pada hewan. Meski ada selulit kecil di sana, tapi aku sungguh tak paham dengan gambar 'aneh' di sana." Alyn merasa gambar yang divisualisasikan oleh alat USG itu begitu abstrak. Malu juga karena dirinya juga seorang dokter, tapi tak menguasai hal ini. Tristan menghela nafas. Tanpa izin Alyn, ia meraih tangan Alyn dan mendekatkannya ke layar monitor USG. Ia membandingkan jari telunjuk Alyn dengan gambar yang ada di layar monitor. Ia juga menggerakkan telunjuk Alyn mengikuti pola 'bentuk janin' yang ada di layar monitor. "Kau bisa melihat janinnya?" Tanya Tristan. "Ya. Sungguh, apa itu sungguh janinnya? Benar-benar sangat kecil." Girang Alyn. Syukurlah Alyn paham, dan lebih bersyukur lagi, Alyn sepertinya melupakan kebencian terhadapnya. Mendapati bibir manis itu tak henti-hentinya memamerkan senyuman, Tristan merasa sejuk dan damai. "Lihatlah ini!" Tristan menggerakkan jari Alyn. "Percaya atau tidak, ini adalah kuku janinnya." Lanjutnya. Alyn tak henti-hentinya terkejut dengan USG yang ia jalani. Hal baru yang belum pernah ia alami sebelumnya. Bagaimana bisa 'benda' sekecil itu sudah berkuku? Bagian rumit dari tubuh manusia yang sulit dinalar. Tuhan memang Sang Maha Pencipta. "Ano, yang bergerak-gerak kecil itu apa?" Tanya Alyn ketika ia mendapati bulatan yang seperti meletup-letup. "Ah, ini jantung. Kau ingin mendengarkannya?" Tawar Tristan. Alyn mengangguk dan segera Tristan menggeser alat itu ke arah bulatan kecil yang nampak meletup-letup. Degub... degub... degub... Suara detak jantung terdengar di ruangan periksa itu. "Sangat keras, suaranya sangat keras." Kata Alyn. "Ya. Sangat keras." Gumam Tristan. Dua orang ini terbawa suasana. Mereka memejamkan mata mereka menikmati alunan periodik dari detak jantung anak mereka. Suara nan lembut dan menenangkan jiwa. Bagi Tristan sendiri, ia tak pernah merasa serileks ini setelah putus dari Alyn dulu. Ini seperti obat penenang, seperti obat tidur dari ingatan buruknya ketika dulu ia pulang ke rumah, Alyn tak ada di sana. Ada koneksi sulit dijelaskan di sana. Apakah karena ada anak mereka? Entahlah. "Tuhan, aku akan menjaga kepercayaan yang sudah Engkau berikan kepadaku. Aku akan menjaga janin ini. Aku akan merawatnya sebaik mungkin. Aku ingin janin ini melihat dunia yang Engkau ciptakan. Aku ingin janin ini melihat dunia dari sisi yang lebih baik... Baby, ini ibu dan ini... ayahmu." Batin Alyn. Beberapa saat kemudian, Alyn membuka matanya. Ia mendapati pandangan Tristan di hadapannya. Tristan tersenyum, ia pun ikutan tersenyum. Senyuman penuh kebahagiaan. Namun, Alyn langsung sadar ketika Tristan berusaha mengeratkan cengkeramannya di jemari lentiknya. Ia harus segera bangun dari mimpi indah penuh rona pink dan bunga-bunga itu. Alyn melepaskan tangan Tristan dari tangannya. "Well, semua baik-baik saja, kan?" Tanyanya. Tristan juga tersadar jika Alyn sudah kembali menjadi sosok Alyn yang meninggalkan dirinya, sosok Alyn yang membenci dirinya. "Semua baik, janin berkembang dalam kondisi sempurna. Tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Tidak ada kelainan apapun... Sesuai hasil pemeriksaan terakhir kali oleh dr. Zia, kau sudah hamil 14 Minggu, 3.5 bulan, jalan 4 bulan." Jawab Tristan. "Itu saja?" "Ya, itu saja." "Ya sudah." "Hn." Tristan lantas mengambil tisu untuk membersikan perut Alyn dari gel khusus USG. Kemudian ia menuliskan hasil pemeriksaan Alyn. Alyn sibuk membenahi dan merapikan pakaiannya. Tak lupa juga sedikit merapikan ikat rambutnya. Setelah selesai ia menemui Tristan untuk mendapatkan resep dari mantan kekasihnya itu. "Ini resep vitaminmu, jangan lupa diminum. Ini juga jadwal kunjunganmu berikutnya." Kata Tristan. "Ya, terima kasih. Permisi." Alyn beranjak pergi, tapi Tristan menahan lengannya. "Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Bisakah kita bertemu sore nanti jam 4?" Tanya Tristan. "Aku sibuk." Sudah tahu, Alyn pasti menghindarinya. Tristan sangat paham. Tapi ia ingin mencoba. "Setengah jam saja." "Aku bilang sibuk ya sibuk! Jika kau ingin mengatakan sesuatu, katakan saja saat ini! Kau punya 5 menit untuk berbicara!" Tristan menggigit bibirnya. Lima menit tentulah tidak cukup. Belum sempat mengatakan inti pembicaraannya, waktu habis hanya untuk mendengarkan ocehan kesal dari Alyn. Alyn saat ini tidak suka berdekatan dengannya. "Waktumu sudah habis semenit, jika kau tak mau memanfaatkan kesempatan ini, lebih baik aku pergi saja. Buang-buang waktu." Ketus Alyn. "Jangan! Iya, aku akan bicara." Tristan menatap Alyn. "Alyn..." Panggilnya. "..." "Aku sudah memikirkannya..." "?" "... aku ingin bersamamu lagi."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN