Promise Again

1552 Kata
Aldo nampak sedang memberi makan kucing liar di taman rumah sakit. Ini sudah ia lakukan sejak lama. Di rumah di larang memelihara hewan apapun oleh ayahnya, Sukamto. Berhubung ia adalah pecinta binatang, maka hanya ini yang bisa ia lakukan untuk menunjukkan rasa kasihnya pada hewan. "Kau terluka, kehidupan kota tak ramah buatmu. Namun kau tetap bertahan. Makan yang banyak, aku membawa banyak makanan di tasku! ... Andai kakakku melihatmu, dia pasti tidak akan tahan untuk tidak mengobati lukamu. Hiduplah dengan baik meski dunia sering menghianatimu!" Aldo mengusap kucing liar itu. Bosan main dengan kucing, Aldo berjalan menuju pintu utama rumah sakit. Ia bertanya kepada Satpam dimana ruang praktek dr. Zia. Sang Satpam pun memberitahu letaknya. Jalan lurus ke depan, belok kiri, tulisan poli kandungan berada di sebelah poli ortopedi. Namun, ketika ia sedang berjalan, ia tak sengaja bertabrakan dengan seseorang. "Maaf, maaf, saya sedang terburu-buru." Kata seorang laki-laki. Suara sangat sopan itu terasa tidak asing di telinga Aldo. "Mas Erick?" Girang Aldo. Laki-laki pemilik nama Erick itu berpikir sejenak ketika melihat remaja berseragam SMA di hadapannya itu... Anak kecil, ingusan, cengeng, dan teman seperjuangan maling mangga kompleks sebelah lalu dikejar anjing setelahnya adalah segala visualisasi dari deskripsi super cepat akan penilaiannya terhadap remaja ini. Lebih ke mengingat kisah lucu di masa lalu. Remaja SMA ini dulu menjadi 'pengikutnya'. "Aldo?" Seru Erick. "Yo Bro, what's up, huh?" "I'm fine. Jika aku melihatmu saat ini, nampaknya kau baik-baik saja. Kau sudah setinggi diriku!" "Aku bukan lagi si Aldo bocah ingusan!" "Itu artinya Admiral Sukamto sudah mengincar masa depanmu! Persiapkan dirimu mulai dari sekarang!" Erick memang sangat paham bagaimana ayahnya Aldo ini. "Mas Aldo tahu saja ayah bagaimana. Ya seperti itulah dia. Selalu menentukan masa depan anak-anaknya." Aldo pasrah soal ini. "Lalu, Beliau pasti memintamu menjadi marinir, kan?" "That's right!" Senyum Aldo. "Hoh, kau setuju? Bukankah dulu kau bicara padamu mau jadi gamer?" "Ayah mengancam mau membakar PC Game milikku jika aku tak mau. Terlepas dari itu, aku memang tertarik juga pada marinir setelah melihat pelantikan naik jabatan ayah dulu usai tugas di Lebanon. Itu sangat keren!" Erick ikutan tersenyum. Jiwa patriotisme ala marinir rupanya sudah mendarah daging di dalam diri Aldo. "Setahun lagi kau lulus SMA, kau tak punya waktu untuk santai-santai!" "Siap, letkol Erick!" "Oh iya, apa yang kau lakukan di sini? Masih pakai baju sekolah? Dan lagi, bukankah ini kota B? Kau tinggal dan sekolah di kota C, kan?" Erick penasaran. "Aku ingin menjemput mbak Alyn." "Alyn? Dia sakit apa?" Erick khawatir. "Tidak sakit, hanya periksa rutin saja." Benar ini, kan? Aldo tidak berbohong soal ini. Namun ia tak menceritakan Alyn periksa kandungan. "Oh begitu ya?" Erick lantas melihat ke arah jam tangannya. Ia langsung ingat sesuatu. "Astaga, aku sedang buru-buru! Maaf Aldo, aku pergi dulu! Nanti kapan-kapan kita makan bersama!" "Siap! Hati-hati!" Aldo lantas hanya menggelengkan kepalanya melihat tetangganya dulu itu berlari ke arah pintu keluar rumah sakit. Kemudian, ia pun melanjutkan perjalanan menuju poli kandungan untuk menemui sang kakak, Alyn. *** Sebelumnya... "Jangan! Iya, aku akan bicara." Tristan menatap Alyn. "Alyn..." Panggilnya. "..." "Aku sudah memikirkannya..." "?" "... aku ingin bersamamu lagi." Alyn cengo. "Pardon?" Tidak salah? Ingin bersama lagi? Alyn tak menyangka Tristan akan mengatakan hal seperti ini di waktu dan situasi yang tidak tepat. "I do want to be your side again. So, please look at me, ok?" Tristan mengungkapkan keseriusannya atas keinginannya untuk kembali bersanding dengan Alyn. Alasan anak memang benar, tapi lebih dari itu, ia masih sangat mencintai Alyn. Ketika Tristan ingin meraih pinggang Alyn, Alyn langsung memotong pembicaraan secara kasar. "Just stop it, okay? Aku tidak butuh kata-kata manis dari dirimu! Satu-satunya alasan aku tetap di sini hanya karena dr. Zia tidak ada dan aku bersedia diperiksa olehmu karena aku tidak ingin membuat dr. Zia yang merupakan teman baik mbak Andin terkena sanksi! So please don't talk nonsense again!" Alyn balik badan dan segera melangkahkan kaki untuk pergi meninggalkan Tristan. Namun lagi, Tristan menahannya. Tristan menarik lengan tangannya dan langsung memeluknya dengan sangat erat dari arah belakang. Memangkas jarak yang terasa seperti jurang nan dalam dan lebar. "Maaf..." Kata Tristan tulus. "..." Alyn mendengar perkataan maaf dari Tristan. Nada yang lembut dan penuh penyesalan di sana, menggema di tengkuknya. Namun, kekecewaan yang ia rasa teramat dalam sehingga kata maaf saja serasa semakin menambah rasa kesalnya. Setelah tiga bulan lebih berlalu, baru minta maaf? Seperti itulah kira-kira alasan kuat kekesalan Alyn semakin membuncah. Dadanya sesak dan kepalanya memanas. "Lepas!" Pinta Alyn dingin. "Aku tidak akan melepaskanmu sampai kau memaafkanku!" "Aku bilang lepas ya lepas! Kau tuli atau bagaimana? Tristan, lepas!" Alyn berusaha memberontak agar Tristan melepaskan pelukan dari belakang itu. Tristan memang melepaskan pelukan dari belakang itu, tapi ia tetap tidak mau melepaskan Alyn begitu saja. Ia kembali memeluk Alyn dari depan. Memeluk wanita yang pernah lama bersamanya dan menghabiskan 9 tahun waktu hidupnya. Tristan mendekap begitu dalam dan menyesap bau tubuh Alyn yang sangat ia rindukan. Tiga bulan lebih berjauhan dengan Alyn membuatnya hampir gila karena rindu yang teramat sangat. "Alyn, aku tahu, semua masalah bersumber dariku. Aku membuat semuanya menjadi buruk. Namun, saat kita kembali bersama nanti, aku akan memperbaikinya. Aku akan berubah... aku..." "CUKUP, TRISTAN!" Alyn berusaha mendorong tubuh Tristan tapi gagal. Laki-laki tiga tahun lebih tua darinya itu terlalu erat merengkuh tubuh kurusnya. "Terima saja jika kita sudah berpisah. Jangan berimajinasi soal masa depan dimana kita akan kembali bersama. Kita sudah berakhir! Aku dan kau sudah tidak bisa bersama-sama lagi!" Lanjutnya. "Tapi kita masih bisa memperbaikinya..." "Kita? Maaf, itu hanyalah delusionalmu saja karena aku, AKU SAMA SEKALI TIDAK MAU MEMPERBAIKI HUBUNGAN YANG SUDAH RUSAK INI!" Bentak Alyn yang tak lupa terus berusaha melepaskan diri dari pelukkan Tristan. "Kaca yang sudah pecah tidak akan pernah utuh lagi." "Meski kaca yang terpecah menjadi ribuan keping pun, tapi aku akan tetap menyusunnya kembali menjadi satu kesatuan utuh. Aku janji akan berubah, Alyn!" Tristan kembali mencoba meyakinkan Alyn. Sombong sekali Tristan itu. Alyn tertawa terbahak-bahak ketika mendengar perkataan dari Tristan. Menyusun ulang kaca yang sudah pecah? Percuma, kaca itu tidak akan pernah bisa digunakan lagi. Seperti halnya perasaan dalam sebuah hubungan, meski baikan pun, semua pasti tidak akan sama. Seperti itulah yang saat ini otaknya tekankan kepada hatinya. Lagipula, ia juga sudah lelah. "Kau berbicara terlalu berlebihan! Andai kata aku memecahkan kaca saat ini, kau pasti tak akan sanggup untuk menyusunnya ulang!" Alyn meremehkan Tristan. "Satu lagi, bukankah kau sudah memiliki kekasih baru yang jauh lebih sexy dan cantik dariku, kan?" Tambahnya. Jane Wang. Tristan sedikit melonggarkan pelukannya. "Soal dia, itu... aku..." Tristan berusaha memperbaiki mood Alyn yang terlalu sensitif itu. Namun, ia sendiri mati kutu akan perkataan Alyn. Melihat Jane memeluknya waktu itu pasti menambah kekecewaan Alyn saat ini terhadapnya. "Sudah! Sudahlah, kau tak perlu berbicara soal dia dan tentangmu. Aku sama sekali tidak tertarik dengan lovey dovey kisah cinta kalian." Alyn kekeuh dengan pendiriannya. "Jangan membuat janji lagi padaku! Semua janjimu aku akui memang sangat manis, hanya saja sebatas di bibirmu. Aku sudah kenyang dengan janjimu, aku sudah lelah dengan janjimu, aku pun juga sudah bosan dengan janjimu." Semua unek-unek berjubal di otaknya itu berbondong-bondong ingin diucapkan. Alyn sangat marah pada Tristan tapi ia berusaha untuk tetap tidak meluapkannya secara emosional. "..." Tristan hanya bisa terdiam. Itu benar adanya. Semua yang Alyn katakan adalah suatu kebenaran. Ia selalu melanggar janji. "Tidak perlu berubah karena semuanya tak akan berubah. Kau selalu seperti itu dan itu memanglah dirimu! Kau berkali-kali bilang ingin berubah, tapi kau tak pernah berubah sekalipun dan memang kau tak berniat merubahnya. So please, don't make empty promise again!" "Maaf... Namun kali ini, kali ini saja, beri aku kesempatan, aku janj..." Tristan jadi takut dengan kata janji setelah mendengar Alyn benci akan janji-janjinya dulu. "... aku akan memanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya." Lanjutnya. Kesal, ini orang paham tidak sih? Sumpah, Alyn sampai kehabisan akal agar bisa lepas dari Tristan. "Lepaskan aku!" Pinta Alyn. "Beri aku kesempatan lagi, maka aku akan melepaskanmu." "Kau orang paling egois dan tak tahu diri yang pernah aku kenal!" Alyn sudah sampai batasnya. "Jika kau tak mau melepaskanku, maka aku akan semakin membencimu!" Alyn mengancam. Semakin dibenci Alyn? Tentu saja Tristan tidak akan mau. Ia pun segera melepaskan pelukannya pada Alyn. Tristan membeku ketika Alyn memberikan tatapan kebencian kepada dirinya. Tatapan jijik yang seolah ditujukan kepada seekor monster yang paling tak diinginkan di dunia ini. "Kau dan aku tak akan pernah kembali seperti dulu lagi. Lupakan jika ini pernah terjadi. We are nothing anymore. Kembali saja pada hidupmu dan lakukan apa yang menjadi prioritasmu. Jangan pedulikan aku! Tinggalkan aku sendiri!" Alyn langsung pergi meninggalkan ruangan itu. "ALYN TUNGGU..." Tristan mengikuti Alyn sampai ke pintu keluar. Semua orang yang menunggu di depan poli kandungan memandang ke arahnya. Ia pun segera minta maaf dan mau tak mau harus kembali ke dalam ruangannya. Melanjutkan pekerjaannya dan menerima fakta jika Alyn sudah menjauh dan menghilang dari pandangan matanya. Tristan merasa sangat kesal tapi tak bisa melakukan apa-apa. *** Di lorong rumah sakit, Alyn bertemu dengan Aldo. "Loh? Mbak Alyn sudah selesai pemeriksaannya dengan dr. Zia?" Tanya Aldo. "Aldo?" Alyn memeluk adiknya itu. Aldo nampak bingung karena tiba-tiba saja kakaknya memeluknya. Tidak mungkin kan kakaknya merindukan dirinya? Bukankah ia tinggal bersama sang kakak sebulanan ini? "Bagaimana hasilnya? Baik?" Aldo bertanya lagi. "..." Alyn tidak menjawab. Ia malah menangis di pelukan Aldo. Aldo mengusap punggung kakaknya. "Ada apa?" "Aku harap aku bertemu dr. Zia siang ini."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN