Everything About Him is so Painful

1096 Kata
Alyn terus saja menggenggam tangan adiknya, Aldo, selama perjalan pulang ke kota A. Bahkan dalam keadaan tertidur sekalipun. Aldo memperhatikalingkar hitam pada mata sang kakak. Lingkar hitam yang tak pernah memudar dari pertama ia melihat Alyn. "Hari yang berat." Begitulah kira-kira yang ada di benak Aldo. Sesampainya di kota A, Alyn masih tidur. Aldo pun tak berniat membangunkan sang kakak. Ia berinisiatif untuk membopong kakak keduanya itu dan segera masuk ke dalam apartemen yang ada di lantai dua. Ia tak peduli bagaimana tatapan orang melihatnya. Ia hanya tak ingin kakaknya yang cantik itu terbangun setelah lama sulit tidur. Setelah beberapa saat, Aldo membaringkan tubuh Alyn ke ranjang. Tak lupa ia juga menyelimuti tubuh kakaknya. Kemudian ia keluar dari kamar sang kakak dan segera mengangkat telepon yang sedari tadi sering sekali bergetar. "Hal..." Sapa Aldo tapi suara berat di ujung sana memotongnya dengan cepat. "Aldo, ayo kita bertemu sore nanti!" Suara yang Aldo kenal menggema di telinganya. "Mas Tristan sepertinya sudah tahu." "Hn. Maka dari itu, ayo kita bertemu! Banyak hal yang ingin aku bicarakan denganmu. Terutama soal Alyn." "Aku pagi dari sekolah, siangnya jemput mbak Alyn di rumah sakit. Lalu Mas Tristan meminta ketemuan sore nanti! Hoe, aku ini hanya manusia biasa! Aku capek!" Aldo benar-benar sangat lelah hari ini. "Hero baru, skin baru, aku tak mempermasalahkannya. Bisa, kan?" Tristan tahu betul kelemahan adik dari mantan tunangannya itu. "..." Aldo mikir berat. Godaan yang menggiurkan. "Tambah top up satu juta!" Tristan tak mau menyerah. Uang bukan Masalah baginya. "Deal!" "Aku akan mengirimimu pesan untuk lokasi pertemuan kita. Sampai jumpa nanti sore." Tristan di atas angin. "Ya." Klik, panggilan telepon itu pun diakhiri. Aldo melihat ke arah ponselnya sekilas, lalu segera memasukan ponselnya ke dalam saku. "Mbak Alyn, maaf adikmu yang nakal ini menjualmu dengan game." Namun meski begitu, Aldo tahu apa yang ia lakukan saat ini. *** Alyn membuka matanya yang terasa berat. Pertama yang ia lihat adalah warna putih dari plafon yang tak lama kemudian ia sadari jika saat ini dirinya sudah ada di dalam apartemennya. Ia menoleh ke arah jam dinding yang tergantung di tembok yang mengarah ke balkon apartemen. Sudah pukul lima sore. "Aldo yang membawaku masuk ke kamar? ... Jieh, anak itu sudah besar rupanya." Alyn membuka ponselnya dan di sana ia mendapati sebuah pesan dari adiknya. Adiknya bilang keluar sebentar. "Dia pasti bosan di dalam apartemen melulu. Biarlah, anak itu juga sudah besar. Lagipula, Aldo juga bukan anak nakal." Alyn meregangkan ototnya dan segera mandi setelahnya. Ia ingin semua rasa lelah dan letih menghilang dari tubuhnya. Usai mandi ia memakai piyama tidur selutut berbahan satin. Warna merah muda sangat cocok dengan kulitnya yang mulus itu. Piyama tidur tanpa lengan yang memperlihatkan betapa indahnya bentuk bahu miliknya. Alyn berdiri di depan kaca. Sebuah kaca yang mampu memantulkan bayangannya dari ujung kaki sampai ke ujung kepalanya. Ia mengamati tubuhnya, mengamati lekuk tubuhnya. *** ALYN'S POV Ah, itu adalah diriku saat ini. Alyn Aira yang masih bernafas sampai detik ini. Aku harus bersyukur setiap hari! Ya, aku memang harus selalu bersyukur dengan apapun yang terjadi di dalam hidupku ini. Aku akui, memang banyak hal yang tidak berjalan dengan baik. Banyak hal yang berjalan tak sesuai dengan apa yang aku inginkan. Namun, tak seharusnya aku menyalahkan keadaan, kan? Aku masih hidup, aku masih diberi kesempatan untuk berjuang atau sekiranya memperbaiki kehidupanku yang menurutku tak seperti yang aku inginkan ini. Saat ini... Aku mengusap perutku yang sudah terasa berbeda. Tak lagi serata dulu. Mulai membuncit. Aku mengusap-usap dengan sangat lembut. Di dalam sana, di rahimku, ada nyawa lain dari darahku. Janin yang akan terus berkembang dan bertambah besar dalam waktu yang tak lama kedepannya. Sebulan, dua bulan, atau tiga bulan kemudian, dan seterusnya, akan ada perubahan signifikan dari bentuk tubuhku. Kasarnya, mungkin aku akan nampak seperti kura-kura? Penderita busung lapar? Tubuhku tidak akan selangsing dulu. Oh astaga, apa yang aku pikirkan sih? Apapun bentuknya, wanita hamil itu anugerah Tuhan. Banyak wanita di luar sana yang tak bisa hamil. Meski kehamilanku ini bukanlah hal yang aku harapkan, tapi ini adalah anugerah dari Tuhan untukku. Alangkah bahagianya aku diberi kesempatan untuk mengandung. Aku tak boleh berbicara buruk akan kehamilanku ini. Aku harus menjaga baik-baik janin yang Tuhan titipkan di dalam rahimku ini. Aku membeli mengusap perutku. Ada perasaan hangat yang ditimbulkan. Orang bilang, usia 4 atau 5 bulan, janinnya akan bergerak, kan? Sebentar lagi. Berarti itu tidak akan lama lagi aku akan merasakan pergerakkan dari janinku. Ya, itu tidak akan lama. Sayang, ibu tidak sabar menunggunya sampai hari itu tiba. Baik-baik di dalam sana ya, Sayang... Ibu janji akan selalu menjaga dirimu dengan segenap kekuatan dan ibu. Maka dari itu, karena ke depan tak akan mudah untuk kita berdua, kau harus bekerja sama dengan ibu. Dan untuk soal ayahmu... Maafkan ibu, melihat ayahmu saat ini sangat menyakitkan. Meski kau ingin melihat dan dekat dengan ayahmu, ibu tetap tidak akan banyak bisa mewujudkan keinginanmu. Ibu tahu kau merindukan ayahmu. Ibu tahu kau ingin bersama dengan ayahmu. Ibu bisa merasakannya dimana hati dan jantung ibu begitu lemah di depan ayahmu. Namun, pahami ibu, Sayang... Tolong pahami ibu... Sembilan tahun dengan ayahmu itu bukanlah waktu yang sebentar. Banyak kisah yang ibu dan ayahmu lewati. Dari waktu yang lama itu menghasilkan dua kemungkinan. Pertama, jika tetap bersama, berarti berjodoh. Lalu yang kedua, jika berpisah, maka memang tidak berjodoh. Meski ini kemungkinan sederhana sebagai wujud jawaban, tapi ibumu ini sadar, semakin lama bersama ayahmu, semakin sadar jika kami sama sekali tidak ditakdirkan untuk berjodoh. Kami pun berpisah, mengambil jalan hidup masing-masing. Ibu dengan jalan ibu, ayahmu dengan jalan ayahmu. Ayahmu sudah mendapatkan pengganti ibu. Jadi, tolong tahan diri jika kau merindukan ayahmu, ya... d**a ibu sangat sesak ketika kau ingin berjumpa dengannya. Ibu akan menangis seperti saat ini... Aahh... Apa-apaan ini sih? Sial... Aku menangis lagi. Apapun yang mengingatkanku soal Tristan pasti membuatku bersedih. Kenapa aku harus menangisi laki-laki yang bahkan sudah memiliki kekasih baru? Bodoh... Air mataku terus keluar meski sudah berkali-kali aku menghapusnya. Aku ini bukanlah Alyn yang mudah percaya dengan janji manisnya. Aku ini sudah lelah dengan semua janji kapas darinya. Ingin kembali padahal dia sudah memiliki kekasih? Yang benar saja! Sialan! Sial... Sial... Aku menjambak rambutku sendiri. Sakit sekali rasanya. Kenapa apapun yang berhubungan dengan dirinya itu sangat menyakitkan? Kenapa aku harus menangis lagi dan lagi? Kenapa hatiku begitu rapuh hanya karena dirinya yang sudah menjadi masa laluku? Kapan luka ini akan sembuh? Kapan penderitaan ini akan sembuh? Bagaimana aku harus menghadapi dirinya di masa depan? I know, i'm so done with him. But, i also know that i still love him so deeply. Fuck! END OF ALYN'S POV
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN