Berulang kali dan berkali-kali. Tristan dipaksa melakukan hal yang sama sekali bukan kesukaannya. Ia tipikal hanya akan melakukan suatu hal jika dia memang mau. Ketika ia dipaksa melakukan suatu hal tapi ia tak mau, maka ia menjadi kesulitan mengendalikan ekspresi mukanya yang sedang sangat kesal. Namun, apa daya, mau bagaimana lagi, ini demi untuk mencapai tujuannya, kali ini saja, meski tidak ikhlas, meski tidak mau, sangat malah, tapi ia tetap melakukannya.
Mabar.
Main game bareng! Dengan adiknya Alyn tentu saja, Aldo. Game apa? Yang jelas game online, tak perlu sebut merk, kan?
Merasa sangat kesal karena sudah setengah jam tak selesai juga permainannya, Tristan lantas menggerakkan Hero miliknya dengan jauh lebih agresif lagi, ia memakai taktik serangan, dan ketika sudah mendapatkan momen yang tepat, ia segera mengeluarkan jurus utama dan game pun selesai, ia menang dengan timnya. Setelah itu, ia segera meletakkan ponselnya dan menatap Aldo dengan ekspresi tidak sabarannya.
Semakin menjengkelkan karena Aldo hanya meringis tak berdosa. Aldo seolah tidak tahu betapa berharganya waktu yang ia korbankan untuk menemui Aldo.
Setengah jam lebih untuk main game saja? Ahh, kepala tiba-tiba jadi pusing. Adiknya Alyn ini memang sudah kecanduan game!
"Mas Tristan itu pemain pro, tapi kenapa tidak mau main tiap hari sih? Mas Tristan selalu MVP kalau sedang main game! Kita menang turnamen, hadiahnya banyak." Puji Aldo.
"Aku tak punya waktu untuk hal-hal merepotkan seperti itu." Ketus Tristan.
"Ini hiburan agar urat kening tidak mengkerut terus!"
Tristan merasa tersindir. Benar kata Aldo, dirinya memang tak bisa menjalani hidup dengan santai dan tenang. Setiap hari lelah dan tegang, membuat keningnya berkerut karena stress. Hiburan seperti main game sesungguhnya tak terlalu salah. Perasaannya sedikit lebih baik.
Karena saat ini sudah terhibur, maka kembali ke tujuan utamanya. Ia harus bertanya soal Alyn! Aldo sedari tadi tak ada niat sama sekali untuk membahas Alyn. Ia harus menyadarkan Aldo apa tugasnya datang ke restoran ini!
"Mas Tristan, boleh pesan makanan? Masak minuman doang? Aku kan lapar. Aku loh sama sekali belum makan siang." Kata Aldo.
Lapar?
Tristan mencengkram jemarinya. Harus sabar lagi. Ia menekankan kata itu ke dalam otaknya. Makan itu penting, apa lagi untuk remaja yang masih dalam pertumbuhan seperti Aldo. Lagi pula, Aldo itu adiknya dari wanita yang sangat ia cintai yang kini sedang mengandung anaknya, Aldo juga paman dari anaknya kelak. Bukankah sebaiknya ia memberikan kasih sayang super kepada Aldo, kan?
Demi anaknya, demi ibunya, demi Alyn. Agar Alyn tak marah, agar Alyn tak membencinya, agar Alyn memaafkannya, agar Alyn mau kembali kepadanya. Oke, sabar lagi!
"Jangan bilang Mas Tristan jatuh miskin karena membelikan skin baru dan top up untukku?" Tebak Aldo asal.
Perempatan muncul di jidat Tristan. Meski kesal, tapi ia tetap memaksa tersenyum. Ya walau malah terasa aneh dan creepy senyumannya.
"Kakak iparmu ini sangat kaya, kau minta top up 10 juta pun, kakak iparmu ini lebih dari sekedar mampu untuk membayarnya!" Kata Tristan yang masih setia dengan senyuman terpaksanya.
"Benarkah? Kalau begitu, coba buktikan!" Tantang Aldo.
Entah apa, Tristan langsung mentransfer uang untuk membuktikan omongannya. Walau jelas ia tahu bahwa Aldo hanya main-main dengan dirinya.
Aldo melihat nominal top up yang baru masuk langsung menyeringai dalam hati. Main game ke depan akan semakin menyenangkan pikirnya.
"Ahh, aku baru ingat. Berhubung Mas Tristan dan Mbak Alyn sudah putus, jadi Mas Tristan bukan lagi kakak iparku, tapi mantan kakak ipar!" Cengir Aldo. "Tunggu, bukankah sebutan kakak ipar itu hanya berlaku untuk mereka yang sudah menikah? Aku bahkan tidak ingat jika Mas Tristan dan Mbak Alyn pernah menikah." Tambahnya.
What the hell is that!
Tentu saja ini semakin membuat Tristan kesal. Bocah laknat!
"Terserah kau saja, tapi aku akan mendapatkan Alyn kembali!" Ucap Tristan.
Aldo menyilangkan kedua tangannya di depan d**a. "Akan sangat berat."
"Kenapa?" Tristan curiga dengan omongan dari Aldo.
Alih-alih menjawab, Aldo malah teriak memanggil pelayan restoran. "Pelayan!" Ia meminta pelayan restoran untuk mendekat. Ia segera memilih makanan yang ingin ia makan tanpa menyadari singa yang sedang berusaha mati-matian mengendalikan diri di hadapannya.
Aldo melirik ke arah Tristan, ia menyeringai sekilas. Enak saja setelah menyakiti kakaknya lalu ingin balikkan lagi? Tentu saja ia tidak akan membuat semua itu mudah untuk dilakukan!
Aldo akan membalas bagaimana perlakuan Tristan yang membuat Alyn mimpi buruk dan menangis setiap malam!
"Mas Tristan uangnya banyak, kan?" Tanya Aldo.
Tristan hanya mengangguk.
"Steak sapi jumbo dua, kalkun panggang 1 ekor, nasi putih 4, dan minumnya smoothies alpukat." Ucap Aldo kepada pelayan restoran. "Oh iya, tambah mendoan 5!" Tak lupa ia juga memamerkan senyumannya.
Pelayan restoran mengangguk dan segera mencatat semua pesanan yang disebut oleh Aldo. Ketika ia beranjak pergi, Aldo menghentikannya.
"Mbak pelayan, kau belum menanyakan pesanan mantan kakak iparku..."
Tristan dan pelayan restoran cengo. Jadi makanan sebanyak itu hanya untuk Aldo saja? Astaga, itu perut apa karet?
"Mas Tristan tidak berniat meminta makananku, kan?" Kata Aldo. "Jangan bilang Mas Tristan belum gajian?" Tambahnya.
Kepala berasa ingin pecah! Aldo pikir dirinya itu hanya mengandalkan gaji dokter? Seperti itu? Oh maaf saja, Tristan itu pemain saham! Gaji dokter itu tidak ada apa-apanya dengan pendapatannya dari main saham!
"Kopi hitam tanpa gula dan salad." Ucap Tristan mengabaikan Aldo.
Pelayan restoran mengangguk lagi dan tak lupa mencatat pesanan dari Tristan. Sebelum ia pergi, ia mengulangi pesanan dua palanggannya ini.
"Tak bisakah kau lebih peduli dengan kesehatanmu? Kau sudah minum kopi tapi memesan kopi lagi. Seorang dokter harus menjadi role model hidup sehat!" Kritik Aldo.
"Anak kecil pandai menasehati orang tua." Gumam Tristan.
"Dasar bapak-bapak kolot! Bukannya sebelum ini, Mas Tristan jarang minum kopi?"
"Dari dulu aku minum kopi, tapi tidak sebanyak beberapa bulan ini."
"Kenapa? Kecanduan?"
"Tidak..." Tristan menerawang jauh ke arah kaca restoran yang menghadap ke arah luar. Ada banyak kendaraan lalu lalang di sana. "Jika aku tidur, aku akan mimpi buruk. Aku tak mau memimpikan bagaimana dia meninggalkanku." Kopi membantunya tetap terjaga dan terhindar dari mimpi buruk dari kisahnya dengan Alyn yang berakhir tidak menyenangkan.
"Hmm.. pantas saja Mas Tristan seperti memiliki mata Kunti. Bedanya Mas Tristan itu laki-laki, andai kata ada mas kunti, mungkin semua pengandaian dariku lebih bisa diterima."
Mas Kunti? Apa dari semua hantu yang ada, yang memiliki mata dengan lingkar hitam itu hanya Kunti saja? Bagaimana dengan pocong? Genderuwo? Tunggu, sebaiknya tidak menyamakan kantung hitam matanya dengan hantu, kan? Tristan tidak terima!
"Kau ini..." Tristan memilih menyudahinya. Saat ini dirinya sedang tidak mood untuk bercanda. Ia ingin tahu banyak hal soal Alyn terutama kehidupan Alyn setelah berpisah dengannya.
Kehamilan Alyn membuatnya semakin tak ingin tidur. Ia ingin menemui Alyn meski Alyn sudah melarangnya. Ia ingin melihat Alyn meski harus menjaga jarak dan menyembunyikan dirinya. Ia ingin tetap bersama Alyn. Hamil di usia muda itu tidak mudah, apa lagi sendirian. Tristan tak bisa membiarkan Alyn menanggung semua itu padahal dirinya bagian dari janin yang dikandung Alyn.
"Dua-duanya sama-sama mimpi buruk rupanya. Nampaknya juga, Mas Tristan jauh lebih menderita. Jika melihat masalah mereka berdua, wajar sih Mbak Alyn bisa seperti itu. Mas Tristan memang keterlaluan, kesabaran mbak Alyn ada batasnya... Namun maaf Mas Tristan, saat ini, aku sebagai adik hanya ingin kakakku tenang." Batin Aldo.