Andin terdiam ketika Mark menempelkan kedua kening mereka. Ia menangkap tatapan tulus dari sepasang manik hitam kelam di hadapannya. Mata indah milik Mark yang melemahkan otot-otot tubuhnya.
"You are so beautiful today, Dear. I love you…" suara parau Mark membuat napasnya menyentuh permukaan bibir Andin karena jarak mereka yang terlalu dekat.
Seolah terhipnotis, mata Andin pun terpejam, menerima begitu saja pagutan lembut teruntuk dirinya. Ia bukanlah merupakan gadis polos yang awam akan perlakuan seperti ini. Tak hanya sekedar ciuman bibir, ia bahkan sudah kehilangan keperawanannya sejak lama. Tentu saja dengan Mark ia melakukannya. Alasannya karena cinta, oh ayolah, jujur saja, nafsu setan lebih menguasai.
Seperti saat ini, ketika ada seorang pemuda tampan yang saat ini begitu dekat dengannya, Andin merasa melayang. Ia mabuk akan sentuhan Mark yang merupakan sosok yang tercinta baginya. Tubuhnya seperti diserbu jutaan kupu-kupu ketika merasakan jari-jari dingin Mark memeluk rahangnya untuk menagih peraduan yang lebih dalam.
Dalam dan semakin dalam. Lebih erat, lebih lama.. Pautan bibir dan lidah yang menggelora semakin panas dan lebih panas.
Hingga tiba saatnya seperti guntur menghantam dalam fantasi Andin—bayang-bayang sang adik, Alyn yang dimarahi habis-habisan karena hamil duluan oleh sang ayah. Bagaimana mata tegas senja itu menatap penuh kekecewaan akan perbuatan sang anak kesayangan. Marah yang luar biasa. Semua terputar jelas di dalam fantasi Andin. Seakan menamparnya keras-keras dan memaksanya untuk segera sadar.
Andin pun membuka mata, mendapati Mark masih terpejam dan mendominasi pautan ciuman mereka.
Tangannya Andin mencoba untuk mendorong, tapi seolah Mark tak berpengaruh sama sekali dengan tenaga yang Andin kerahkan. Hingga membuat Andin berteriak meminta Mark untuk sadar. Berteriak dalam mulut laki-laki tersebut.
"Hmmph!"
Mark tercenung, ketika membuka matanya ia dapatkan kembali kedua bola mata Andin yang menatapnya dengan kecewa. Gadis itu menutupi bekas basah di sekitar bibirnya dengan punggung tangannya sendiri.
"Ada apa?" Tanya Mark.
Apakah tadi keterlaluan? Mark rasa, ia cukup mengendalikan dirinya. Ia memagut gadis itu penuh rasa kasih. Lama tak bertemu, mungkin kerinduannya telah membuatnya lupa diri. Apakah yang baru saja ia lakukan termasuk keterlaluan? Entahlah, pertanyaan itu terus menerus menghantui kekeruhan hati Mark yang tak dapat ia mengerti.
Tanpa perlu banyak bicara, Andin pun tahu apa yang tengah melayang-layang di dalam kepala teman kuliahnya yang sudah lama tak jumpa. Tatapan mata Mark berbicara segalanya—seakan berkata 'kenapa?'.
Helaan napas untuk meredam emosional yang tercipta secara mendadak. Andin tak ingin membuat Mark tak nyaman dengan apa yang ia rasakan saat ini. Rasanya ia cukup berlebihan jika menangisi perbuatan Mark baru saja. Namun, ada gejolak yang tak dapat ia bendung dari dalam hatinya dan ini sudah sangat mengganggunya sebulanan terakhir.
Amarah dan kekecewaan sang ayah. Ya, soal ini.
"Maaf..." Ucap Mark.
Mark telah minta maaf secara tidak masuk akal—karena menurut Andin, itu tak perlu, di sini yang salah adalah dirinya. Tiba-tiba saja membuat suasana tidak nyaman karena fantasi dan ingatannya soal amarah dan kekecewaan sang ayah waktu tahu Alyn hamil. Padahal sedang berciuman, tapi berhenti di saat yang tidak tepat.
Andin menggeleng. "Aku minta maaf Mark, tapi, bisakah kita sudahi?"
Mark mengangguk. "Hm..." Ia pun bangun dari ranjang dan segera merapikan pakaiannya.
Andin tahu, ada raut kecewa di muka sang kekasih. Sudah lama tak bertemu, tapi malah seperti ini. Ia pun ikut merapikan pakaiannya.
Mark membuat teh hangat dan segera memberikannya kepada Andin. Dalam hati Mark tahu jika Andin sedang banyak pikiran. Ia sangat peduli pada kekasihnya ini, meski tidak jadi bermesraan seperti yang sudah mereka lakukan sebelumnya, tapi ia tak mempermasalahkannya. Saat ini memang bukan waktu yang tepat.
"Terima kasih atas teh hangatnya." Andin menerima teh hangat buatan Mark. Ia meniupnya pelan dan meneguknya perlahan.
Mark lalu duduk di kursi depan Andin. Kursi yang ada di balkon apartemen, menghadap ke arah luar yang kini sedang menguning, sebentar lagi senja tiba.
"Ada apa?" Lagi, Mark menanyakan hal yang sama.
"Mark, apa kau mencintaiku?" Tanya Andin. Ia menatap Mark dan Mark menatap balik dirinya.
Mark meletakkan kembali cangkir teh yang belum sempat ia minum. Menatap Andin sore ini memang hal yang indah. Namun, kenapa Andin bertanya seperti itu?
"Aku sangat mencintaimu, kau tahu itu. Apa saat ini aku membuatmu ragu?" Mark tanya balik.
"Menurutmu, wujud nyata dari cinta itu apa? Ciuman? Pelukan? Atau... s*x?"
Mark tahu ini sangat serius. Tak biasanya Andin seperti ini. Ia harus berhati-hati dalam merangkai kalimat. Bisa-bisa bakal terjadi perang ke tiga.
"Katakan sejujurnya kepadaku, Andin... Dari tiga hal pilihanmu itu, kau sama sekali tak mengharapkan tiga hal itu keluar dari mulutku sebagai jawaban, kan?" Tebak Mark.
Dan bingo, Andin memang tak bisa meragukan betapa luar biasanya Mark dalam membaca isi kepalanya.
"Alyn hamil..." Gumam Andin.
"Pardon?"
"Alyn hamil saat ini." Andin mengulangi kata-katanya.
"Oh my God! Are sure about that? Tristan akan menangis mendengarnya. Dengan siapa dia hamil?"
"Dengan Tristan..."
"Eh? Hah? Dengan dokter bedah gila itu? Aku tidak menyangka, aku pikir mereka pacaran secara sehat, tidak seperti kita." Mark sama sekali tidak menyangka. Alyn hamil? Oleh Tristan? Mereka sudah putus, kan? Apa ini drama?
"Mereka sama seperti kita, punya nafsu juga... Mark, menurutmu apa Tristan akan menangis kalau tahu Alyn hamil anaknya?"
"Aku tidak yakin, dia itu berdarah dingin ketika menguliti dan membedah pasiennya. Namun yang kita bicarakan di sini adalah Alyn, si b******k itu pasti rela bergadang demi memikirkan bagaimana caranya kembali lagi ke pelukan Alyn." Mark tahu betul bagaimana sahabatnya itu. Tristan meski terkenal dingin, tapi sebenarnya pemikir berat. Apapun suka di masukan ke dalam pikiran.
"Tristan sudah memiliki kekasih baru, kan? Sepertinya akan sulit. Apa lagi jika Tristan sudah move on dari Alyn."
"Darimana kau tahu Tristan sudah memiliki kekasih baru?"
Andin memincingkan matanya. "Hoh, jadi kau tahu sejak lama, tapi tidak memberitahu diriku? Tega ya, aku loh kakaknya wanita yang dihamili si b******k temanmu itu!"
"Jangan marah! Aku kan... ahh, maksudku, posisiku sama sekali tidak diuntungkan. Kalian sama-sama berarti untukku. Aku tak bisa ikut campur terlalu dalam, kan? Kau paham kan situasinya?"
Andin memijat kepalanya. Ia paham soal ini. "Sudahlah, sudah! ... Dulu, aku selalu iri kepada adikku, Tristan sangat mencintainya dan bahkan menawarinya sebuah ikatan pernikahan. Tristan bahkan berjuang keras untuk mendapatkan restu dari ayahku. Namun, role mode untuk kisah cinta sejati yang membuat iri diriku hancur sesaat sebelum mereka menikah. And now, Alyn hamil di waktu yang tidak tepat... Hei Mark, just tell me, apa menurutmu kisah cinta sejati masih exis di dunia ini?"
Mark langsung meraih tangan Andin. "Cinta sejati itu ada dan sudah banyak buktinya. Jangan kehilangan harapan karena role modemu tidak seperti yang kau harapan... Setiap orang punya kisahnya masing-masing. Begitu pula dengan dirimu."
Andin menarik tangannya. Lepas dari genggaman tangan Mark. "Jika setiap orang memiliki kisahnya masing-masing, tapi kenapa aku tidak sampai ke tahap itu? ... Mark, kau tahu jika aku mendambakan kisah cinta sejati, tapi yang kita lakukan selama ini hanya pelukan, ciuman, dan s*x. Apa itu wujud dari kisah cinta sejati?" Emosi Andin tiba-tiba naik.
"Ah, benar, kan? Ternyata memang bukan ketiga hal itu. Rupanya kau mendambakan sebuah pernikahan sebagai patokan dari kisah cinta sejati."
"Kau benar. Aku memang mendambakan sebuah pernikahan sebagai perwujudan dari kisah cinta sejati... Namun, setelah melihat kisah Alyn dan Tristan yang berakhir begitu saja, aku kini ragu. Tapi takut juga... Kau tahu, banyak masalah setelah mereka putus. Alyn yang hamil di luar nikah membuat ayah kami murka. Ayah Bakan seolah-olah mengusir Alyn dari rumah. Aku takut jika ayah sampai membuang Alyn karena Alyn sudah membuat malu keluarga."
Andin kembali teringat sewaktu di kediaman sang ayah. Amarah sang ayah membuat nyalinya ciut.
"Itu wajar sebagai seorang ayah. Ayahmu marah karena sedang mengekpresikan kekecewaannya." Timpal Mark.
"Ya... aku juga berpikir seperti itu. Lalu, aku pun juga mulai berpikir... Andai hal yang terjadi pada Alyn, terjadi juga kepada diriku."
Mark terhenyak. "Apa maksudmu itu, Andin?"
"Andai kata aku hamil duluan, bagaimana?"
"..."
"Kita pacaran tidak sehat. Setiap kali kita bertemu, ujung-ujungnya kita pasti akan berakhir b******u di ranjang... Selalu seperti itu. Sampai tidak terhitung berapa kali kita sudah melakukannya... Sebenarnya, kau mencintai apa bernafsu saja kepadaku?" Jujur saja, Andin takut akan pertanyaan ini. Namun ia harus tahu karena ini sangat mengganggunya.
"I'm so in love with you, Andin. Bagaimana kau bisa bertanya seperti itu? Aku nafsu kepadamu itu benar adanya, tapi cintaku padamu jauh lebih besar."
"Aku butuh bukti!"
"Ok, i'm going to marry you!"
"..." Andin melebarkan kedua matanya. Sungguh?
Mark mengambil sesuatu dari dalam saku kemejanya. Ia lalu menyodorkannya kepada Andin.
"Apa ini?" Tanya Andin.
"Bukalah..."
Andin pun membukanya dan ya... itu adalah sebuah cincin emas putih dengan aksen berlian.
"Mark?" Andin tak menyangka jika Mark sudah mempersiapkan hal seperti ini.
"Aku ingin bertanggung jawab akan hubungan kita. Aku ingin menunjukkan betapa besar keinginanku untuk selalu bersamamu. Aku pun berpikir, cara terbaik untuk mengikatmu adalah dengan pernikahan... Will you marry me, Andin?" Senyum Mark.
Andin pun mengangguk dan menangis. Apa lagi setelah Tristan memakaikan cincin itu. Air matanya semakin menetes. Air mata bahagia tentunya.
"Hari itu pasti akan tiba. Aku bukan Tristan dan kau bukan Alyn. Kita memiliki kisah kita sendiri. Ini janjiku, aku pasti akan menikahimu di altar suci suatu hari nanti... Aku tahu, saat ini pun bukan waktu yang tepat buat menikah, kan?"
"Iya. Memang bukan saat yang tepat. Namun, aku akan setia menunggu."
"Terima kasih banyak, Andin. Dan maaf sudah membuatmu ragu akan ketulusan cintaku."
"Aku hanya wanita yang menginginkan kepastian saja. Sudah jelas, aku sudah bahagia dengan keputusanmu. Aku merasa lega untuk diriku... Tapi tidak dengan adikku."
"Karena Alyn dan Tristan yang sudah pisah?"
Andin menggeleng. "Lebih dari itu, aku khawatir. Aku sangat khawatir dengan Alyn dan mentalnya. Semalam ayah bilang jika dia akan menikahkan Alyn dengan laki-laki lain."
"?"