Kediaman Alyn dan Eva... Alyn terus saja memperhatikan ke arah jendela luar kamarnya. Pemandangan jalanan dan sorot lampu bangunan depan hanya itu yang bisa ia lihat. Beberapa orang lalu lalang juga ikut mewarnainya. Hanya saja, itu terasa monoton. Sama saja. Ramai? Agak ramai, tidak sepi, tapi tidak ramai sekali juga. Ah... tapi rasanya sepi. Ada yang hampa... ada yang kosong... di dalam hati ini. "Tristan..." Tak sadar bibir tipis kemerahan itu menggumamkan nama laki-laki yang dulu sempat memenuhi isi otaknya. Laki-laki yang dulu sangat dicintainya dan bahkan hingga saat ini... dirinya masih sangat mencintai laki-laki bernama Tristan itu. Tak terasa air mata hangat membasahi kedua pipinya. Alyn mengusapnya beberapa kali karena rupanya, air mata itu tidak bosan untuk terus mengalir

