Tristan terus berlari kencang membelah trotoar kota yang sepi. Berkali-kali ia menoleh ke arah jam tangannya, waktu terus saja berputar, terus cepat berlalu tanpa memberikan kesempatan bagi dirinya untuk istirahat. Ia harus menambah kecepatannya, harus melangkahkan kakinya terus menerus, tidak boleh berhenti, tidak boleh terganggu meski bersimpangan dengan pejalan kaki yang lain sekalipun. Pulang. Cepat pulang. Harus cepat sampai. Seperti itu yang sedari tadi ia gumamkan. "Hah... hah... hah..." Mencoba mengendalikan nafas agar tidak terengah-engah meskipun gagal. Dirinya terlihat sangat buruk karena baru saja berlari seperti dikejar anjing. Rambut dan kemejanya berantakan, basah penuh keringat. Ting... Tong... Tristan memberanikan diri untuk menekan bel. Tak butuh waktu yang lam

