Di sebuah gedung tua tak berpenghuni.
“Ayah!”
Seorang pemuda dengan kedua tangan terikat di belakang badan berteriak memanggil sang ayah. Pemuda itu tampak panik, apalagi saat kedua tangan ayahnya dipegangi oleh dua orang bertubuh kekar.
“Ayah lega, kamu baik-baik saja, Nak.” Dalam situasi segenting itu Lukasa masih sempat tersenyum lega.
“Ayah huhuhu.” Pria berusia sembilan belas tahun itu menangis ketakutan.
“Leon, jangan pernah menangis. Apalagi karena ketakutan. Tidak ada yang perlu Kamu takuti di dunia ini. Hanya Tuhan dan dirimu sendiri yang perlu Kamu takuti. Takutlah pada dirimu yang mungkin saja bisa menjadi orang tamak dan egois yang melupakan dari mana Kamu berasal,” ucap Lukas masih dengan senyuman. Pria tua itu seolah tidak takut pada apa pun.
“Ayahhhh ....” Bukannya diam, pemuda itu justru semakin tersedu.
“Aku menepati janjiku jadi Kalian harus menepati janji Kalian juga. Jangan sentuh anakku barang sehelai rambut pun. Aku sudah mengirimkan pesan kepada anak buahku. Jika sampai mereka mendengar sesuatu yang buruk menimpa putraku. Mereka akan menghancurkan kalian sampai ke akar-akar,” ancam Lukas.
“Baiklah, Kamu tidak perlu khawatir. Kami akan menepati janji,” ucap George setuju. “Lepaskan dia.”
Anak buah George segera melepaskan Leon.
“Larilah, Nak. Lari!’ perintah Lukas.
“Tidak, Ayah,” tolak pemuda itu. Ia tidak akan mungkin membiarkan ayahnya bersama para orang-orang jahat itu.
“Leon! Ini perintah Ayah! Pergi dari sini!” bentak Lukas kehilangan kesabaran.
“Tidak, Ayahh ....”
“Le ....”
Dor!
Terdengar suara tembakan yang begitu keras, memekakkan telinga Leon yang tidak pernah mengenal dunia hitam. Tubuh Lukas ambruk,jatuh ke lantai. Tembakan itu berhasil menembus dadanya.
“Ayahhhh!” teriak Leon histeris saat melihat tubuh kekar sang ayah tumbang tak berdaya.
George lantas berjongkok. “Ini hukuman untuk orang yang suka ikut campur.”
“Mari kita pergi dari sini.” George menarik semua pasukannya, membawa pergi dari sana.
Sekian detik, tubuh Leon membatu. Dunianya tiba-tiba saja menjadi gelap gulita. Namun, lambaian tangan sang ayah membuat ia tersadar bahwa ia harus segera menyelamatkan ayahnya.
Leon berlari menghampiri Lukas, lalu dengan segera ia menggendong sang ayah dan membawa ayahnya keluar dari tempat itu. Ia tak menghiraukan sang ayah yang berkali-kali memanggil namanya. Yang leon tahu, ia hanya perlu berlari secepat mungkin ke rumah sakit terdekat.
“Ayah jangan katakan apa pun. Aku tidak akan mau mendengarnya sampai Ayah baik-baik saja. Bertahanlah, Ayah. Bertahanlah sebentar lagi. Leon akan pastikan jika ayah akan baik-baik saja.” Dengan air mata berderai, Leon terus saja berlari menuju ke rumah sakit. Leon mengabaikan pandangan orang-orang yang melihatnya menggendong Lukas yang penuh darah. Hingga akhirnya mereka berdua sampai di sebuah rumah sakit.
“Tolong selamatkan ayah saya, saya akan bayar berapa pun. Tapi tolong selamatkan dia,” ucap Leon pada tim medis.
“Baik, kami akan berusaha. Silakan tunggu di luar, kami akan melakukan tindakan penyelamatan.” Para petugas medis membawa Lukas ke ruang penanganan.
Tak lama, seorang perawat menghampiri Leon. “Ada sebutir peluru yang bersarang di dadanya. Adakah wali yang bisa memberikan persetujuan operasi?”
“Ayah saya hanya punya saya, Sus. Jadi saya akan menandatanganinya.”
Perawat itu memandang Leon dengan tidak percaya. “Berapa usia Kamu?”
“saya sembilan belas tahun. Saya yang akan bertanggung jawab atas semuanya. Cepat , selamatkan ayah saya, Sus. Jangan buang waktu.”
Akhirnya karena situasi mendesak, akhirnya perawat itu membiarkan Leon menandatangani dokumen.
“Ya Tuhan, selamatkan ayahku.” Leon terduduk lemas di kursi tunggu saat perrawat masuk ke ruang operasi dan pintu terutup kembali.
Satu jam kemudian, dokter keluar dengan wajahnya yang lelah. Leopn dengan cepat menghampiri dokter itu, meminta penjelasan. “Bagaimana keadaan ayah saya, Dokter?”
“Kami telah mengeluarkan peluru itu dari dadanya. Namun ... peluru itu tepat mengenai jantungnya.” Dokter itu menggelengkan kepala. “Keadaan beliau sangat kritis. Beliau berkata ingin menemui putranya.”
Tanpa permisi, Leon menghambur masuk ke dalam ruangan yang dingin itu. Di sana ia melihat ayahnya yang ia anggap seperti jagoan dalam film-film action itu terbaring tak berdaya. Wajah pria itu pucat pasi. Pria yang Leon kenali sebagai pria terkuat itu kini sangat lemah.
“Ayah!” Tangis Leon kembali pecah saat ia memeluk tubuh Lukas.
Dengan tangan bergetar, Lukas menyentuh kepala anaknya. Rasanya sangat berat baginya meninggalkan putra semata wayangnya yang tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu karena istrinya meninggal tepat setelah melahirkan Leon ke dunia.
Bertambah tersedu, pemuda itu menangis. Lukas lantas membuka oksigen yang membantu pernapasannya. Pria itu lalu berkata. “Nak, jangan pernah menyesali apa pun yang terjadi. Semua ini bukanlah salahmu. Ini sudah takdir dari Yang Kuasa. Nak, jangan pernah lagi tunjukkan air matamu pada dunia. Agar dunia tidak lagi menganggapmu lemah. Tunjukkan bahwa putra ayah adalah pria yang kuat.”
“Ayahh ....” Leon semakin sedih mendengar ucapan sang ayah yang terdengar seperti pesan terakhir.
“Jangan pernah mendendam kepada orang-orang itu. Lupakan meski sakit, karena bagi ayah yang utama adalah agar Kamu hidup bahagia,” ucap Lukas. “Lanjutkan hidupmu meski tanpa Ayah. Jika Kamu mau, Kamu bisa ikut Tuan Raja. Gantikan posisi ayah sebagai asistennya. Akan tetapi, jika Kamu tidak mau. Tidak apa, pergilah cari jalanmu sendiri.”
“Tidak, Ayah. Leon akan menuruti ucapan Ayah.”
“Bagus. Abdikan dirimu padanya, jadilah orang yang setia, Kamu juga harus siap menjadi perisainya. Apakah Kamu sanggup, Nak?”
“Leon akan melakukan hal yang serupa dengan yang Ayah lakukan. Leon akan membalas budi kepada keluarga Tuan Muda hingga ajal menjemput nanti.”
“Bagus, Nak. Ayah bangga padamu. Lanjutkan hidupmu, berpegang teguhlah pada kebaikan. Ingat pesan ayah ... Nak ....” Napas Lukas semakin tidak beraturan. Pria itu kesulitan untuk bernapas. Monitor EKG, berdenging memekakkan telinga. Beberapa menit kemudian, tangan pria tua itu terkulai lemah. Tak ada lagi detak jantung, tak ada lagi napas yang tinggal. Pria itu telah menghadap lepada Tuhannya.
“Ayahhh!” Sekuat tenaga, Leon mengguncang tubuh sang ayah. Ia menangis hingga tak mengeluarkan suara. Rasanya sangat sakit saat ia harus kehilangan seseorang yang paling ia sayangi. Satu-satunya keluarga yang ia miliki di dunia ini.