“Jangan sentuh aku! Jangan sentuh aku! Pergi! Pergi!!” Sudah sejak setengah jam yang lalu pria muda itu berteriak histeris saat perawat datang ke kamarnya.
“Tuan, tenanglah. Saya perawat di sini yang akan menjaga Anda. Jangan takut, Tuan. Saya bukan orang jahat,” ucap seorang perawat wanita.
“Tidak mau! Jangan mendekat! Tolong jangan mendekat!” Raja memperingati perawat tersebut agar menjauh darinya. Ia terus beringsut mundur, bahkan sampai punggungnya terbentur dengan dinding tembok.
“Bagaimana ini, Dok?” Perawat itu mulai putus asa karena Raja tidak mau didekati.
“Ada apa ini, Dok?” Seorang pria tampan berdarah campuran Amerika-Indonesia masuk ke dalam ruangan tersebut. “Ah, ya. Saya Louis, yang akan menggantikan Tuan Lukas sebagai wali sekaligus penanggung jawab Tuan Raja.”
“Tapi Tuan, Tuan Muda dari tadi seperti itu. Dia berteriak histeris tiap kali kami dekati,” ucap dokter itu menjelaskan.
“Tidak apa-apa, mungkin karena dia masih sangat syok setelah kepergian kedua orang tuanya. Ah ya, Kalian bisa tinggalkan kami berdua. Biar saya coba untuk menenangkannya,” pinta Louis.
“Baiklah.” Akhirnya dokter dan perawat itu keluar dari ruangan Raja.
“Halo!” sapa Louis dengan ramah. Raja tak meresponnya, ia asyik bersembunyi di pojokan tetapi sudah tidak se-histeris tadi.
“Eum, apakah Kamu tidak mengingatku? Padahal aku sering datang bersama Lukas ke rumahmu,” ucap louis lagi. Ia sengaja memancing perhatian raja. Louis tahu, kejiwaan raja sedang terguncang dengan begitu hebatnya. Ia harus sabar menunggu raja luluh dan mau berbicara dengannya.
Raja melirik, sepertinya mulai tertarik saat mendengar nama Lukas. Louis menarik sebuah kursi dan duduk di samping ranjang Raja.
“Mau dengar cerita?” tanya Louis yang tentu saja tidak akan pernah mendapatkan jawaban dari Raja.
“Lukas adalah teman bagiku, tapi ia juga sudah seperti ayah bagiku. Dia seperti kakak, dia juga seperti guru. Dia yang mengajarkanku akan segalanya. Dia juga yang mengajarkan aku agar aku selalu kuat.” Louis kembali bercerita tentang Lukas dan hal itu berhasil membuat Raja tertarik.
“Apa Kamu tahu Tuan Muda? Lukas juga yang menyuruh aku datang ke mari.” Louis lantas mengeluarkan dokumen dari dalam tas miliknya. “Tuan Muda mau membantu Lukas, kan? Dia sangat membutuhkan tanda tangan Tuan”
Raja mengangguk dan Louis tersenyum. “Tuan Muda baca dokumen ini, kalau Tuan Muda setuju maka Tuan Muda bisa menandatanganinya. Kalau Anda tidak setuju, biarkan saja."
Raja mengulurkan tangannya ragu-ragu, lalu menerima dokumen dari Louis. Louis membiarkan Raja membacanya. Menurutnya Raja sudah cukup dewasa untuk memahami isi dokumen itu. Hanya saja, Raja sedang kondisi kurang baik hingga masih memerlukan bimbingannya.
Raja membacanya, memahami dengan cepat. Sebentar kemudian pria muda itu mengangguk, menyetujui isi dokumen itu. “Saya akan menandatanganinya.”
Louis memberikan pulpen, Raja dengan cepat menandatangani dokumen itu tanpa keraguan sedikit pun.
“Ini sudah. Adakah dokumen lain yang perlu saya tanda tangani?” tanya Raja dengan hati terbuka.
Louis tersenyum. “Untuk sementara waktu cukup ini dulu, Tuan Muda."
"Tuan, saya tidak yakin jika ke depannya semua akan berjalan dengan mulus. Tapi, Tuan Muda bisa menghubungi saya kapan pun Anda membutuhkan saya dan saya harap Anda akan menjadi pria yang sekuat baja.”
“Satu lagi, Tuan. Tuan harus sehat secara fisik dan mental agar kita bisa memenangkan ini. Baiklah, saya harus pergi sekarang juga. Karena saya diburu waktu,” tambah Louis.
Raja mengangguk, Louis pun segera pergi membawa dokumen penting itu untuk segera diproses secara hukum. Louis harus bergegas sebelum ia kalah langkah dari para orang serakah yang mengincar harta kekayaan Raja.
***
Tanah itu masih merah dan basah. Pemuda dengan setelan jas hitam memandangi makam sang ayah dengan perasaan yang sangat sedih. Akan tetapi, air mata tak dapat lagi menetes. Mungkin sudah habis saat ia menangisi detik terakhir sang ayah. Ia sudah memutuskan untuk melanjutkan bakti sang ayah pada ER grup. Jika ia akan menjadi tangan kanan Tuan Muda Raja.
“Leon akan melakukannya ayah, Leon akan menjadi perisainya. Leon akan menjadi tangan kanannya, Leon juga akan menjadi bayangannya,” janji Leon.
Leon memandang nisan ayahnya untuk yang terakhir kali, sebelum akhirnya pria itu pergi dari area pemakaman itu. Tempat tujuannya sudah jelas dan dan pasti, yaitu rumah sakit tempat di mana Raja dirawat. Mulai hari itu ia dan Raja tak akan terpisahkan lagi.
***
“Tidak! Tidak mau! Jangan mendekat!” Raja kembali histeris sepeninggal Louis dari rumah sakit.
“Bagaimana ini, Dok? Kita harus bagaimana? Apakah kita harus menghubungi Tuan Louis dan menyuruhnya kemari lagi?” tanya seorang perawat.
“Atau mungkin kita perlu menyarankan agar dibawa ke rumah sakit jiwa saja?” Seorang perawat lagi mengemukakan pendapat.
“Kamu jangan sembarangan. Dia dalah pewaris ER grup, mana bisa kita sembarangan kepadanya ....”
“Lalu kita harus bagaimana, Dok? Apa yang harus kita lakukan?” tanya perawat itu lagi.
“Coba kita tinggalkan dia sendiri dulu. Kita lihat apakah dia bisa lebih tenang?” akhirnya para petugas medis meninggalkan raja sendirian di ruang rawatnya. Setelah pintu tertutup, raja terlihat lebih tenang. Ia tak lagi berteriak ketakutan.
“Entah apa yang salah dalam diri kita hingga ia ketakutan begitu pada kita. Apa yang menyebabkan ia ketakutan. Jika kita tahu penyebabnya, maka kita akan lebih mudah mengatasinya.” Mereka mengintip dari celah jendela, merasa keheranan dengan sikap Raja.
“Untuk sementara lebih baik kita biarkan, sambil melakukan observasi. Aku yakin, cepat atau lambat kita akan menemukan suatu petunjuk.” Mereka lekas pergi, melanjutkan pekerjaan mereka yang lainnya.
***
Setelah pergi dari makam, Leon langsung pergi ke rumah sakit. Ia tak menghiraukan lagi duka yang ia rasakan. Tujuan hidupnya kini hanya satu, melanjutkan pekerjaan yang selama ini selalu ayahnya banggakan.
Ia pergi ke meja resepsionis, bertanya pada petugas di sana di mana Raja dirawat. Dengan menggunakan tanda pengenal almarhum ayahnya, ia bisa mengakses informasi juga masuk ruang VIP rumah sakit dengan begitu mudah tanpa halangan yang berarti.
Pemuda itu berjalan mantap, tanpa keraguan sedikit pun. Meski ia belum tahu dunia seperti apa yang akan ia jajaki, ia tidak peduli. Meski ia belum mengenal seperti apa sosok Raja sang tuan muda, ia akan berusaha beradaptasi.
Hingga akhirnya, pria tampan itu berhenti di depan kamar bernomor 707. Tanpa mengucap salam atau meminta izin, ia memutar kenop pintu dan masuk ke dalam sana.
Sang penghuni kamar tampak terkejut, akan tetapi tak berlangsung lama, pemuda yang kira-kira sebaya dengannya itu tampak biasa saja. Bahkan Raja yang sempat histeris tidak mempermasalahkan kehadiran Leon di tempar itu. Tidak peduli atau bertanya siapa Leon dan tujuan pria itu menemui dirinya.
Leon dengan lancang duduk di hadapan Raja dengan sikap yang sangat biasa seolah sudah mengenal sejak lama. Lalu pria muda itu berkata, “Salam kenal dari saya, Tuan Muda. Saya Leon, asisten baru Anda.”