BAB 68

1242 Kata
Leon harus mengurut d**a, karena tidak mendapatkan respon dari Raja. Akan tetapi, ia tak ingin menyerah. Ia harus berhasil menggantikan posisi sang ayah di kerajaan bisnis ER. Namun, hingga ia pulang, Raja hanya diam saja, seolah tidak peduli akan keberadaannya. Begitu pula saat Leon datang di hari seterusnya, Raja selalu menganggapnya seperti tidak ada. Meski begitu, Leon selalu gigih ia terus saja datang untuk mengambil hati Raja. Ia bahkan datang setiap hari sampai Raja kembali ke kediaman William. Hingga hari ke dua puluh tujuh, Leon masih juga datang. Siang itu, ia datang dengan sekeranjang buah-buahan. Leon berharap, Raja akan membuka hatinya saat ia menunjukkan perhatian. Akan tetapi, tak ada bedanya seperti hari sebelumnya, Raja masih mengabaikannya. “ini adalah ke dua puluh tujuh kalinya aku datang, dan ini juga ke dua puluh tujuh kalinya Kamu mengabaikanku.” Leon menjeda kalimatnya. Sementara itu, Raja menatap tajam ke arah Leon. “Mungkin Kamu sengaja mengabaikanku, karena sikap curigamu pada semua orang. Kamu menutup hatimu karena sudah kehilangan kepercayaan pada semua orang, termasuk pada takdir. Iya kan?” tanya Leon. “Aku juga sempat tidak bisa percaya pada orang lain. Aku bahkan sempat membenci takdirku.” Leon terus bercerita dengan nada yang sedih meski Raja sama sekali tidak berkomentar. Wajah pria itu pun berubah menjadi muram. Leon tertawa. “Mirisnya bukan karena cinta pada wanita seperti yang dialami pemuda pada umumnya. Tapi patah hati karena aku harus kehilangan sosok ayah yang begitu aku banggakan. Satu-satunya orang yang aku miliki di dunia ini, telah meninggalkanku, menjadikanku anak yatim piatu.” “Ka-mu ... orang tuamu telah meninggal?” tanya Raja yang pada akhirnya mau buka suara setelah sekian lama mengabaikan Leon. Leon mengangguk lemah. “Ibuku, meninggal karena memperjuangkan nyawaku, agar aku bisa terlahir ke dunia. Sementara ayahku, meninggal karena tidak ingin melihatku mati. Dia mengorbankan nyawanya demi kehidupanku.” “Maksudmu?” tanya Raja. “Sudahlah, lupakan saja. Tujuanku mendekatimu adalah agar aku bisa mendapatkan pekerjaan. Demi keinginan terakhir ayahku, tapi sepertinya ... aku harus menyerah. Karena Kamu sama sekali tidak menyukaiku. Kamu tidak menginginkanku di tempat ini. Baiklah, aku akan pergi. Makanlah buah ini, ini bebas dari racun atau bahaya apa pun, kok. Sebagai tanda perpisahan dariku.” Raja terdiam, ia sadar bahwa ia sudah sangat keterlaluan. Selama ini ia terus saja mengabaikan Leon. Meski pemuda itu sudah melakukan apa pun demi mendekatinya. Ia tahu bahwa Leon adalah orang yang baik dan berbeda dari orang-orang yang hanya menginginkan sesuatu darinya. Ia juga merasa tersentuh atas cerita Leon tentang ayahnya. Ia merasa nasibnya begitu mirip dengan pemuda yang ada di hadapannya itu. Raja jadi simpati pada pria tampan itu. “A-aku Raja. Maafkan aku karena telah mengabaikanmu. Aku harap kita bisa berteman.” Raja mengulurkan tangannya dengan ragu-ragu. Leon mengerjapkan mata tak percaya. Ia merasa apa yng is dengsr dari bibir Raja, juga yang ia alami sat itu ahanyalah sebuah mimpi. Mimpi smeu yang sama sekali tidak nyata. “Kamu marah padaku? Hingga tak mau bekenalam denganku? Maafkan aku, bukan hanya Kamu saja yang aku abaikan. Aku bahkan tidak mengajak orang lain berbicata selama sebulan ini,” ucap raja. “Leon, Leonardo.” Leon menyambut tangan Raja dengan gembira. “Mulai sekarang, Kamu adalah temanku. Mulai sekarang, keinginanmu untuk bekerja padaku, telah terwujud. Aku mengangkatmu sebagai asistenku, Leon.” Raja tersenyum kecil, setelah hampir sebulan hanya ada mendung di wajahnya. "Ka-kamu tidak bercanda, bukan?" Leon tak menyangka bahwa hari ini hokinya sangat bagus. Bukan hanya berkenalan, hari ini Raja secara resmi menerimanya sebagai asisten. Akhirnya ia bisa mewujudkan keinginan terakhir sang ayah. "Tentu tidak. Aku serius," ucap Raja. "Apa Kamu sudah berubah pikiran dan tidak mau lagi menjadi asistenku? Mungkin di mata orang lain aku ... gila. Tapi ... sungguh aku tidak gila. Aku hanya ... sedikit trauma dan takut akan sesuatu." "Aku tidak pernah menganggapmu gila dan aku masih mau menjadi asistenmu," jawab Leon. "Baiklah, mulai besok Kamu bisa datang bekerja," ucap Raja. "Baik, Tuan Muda. Terima kasih." "Leon, bolehkah aku meminta sesuatu padamu?" tanya Raja. "Iya, apakah yang bisa saya lakukan, Tuan?" tanya Leon. "Bisakah Kamu tinggal bersamaku saja di rumah ini? Bukankah Kamu bilang, Kamu juga yatim piatu? Tidak masalah kan kalau Kamu tinggal bersamaku? Sejujurnya aku sangat kesepian," ucap Raja dengan wajah yang muram. "Tentu, Tuan. Saya akan tinggal di sini. Sore ini juga, akan saya bawa barang-barang saya kemari." "Satu lagi Leon, aku ingin Kamu mengerjakan tugas pertamamu sebagai asisten hari ini juga," ucap Raja. "Iya, Tuan?" "Pecat semua pembantu di rumah ini. Berikan pesangon yang cukup, lima kali gaji mereka. Rekrut empat pria yang dapat dipercaya dan mau bekerja keras. Satu orang akan bertugas menjadi seorang chef, satu orang sebagai tukang kebun, satu orang untuk bersih-bersih rumah ini dan satu orang lagi bekerja sebagai sopirku. Aku tidak mau ada seorang wanita pun di rumah ini. Apa Kamu bisa?" "Tentu, Tuan. Saya akan melaksanakan semuanya sekarang juga." Leon segera bangkit dan melaksanakan tugas pertamanya tanpa ragu. *** Semua pekerja di rumah besar yang tak kurang dari tiga puluh orang itu dikumpulkan di ruang tamu. Semua tampak bertanya-tanya berbisik-bisik karena pria muda yang biasanya mereka layani sebagai tamu berani memanggil seolah dia adalah bosnya. Sementara itu, Leon berdiri penuh percaya diri di hadapan semua orang. Tak ada sedikit pun keraguan dan ketakutan dalam diri pemuda itu. Ia juga tidak peduli dengan mereka yang mulai membicarakannya. "Selamat siang, perkenalkan saya Leon, asisten baru tuan muda," ucap Leon memperkenalkan diri. Bisik-bisik semakin terdengar di sana-sini. "Saya minta maaf karena mengumpulkan kalian secara tiba-tiba. Tapi ini adalah perintah langsung dari tuan muda," ucap Leon dengan tenang. "Kamu bohong. Tuan Muda sedang sakit, bagaimana dia memerintahmu?" tanya seorang pelayan. "Tuan muda tidak sakit. Saat ini, beliau sudah sehat. Saya tidak berbohong, beliau yang meminta saya mengumpulkan kalian," jawab Leon. "Saya minta maaf, karena saya akan menyampaikan kabar buruk untuk kalian." Semua orang saling berpandangan, penasaran dengan apa yang akan Leon katakan. "Tuan Raja, menyuruh saya untuk memberhentikan kalian semua, tanpa terkecuali." "Tidak mungkin!" "Tidak, Kamu bohong." Semua orang mengajukan protes dan tidak terima karena dipecat. "Saya tahu, ini berat bagi kalian. Tapi ini adalah perintah Tuan Raja langsung." "Apa buktinya? Apa buktinya kalau Tuan Raja yang memerintahmu? Kalau ingin kami berhenti, minta Tuan Raja sendiri yang memecat kami," ucap salah seorang pelayan dengan berani. "Tuan Raja masih memulihkan diri dan belum bisa menemui kalian. Bukti yang kalian minta, ini dia." Leon mengeluarkan set kunci rumah itu. Itu artinya, Leon memang benar-benar penguasa di rumah itu menggantikan Lukas. Tentu saja, Leon dengan mudah mendapatkannya karena Lukas yang memberikan padanya. Semua orang langsung terdiam melihat kunci berwarna keemasan itu. Kunci yang sangat familier bagi semua orang. "Tapi kalian tidak perlu kecewa, karena Tuan akan memberikan kompensasi kepada kalian. Kalian akan dipastikan mendapatkan pesangon yang lebih dari cukup." Leon mengambil kertas dari saku jasnya lalu memanggil satu per satu nama pekerja di rumah itu. Diberikannya amplop tebal kepada mereka. Saat membuka isinya, mata mereka membelalak tak percaya. Jumlah uang itu sangat banyak, mungkin setara setengah tahun gaji mereka. "Apakah ada yang masih merasa tidak puas dengan gaji yang diberikan?" tanya Leon. Semua orang menggelengkan kepala. "Baiklah, silakan kemasi barang Kalian. Lalu pergi dari rumah ini secara baik-baik. Semoga kalian segera mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi di luar sana." Semua orang merasa puas dengan uang yang mereka dapatkan. Tanpa protes lagi, mereka segera meninggalkan kediaman William. Leon bernapas lega karena telah menyelesaikan tugas pertamanya dengan baik. Ia berharap, untuk seterusnya ia juga bisa bekerja dengan baik untuk tuannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN