Kepingan demi kepingan memori muncul di kepala Raja. Teringat jelas seolah semuanya baru terjadi kemarin. Memori yang kesemuanya hanyalah berisi kenangan sedih dan pilu.
Raja mengusap wajahnya kasar saat ia mengingat masa lalunya. Masa lalu menyakitkan dan tak ingin ia ingat lagi. Masa lalu yang membuatnya trauma dan tidak bisa berhadapan dengan seorang wanita. Yah, meski sekarang sudah lebih baik semenjak ada Leon di sampingnya. Karena sangat mustahil baginya menghindari kaum wanita. Pekerjanya di kantor lebih dari lima puluh persen adalah wanita, klien dan relasi yang lainnya tak jarang juga seorang wanita. Mau tak mau, suka tak suka, Raja harus sesekali bertemu dengan mereka.
“Tuan, Anda tak terlihat baik. Apakah Anda sakit, Tuan?” tanya Leon saat menghampiri tuannya.
“Aku baik-baik saja. Hanya sepintas teringat pada masa lalu yang tidak ingin aku ingat,” ucap Raja.
“Tuan jangan pernah lagi berusaha untuk mengingat hal-hal yang akan membuat Tuan Muda bersedih. Ingat saja, jika aku selalu bersama Tuan dan tak ada lagi yang perlu Tuan khawatirkan,” ucap Leon.
“Terima kasih, Leon. Entah bagaimana hidupku jika Kamu tak ada dan entah bagaimana nasibku nanti jika suatu saat Kamu bertemu dengan seorang wanita lalu menikah,” ucap Raja sedih.
“Kalau begitu, aku tidak akan menikah seumur hidupku,” ucap Leon asal.
“Sembarangan! Bagaimana aku akan bertanggung jawab pada ayahmu, karena telah membuat putra kesayangannya membujang seumur hidup,” ucap raja.
“Eum, kalau begitu ... aku tidak akan menikah sampai Tuan muda menemukan pendamping hidup,” ucap Leon.
“Beraninya Kamu mengejekku! Bertemu wanita saja aku tidak bisa, apalagi menikah,” ucap Raja dengan kesal. Leon tanpa sadar menertawakan bosnya.
“Sekarang Kamu berani menertawakanku,” ucap Raja pura-pura marah.
“Maafkan saya, Tuan. Saya yakin akan datang masanya di mana Tuan akan menemukan wanita yang membuat Tuan Raja nyaman dan merasa aman. Wanita itu juga yang akan melenyapkan trauma Anda,” ucap Leon.
“Aku tidak yakin, sepertinya hal itu sangat mustahil. Karena tubuhku selalu bereaksi lain setiap kali berjumpa dengan makhluk bernama wanita tersebut,” ucap Raja.
“Yakinlah Tuan , suatu saat Tuan akan sembuh dan semua akan baik-baik saja,” ucap Leon.
“Tapi di zaman sekarang, adakah wanita yang tidak memandangku sebagai pewaris ER Group? Adakah wanita yang menyayangi aku secara tulus, tanpa memandang harta yang aku miliki? Atau karena wajahku?” tanya Raja.
“Kalau soal itu, Leon tidak mengerti, Tuan. Karena saya lebih kurang hampir sama dengan Anda. Kurang mengerti tentang wanita,” ucap Leon.
“Ck! Sia-sia aku bicara denganmu yang setiap hari hanya bergaul denganku,” ucap Raja.
Kalau aku hanya bergaul denganmu, lalu Anda itu apa Tuan? Anda hanya bisa dekat dan percaya kepada saya. Sementara saya, paling tidak ada berpuluh anak buah saya yang berinteraksi dengan saya di setiap harinya, gerutu Leon dalam hati.
“Eh, mana kucing hitam itu? Sepertinya ia sama sekali tidak terlihat sejak siang tadi setelah aku marah,” tanya Raja.
“A-apa Tuan? Anda menanyakan kucing itu?” tanya Leon tak percaya.
“Ehem! Jangan salah paham. Aku menanyakannya karena dia sudah sangat berjasa padaku. Jika dia tidak ada mungkin aku sudah tidak ada di dunia ini lagi,” jawab raja.
Leon mulai mengerti kenapa Raja yang selama ini sangat takut pada kucing, mau membawa pulang kucing hutan itu.
“Dia ada di rumah belakang, saya menyuruh Boni mengikatnya. Jadi saya pastikan dia tidak akan berkeliaran di rumah ini. Jadi Tuan Muda tidak perlu khawatir dan takut,” ucap Leon.
“Apa diikat?” Raja tampak tak suka.
“Iya, tentu saja. Kalau dia tidak diikat, dia akan ke mana-mana dan akan membuat Tuan merasa terganggu,” ucap Leon.
Raja jadi merasa sedikit bersalah, apalagi saat ia ingat bahwa kucing itu paham akan bahasa manusia. Ia yakin, si Hitam sangat kesal dan marah karena diikat.
Apa aku suruh mereka lepaskan saja, ya? Tapi .... Raja bimbang. Membuat ia teringat pada sebuah insiden yang menyebabkan kucing peliharaannya dulu mati. Kucing kesayangannya yang juga dibunuh oleh orang-orang kejam itu. Bukan itu saja, para manusia jahat itu sengaja menyiksa kucing itu di depan matanya. Semenjak itu, Raja takut pada kucing. Karena mengingatkan pada Manis, Kucing peliharaannya.
"Tuan ...." Suara Leon membuyarkan lamunannya.
"Ah iya." Raja mengusap tengkuknya. "Suruh Boni melepaskannya, aku ... mau menghilangkan traumaku. Semoga sedikit demi sedikit, ketakutanku pada makhluk itu bisa terobati."
"Apakah benar, tidak apa-apa?" tanya Leon.
"Em, ya. Lakukan saja."
"Kalau dia sampai berkeliaran kemari, Tuan?" tanya Leon belum yakin. Karena ia tahu, Raja dulu sangat benci melihat kucing.
"Yah, tidak apa-apa. Mereka kan hewan, sudah tentu tidak bisa diatur. Asal ia tidak mengganggu saat aku makan," ucap Raja.
"Baiklah, Tuan. Akan saya lepaskan kucing itu. Sebab Boni pergi mengantarkan jasad Ris ke kediamannya," ucap Leon.
Wajah Raja berubah mendung, entah sudah ke berapa kalinya hal ini terjadi. Anak buah Leon lagi-lagi menjadi sasaran paman dan bibinya.
"Oh ya, Leon, selain uang duka, berikan gaji terakhir Ris sebanyak sepuluh kali lipat kepada keluarganya," perintah Raja.
"Baik, Tuan," ucap Leon. "Kalau begitu saya akan melepaskan kucing itu, lalu mengurus gaji Ris."
Raja mengangguk, Leon pun segera pergi untuk melaksanakan tugasnya.
***
Hitam sangat marah saat melihat Leon yang berjalan mendekatinya. Ingin sekali, ia menggigit pria itu. Pria yang telah membuat ia terkekang di tempat itu. Membuat Hitam harus menahan keinginannya untuk kencing, karena ia tidak bisa buang air di sembarang tempat. Apalagi, Boni sudah memperingatkan dirinya.
Di luar dugaan, Leon duduk berjongkok di hadapannya. Lalu dalam diam pria itu melepaskan tali kekang yang melingkar di lehernya.
Ajaib, pria ini melepaskanku, batin Hitam.
"Aku akan melepaskanmu, tapi jangan buat ulah di hadapan tuan muda. Bersikap baiklah, dan jangan berkeliaran di meja makan, karena tuan paling tidak menyukainya," ucap Leon sembari membuka ikatan.
Iya, iya aku mengerti, jawab Hitam dalam hati.
"Cih! Kenapa aku jadi orang gila seperti Boni? Mengajak bicara kucing sepertimu. Memangnya Kamu akan paham? Kamu hanya seekor kucing yang tidak akan mengerti ucapanku." Leon menertawakan dirinya sendiri.
Apa salahnya berbicara denganku? Aku paham bahasa kalian, tahu tidak? Andai aku bisa mengeluarkan suara sudah pasti Kamu akan sangat terkejut, ucap Hitam lagi.
"Nah, sudah. Sekarang Kamu sudah bebas. Ingat! Jangan berkeliaran di meja makan. Jika lapar minta saja pada Boni," ucap Leon seraya mengusap kepala Hitam.
Dia menyebalkan sekali. Aku harus memberinya pelajaran.
Krauk!
Tiba-tiba saja, Hitam menggigit tangan Leon.
Rasakan! Hitam senang karena bisa balas dendam. Lalu secepat kilat, kucing itu kabur. Terlebih ia sudah tidak tahan lagi untuk buang air kecil.
"Arghhh!" Leon meringis melihat tangannya yang berdarah. "Kenapa aku merasa kucing itu paham bahasaku? Dia seperti menggigitku karena marah. Bahkan ekspresinya memperlihatkan ketidaksukaannya padaku. Aih, apa yang aku pikirkan. Lebih baik aku obati lukaku atau aku akan terkena rabies gara-gara kucing kecil itu."