Sialan! Hampir saja aku ngompol di tempat, gerutu Hitam setelah selesai menunaikan hajatnya di kebun.
Lah, aku kan emang kucing ya. Kenapa aku harus lari demi buang air kecil, ucap Hitam seraya tertawa geli.
Ah, sebenarnya dari dulu apa aku ini seekor kucing? Tapi kenapa aku merasa kalau aku ini dulu adalah makhluk lain. Manusia misalnya ... tunggu dulu! Aku bahkan paham bahasa manusia. Jangan-jangan aku adalah manusia yang dikutuk menjadi kucing, ucap Hitam lagi dengan pikiran yang mulai melantur ke mana-mana.
Dasar kucing bodoh! Zaman sekarang mana ada cerita seperti itu. Ini pasti karena aku terpengaruh oleh Boni yang sering melihat acara televisi, ucap Hitam.
Ah ya, lebih baik aku menonton acara televisi saja sambil bersantai menunggu Boni pulang memberiku makan. Daripada aku memikirkan hal konyol seperti itu, ucap Hitam seraya naik ke atas sofa.
Hitam tampak senang melihat remote kontrol yang tergeletak di atas meja. Dunia benar-benar berpihak padanya, ia bisa menyalakan televisi lalu melihat drama Korea yang ia sukai. Hitam lantas melompat, lalu meniru Boni yang biasanya menyalakan televisi. Hitam tersenyum saat televisi menyala. Lalu dengan lincah kaki depan miliknya ia menekan tombol remote untuk mengganti saluran televisi. Senyumnya mengembang saat tayangan yang ingin ia lihat sudah tampak di layar. Ia menambah volume suara lalu melompat kembali ke atas sofa dan tidur santai di sana.
Hoam, enak sekali kan tiduran di tempat dingin dan nyaman seperti ini, sambil menonton serial romantis seperti ini, ucap Hitam sembari setengah memejamkan mata. Matanya mengantuk, tetapi di sisi lain, ia masih ingin menikmati tayangan televisi.
“Hei! Kenapa Kamu bisa ada di sini?” Sebuah suara mengejutkan Hitam. Membuat Hitam yang hampir terlena terkejut dibuatnya. Mata Hitam terbuka kembali lalu ia mengangkat kepala.
Cih! Kenapa makhluk ini datang saat aku ingin bersenang-senang di tempat nyaman ini? Sialan! gerutu Hitam.
“Oh ya, siapa yang melepaskan talimu? Jangan bilang Kamu menggigitnya sampai putus. Tapi kalau Kamu gigit, pasti tali itu masih tersisa di lehermu,” ucap Boni lagi seraya memindahkan Hitam ke atas pangkuannya dengan sayang.
“Astaga, kamu kan tidak bisa berbicara. Aku bertanya seribu kali pun Kamu tidak akan mungkin mengerti dan menjawab pertanyaanku,” ucap Boni seraya tertawa kecil.
Hei bodoh! Aku mengerti ucapanmu dan aku sudah menjawab semuanya. Hanya saja Kamu yang bodoh karena tidak bisa mendengar ucapanku, jawab Hitam dengan kesal.
“Aku yang melepaskannya.” Suara bariton itu menyahut.
Boni menoleh ke sumber suara. Ia melihat Leon yang datang dengan tangan yang diperban. Boni penasaran kenapa tangan atasannya terluka sementara Hitam tertawa geli, ia yakin bahwa pasti tangan Leon terluka karenanya.
“Oh, Tuan,” seru Boni. “Tangan Tuan kenapa? Adakah penyerang? Atau adakah sesuatu yang terjadi?”
“Ada,” jawab Leon membuat mata Boni membulat. “Si kecil hitam inilah yang melakukannya padaku. Sepertinya dia dendam karena aku memintamu mengikatnya.”
“Maksud, Tuan?” Boni sulit mempercayai ucapan Leon.
“Si kumis berbulu hitam ini yang telah menggigitku saat aku melepaskan talinya,” ucap Leon. Boni jadi tidak enak hati pada atasannya.
“Hitam, jangan berbuat seperti itu. Itu tidak baik,” gumam Boni seolah menasihati Hitam.
Biarkan saja. Biar dia tahu rasa karena telah mengikatku, ucap Hitam seraya menatap tajam ke arah Leon.
Leon tersenyum saat melihat tatapan penuh kebencian Hitam padanya. Pria itu mulai paham mengapa Raja tidak ingin ia membuang kucing itu, kucing itu memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh kucing-kucing lainnya. Leon mulai berpikir Jika Hitam mengerti bahasa manusia. Akan tetapi, ia kurang percaya hal-hal seperti itu, ia jadi ingin membuktikannya.
“Boni, sudah biarkan saja. Namanya juga kucing dia tidak akan paham dengan ucapan kita,” ucap Leon.
“Meong!” (Enak saja! Aku paham dengan semua yang kalian ucapkan tahu.) Ingin sekali Hitam memarahi dua pria yang menganggap ia tak tahu apa-apa itu.
Karena kesal dianggap tidak memahami bahasa mereka, Hitam lantas melompat turun dan berlari pergi.
“Wah, ke mana dia mau pergi. Kelakuannya benar-benar seperti orang yang sedang merajuk saja,” ucap Leon.
“Ah, Tuan bisa saja,” ucap Boni. Dalam hati, pria itu membenarkan, kelakuan Hitam benar-benar seperti paham akan bahasa manusia.
“Ngomong-ngomong sejak kapan Kamu suka drama Korea?” tanya Leon.
Boni mengalihkan pandangannya ke arah televisi yang menayangkan acara drama Korea. Dia baru datang dan belum menyentuh remote sama sekali. Saat ia datang, hanya ada Hitam di sana dan televisi sudah dalam keadaan menyala.
“Bukannya Tuan Leon yang menyalakannya?” tanya Boni.
“Kapan aku menyalakannya? Aku baru saja datang dan duduk di sini,” jawab Leon.
“Tadi saat Tuan kemari dan melepaskan ikatan Hitam?”
“Aku hanya pergi ke sana untuk melepaskan ikatan di leher Hitam lalu aku pergi. Aku sama sekali tidak datang kemari,” ucap Leon.
Kalau begitu, siapa yang menyalakan televisi? Tidak mungkin Hitam kan? Karena hanya ada Hitam di ruangan ini. Astaga mana mungkin seekor kucing bisa menyalakan televisi, ucap Boni dalam hati.
“Ah, mungkin seseorang lupa mematikan televisi tadi, Tuan,” ucap Boni.
“Tapi aku tadi sepertinya tidak mendengar suara televisi saat aku datang melepaskan ikatan Hitam,” ucap Leon seraya berpikir dan mengingat-ingat.
“Ah, mungkin suaranya kurang terdengar dari situ, Tuan.” Meski Boni sendiri meragu, ia tetap ingin meyakinkan Leon.
“Eum, yah mungkin saja begitu.” Leon mengangguk-angguk dengan hati yang meragu. “Ah ya, bagaimana dengan pemakaman Ris?”
“Keluarga Ris sangat terkejut dan syok, tapi mereka sudah tahu sejak awal kemungkinan yang akan terjadi saat Ris masuk ke dunia kita, jadi semua diselesaikan secara damai. Mereka berterima kasih atas uang duka dan gaji terakhir Ris,” ucap Boni.
“Syukurlah kalau begitu. Kasihan juga, Ris kan masih harus menanggung biaya hidup ketiga adiknya,” ucap Leon.
“Mau bagaimana lagi, Tuan? Ini kesalahan Ris juga. Andai ia mendengar ucapan Tuan, pasti semua tidak akan menjadi seperti ini,” ucap Boni.
“Baiklah, aku harus kembali ke rumah utama. Masih ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan hari ini,” ucap Leon.
“Apa perlu bantuan saya, Tuan?” tanya Boni saat melihat tangan Leon yang terluka. Ia berpikir pasti atasannya itu tidak akan nyaman bekerja dengan tangan seperti itu.
“Eum, baiklah. Ayo ikut aku.” Kedua orang itu lantas berdiri dan pergi ke rumah utama, tempat di mana Leon mengerjakan pekerjaannya.