BAB 71

1106 Kata
Ih malas sekali berada di tengah-tengah mereka dan dianggap tidak memahami segalanya. Aku ini memang binatang, tapi aku paham kok bahasa mereka. Sungguh mereka sangat meremehkan aku. Aku, tuan katak di hutan, ular itu bisa berbicara dengan bahasa kalian. Tapi .... Tiba-tiba saja Hitam kepikiran sesuatu. Kenapa anj*ng di depan rumah tuan muda tidak pernah bicara padaku, ya? Aneh! Aku mau menyapanya pun juga takut. Lebih baik aku pergi jalan-jalan mencari teman baru. Siapa tahu aku bisa bertemu dengan kucing lain yang lucu dan berteman, ucap Hitam penuh semangat. Hitam terus saja berjalan menyusuri area rumah itu mencari jalan keluar. Akan tetapi, sudah berapa kali ia berkeliling ke seluruh tempat, ia hanya akan kembali ke tempat semula dan tak menemukan jalan keluar apa pun. Hitam jadi pusing dibuatnya. Rumah itu benar-benar seperti labirin raksasa yang akan membuat yang tidak pernah masuk ke dalamnya akan kebingungan. Ya ampun! Di mana aku berada? Kenapa aku lagi-lagi sampai di tepat ini? Apa aku tersesat? tanya Hitam pada dirinya sendiri. Rumah ini sangat membingungkan. Hitam lantas mencoba berkeliling sekali lagi menemukan jalan yang akan membawanya ke dunia luar sana. Akan tetapi, sampai Hitam kelelahan dan merasa lapar, jalan itu sama sekali tidak ia jumpai. Hah ... hah ... aku menyerah. Aku tak sanggup lagi berkeliling di rumah yang sudah seperti istana ini ... is-tana? Kenapa aku seperti familier dengan nama tempat itu, ya? Tapi apa? Di mana? Seperti apakah tempat itu? Hitam mencoba mengingat-ingat tempat yang ia sebutkan tadi, tepatnya meluncur begitu saja dari bibirnya. Ah persetan dengan nama tempat itu. Aku benar-benar tidak bisa mengingatnya, ucap Hitam. Hitam lantas meringkuk di atas rerumputan karena lelah. Diletakkannya kepala di atas kaki depannya. Lalu ia melamun, pikirannya menerawang jauh ke atas awan. Begitu banyak misteri dalam hidupku. Aku tidak memahami asal usulku. Apa aku punya orang tua? Dari mana aku berasal? Seperti apakah tempat tinggalku dulu? Apa aku punya keluarga, teman? Kenapa aku sama sekali tidak bisa mengingat apa pun? Hitam merasa sedih karena ia tidak tahu identitas dirinya. Ia bingung akan asal usul dirinya. Harusnya ia juga mempunyai keluarga kucing juga, kan? Tapi Hitam sedih jika ia mengingat bahwa ia hidup terlunta-lunta di hutan sendirian sampai akhirnya ia bertemu dengan Raja. Hitam mendongak, menatap ke atas langit yang begitu tinggi. Ia sangat penasaran, ada apakah di atas langit sana. Pemandangan seperti apakah di atas sana. Adakah makhluk yang tinggal di atas sana? Apakah di sana menyenangkan? Ia kembali murung karena segala pertanyaannya tidak menemukan jawaban. Hitam menundukkan kepala kembali, bahkan meletakkan kepalanya di kaki depan lagi. Di saat itulah, Hitam melihat sebuah pohon mangga yang besar dan kokoh berbuah dengan begitu lebatnya. Tiba- tiba saja, ia memiliki ide cemerlang agar ia bisa keluar dari tempat itu. Kucing itu lantas memanjat pohon mangga itu yang dekat dengan pagar tembok tepi rumah. Lalu setelah ia merasa cukup tinggi, ia melompat keluar dan hap! Ia mendarat dengan sempurna di atas jalanan aspal. Huft! Hitam lega karena berhasil mendarat dengan selamat. Berhasil. Akhirnya aku bisa menghirup udara kebebasan. Hitam bersorak gembira karena berhasil keluar dari tempat yang tertutup seperti penjara itu. Tapi nanti bagaimana caranya aku masuk kembali ke rumah itu lagi? Hitam bingung bagaimana cara ia melompati pagar tinggi itu. Ah, terserahlah. Lagipula di rumah itu aku diikat, lebih baik seperti ini, kan? Bebas, bisa berkeliaran ke mana pun, ucap Hitam. Tapi di rumah itu semua makanan tersedia. Aku tidak perlu bersusah payah menangkap serangga. Tiba-tiba ia sedih jika memikirkan bagaimana susahnya mendapatkan makanan. Namun sebentar kemudian mahkluk berkumis itu kembali optimis. Sudahlah, yang penting aku pergi jalan-jalan dulu. Masalah bagaimana aku pulang ke rumah itu lagi, nanti aku pikirkan. Hitam mulai fokus di jalanan tempat ia berada. Hitam merasa tempat itu sangat asing baginya. Jalanan itu begitu luas dan bukan terbuat dari tanah. Jalanan yang ia pijaki saat ini begitu keras dan berwarna hitam mulus. Ada banyak sekali benda yang berlalu lalang, dengan kecepatan seperti angin. Astaga! Apa itu tadi? Hitam merasa takjub melihat mobil dan motor yang berlalu lalang di hadapannya. Seumur hidupnya, baru sekali Hitam melihat benda ajaib memiliki kecepatan tinggi seperti itu. Apa aku salah lihat? Tidak ini nyata, benda yang bergerak cepat itu benar-benar ada. Wushhh! mobil melaju tepat di samping Hitam. Kucing itu sangat terkejut, karena jarak tubuhnya dan mobil itu sangat dekat. Mungkin hanya satu atau dua sentimeter saja. Hitam ketakutan karena hampir terserempet, kucing itu segera menepi, menjauh dari jalanan luas yang dipenuhi oleh kendaraan itu. Jantung Hitam hampir meloncat keluar karena sedikit saja lagi, nyawanya melayang. Hah! Hah! Hah! Ternyata dunia luar begitu berbahaya, hampir saja aku .... Napas Hitam tersengal, tubuhnya bergetar hebat. Bagaimana ini? Aku harus ke mana pula? Tadi dia yang bersemangat pergi keluar dan sekarang ia justru jadi kebingungan. Melihat kendaraan yang berlalu lalang, melaju dengan cepat saja membuat kepalanya begitu pusing. Akhirnya Hitam memutuskan untuk berjalan menyusuri tepi jalan, entah ke mana langkah kakinya akan membawa. Hitam terus berjalan, menyusuri trotoar, menyingkir karena ia trauma dengan kejadian tadi. Hitam jadi sangat berhati-hati. Setelah beberapa lama ia berjalan, ia sampai di sebuah kampung. Mata Hitam membelalak tak percaya saat melihat rumah-rumah di kawasan itu tidak sebesar rumah raja. Bahkan rumah di area itu terkesan sangat sempit dan kumuh. Bahkan antara satu rumah dan rumah lainnya tidak ada jarak. Saling berhimpitan, bahkan tak jarang saling bergandengan. Kenapa rumah di sini sangat berbeda dengan rumah tuan Raja? tanya Hitam. Euhh, bau apa ini? Hitam sedikit risih, tatkala ia mencium bau busuk di tempat itu. Rupanya bau tak enak itu bersumber dari got yang ada di depan rumah masing-masing warga. Hitam sekarang sadar, bahwa tempat tinggal orang-orang itu memang sangat berbeda dengan tempat tinggal tuannya. “Meong ....” Saat Hitam masih merasa mual karena bau busuk yang menusuk indera penciumannya, tiba-tiba muncul seekor kucing berbulu putih dan menggemaskan. Hitam sangat senang melihat kucing itu. Lalu tanpa ragu, Hitam menyapanya dengan ramah, Hei! Akhirnya aku menemukan makhluk yang sama denganku. Hai namamu siapa? Namaku Hitam, yah begitulah orang-orang memanggilku. “Meong ....” Bukannya menjawab pertanyaan Hitam, kucing itu hanya mengeluarkan suara eongan. Hei, kita sebangsa bukan? Kamu paham kan perkataanku? tanya Hitam. “Meong ....” Lagi-lagi kucing itu hanya menjawab dengan suara eongan. Kamu sedang menggodaku, ya? Ayo, bicaralah seperti aku bicara jangan hanya mengeong seperti kucing bodoh, ucap Hitam penuh amarah. “Meong ....” Tanpa ekspresi kucing itu kembali mengeong layaknya kucing yang lainnya. Kenapa dari tadi Kamu mengeong terus? Kamu mau membodohi aku, ya? Jangan harap aku akan terpengaruh. Emosi Hitam mulai terpancing, ia benar-benar marah. Namun, sebentar kemudian Hitam mulai berpikir, ia merasa ada yang salah dengan kucing yang ada di hadapannya itu. Jangan-jangan ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN