“Hei, Kamu mau ke mana, Kitty? Jangan berlari, Kitty. Atau Kamu akan terluka lagi,” teriak Raja memanggil kucing itu. Akan tetapi, Kitty telah menghilang dalam sekejap mata..
“Huft! Mau ke mana sih, dia?” Raja cemas. Ia takut Kitty akan terluka lagi. Namun ingin mengikuti pun tidak mungkin Raja tidak tahu ke arah mana Kitty menghilang.
Sementara itu ....
Duk duk duk.
Kitty mengangkat kaki depannya untuk ia gunakan mengetuk pintu kamar Leon. Setelah sebelumnya kucing itu berhasil menyelinap masuk ke dalam rumah itu lewat jendela yang lupa dikunci.
Leon jelek! Cepatlah bangun! Tuanmu sedang kelaparan. Apakah Kau tidak kasihan kepadanya? panggil KItty.
Duk duk duk.
Kitty kembali memukul-mukul pintu meski hanya menimbulkan suara yang tak terlalu keras.
Leon! teriak Kitty kesal.
“Meong meong meong.”
Cklek.
Seorang pria datang membukakan pintu seraya memakai mengusap mata dan memakai kecamatanya kembali. Tampaknya pria itu baru bangun dari tidurnya.
“Siapa sih malam-malam begini mengetuk pintu?” Leon celingukan mencari orang yang telah mengetuk pintu kamarnya.
“Tidak ada siapa-siapa. Ck! Siapa yang mengisengiku,” ucap pria itu kesal saat tidak ada siapa pun di sana.
“Meong meong meong.” Kitty menarik ujung celana yang Leon pakai seraya mengeluarkan suara agar pria itu melihat ke arahnya. Refleks saja, Leon langsung menundukkan kepala dan melihat Kitty tengah menatapnya.
“Oh, Kamu rupanya.” Leon berjongkok lalu mengusap kepala Kitty.
Ayolah, Leon. Kita harus bergegas. Tuan sedang membutuhkanmu. Ayo, bantu Tuan, Leon, pinta Kitty.
“Meong meong meong.”
“Ada apa? Aku tidak mengerti apa yang Kamu katakan,” ucap Leon bingung.
“Meong meong meong.” Kitty menarik ujung celana Leon lagi lalu menggedikkan dagunya beberapa kali, menunjuk ke rumah utama. Beberapa detik, Leon berpikir lalu pria itu kembali bertanya.
“Apa terjadi sesuatu pada Tuan?” tanya Leon cemas.
Kitty mengangguk mengiyakan, agar Leon bergerak cepat dan segera pergi ke rumah utama. Benar saja, pria itu langsung berlari saat mendengar soal tuannya.
Maaf Leon aku terpaksa membohongimu. Agar kamu mau datang, ucap Kitty. Kucing itu berlari lebih cepat mendahului Leon, ia ingin menunjukkan pada Leon di mana majikannya berada.
***
"Mau ke mana sih kita , Hitam? Jangan bercanda!" hardik Leon kesal. Pasalnya Kitty tidak membawa dirinya ke kamar atas tapi malah ke dapur.
Sudah ikuti saja, dasar cerewet, gerutu Kitty.
Beberapa saat kemudian Leon tercengang melihat tuannya benar-benar di dapur entah sedang melakukan apa.
“Aw!” erang Raja saat tanpa sengaja tangannya tersenggol wajan panas. Saat itu, minyak yang bercampur dengan sedikit air juga meletup-letup membuat pria itu ketakutan.
“Apa yang Tuan lakukan?” tanya Leon cemas melihat Raja terluka.
"Astaga! Kamu, Leon. Kamu datang tiba-tiba dan mengejutkan aku," ucap Raja dengan d**a berdebar kencang.
Pria itu dengan sigap segera mematikan kembali kompor. Lalu mengajak Raja duduk di meja makan dapur.
“Tuan mau apa?” tanya Leon setelah suasana lebih tenang.
“Aku lapar, Leon. Aku mau memasak makanan. Tapi, aku bahkan tidak tahu apa yang harus aku masak, apa bahan yang digunakan dan bagaimana cara memasaknya,” ucap Raja seraya tersenyum lebar.
Sesungguhnya, Raja sangat bahagia bisa melakukan hal ini. Ini adalah pengalaman pertamanya yang sangat mendebarkan.
“Astaga ... lalu tangan Tuan kenapa?” tanya Leon saat melihat Raja terus saja memegangi lengannya.
“Ah, hanya luka kecil,” jawab Raja.
Leon lantas memegangi lengan pria itu dan tanpa sengaja, Leon menyentuh bagian yang terluka dan sakit.
"Argh!" Pria itu kembali mengerang kesakitan.
"Maafkan saya, Tuan." Leon merasa bersalah. Pria itu dengan cepat melepaskan cekalan tangannya.
“Biarkan saya melihatnya.” Leon melerai tangan Raja dan sangat terkejut melihat luka bakar di lengan Raja. Leon menatap tuannya dengan tatapan penuh tanya.
“Tidak sengaja menyenggol penggorengan,” ucap pria itu tanpa rasa bersalah.
Leon mengembuskan napas kasar. “Saya sudah bilang kan? Panggil saya kalau Tuan membutuhkan sesuatu.”
Mana bisa aku terus merepotkanmu, Leon. Kamu sudah terlalu lelah mengurusku, batin Raja.
Leon beranjak dari duduknya lalu mengambil kotak obat di sudut ruangan. Lalu kembali dengan benda tersebut. Masih dengan terus mengomeli raja, Leon mengobati luka pria itu.
“Nah sudah siap. Jangan sentuh apa pun lagi atau Tuan akan terluka lagi. Aku akan memasakkan makanan untuk Tuan,” ucap Leon.
Pria itu lantas bangkit dan memakai apron miliknya. Lalu dengan cekatan, Leon menyiapkan bahan-bahan dan mengolah ya. Leon melakukannya seorang diri dengan terampil. Raja pun sampai kagum dibuatnya. Dalam sekejap saja, makanan telah tersaji di hadapannya.
“Nah, sudah siap, Tuan. Silakan dinikmati.” Sepiring nasi goreng sederhana yang sangat harum baunya tersaji di hadapan Raja.
Raja menatap makanan di hadapannya. Ia tidak menyangka jika Leon semahir itu. Setahunya, Leon hanya pandai membuat bubur. Namun di luar dugaan, pria itu ternyata bisa memasak makanan yang lainnya.
“Kenapa Tuan? Anda tidak suka, ya?” tanya Leon ragu-ragu. Ia lupa, Raja tidak pernah makan nasi goreng.
“Kalau Tuan tidak suka, saya akan memasak yang lainnya.” Tangan Leon terulur, hendak mengambil kembali piring nasi goreng dari hadapan Raja.
“Hentikan! Siapa yang bilan aku tidak mau? Aku mau kok.” Raja memegangi piring nasi goreng itu, mencegah agar Leon tidak mengambilnya.
“Oh, begitu.” Leon meletakkan kembali piring di atas meja.
“Aku bahkan belum mencicipinya. Bagaimana bisa Kamu mau mengambilnya begitu saja?” tanya Raja dengan nada tinggi. Pria itu mengambil sendok dan garpu yang Leon sediakan lalu mencicipi makanan itu.
"Maafkan saya, Tuan."
Leon tersenyum lega saat Raja memakan makanan buatannya dengan lahap. Sementara itu, Kitty harus menelan salivanya berkali-kali. Ia ingin sekali makan makanan yang serupa dengan yang Raja makan. Sayang, Kitty yakin Leon tak akan membiarkannya meski masih ada sisa,
“Nah, untukmu.” Tanpa Kitty duga, Leon meletakkan setengah piring nasi goreng yang sama dengan milik Raja. Nasi goreng yang masih panas, terbukti dengan asap yang mengepul ke udara itu kini terhidang di hadapan Kitty.
“Wah, benarkah ini untukku?” tanya Kitty tak percaya. Kucing itu tak sabar untuk memakannya.
“Bisakah dia memakannya?” tanya Raja meragu. Setahunya, Kitty hanya suka ikan goreng.
“Yah, tergantung dia Tuan. Kalau dia mau, berarti dia bisa memakannya. Lagipula, kucing kampung seperti Hitam tidak terlalu pemilih," ucap Leon seraya mendudukkan diri.
"Leon, dia bukan kucing kampung seperti yang Kamu bilang. Lagipula, sekarang namanya bukan Hitam lagi. Namanya Kitty, Leon. Kitty," ucap Raja penuh penekanan.
"Ah, ya. Kitty, Tuan. Dia kucing spesial, bukan kucing kampung," ucap Leon mengikuti ucapan Raja. Dalam hati Leon merasa geli, saat Raja menamakan kucing itu dengan nama yang sangat imut.
"Nah, itu Kamu tahu." Raja kembali menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
Sementara itu, Kitty sibuk memakan makanannya saat Leon dan Raja berdebat. Ia sudah tidak sabar memakan makanan yang baunya sangat menggugah selera itu.
“Lihatlah, Tuan. Betapa lahapnya dia makan," ucap Leon saat melihat Kitty makan lahap meski nasi masih panas.
"Wah, Kamu benar, Leon." Raja senang melihat Kitty makan dengan lahap. "Ngomong-ngomong Kamu tidak makan, Leon?"
"Ah, nanti saja. Saya tidak lapar, Tuan." Pria itu sebenarnya juga lapar, mengingat kesibukannya sejak semalam yang membuat ia tak sempat makan.
Kruyuuuukk.
Suara perut Leon berkhianat. Raja dan Kitty bisa mendengarnya karena suaranya cukup nyaring terdengar.
"Kamu bohong. Ayo makan."
"Tidak, Tuan. Saya tidak bisa," tolak Leon.
"Kenapa Leon?" tanya Raja.
"Karena saya tidak pantas. Saya hanya ...."
"Leon, jangan pernah lagi katakan hal itu. Kamu tahu kan aku menganggapmu apa? Kamu bukan orang lain, Leon. Kamu sudah aku anggap seperti adikku sendiri," ucap Raja.
"Tapi, Tuan. Apa kata orang jika saya makan dengan Anda ...."
"Aku tidak peduli anggapan orang. Aku sudah menganggapmu keluarga. Jadi jangan anggap aku orang lain juga." Raja bangkit dan mengambil piring baru. Ia ingin mengambilkan makanan untuk Leon.
"Tidak perlu, Tuan. Biar saya yang ambil sendiri," ucap Leon seraya merebut piring itu dari tangan Raja.
"Kamu duduklah, jika kemarin-kemarin Kamu yang melayaniku. Malam ini aku yang akan melayanimu," ucap pria itu.
"Sungguh ini tidak pantas. Lagipula tangan Anda sedang terluka," ucap Leon.
"Diam dan duduklah. Ini bukan permintaan tapi perintah. Kamu tahu kan aku paling tidak suka dibantah?" ucap Raja.
Akhirnya, Leon terpaksa duduk dengan tenang, menuruti apa yang Raja perintahkan.
"Nah, Leon. Mari kita makan, lalu tidur dengan nyenyak dengan perut yang kenyang," ucap Raja seraya meletakkan piring di hadapan Leon. Leon menatap Raja penuh rasa haru.
"Ayo makan, aku tidak memberinya racun, kok," ucap Raja seraya duduk kembali di kursinya.
"Leon, ingat. Aku ini saudaramu, bukan tuanmu. Jadi, aku tidak mau mendengar kata-kata bodohmu itu lagi," tegas Raja seraya melanjutkan kegiatan makannya.
"Tuan, terima kasih," ucap Leon dengan suara bergetar. Rasa nasi goreng buatannya mendadak terasa sangat nikmat malam itu.
Pria itu menangis, selama sepuluh tahun ini ia merasa tidak memiliki siapa-siapa. Namun, mulai malam itu, ucapan Raja membuatnya sadar bahwa Raja memang tidak pernah menganggapnya sebagai bawahan. Raj selalu menganggapnya seperti saudaranya sendiri.
"Hei! Kamu ini lelaki, Leon. Masa pria yang sering bermandikan darah lawanmu menangis seperti anak kecil begitu?" Raja mengusap air mata di sudut mata Leon.
"Terima kasih, Tuan. Terima kasih." Leon benar-benar bahagia.
Kitty pun tak dapat menahan air matanya. Diam-diam ia ikut menangis melihat kedekatan Leon dan Raja. Tiba-tiba saja, hati Kitty menghangat. Ia merasa seperti punya keluarga lagi.
Ah, dasar kucing sensitif.