Sementara itu di dalam mobil.
Kitty memandang kedatangan Raja dan Stella dengan perasaan cemburu. Dari balik kaca, karena ia sudah duduk di dalam mobil, ia melihat jelas bagaimana perhatian yang ditunjukkan oleh Stella kepada tuannya. Ia juga melihat bagaimana Raja tersenyum hangat pada wanita tersebut. Kucing itu semakin kesal dibuatnya. Ia benar-benar tidak suka melihat keduanya.
Setelah berpamitan pada Stella, Raja memasuki mobil dan Leon segera menutup pintu. Setelah itu, Leon berlari kecil menuju pintu sebelah, lalu masuk dan duduk di sebelah Kitty. Begitu Leon duduk, Kitty langsung naik ke atas pangkuan Leon. Ia masih kesal pada tuannya, ia tak mau duduk di pangkuan tuannya itu. Leon keheranan dengan tingkah laku Kitty, tetapi pria itu membiarkannya. Sama seperti Raja, ia mulai terbiasa dengan kehadiran kucing itu.
“Maaf telah mengganggu kesenangan Anda, Tuan," ucap Leon begitu ia masuk dan duduk di sebelahnya. Pria itu tertawa cekikikan, sepertinya Leon sengaja menggoda tuannya.
"Tutup mulutmu itu, Leon." Raja menatap Leon dengan tatapan tajam. Bukannya takut, Leon justru tertawa, menertawakan tuannya yang sedang dilanda kasmaran. Raja jadi kesal, karena Leon tidak takut padanya.
"Jalan, Pak!" Raja menyuruh sopir melajukan mobilnya. Ia tidak mau lagi menanggapi ejekan asistennya itu.
"Baik, Tuan." Sang sopir mulai menginjak pedal gas, mobil pun berjalan dengan perlahan.
"Tuan tidak mau melihat ke belakang? Stella masih melambaikan tangan dan memandangi kepergian tuan loh," ucap Leon.
"Ah, biarkan saja. Lagipula dia juga tidak akan bisa melihatku. Jendela ini kan membuat kita tidak terlihat dari luar. Sebentar lagi dia juga akan masuk ke dalam rumah, setelah mobil kita menghilang," ucap Raja cuek.
"Kitty, kemarilah! Kenapa Kamu jadi ikut Leon?" tanya Raja dengan suara ketus. Ia kesal melihat kucingnya yang biasanya selalu menempel padanya kini lebih memilih Leon.
Leon hanya bisa tertawa saat Raja mengambil Kitty dari pangkuannya. Leon tahu, Raja cemburu karena Kitty ikut dengannya.
"Tentu saja, Kitty memilihku, Tuan. Karena sekarang ada Stella yang perlu Tuan perhatikan," jawab Leon.
"Kitty, Kamu pilih ikut aku atau Kamu akan terabaikan saat Tuan memiliki pendamping nanti," bujuk Leon kepada kucing itu.
"Omong kosong! Meski aku menikahi seribu wanita sekali pun, Kitty tetap menjadi prioritas-ku. Kitty tetap istri pertamaku," ucap Raja seenaknya.
"Jangan mau Kitty, kalau denganku, Kamu akan menjadi yang pertama dan satu-satunya. Tidak akan ada seribu wanita seperti yang tuan Raja katakan," goda Leon lagi.
"Cih! Kitty adalah milikku. Jangan coba-coba mempengaruhi apalagi mengambilnya dariku." Raja memeluk kucing itu erat-erat seolah Leon akan mengambilnya.
"Cukup, Leon. Aku mau tidur dulu, bangunkan aku saat kita sampai nanti," ucap pria itu.
"Ehem, baiklah." Leon kembali pada dirinya yang profesional.
Raja menyandarkan kepala di sandaran kursi seraya memejamkan matanya. Akan tetapi, sebenarnya Raja tidak tidur. Ingatan tentang kejadian sebelum ia pergi tadi begitu mengusik pikirannya. Gadis itu dengan berani menciumnya. Gadis itu benar-benar sangat nekat mengecup bibirnya. Seingatnya, wanita yang hadir di malam itu bahkan tidak berani melakukan apa pun padanya. Dirinyalah yang begitu agresif menyerang.
Kenapa aku merasa sangat aneh? Aku memang sudah tidak terkena serangan panik lagi, tetapi ... kenapa aku merasa bibir Stella yang bersentuhan dengan bibirku rasanya begitu berbeda dengan malam itu. Aku juga tak berdebar lagi seperti saat pertama kali aku menciumnya. Apa ini karena aku sudah terbiasa? Atau bagaimana? Argh, kenapa perasaanku jadi asing begini? Harusnya aku senang saat calon istriku menciumku? Tapi ini tidak. Dia memintaku memanggilnya dengan panggilan sayang pun aku tidak bisa. Bibirku berat sekali untuk mengucapkannya ...,' batin Raja.
***
Dari vila, Raja dan Leon langsung menuju ke kantor. Mereka tidak ingin membuang waktu karena ada hal yang penting dan mendesak yang harus dilakukan. Akhirnya, meski lelah Raja dan Leon terpaksa harus langsung bekerja. Sesampainya di kantor, Raja langsung mengadakan rapat tertutup dengan pihak-pihak terkait.
"Apa?" tanya Raja hampir tidak percaya. "Perusahaan raksasa dari Jepang ingin bekerja sama dengan kita? Apa ini tidak salah?"
"Iya, Tuan. Kemarin lusa, kita mendapatkan surel dari sana. Mereka berkata tertarik untuk bekerja sama dengan kita," jawab salah seorang anak buah Raja.
"Syukurlah. Senang ada hal baik yang terjadi selama aku pergi," ucap pria itu.
"Rencananya mereka akan berkunjung kemari besok lusa, Tuan. Bagaimana?"
“Baiklah, kalau begitu kalian siapkan saja semuanya,” perintah Raja. "Atur semua persiapannya dengan baik. Jangan sampai membuat mereka kecewa."
“Baik, Tuan.”
“Kalian bisa mulai mengerjakan pekerjaan kalian mulai sekarang,” perintah Raja.
Mereka segera kembali ke tempat kerja masing-masing untuk melakukan tugas mereka. Kini di dalam ruangan rapat itu hanya ada Raja dan Leon.
“Leon!” panggil Raja.
“Iya, Tuan," jawab pria itu.
“Awasi semuanya. Pastikan tidak ada masalah dan besok lusa semuanya akan berjalan dengan baik,” ucap Raja.
“Baik, Tuan." Leon tampak ingin mengatakan sesuatu. Kemudian, pria itu berbicara dengan perlahan. "Tapi apakah kita tidak perlu menyelidikinya dulu, Tuan? Saya merasa ada sesuatu yang aneh. Saat kita tidak ada kenapa tiba-tiba ada investor dari luar negeri? Kedatangan mereka juga sangat mendadak. Besok lusa? Cepat sekali."
“Leon, jangan terlalu parnoan. Lebih baik kita berpikir positif saja,” ucap Raja.
“Saya juga ingin begitu, Tuan. Tapi ... saya merasakan sesuatu yang ganjil
Tuan, saya harap Tuan memikirkannya kembali. Karena selama ini insting Tuan selalu benar dan tidak meleset. Coba Tuan selidiki dan pertimbangkan ucapan saya. Karena saya benar-benar merasakan firasat tidak baik tentang hal ini,” ucap Leon.
Raja terdiam, tampaknya pria itu sedang berpikir.
"Kalau begitu minta bagian IT untuk memeriksa alamat surel. Kalau perlu lacak, benarkah mereka adalah investor dari Jepang atau bukan,” ucap Raja.
“Baik, Tuan.” Leon segera pamit dan undur diri untuk melakukan tugas penting dari Raja.
"Benar juga yang dikatakan Leon. Kenapa aku yang biasanya sangat kritis jadi gegabah seperti ini?" Raja memijat kepalanya yang pening. Pria itu sama sekali tidak bisa berpikir jernih.
“Arghh! Aku bisa gila. Karena di dalam pikiranku hanya ada gadis di malam itu dan Stella. Kenapa bayangan tentang kejadian malam itu selalu melekat di pikiran dan tak mau hilang. Mau sekeras apa pun aku memikirkannya, kenapa aku merasa mereka adalah orang yang berbeda,” ucap Raja merutuki dirinya.
“Aku bahkan sampai tidak bisa berkonsentrasi sama sekali. Andai Leon tidak mengingatkan aku tadi, aku pasti sudah membuat keputusan yang gegabah,” ucap Raja lagi.
"Ah, ya. Kitty!" Raja membutuhkan kucing itu saat ini.
Dia berdiri dan hendak mengambil Kitty yang ia titipkan pada Hani karena harus melakukan rapat mendadak tadi.
"Mana Kitty?" tanya Raja pada wanita itu.
"Ini, Tuan." Hani mengambil Kitty yang berada di pangkuannya dan menyerahkannya pada Raja.
"Pesankan tiga porsi makanan, ah tidak!Pesan paket spesial di restoran biasa ditambah lagi ikan goreng," perintah Raja. Selain lelah, dirinya dan Leon sudah lapar karena mereka tidak sempat sarapan.
"Baik, Tuan," jawab Hani.
Raja segera membawa Kitty kembali ke ruangannya. Hani segera memesan makanan secara online melalui ponsel miliknya setelah Raja menutup pintu ruangannya.
Di dalam ruang kerja Raja.
"Kitty! Hiburlah hatiku yang sedang dilanda kegelisahan ini," ucap Raja yang merebahkan tubuh di sofa panjang. Pria itu mengangkat tubuh Kitty, meletakkannya di d**a dan memeluk kucing itu.
"Hah! Bagaimana bisa aku begitu bergantung padamu Kitty? Kegelisahanku hanya bisa hilang saat aku bersamamu seperti ini. Bahkan hatiku langsung tenang begitu memelukmu. Kitty, terima kasih telah hadir di dalam hidupku. Kitty, aku sangat membutuhkanmu, jadi jangan pernah menghilang dari hidupku, Kitty! Mengerti?" ucap pria itu seraya mengeratkan pelukannya.
Tuan, aku pun sama. Semakin lama, aku semakin bergantung padamu. Dan sikapmu ini, membuat aku kesusahan untuk menghilangkan perasaan ini. Tuan, kenapa semakin hari, aku semakin menyukaimu? batin kucing itu seraya memejamkan mata. Ia menikmati momen hangat itu. Kitty ingin selamanya bisa begini. Ia ingin selalu bersama Raja. Ia ingin selalu di dekat pria itu meski dalam wujud kucing sekali pun.