BAB 115

1101 Kata
“Kitty, bermainlah dahulu! Aku ingin bicara lagi dengan Leon.” Raja melepaskan kucing kesayangannya dan mulai berbicara dengan asistennya itu. Kitty dengan patuh turun dari pangkuan Raja dan mulai berjalan ke sana-kemari seolah ia tengah bermain-main. “Bagaimana Leon?” tanya Raja. “Ini, Tuan.” Leon menyerahkan sebuah map hasil penyelidikan pihak IT. Raja menerimanya, lalu membaca isi dokumen dalam map tersebut. “Tidak ada yang salah, ya? Hm ... kalau begitu kita bisa menyetujui kunjungan mereka? Kita bisa bekerja sama?” tanya Raja. “Tapi, kenapa perasaan saya tidak enak ya, Tuan?” Leon tampak gusar. “Apa lagi yang perlu kita khawatirkan, Leon?” tanya Raja tak mengerti. “Entahlah, Tuan. Saya juga tidak mengerti. Hanya saja saya memiliki firasat yang tak sebegitu baik,” ungkap Leon. “Huft ... lalu aku harus bagaimana?” tanya Raja. “Mungkin tidak ada salahnya jika kita terima kunjungan mereka dulu. Untuk masalah kerja sama, Kita bisa pikirkan nanti, Tuan. Saya juga akan memasang sikap lebih waspada,” jawab pria itu. “Ah, ya ... baiklah. Semoga tidak terjadi hal buruk apa pun," ucap Raja. *** Ah, membosankan. Aku mau berkeliling saja. Aku sudah tahu jalan untuk kembali ke ruangan Tuan. Jadi tidak masalah kan kalau aku bermain-main sebentar? tanya Kitty pada dirinya sendiri. Ia percaya diri bahwa ia tidak akan tersesat lagi. Kitty menoleh ke arah Raja yang masih tampak sibuk membahas sesuatu dengan Leon. Ia juga melihat wajah pria itu begitu serius, itu artinya ... pembicaraan tak akan selesai dalam waktu yang cepat. Kitty tersenyum, ini adalah kesempatan untuknya bermain-main. Kitty mengendap-endap, berusaha menyusup keluar saat Raja sibuk berbicara dengan Leon. Kedua pria yang tengah fokus dengan pekerjaan itu tak menyadari gerak-geriknya. Jadi ia bisa dengan bebas bergerak menuju ke pintu keluar. Akan tetapi, pintu tersebut tertutup rapat. Kitty yakin, ia tidak akan bisa membukanya. Kitty tahu, Raja sengaja menutup dan mengunci pintu ruangannya saat ia ada di kantor sejak kejadian hari itu. Ah, sialan! Bagaimana caraku keluar? gumam kucing itu dengan wajah cemberut. Kucing itu menoleh ke sana-kemari, mencoba mencari jalan keluar atau lubang yang memungkinkan untuknya bisa keluar. Senyum kucing itu mengembang saat ia melihat celah kecil dari jendela yang sedikit terbuka. Jadi Kitty bisa melompat dari sana. Akan tetapi, kucing itu mengurungkan niatnya untuk melompat saat ia melihat seseorang yang berdiri di luar ruangan tengah menguping pembicaraan Raja dan Leon. Pria itu mencuri dengar dengan mendekatkan telinga di jendela. Siapakah dia? Kenapa dia begitu mencurigakan? tanya Kitty seraya terus mengawasi orang itu. Pria itu tersenyum puas setelah mendengarkan pembicaraan Raja. Entah apa yang menyebabkan pria itu begitu senang. Lalu, pria itu pergi setelah berhasil mencuri dengar. Wah, mencurigakan sekali. Aku harus mengikutinya. Setelah pria itu pergi, Kitty dengan cepat melompati celah jendela itu. Lalu, Kitty diam-diam berjalan mengikuti pria tadi. Pria itu pergi dari sana dengan bebas. Tak ada seorang pun yang menghentikannya. Kitty jadi heran bagaimana Hani membiarkan orang itu datang dan menguping pembicaraan penting Raja. Saat melewati bangku resepsionis, Kitty melihat Hani tengah berbicara dengan seorang pria. Wanita itu tampak tersipu malu saat pria itu menggodanya. Pria itu bahkan tak segan untuk mencolek wanita tersebut. Oh, jadi karena ini Kamu membiarkan orang asing datang dan menguping pembicaraan tuan dan Leon? Bahkan saat aku lewat pun Kamu sampai tidak menyadarinya. Hani ... Hani .... Kitty dengan cepat melewati tempat itu. Kelalaian Hani membuat masalah karena menyebabkan orang yang menyusup masuk bisa pergi dengan leluasa. Tetapi, ini juga keuntungan bagi Kitty. Karena Hani terlalu sibuk dengan pria itu akhirnya ia bisa leluasa mengikuti pria mencurigakan itu. Setelah lama berjalan mengikuti pria itu masuk ke dalam sebuah ruangan. Kitty pun diam-diam masuk ke dalam sebelum pintu tertutup. Dengan sangat hati-hati, Kitty bergerak. Ia tidak mau sampai ketahuan. Kitty bersembunyi dengan anteng di dekat sebuah pot bunga. Mendengarkan pembicaraan mereka dengan tenang. "Bagaimana? Apa mereka percaya?" tanya seorang pria yang ada di ruangan itu. "Beres!" ucap pria itu seraya tertawa. "Mereka percaya dengan data-data yang sudah kita manipulasi itu. Dasar bodoh! "Tentu saja mereka akan percaya. Aku sudah menyusun hal ini sesempurna mungkin. Aku juga berusaha untuk tidak meninggalkan jejak. Dan benar saja? Mereka tidak dapat menemukan apa pun dan mempercayai kita. Rencana kita akan sukses besar." "Pasti Tuan George dan Nyonya Kate akan sangat senang mendengarnya. Setelah ini, tuan Raja akan benar-benar hancur sampai ke akar-akarnya," ucap pria satunya. "Dan setelah ini, kita akan mendapatkan bagian kita yang sangat banyak ...." "Kita hanya tinggal hidup enak dengan banyak uang. Menikmati bagian kita yang tak akan habis sampai tujuh turunan." Kedua pria itu tertawa terbahak-bahak. Mereka sangat bahagia karena rencana jahat mereka berjalan dengan mulus. Dasar manusia licik dan jahat! Teganya kalian mengkhianati tuanku. Ingin sekali aku mencakar wajahnya dengan kuku-ku yang tajam ini. Biar mereka tahu rasa. Kitty benar-benar kesal dan marah pada dua pria yang tidak ia kenali itu. Akan tetapi, kucing itu harus berusaha untuk menahan diri karena ia mempunyai misi yang lebih penting yaitu membongkar kejahatan mereka pada Raja dan Leon. Raja dan Leon harus tahu niat buruk kedua orang itu yang ternyata memiliki dalang di baliknya. Setelah itu, ia bisa mencakar kedua pria itu sesuai keinginannya. Sabar Kitty, sabar .... Kitty berusaha untuk tidak emosi. Ia harus tetap mengawasi kedua pria itu. "Apakah Kamu sudah menyimpan buktinya dengan baik?" Mereka mulai berbincang lagi. Kitty langsung memasang telinga baik-baik. "Aku tidak mau kita gagal hanya gara-gara bukti sialan itu." "Tentu saja, sudah. Aku menyimpan di tempat yang mudah terjangkau tapi tidak akan ada yang mengetahuinya," jawab komplotan pria itu. "Di ruangan ini?" tanya pria itu. "Iya, tentu saja." "Wah, aku jadi penasaran di mana Kamu menyimpannya?" "Coba tebak, aku menyembunyikan dokumen itu di mana?" "Aishh! Tidak perlu bermain teka-teki denganku. Cepat katakan di mana Kamu menyembunyikannya," desak pria yang menguping itu. "Hahaha, Kamu benar-benar tidak sabaran." Ayo katakan, aku juga penasaran di mana kalian menyembunyikan bukti yang bisa aku gunakan untuk menghancurkan kalian nanti, batin Kitty tak sabar. Dug dug. Pria itu menghentakkan kakinya. Memberi kode pada temannya. "Apa maksudnya, hah? Jangan bikin aku penasaran, bodoh!" Pria itu tertawa lalu berbisik kepada temannya. "Di bawah lapisan lantai ini aku menyimpannya. Siapa pun tidak akan pernah menduga kalau aku menyembunyikannya di sini." Pria penguping tadi tertawa. "Bagus, aku suka mempunyai teman cerdik dan licik sepertimu." Untung aku bisa mendengar meski kalian berbisik-bisik. Mungkin kalian merasa bahwa kalian hampir menang. Tetapi, aku akan membuatnya hanya menjadi impian saja. Lihat saja nanti aku akan membongkar semuanya pada tuanku. Kitty masih terus bersembunyi di sana. Terus menguping dan mengawasi gerak-gerik pria itu, mencari bukti sebanyak-banyaknya, sambil menunggu momen yang tepat agar ia bisa keluar dari ruangan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN