BAB 104

1048 Kata
Dua pria dengan gelas wine di tangan tengah bersantai di dekat kolam samping vila. Keduanya terbaring di atas kursi pantai dengan nyaman. Menikmati minuman itu seraya menatap indahnya bulan penuh yang bersinar dengan sangat terang. Bahkan cahayanya mampu membuat keadaan sekitar lebih terang. Samar, suara ombak yang berdebur tertangkap oleh telinga. Sayup, angin darat berhembus merayu. Membuat para pria yang hampir mabuk oleh minuman itu semakin nyaman duduk di sana berlama-lama. “Bagaimana perasaan Tuan?” tanya Leon. “Hm, biasa saja. Memangnya kenapa?” tanya balik Raja. “Ini adalah jawaban yang sangat saya nantikan. Saat Tuan berkata biasa saja meski telah berdekatan dengan seorang wanita. Biasanya, Tuan tidak akan tahan berdekatan dengan Hani meski hanya semenit saja. Tapi kali ini Anda mampu bertahan sampai akhir. Saya salut, Tuan,” ucap Leon. Raja tampak memikirkan ucapan Leon. Pria itu merasa jika yang asistennya itu katakan ada benarnya. Ia merasa biasa saat bersama Stella tadi. Tidak gugup, tidak panik, jantungnya juga normal. Rasanya hanya biasa saja, seolah ia tengah bersama Leon saja. “Apa mungkin karena ini kedua kalinya aku berduaan dengan dia?” tanya Raja. Leon menggeleng. “Saya rasa bukan, Tuan. Jika memang demikian, harusnya Tuan sudah terbiasa dengan Hani. Anda kan tak jarang bertemu bahkan berdua bersama Hani di kantor," jawab Leon. “Lalu karena apa? Apa karena aku merasa dia senasib denganku, ya?” tanya Raja. “Maksud Tuan?” tanya Leon seraya mengerutkan keningnya. Pria yang semula telentang menatap bintang di langit itu, segera mengubah posisi menyamping dan menatap atasannya. “Ternyata dia juga yatim piatu seperti aku.” Raja masih asyik menatap wajah sang candra, yang bersinar terang di malam purnama. Raja mengangkat gelasnya, lalu menelan cairan berwarna merah pekat itu hingga tersisa separuhnya. “Dia memiliki kisah yang hampir serupa denganku. Ditinggal mati orang tuanya, lalu ia disiksa oleh pamannya. Bedanya, aku melawan mereka, tidak membiarkan mereka menindasku. Sedangkan dia, wanita malang yang lemah yang sudah melalui banyak penderitaan." Leon terkejut mendengar cerita Raja. Ia tidak menyangka jika Stella memiliki cerita seperti itu. Leon jadi semakin bersimpati pada Stella. “Persamaannya, kami memiliki luka dalam yang sangat sulit untuk disembuhkan,” ucap Raja kemudian. "Ah ya, bedanya lagi ... dia lebih kuat dibandingkan aku. Mengalami semuanya sendirian dengan berani. Sedangkan aku? Aku terkurung dalam banyak ketakutan dan trauma." “Jangan berkata seperti itu, Tuan. Nyatanya, berkat Kitty Tuan tak lagi takut pada kucing. Nyatanya karena Stella, trauma Anda terhadap wanita sudah berkurang. Mungkin Anda benar. Mungkin karena persamaan nasib kalian itu yang membuat Tuan membuka hati untuk Stella. Sepertinya ... Tuan telah jatuh cinta pada Stella,” ucap Leon. “Ja-tuh cinta? Apakah itu jatuh cinta? Bagaimana rasanya? Bahkan di umurku yang seperti ini aku tidak bisa memahami apa itu cinta. Aku juga merasa bahwa sepertinya aku belum pernah jatuh cinta,” ucap Raja seraya tertawa perlahan. Sepertinya pria itu mulai mabuk. “Orang bilang, jatuh cinta itu perasaan yang sangat asing yang sangat sulit dijelaskan. Katanya jika kita mencintai seseorang kita akan takut kehilangan dan selalu ingin melindunginya. Seperti yang Tuan selalu lakukan pada Kitty," ucap Leon. "Jadi, aku mencintai Kitty? Aku mencintai seekor kucing, begitu maksudmu?" tanya Raja seraya tertawa. "Yah bukan seperti itu juga, Tuan. Dia kan bukan manusia, mana bisa itu dikatakan jatuh cinta?" "Tapi, aku sangat takut kehilangannya. Aku sangat menyayanginya." "Tapi tetap saja yang dinamakan—" Ucapan Leon terhenti saat melihat Raja ternyata sudah terlelap dalam mimpinya. Masih dengan gelas wine di tangan. Leon bangkit, lalu mengambil gelas dari tangan Raja dan meletakkannya di atas meja. Lalu pria itu berusaha menggendong Raja, untuk dipindahkan ke kamarnya. Untung saja Leon hanya minum sedikit, jadi ia tak benar-benar mabuk. Jadi, paling tidak ia masih memiliki kesadaran dan kekuatan untuk mengangkat tubuh Raja. Leon memang selalu begitu. Selalu waspada dan mementingkan atasannya. Selalu ada untuk pria itu. "Ugh!" Pria itu mengangkat tubuh besar dan tinggi itu ke atas punggungnya dengan susah payah. Meski tubuh mereka sama atletisnya, tinggi badan Raja lebih unggul. Membuat Leon sedikit kesulitan menggendong pria itu. *** "Ke mana, Tuan?" Kucing itu membuka matanya setelah tertidur dari sore. "Kenapa kepalaku terasa berat sekali? Apakah karena aku sempat jatuh ke dalam air laut?" gumam Kitty lagi. Kucing itu berusaha untuk bangkit. Namun, tubuhnya sangat lemah. Di saat ia turun ke lantai, tiba-tiba saja ia merasakan hawa aneh mulai menyerangnya kembali dan rasa itu sudah tidak asing lagi. "Perasaan seperti ini, hawa ini ... rasa panas ini ...." Kitty segera bersembunyi di dekat lemari saat ia merasakan tubuhnya panas lagi. Kitty merasakan firasat buruk. Ia merasa bahwa malam itu ia akan berubah lagi. 'Akankah aku berubah menjadi manusia lagi? Kenapa seluruh tubuhku rasanya panas sekali? Bagaimana ini?Ke mana aku harus bersembunyi? Kitty kebingungan. Karena ia tidak tahu seluk-beluk rumah itu. 'Argghhh. Panas sekali, panass! Tubuh kucing itu lemas, ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Bahkan sekedar menyeret pun tak sanggup. Akhirnya, Kitty hanya bisa pasrah tergeletak di dekat lemari, di sudut kamar itu yang cukup gelap. 'Aku harap tidak ada seseorang yang akan menemukanku. Apalagi kondisiku pasti tidak memungkinkan untuk dilihat orang lain, ucap Kitty yang tidak berdaya. Matanya terasa sangat berat, sepertinya setelah ini ia tidak akan sadarkan diri lagi. Seiring pandangannya yang semakin kabur, Kitty melihat cahaya bulan yang begitu terang di atas sana. Mengingatkannya pada suatu tempat yang familier di ingatannya tetapi masih buram. Selain itu, Kitty menyadari satu fakta bahwa saat bulan purnama bersinar penuh, di saat itu juga sepertinya ia kembali ke wujud manusia. Drap drap drap. Suara langkah kaki yang berat, seperti terseret-seret membuat Kitty membuka matanya. Ia seketika tersadar dari pingsannya dan menyadari bahaya yang datang. Kitty bangkit, lalu melihat ke arah tubuhnya. Benar saja, ia kembali pada wujud manusianya yang cantik. Namun rasa takjubnya berubah saat suara langkah kaki itu semakin terdengar. Kini, gadis itu panik. Ke mana ia harus bersembunyi. Bisa gempar vila itu jika mereka melihat wujudnya. "Astaga, ke mana aku harus bersembunyi." Dengan tubuh polosnya, Kitty berjalan ke sana-kemari bingung mencari tempat persembunyian. Saat melihat lemari, muncul ide untuk bersembunyi di dalam sana. Kitty segera berlari ke arah lemari dan berusaha untuk membukanya. Namun sial, lemari itu terkunci rapat dan Kitty tak dapat membukanya. "Aduh, bagaimana ini?" Gadis itu semakin panik. Jantungnya berdebar kencang, saat pintu mulai terbuka. "Ya Tuhan, aku pasrah." Kitty merasa putus asa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN