BAB 105

1130 Kata
“Huft!” Leon menghempaskan tubuh Raja ke atas kasur yang empuk dan nyaman. Akhirnya setelah perjuangannya yang susah payah, ia berhasil menggendong Raja sampai di kamarnya. “Sepertinya setelah ini aku tidak boleh membiarkan Tuan sampai mabuk seperti ini lagi. Atau aku harus bersusah payah seperti ini,” gumam pria itu. Leon menyeka keringat yang mengalir membasahi kening dan wajahnya. Ternyata menggendong Raja cukup membuat ia kelelahan dan berpeluh di malam seperti itu. Setara dengan olahraga ringan yang selalu ia lakukan setelah bekerja. Pria itu lantas menyelimuti tubuh Raja. Setelah memastikan Raja nyaman, ia segera mematikan lampu dan keluar dari kamar tersebut. Sementara itu, Kitty masih bersembunyi dengan duduk meringkuk di celah dekat lemari seraya membekap mulutnya. Tubuh gadis itu sedikit gemetar, jantungnya berdetak dengan kecang karena ia takut ketahuan oleh Leon. Apalagi kondisinya tidak memungkinkan untuk bertemu dengan manusia. Baru setelah Leon keluar dari kamar Raja, Kitty bisa bernapas lega. Namun tidak sepenuhnya gadis itu bisa tenang, karena masih ada Raja yang ada di kamar itu. “Bagaimana ini? Mustahil aku bisa keluar dari kamar ini dalam kondisiku yang mengerikan seperti ini. Apalagi aku mana tahu tempat ini, bisa-bisa aku tersesat dan hilang lagi,” ucap Kitty. “Apakah aku harus duduk di lantai ini semalaman?” Kitty cemberut saat melihat Raja yang tidur nyaman di atas ranjang sementara dirinya kedinginan duduk di lantai tanpa baju. Kitty iri, ia ingin sekali merasakan kehangatan selimut tebal yang kini membalut tubuh kekar Raja. “Ah, ya sudahlah. Mustahil aku mendapatkan selimut, bahkan selembar kain pun tidak.” Kitty pasrah dengan derita yang harus ia alami malam itu. ia memutuskan akan tetap duduk di tempat itu sampai pagi menjelang. Karena ia yakin, saat matahari terbit nanti, ia akan berubah kembali menjadi seekor kucing. Lagipula, keluar dari tempat itu sangat beresiko. Kitty menekuk kakinya, lalu kedua tangannya memeluk lutut. Ia mendekap erat kedua kakinya, berharap dengan melakukan hal itu ia tidak terlalu kedinginan. Namun, tetap saja rasa dingin itu justru semakin menusuk tulang. “Ya Tuhan, semoga aku bisa bertahan sampai pagi datang.” Kitty mengeratkan pelukannya pada kedua kakinya, lalu mencoba untuk memejamkan mata. Ia harus tidur agar malam berlalu dengan cepat. Aku hanya perlu bersabar, ya hanya itu. aku hanya perlu lebih bersabar. Berkali-kali gadis itu menyakinkan hatinya. “Hiks, tapi dingin sekali.” Gadis itu merasa dirinya sangat menderita. Kali ini, ia merasa dalam keadaan seperti ini mungkin lebih baik jika ia menjadi Kitty si kucing saja. Malam semakin larut dan Kitty masih diselimuti oleh kedinginan. Kitty tetap bertahan di posisinya meski rasanya sangat tidak nyaman. Karena kelelahan, akhirnya gadis itu tertidur juga. Namun meski matanya terpejam, rasa dingin itu masih dapat ia rasakan. “Dingin sekali.” Kitty menggigil kedinginan. Ia tak tahan lagi. Gadis itu perlahan merayap, mendekati ranjang Raja. Masih dengan memejamkan mata dan tubuh sedingin es, ia naik ke atas ranjang. Gadis itu lalu ikut bergelung dalam selimut hangat milik Raja. Melupakan jika ada penguasa ranjang itu di sana. “Uhh, ini nyaman sekali.” Kitty tersenyum dalam pejamnya saat ia merasakan kehangatan dan kenyamanan. Tubuhnya yang hampir membeku, berangsur menghangat kembali. Tak lama, terdengar kembali suara dengkur gadis itu. Gadis yang sepertinya mengigau sambil berjalan itu kini telah kembali terlelap dalam mimpinya. Raja mengerjapkan matanya saat telinganya menangkap suara dengkur halus seseorang di dekatnya. Begitu mengganggu dirinya yang telah terbiasa dengan ketenangan. “Apa ini mimpi? Yah, pasti ini mimpi, atau mungkin aku terlalu mabuk hingga mendengar suara dengkur seseorang. Mana mungkin ada orang lain kan? Karena aku hanya sendirian di tempat ini,” ucap Raja seraya memejamkan mata kembali. Namun, suara dengkur itu kembali terdengar, membuat Raja kesulitan untuk benar-benar bisa terlelap ke dalam mimpinya. “Ah, ya. Kitty! Mungkin itu dia,” seru Raja setengah sadar. “Hahaha, mana mungkin suara dengkur Kitty seperti itu? Atau mungkin Leon. Apa dia terlalu mabuk hingga tertidur di sisiku?” tanya Raja pada dirinya sendiri. Raja yang semula tidur mnghadap ke kiri, membalikkan badannya, melihat siapa yang ada di dekatnya. Pandangan Raja yang masih mabuk kerena minuman sedikit mengabur, lalu ia mengingsut tubuhnya mendekati sosok itu. Hingga kini, jarak antara Raja dan sosok itu sangat dekat. Mata Raja terbuka lebar saat melihat sosok wanita cantik yang tertidur di hadapannya. Pria itu tak dapat berkata apa-apa. Lidahnya terasa kelu, hingga sulit digerakkan. Bibirnya pun terasa susah terbuka, seolah terkunci rapat. Kali ini bukan karena rasa takut, justru pria itu sama sekali tidak merasakan ketakutan apa pun meski ia dan wanita asing itu begitu dekat. Raja justru takjub melihat seorang wanita yang sangat cantik itu tertidur dengan lelapnya. Kulit wanita itu putih bersih, wanita itu juga benar-benar cantik meski dalam kondisi tidur. Apakah Kamu bidadari? Kamu begitu cantik. Aku rasa aku belum pernah melihat wanita secantik dirimu, batin Raja dengan rasa penuh kekaguman. Hidungmu mancung, bibirmu merah semerah buah delima, kulitmu putih bersih. Alismu yang tebal tapi sangat rapi, astaga! Kamu ini sebenarnya makhluk apa? Apa Kamu dewi? Atau malaikat? Raja masih belum beranjak dari rasa kagumnya. Sungguh, tidak ada wanita secantik itu yang pernah ia lihat sebelumnya. Raja kemudian mengucek kedua matanya, merasa jika ini hanyalah khayalannya saja. Namun, berapa kali pun ia mengucek matanya, bayang wanita itu tak mau menghilang. Wanita itu masih dalam posisi yang sama, dan masih terlelap tidur di hadapannya. Bahkan, hangat napas Kitty terasa sangat nyata menyapu wajahnya. Akan tetapi, Raja terus menyangkalnya. Ia menganggap hal yang ia lihat mustahil. Ah, ya. Ini pasti cuma mimpi. Ini pasti cuma mimpi atau aku terlalu mabuk, ucap Raja dalam hati. Jadi kalau ini hanya mimpi, bolehkah aku menyentuhnya? Tentu saja tidak masalah kan? Karena ini hanya mimpi. Tangan Raja perlahan terulur menyentuh wajah gadis itu. Astaga, lembut sekali. Memangnya begini ya, kulit wanita? Sangat lembut dan halus, ucap pria itu saat menyentuh pipi Kitty. Jantung pria itu tiba-tiba berdebar kencang, tetapi bukan karena rasa takut, tetapi karena rasa asing yang kini menyelimuti hatinya. Hati pria itu juga terasa hangat, ada rasa yang menggelitik di dalam dadanya. Seperti ada ribuan kupu-kupu yang beterbangan di dadanya. Yang membuat ia ingin berlama-lama dengan gadis itu. Pandangan pria itu akhirnya tertuju pada tubuh gadis itu. Raja penasaran apakah gadis yang bergelung dalam selimut hangat miliknya itu memiliki kaki dan bagian tubuh yang lain tidak. Tiba-tiba saja, Raja takut jika wanita itu adalah hantu. Karena menurut Raja mustahil ada wanita secantik dia. Raja menelan salivanya susah payah, meski nanti ia mendapati hal mengerikan sekali pun, ia harus memastikan wanita itu manusia atau bukan. Perlahan, dengan tangan gemetar, Raja menyibak selimut tebal yang membalut tubuh Kitty. Raja sangat terkejut saat mengetahui wanita itu tidak mengenakan apa-apa. Wajah pria itu berubah menjadi merah padam. Antara malu dan ada rasa asing yang bergejolak di dalam d**a pria yang belum pernah mengenal apa itu cinta selama dua puluh delapan tahun hidupnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN