Pagi baru saja mulai bergulir ketika Marwa tiba di rumah sakit. Sinar matahari masih hangat, belum terlalu menyengat. Sehangat hatinya yang baru saja menerima pesan dari Haryo. Bahwa ia sudah ada di Jakarta dan akan mengajaknya makan malam nanti. Ia baru turun dari mobil saat matanya menangkap keributan kecil di depan lorong menuju Unit Gawat Darurat. Ia mendesah kecewa saat melihat ternyata Doddy lagi yang mendatangi UGD. Wajahnya babak belur dengan mata hampir tertutup karena bengkak. Ia berjalan setengah digendong oleh Pak Adam. Tidak tampak kehadiran Mbak Irna di sana. "Kamu ini kenapa sih, Dod? Bukannya pergi ke sekolah, ini malah tawuran pagi-pagi begini. Kapan sih kamu berubah?” gerutu Pak Adam sambil menggandeng lengan Doddy yang tampak limbung. “Ibumu sudah cukup pusing di rum

