Marwa mengintip dari sela-sela pintu gudang yang sedikit terbuka. Dadanya naik turun, napasnya tersengal karena panik yang belum sepenuhnya reda. Ia menyandarkan tubuhnya ke pintu besi, merasakan dinginnya besi yang merayap ke kulit. Dari balik celah sempit pintu pagar, ia mengamati warga yang mulai berpencar, perlahan-lahan meninggalkan halaman gudang dengan langkah berat. "Syukurlah, akhirnya mereka semua bubar juga," ucapnya lega. Tadi, ia sempat yakin gudang ini akan digeruduk habis-habisan. Ia melihat sendiri ada warga yang menggenggam kayu, batu, bahkan linggis. Wajah-wajah warga tampak beringas karena benar-benar mengira ada maling di dalam gudang. "Ya ampun, Wa. Jantungku nyaris lepas tadi. Aku pikir kita semua akan jadi bulan-bulanan warga." Siska mengelus-elus dadanya. Semen

