BAB 36: Badai di Balik Cakrawala

1272 Kata

Ketenangan di Provence ternyata hanya sebuah fatamorgana. Meskipun Keisha sudah memutus tali kekeluargaan dengan pesan yang tajam, keluarga besar di Jakarta tidak akan membiarkan "pemberontakan" ini berlalu tanpa pembalasan yang setimpal. Bagi mereka, ini bukan lagi soal moral, tapi soal harga diri klan yang terluka di mata internasional. Pagi itu, saat Widya sedang asyik melukis Laras yang tertidur di teras, Keisha melangkah keluar dengan wajah yang sangat tegang. Ponselnya terus bergetar tanpa henti. "Ada apa, Keisha?" Widya meletakkan kuasnya, merasakan firasat buruk. Keisha menghela napas panjang, matanya menatap tajam ke arah hamparan lavender. "Paman Hendra tidak main-main. Dia baru saja menggunakan koneksi politiknya untuk membekukan seluruh aliran dana dari aset pribadiku yang m

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN