BAB 37: Pengakuan di Depan Dunia

1232 Kata

Pagi di Provence tidak pernah terasa sesunyi ini. Keisha duduk di meja makan, bukan dengan segelas sampanye, melainkan dengan laptop dan ponsel yang menyala merah karena notifikasi. Di sampingnya, Widya sedang menyuapi Laras, mencoba bersikap setenang mungkin meski tangannya masih sedikit gemetar. "Sudah waktunya, Widya," ucap Keisha pelan. Keisha menarik napas panjang. Sebagai seorang supermodel, ia terbiasa memberikan wajah terbaiknya untuk merek-merek mewah. Tapi hari ini, ia akan memberikan wajah yang berbeda: wajah seorang pejuang. Ia menekan tombol "Post" pada akun i********:-nya yang memiliki jutaan pengikut. Foto yang diunggahnya bukan foto catwalk yang glamor. Itu adalah foto hitam putih karya Widya. Di foto itu, Keisha sedang mendekap Widya dari belakang, sementara Widya mengg

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN